Chapter 3

1732 Words
Setelah selesai mengenakan pakaian yang baru saja diambilnya dari wardrobe, Allegra berjalan menghampiri Keenan yang tengah memasang kembali kemeja putih miliknya. "Sini aku bantuin," ucap Allegra yang sudah berada didepan Keenan. Jari lentiknya dengan perlahan mengaitkan satu persatu kancing pakaian yang membalut tubuh atletis itu. Menyisakan dua kancing teratas yang sengaja dibiarkan terbuka hingga memperlihatkan d**a bidangnya yang seksi. Sedangkan Keenan sendiri sibuk menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Allegra mengamati penampilan pria dihadapannya. Sangat sempurna. Tak salah jika dirinya sampai melabuhkan hati dan cintanya pada sepupunya sendiri. Keenan terlalu menawan untuk diabaikan. Sepertinya dia benar-benar sudah jatuh terlalu dalam pada pesona pria itu. Dan di detik ini pun, lagi-lagi dia harus dibuat jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Entahlah Allegra tak mengerti, melihat Keenan dengan balutan kemeja putihnya membuat hatinya bergetar. Allegra mendeklarasi sekali lagi bahwa pria berusia 4 tahun di atasnya itu benar-benar sosok manusia yang begitu rupawan. Namun, ketika tangan Keenan berada di pinggang Allegra lalu menariknya untuk lebih mempersempit jarak diantara mereka. Sesaat, Allegra termenung. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan hal itu membuat Allegra spontan menatap lurus ke mata coklat gelap tersebut. "Maafin aku," lirihnya setelah terdiam lama. Nada yang diucapkan terdengar penuh sesal, "Lagi-lagi aku belum bisa nyerahin itu ke kamu,"Allegra menjeda ucapannya sejenak, "Bukannya aku nggak percaya sama kamu. Tapi" "Ssttt..." Keenan meletakkan ujung jari telunjuknya di bibir Allegra. Mengisyaratkan perempuan itu agar berhenti mengatakan apapun. Dia tahu apa yang akan Allegra ucapkan, "Aku mengerti," ucapnya dengan senyum yang menghiasi bibirnya, "Kita sudah membahas masalah ini berulang kali dan aku sama sekali nggak keberatan dengan keputusanmu." Bukannya puas dengan jawaban Keenan, Allegra justru semakin merasa bersalah, "kita sudah jalan hampir 4 tahun dan selama itu aku belum bisa memenuhi kebutuhan biologismu. Aku belum bisa ngasih apa yang kamu inginkan." "Memang apa yang aku inginkan?" tanya Keenan eksplisit, "Dengar, kamu bukan pelacurku, tapi kekasihku. Aku memang pria normal yang butuh pelepasan. Tetapi aku lebih mencintaimu, Allegra. Aku nggak akan maksa kalau kamu belum siap untuk menyerahkan harta yang selama ini kamu jaga mati-matian itu," jelas Keenan dengan nada serius, "Making love nggak sesimpel itu, sayang. Kita harus melakukannya dengan sukarela tanpa paksaan dari salah satu pihak agar kita bisa menikmati kesenangan itu sama-sama. Aku nggak mau hanya aku saja yang menikmati permainan kita, sedangkan kamu merasa tertekan. Itu sama sekali nggak adil." Allegra terdiam menatap Keenan dengan perasaan campur aduk. Dia kehilangan kata-kata yang sedari tadi terus bercokolan di otaknya. Memang sudah sejauh itu hubungan Allegra dan Keenan. Mereka memang selalu tidur di ranjang yang sama, saling menyentuh dan memuaskan satu sama lain, tapi tidak sampai pada tahap berhubungan seks. Allegra mencintai Keenan, tapi entah kenapa hati paling dalamnya ragu, ragu untuk menyerahkan harta berharganya sebelum mereka benar-benar memiliki hubungan yang sah. "Kalau kamu terus-menerus bahas ini, aku jadi berpikir, apakah di matamu aku seperti penjahat kelamin yang otaknya hanya dipenuhi selakangan saja?" tanya Keenan dengan sedikit gurauan membuat Allegra menggeleng tegas. Dan secepat kilat bibir merah itu mengecup bibir Keenan lalu memeluk tubuh dihadapannya dengan erat. Menghirup aroma memabukkan khas seorang Keenan yang selalu membuatnya nyaman. Diam-diam Allegra mengepalkan tangan. Ingin sekali rasanya dia menghentikan waktu sejenak untuk melupakan status mereka. Melupakan bahwa mereka hanya menjalani secret relationship yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. "Terima kasih," cicit Allegra. "Terima kasih? Untuk apa?" "Untuk semuanya. Termasuk support yang selama ini kamu berikan. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah gila karena pengkhianatan w************n itu." Keenan tersenyum. Dia mengelus rambut panjang Allegra, sesekali menyelipkan helain rambut lembut itu ke belakang telinganya, "Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Walau gimanapun, dia tetap ibumu. Orang yang sudah berjuang antara hidup dan mati guna membuatmu ada di dunia ini." Allegra mendengus, dia melepaskan tangan Keenan yang berada di pinggangnya dan Keenan tahu jika Allegra tengah kesal padanya. "Kamu tau, aku paling nggak suka kalau kamu belain dia. Ingat! Dia yang udah buat aku, Aska dan papi menderita." "Aku tahu. Tapi, cepat atau lambat kamu harus berdamai dengan masa lalu agar masa lalu itu tidak menjadi penghalang kebahagianmu di masa depan, Allegra," nasihat Keenan lalu tanpa menunggu balasan dari sang kekasih, dia menautkan jari mereka dan membawa Allegra ke luar dari kamar rahasianya setelah merasakan perutnya keroncong, "Aku lapar sebaiknya kita keluar sebelum aku benar-benar menerkammu saat ini juga." Keenan meletakkan ibu jarinya di sensor fingerprint lalu tak lama kemudian pintu berwarna hitam itu terbuka otomatis. Dan secara bersamaan, mata Keenan langsung menangkap sebuah objek hidup yang tengah menatap mereka dengan pandangan tak percaya. "Raina?" "Kalian?" panggil perempuan yang bernama Raina itu tak mampu menutupi keterkejutannya. Menyadari ada orang asing selain mereka di ruangan ini. Allegra segera melepaskan tautan tangan mereka, namun sudah terlambat. Karena sejak awal, Raina sudah melihatnya. "Allegra ya? Sepupu Keenan?" tanya Raina berinisiatif memecahkan keheningan yang membungkus mereka sebelum suasana berubah manjadi canggung, "Perkenalkan aku Raina, calon istri Keenan," ucapnya dengan senyum ramah seakan tak pernah melihat kejadian apapun termasuk melihat secara langsung bagaimana rak buku itu terbelah menjadi dua dan tak lama kemudian muncul dua manusia berbeda gender dari dalamnya. Allegra tersenyum tapi Keenan tahu, ada api ketidaksukaan yang tersembunyi di sorot ramah itu ketika mendengar kata 'calon istri'. Dia sangat tahu Allegra lebih dari siapapun, "Kamu sudah tau namaku, jadi aku nggak perlu lagi memperkenalkan namaku bukan?" jawabnya sembari membalas uluran tangan Raina. "Kenapa kamu datang ke kantor?" tanya Keenan mengalihkan pembicaraan. Raina tersenyum. Dia menunjukkan rantang yang dibawa, "aku bawain makanan buat kamu. Kamu belum makan kan?" Keenan terdiam, dia melirik Allegra lewat ekor matanya, namun yang dilirik hanya menatap mereka dengan senyum tipisnya. "Kebetulan sekali. Tadi Keenan sempat mengajakku untuk menemani makan siangnya, tapi karena kamu sudah datang sambil bawa bekal makanan. Jadi kita nggak perlu lagi cari restoran," ucap Allegra sekaligus menginstruksi mereka untuk duduk di satu set sofa di ruangan itu. Keenan duduk di sebelas Raina sedangkan Allegra lebih memilih menjauh dengan duduk di single sofa. "Allegra kamu mau bergabung dengan kami?" tanya Raina setelah menata makanan di atas meja. "Ah terima kasih, tapi aku sudah kenyang." "Oh baiklah. Aku harap kamu bisa bergabung dengan kami lain kali. Kamu harus mencoba masakan buatanku. Kata Keenan masakanku sangat enak," terang Raina dengan binar bahagia di kedua matanya. Allegra mengepalkan tangan, dia bisa merasakan kalau perempuan itu sepertinya tertarik dengan Keenan. Ah bukan hanya tertarik, mungkin sudah ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya. Sedari tadi Allegra terus mengamati kegiatan yang dilakukan dua manusia itu. Dan sesekali membalas senyuman yang dilemparkan Raina. Tapi dalam hatinya benar-benar muak melihat pemandangan di hadapannya. Apalagi ketika jari perempuan itu bergerak mengusap bibir Keenan yang terdapat noda makanan di sudut bibirnya. Sialan! "Kamu makannya kayak anak kecil. Apa masakanku seenak itu?" tanya Rain tersenyum kecil dan hal itu tidak pernah terlepas dari tatapan dingin Allegra. "Aku pergi," ucap Allegra lalu bangkit dari duduknya. Sudah cukup! Dia benar-benar muak melihat adegan menggelikan antara Keenan dan Raina. "Silahkan nikmati waktunya berdua. Aku nggak mau menganggu kebersamaan kalian karena aku tau gimana bencinya pengganggu ketika kita sedang menikmati waktu bersama pasangan." Mendengar nada lembut namun tersirat sebuah sindiran di dalamnya, Keenan menghentikan aktivitasnya. "Mau kemana?" "Pulang. Aku lupa kalau malam ini ada janji makan malam dengan calon suamiku," jawab Allegra yang tentu saja hanya sebuah kebohongan sembari menekan dua kata terakhir. Mendengar jawaban Allegra, tanpa sadar Keenan membanting sendoknya ke permukaan meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring, "Tetap di ruanganku, Allegra! Jangan pergi kemana-mana!" ucapnya mutlak dan Allegra tahu jika dia tidak bisa membantah perintah pria itu. Dengan perasaan dongkol namun tidak diperlihatkan secara jelas, Allegra kembali duduk di tempatnya semula. Lihat, pria itu benar-benar egois! Apakah Keenan sengaja ingin membuat hatinya panas? Untuk mengalihkan rasa kesalnya, Allegra lebih memilih untuk mengecek ponselnya. Namun ketika benda itu sudah menyala. Ratusan panggilan dan puluhan pesan langsung memberondong notifikasi ponselnya. Membuat Allegra mengingat jika dia telah meninggalkan menejernya yang masih ada di kafe depan. "Ya Tuhan, Serena!" ucap Allegra lalu tanpa mengindahkan tatapan bingung Keenan dan Raina, Allegra segera beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dengan tangan yang senantiasa mencoba menghubungi nomer sahabatnya. Tepat pada dering ketiga setelah dia sampai di tempat yang cukup sepi, akhirnya panggilan tersebut diangkat oleh seseorang di sebrang sana. "Hello Ser lo masih di sana?" tanya Allegra hati-hati. Dia menggigit bibir bawahnya cemas. "Lo kenapa lama banget sih?!! Lo ngambil hape di gedung depan kan bukan di Zimbabwe?" satirnya dengan nada yang cukup keras membuat Allegra meringis merasa bersalah karena telah melupakan sahabatnya yang pasti sudah menunggunya dari tadi. Diam-diam Allegra menghitung dalam hati, sudah berapa lama dia meninggalkan kafe itu?"Sorry Ser. Gue nggak bisa balik ke sana. Tiba-tiba papa nelfon, katanya ada hal penting yang mau diomongin. Jadi gue langsung pulang." ''WHAT THE HELL, ALLEGRA!!! LO NINGGALIN GUE GITU??!!" Pekik Seren membuat Allegra menjauhkan ponsel dari telinganya. "Sekali lagi maafin gue karena lupa ngasih tau lo," ucapnya merasa bersalah. 'Terus gimana ini sama gue? Astaga All! 30 menit gue nungguin lo. Ternyata lo udah pulang duluan tanpa ngabarin sama sekali. Bener-bener senewen lo!! Penyakit pikun lo itu udah kelewat batas tau nggak?!" "Gini aja, lo dulu yang bayar nanti gue ganti. Bagaimana?" "Nggak usah! Gue belum jatuh miskin. Uang gue masih banyak. Buat bayar makanan segini, gue masih sanggup!" "I'm so sorry, Ser. Gue bener-bener lupa," ucap Allegra penuh sesal. Ck! Ini semua karena Keenan. Seandainya pria itu tidak menahan Allegra di kamar mandi, pasti kejadian ini tidak akan terjadi, "buat nebus kesalahan gue, gimana kalo nanti malem gue beliin tas Louis Vuitton incaran lo?" Di sebrang telepon, sepertinya Serena mulai tertarik dengan penawaran Allegra. Kapan lagi coba, punya barang branded tanpa harus keluar uang? "Oke setuju. Tapi gue masih kesel ya sama lo!" Allegra menghela nafas, "Sekali lagi gue minta maaf." "Gue maafin kalau barang branded yang lo janjiin udah ada di tangan gue." "Dasar! Tau aja manfaatin kesempatan!" ucap Allegra setelah itu sambung terputus. "Kenapa? Ada masalah?" tanya seseorang yang sudah berada di belakang Allegra. "Keenan? Kamu kok di sini? Mana calon istrimu?" alih-alih menjawab, Allegra justru melemparkan pertanyaan beruntun pada pria itu. "Dia sudah pulang. Aku yang menyuruhnya pergi" jawabnya. "Ada masalah apa kamu dengan manejermu?" tanya sekali lagi karena tak sengaja mendengar obrolan antara Allegra dan Seren. "Gara-gara kamu, aku melupakan Seren yang masih di kafe depan. Dan sekarang dia marah sama aku." "Baiklah, kalau begitu biar aku yang membayar tagihannya." Allegra menggeleng, "nggak usah biar aku saja." "Sayangnya aku nggak menerima penolakan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD