“Fany keluar dong. Ntar telat, kenapa lama banget di kamar?” Fany memperhatikan wajahnya di cermin dan berkali-kali ia menghela napas. Di luar kamar sudah ada Rara yang sedang berseru meminta Fany untuk segera keluar dari kamar. Sekali lagi Fany menghela napas lalu mengambil tas nya dan juga kruk yang baru dibelikan oleh ayahnya semalam agar memudahkannya dalam berjalan. “Kok lama banget?” Rara membantu Fany berjalan. “Pipis dulu tadi,” “Bilang biar Mama bantu anter ke kamar mandi,” Fany mengangguk sambil tersenyum. “Fany mau jalan aja,” kata Fany ketika Ardhan hendak menggendongnya masuk ke dalam mobil. Dua puluh menit kemudian Fany sudah tiba di sekolah, keadaan Fany dengan alat bantu berjalannya membuat beberapa pasang mata tertuju ke arah gadis itu. Tidak ingin anaknya menjad

