07

1856 Words
Fany berdiri di depan lemari panjang yang ada di lemarinya menatap penampilannya. Fany memakai gaun sebatas lutut berwarna putih dengan lengan pendek, gaun Fany dihiasi oleh motif bunga-bunga erwarna biru tua.  Fany merapikan gaunnya lalu beralih merapkan rambutnya yang tergerai lurus. Fany mengambil kotak beludru yang berada di laci riasnya, gadis itumengambil gelang silver pemberian Ardhan dan memakainya.setelah merasa cukup Fany pun keluar kamar. Hari ini adalah hari dimana Fany dan teman-temannya tampil di aula sekolah dalam rangka mengikuti lomba pentas seni. “Pagi!” sapa Fany bersemangat. “Widih, cantik bat.” Fany mengangkat alisnya, “cantik bat?” Nevan berdehem, “iya cantik bat, alias cantik banget.” Fany tertawa sambil mengangguk. “Bahasanya Nevan gaul banget, kakak susah ngerti.” “Makanya kakak pacaran biar gaul,” Ardhan langsung mengalihkan tatapannya dari koran pada Nevan dengan kepala yang sedikit tertunduk. “Hehehe... becanda kok Nevan,” Nevan sudah bersikap seperti biasa saat berhadapan dengan Ardhan karena beberapa hari yang lalu Ardhan menemui Nevan di kamar berbicara bersama Nevan bahkan meminta maaf. Nevan sudah berani banyak berbicara jika sebelumnya ia memilih diam karena takut dengan Ardhan. “Hari ini Cuma Papah aja yang dateng ngeliat Fany?” fany menatap Ardhan dan Rara. “Mama sama Papa dateng kok.” Sahut Rara. “Terus Nevan?”  Mereka bertiga menatap Nevan secara bersamaan. “Emang Nevan kenapa?” “Nevan juga pengen tau liat kak Fany tampil.” “Bukannya Nevan mau jalan-jalan sama pacarnya Nevan?” Mata Nevan membulat sempurna mendengar ucapan Fany. Nevan menyikut lengan Fany menatap kedua orang taunya dengan senyuman. “Uang kamu,” Ardha menggerakkan telunjuknya. Nevan menggeleng langsung memsang wajah memelas. “Pah enggak, kak Fany bohong tau. Nevan gak jalan sama pacar Nevan kok. Lagian Nevan udah gak punya pacar lagi, beneran.” Suasana menjadi hening saat ponsel Nevan berdering, karena cahaya ponsel Nevan cukup terang terlihatlah nama si penelepon. Nevan menjatuhkan kepalanya ditepi meja saat ponselnya diambil oleh Ardhan. “Gak punya pacar Nevan, terus ini siapa? Foto perempuan, namanya di handphone kamu, sayang.” Arhan menoleh ke arah Nevan yang masih menjatuhkan kepalanya ditepi meja. “Pah,” Nevan mengangkat kepalanya. Ardhan mengantungi ponsel Nevan yang baru dibeli sambil mengambil jas nya yang ada disandaran kursi. “Nevan, uang kamu.” Nevan mengerucutkan bibir menatap Ardhan yang sedang berdiri di sampingnya. “Cepet, Papah mau ke kantor nih.” Nevan pun mengambil tas nya yang berada dibelakangnya beralih menarus tas tersebut dipangkuannya. Nevan mengambil dompet dan menyerahkan uang dua ribu membuat Ardhan memasang ekspresi datar. Nevan kembali mengambil uang dengan nilai sepuluh ribu rupiah. Kesal, Ardhan mengambil dompet Nevan untuk mengambil uang lima puluh ribu dan menyerahkan uang tersebut pada Nevan sedangkan dompetnya sudah Ardhan simpan. “LIMA PILIH RIBU??? GAK BISA BELI APA-APA PAPAH!!!” teriak Nevan histeris ketika tanganny ahnya memegang selembar uang lima puluh ribu. “Sssttt,” Ardhan menaruh jari telunjuknya di bibir Nevan. Nevan menatap Rara berniat meminta bantuan namun wanita itu malah mentertawakannya. “Fany, ayo berangkat. Nevan mau dianter sendiri sama supir, kan?” Nevan mengangguk lesu. “Papa duluan ke mobil, Fany mau ke kamar bentar ada yang ketinggalan.” “Ya udah, cepet ya.” Fany mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Tak lama Fany sudah kembali ke ruang makan dimana hanya ada Nevan di sana memainkan rotinya. “Nevan,” Dengan malas Nevan menoleh. Mata Nevan tertuju ke arah tangan Fany. “Kakak minta maaf, gara-gara kakak uang sama handphone Nevan diambil sama Papah.” “Ini, pake dulu lagi ya handphone kakak. Terus ini uang buat Nevan.” Fany menyerahkan ponsel lamanya dan beberapa lembar uang ratusan ribu pada Nevan. “Serius nih untuk NEVAN?” Fany mengangguk, “uang nya aja tapi, handphone nya tetep punya kakak, ntar Nevan balikin ya. Ini handphone nya biar Nevan bisa komunikasi sama pacar Nevan. Ntar handphone nya Nevan kakak ambil dari Papah deh.” Nevan tersenyum sumringah. “Makasih kak! Semangat, Nevan doain kakak menang!” Fany tersenyum dan mengangguk, sebelum pergi Fany mengusap puncak kepala Nevan lalu pergi keluar menghampiri Ardhan yang sudah berada di dalam mobil.  *** Fany turun dari mobil berjalan masuk ke dalam sekokah yang sudah ramai, ada yang memakai pakaian sekolah dan ada yang memakai pakaian biasa. Mereka yang memakai pakaian sekolah adalah yang tidak mengikuti perlombaan dan bertugas sebagai penonton. Fany tersenyum kikuk ke arah orang-orang yang memperhatikannya. Fany merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka karena Fany bukanlah gadis yang suka menjadi pusat perhatian. “Fany?!” Fany pun berbalik tersenyum pada Darren yang tengah berlari menghampirinya ”Buset, cantik banget lo,” Darren menelusuri penampilan Fany. Polesan make-up yang terlihat natural membuat kecantikan Fany semakin bertambah. “Makasih, Darren.” Darren mengangguk. “Ntar gue bakal duduk paling depan buat kasih lo semangat.” “Yakin nih paling depan?” Darren langsung mengangguk. “Kalo gitu ntarkamu duduknya samaan ya sama Papa aku, di kursi paling depan.” Darren membisu seketika. “Tuh kan, Darren langsung takut.” Fany tertawa melihat Darren yang hanya diam saja. “Enggak kok,” Darre menggeleng. “Papah!” Fany melambaikan tangan ke arah belakang Darren. Fany memutar tubuhnya untuk menatap Darren yang sudah berlari kencang bahkan sampai menabrak beberapa orang murid perempuan yang ada di koridor. “Katanya gak takut,” gumam Fany terkekeh kecil seraya masuk ke dalam kelasnya. Sesampainya di kelas Fany langsung disambut oleh tiga temannya. “Kita tampil jam sepuluh, kan?” tanya Fany sudah duduk di bangkunya. “Iya, dan gue yakin lo bakal terkenal abis ini.” kata Maia. “Aku seneng terkenal karena prestasi,” “Enggak, bukan soal prestasi. Soal muka lo, muka lo bikin cowok-cowok jadi gagal fokus.” Fany hanya tertawa mendengar ucapan teman-temannya. Tawa Fany terhenti saat Reagan menghampiri mereka dengan memakai rompi OSIS serta name tag yang tergantung di leher Reagan. “Ke aula sekarang,” kata Reagan tanpa berbasa-basi. Fany menundukkan kepala ketika Reagan menatapnya. “Gak denger?” Fany dan tiga temannya langsung beranjak dari duduk mereka dan pergi keluar kelas menuju aula. Ketika sudah tiba di aula Fany memperhatikan kursi-kursi aula dari balik panggung. Mata Fany langsung tertuju ke kursi barisan paling depan dimana Ardhan akan duduk di sana, Fany tidak tahu mengapa Ayahnya dapat duduk di kursi paling depan karena seingat Fany hanya orang-orang tertentu saja yang dapat duduk di sana.  Fany duduk sembari memainkan jemarinya yang lentik. Tiba acara sudah dimulai Fany belum juga menemukan kedua orang tuanya membuat Fany merasa sedih.  Kejadian dimana Ardhan selalu datang terlambat untuk melihat dan menghadiri momen yang menyangkut soal Fany sudah sangat sering terjadi, namun tetap saja Fany masih merasa risau. Dulu ketika masih kecil Fany tidak segan-segan menangis jika matanya belum melihat kehadiran Ardhan, tapi sekarang sudah beranjak dewasa tidak mungkin Fany menangis walaupun sebenarnya ia sangat ingin menumpahkan air matanya.  Tanpa Fany sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya, memperhatikan Fany yang sedang gelisah. *** Fany meremas mikrofon ketika dirinya dan teman-temannya sudah berada di panggung. Fany masih belum melihat kehadiran orang tuanya. Kepala Fany tertunduk ketika musik dari lagu yang akan mereka bawakan sudah terdengar, dan yang akan bernyanyi terlebih dahulu adalah Miya. Mereka membawakan lagu dari Ed Sheeran yang berjudul Photograph. Suara lembut dan halus milik Fany disambut dengan suara tepuk tangan yang meriah. Senyum Fany tercetak lebar ketika matanya berhasil melihat keberadaan Ardhan yang Fany tidak tahu kapan datang karena ketika bernyanyi tadi mata Fany terpejam terlalu menghayati, dan sekarang Ardhan tengah duduk tepat di sebelah kepala sekolah. Ardhan ikut tersenyum seraya mengacungkan jempolnya membuat Fany langsung bersemangat hingga bibirnya terus menyunggingkan senyum. Senyum Fany sedikit memudar saat matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang tengah membidiknya dengan sebuah kamera. Fany tidak tahu siapa sosok itu karena wajahnya tertutup dengan kamera dan juga tangannya sendiri. Orang tersebut duduk sendirian di kursi paling ujung, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari paggung. Ketika kamera sudah diturunkan sampai d**a terlihatlah wajah orang itu hingga sukses membuat tangan Fany dingin seketika. Orang yang sudah memotretnya tadi, Reagan.  Fany langsung menatap ke depan ke arah Ardhan yang sedang bertepuk tangan bersaman dengan penonton yang lainnya kala mereka sudah selesai bernyanyi. *** “Makasih, Darren.” Fany tersenum saat Darren memberikan sebotol air mineral kepadanya. Darren duduk di sebelah Fany, “lo keren!” Fany tertawa, “sekali lagi makasih. Tapi tadi aku gak liat kamu duduk di kursi paling depan lho.’ “Kan kursi yang paling depan khusus buat orang-orang penting, kayak kepala sekolah, domatur sekolah. Lah, gue kan Cuma murid, kena tendang ntar gue kalo duduk paling depan.” Fany tertawa mendengar alasan Darren. “Sekarang kamu boleh pergi,” Darren memejamkan matanya, senyum Darren mengembang lebar saat berbalik untuk menatap orang yan barusan saja berbicara. “Assalamualaikum, om.” Darren mencium punggug tangan Ardhan lalu pergi dengan santainya, saat sudah merasa jauh dari jangkauan Ardhan barulah Darren berlari. Ardhan duduk di kursi yang Darren dududki tadi. “Dia ikutan pindah atau gimana?” Fany mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng. “Papa sendirian ke sini?” Ardhan mengangguk, “tiba-tiba aja tadi Mama sakit perut, gak enak adan. Jadinya Mama di rumah, tadi udah ke dokter makanya Papa telat dateng.” Kepala Ardhan bergerak sedikit miring untuk melihat wajah Fany yang berputar memperhatikan laki-laki yang baru saja lewat di depan mereka. “Udah dua kali lho Fany ngeliatin dia terus, jangan-jangan Fany suka lagi.” Fany langsung mengalihkan tatapannya pada Ardhan dan menggeleng. “Enggak kok, Pah. Fany gak suka,” “Terus kenapa ngeliatnya kayak gitu banget? Sampe muter lho kepala Fany.” Fany yang semula duduk menghadap depan berubah menjadi menghadap Ardhan. “Laki-laki itu namanya Reagan, Pah. Reagan temen sekelas Fany, ketua kelas plus ketua OSIS. Kenapa Fany ngeliatin Reagan? Karena Reagan aneh banget, pendiem banget orangnya, gak banyak ngomong, cuek, suka sendirian. Tapi kadang mau ikut kumpul juga sih sama temen-temennya, terus Reagan kayak gak tertarik gitu sama cewek.” Fany memelankan kalimat terakhirnya. Bibir Fany mendekat pada kuping Ardhan, “atau jangan-jangan Reagan gay.” Mata Ardhan membulat. Ardhan memperhatikan Reagan yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka dimana Reagan sedang berbicara dengan seorang pria. Reagan memiliki postur tubuh yang tinggi dan badan yang berisi, dapat dikatakan ideal bagi laki-laki seumuran Reagan, hidungnya cukup mancung serta memiliki rahang yang tegas, model rambut bagian depan sedikit menutupi keningnya ditambah wajahnya yang tampan tidak membuat Ardhan berpikir bahwa Reagan penyuka sesama jenis seperti apa yang dikatakan oleh Fany. Ardhan menatap Fany, “enggak ah, gak mungkin gay. Laki banget dia tuh.” Dan Fany terkejut karena Ardhan mau membahas soal laki-laki seumurannya. Baru kali inilah Fany dan Ardha membahas soal laki-laki yang Fany kenali, dan Fany juga tidak menyangka bahwa ia berani sekali berbicara mengenai laki-laki lain di depan Ardhan tanpa takut Reagan terkena getahnya. Walaupun Fany ayng membahas terlebih dahulu Ardhan tidak segan-segan menyingkirkan Reagan. Tapi kelihatannya tidak, Ardhan terlihat santai sambil terus memperhatikan Reagan yang masih berbicara. Fany menoleh ke arah Reagan, baru beberapa detik Fany memperhatikan Reagan pipi Fany ditarik lembut sehingga Fany kembali menatap Ardhan. “Jangan diliatin terus, denger?” Fany mengangguk dengan kedua pipi yang ditangkup oleh Ardhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD