'Jika dengan cara ini kamu bisa tersenyum lagi, maka akan aku lakukan.' * * * Aira memandang kosong kamar sang Ayah yang terasa sangat sepi, tidak ada lagi suara tawa Ayahnya, tidak ada lagi omelan Ayahnya jika ia melakukan kesalahan. Dilangkahkan kakinya memasuki kamar Ayah, wanita itu duduk termenung ditepi ranjang yang biasanya sang Ayah tempati. Matanya memandang sebuah pigura kecil fotonya dan sang Ayah yang terletak diatas nakas, tangannya terulur untuk mengambil pigura itu. Setetes bulir bening membasahi kedua pipinya, sungguh hampa rasanya. Hatinya serasa kosong tanpa kehadiran sang Ayah. Langkah kaki yang terdengar membuat Aira dengan cepat mengusap kedua sudut matanya yang berair, terlihat sang suami datang bersama Faisya dalam gendongannya. "Aira..." Panggil Fahri pelan, pr

