37. Pulang

1034 Words

'Berbahagialah, karena senyum dibalik sedih itu tak semudah membalikkan telapak tangan.' * * * Sudah sepuluh hari Aira tinggal di rumah mendiang Ayahnya yang berada di Kairo, sesering itu pula ia mengunjungi makam sang Ayah yang bersebelahan dengan makam Ibunya. Matanya memandang dua gundukan tanah dihadapannya yang berhiaskan batu nisan dan taburan kelopak bunga, bulir bening itu kembali menetes membasahi kedua pipi. Meskipun ia berusaha ikhlas dan kuat menerima cobaan yang menderanya namun hatinya tetaplah sedih kala menyadari bahwa ini adalah kenyataan, Ayahnya telah pergi selama-lamanya. Bahkan ia pernah berharap bahwa itu semua hanya mimpi, namun yang dialaminya adalah nyata. "Ayah, Ibu... Aira pamit pulang ya? Sebisa mungkin Aira akan sering mengunjungi makam kalian sebagaimana pe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD