6. Tawaran

1180 Words
"Temani aku makan siang di sana. Itu tempat favoritku." "Oh." Gio sempat merasa janggal, tapi akhirnya ia lega. Tiba di sana, mereka langsung mendatangi restoran yang pengunjungnya banyak orang asing. Airin memilih meja yang berada di salah satu sudut ruangan dan memesan makanan. Airin terlihat senang. Ia kini duduk berhadapan dengan Gio. Saat Airin memesan Champagne, ia menawarkannya pada Gio. "Eh, maaf, Bu. Aku gak minum itu." Gio berusaha menolaknya dengan sopan. Wanita itu hanya tersenyum dan akhirnya memesan untuk dirinya saja. Setelah pelayan pergi, ia mulai bicara. "Apakah kamu menyadari, aku menyukaimu, Gio?" Gio yang sedang makan spaghetti, hampir tersedak. Buru-buru ia mengambil gelas yang berisi air mineral di samping dan meneguknya. Ia memperhatikan lagi wanita di hadapan. Satu hal yang tidak pernah bisa ia percaya adalah berteman dengan wanita. Padahal ia sudah berusaha karena sering bertemu dengan mahkluk satu ini, tapi ia tak pernah berhasil membangun pertemanan. Selalu berakhir dengan sang wanita jatuh cinta dengannya. Inilah yang menyebabkan ia selalu menjaga jarak dengan yang namanya perempuan. "Mmh ...." Ia bingung bagaimana menolaknya karena kali ini bosnyalah yang bicara. "Aku serius, Gio." "Eh, maaf, Bu ...." "Kau punya pacar?" "Eh, tidak." "Kau tak suka padaku?" "Eh, bukan begitu ...." Gio paling pusing bila dihadapkan dengan pertanyaan ini. Menjawabnya tidaklah mudah. "Kau bosku." Ia bingung melanjutkan. "Kau ... baru saja menaikkan jabatanku, mana mungkin aku membencimu." Gio memiringkan kepalanya. "Eh, ini sulit aku jelaskan." Kembali wanita itu tersenyum dengan gaya sedikit malu-malu. Ini terlihat aneh untuk seorang Airin yang selalu memperlihatkan wajah angkuhnya. Kali ini wajahnya malah lebih mirip seorang wanita yang berusaha menjadi gadis manis di hadapan Gio. Ini malah membuat Gio geli melihatnya. "Mau coba?" tanya Airin manja. Seketika Gio kesulitan tersenyum. Ia mencobanya tapi terasa kaku. Kini ia berhadapan dengan bosnya, bukan orang biasa. Bagaimana menghindari pertanyaan ini, salah-salah ia bisa kehilangan pekerjaan. "Ibu, maaf." Seorang pelayan datang dan menuang Champagne untuk Airin. Pembicaraan mereka kembali terjeda. Wanita itu menggoyang-goyangkan gelas wine sebelum akhirnya meminumnya seteguk. Menunggu Airin bicara serasa seluruh tubuhnya terbelenggu karena Gio tak bisa pergi dengan mudah. Padahal Gio ingin segera menyudahi dan tak ingin berlama-lama di sana. Obrolan berikut yang akan keluar dari mulut wanita itu, pasti akan semakin aneh saja. Sebelum terlambat, Gio sibuk mencari cara agar bisa keluar dari situasi sulit ini. "Aku dengar ayahmu sakit," ucap Airin dengan tenang. Ia menggulung pasta dengan garpu. Kali ini wajahnya serius dan kembali menjadi Airin yang angkuh. "Aku bisa membantumu memberikan sejumlah dana, asal kau mau berada di sampingku." Matanya kini menyorot pada Gio yang tengah terpaku di kursinya. 'Apa maksudnya ini? Berada di sampingnya?' Gio memang sedang bingung dengan kesehatan sang ayah yang tak kunjung membaik setelah beberapa kali masuk rumah saki, dan ia yang berusaha mandiri karena tahu dirinya hanyalah anak angkat, tak bisa membantu banyak. Kini perusahaan di Lampung dijalankan oleh Lily, kakak perempuannya. Sedang perusahaan satu lagi di daerah puncak dijalankan adiknya, Abi dan pamannya Yudhi. Ia sebagai anak angkat juga berusaha semampunya untuk bisa membantu biaya berobat sang ayah, hingga sejauh ini Gio hanya bisa berdoa. Namun, dari mana Airin tahu perihal ayahnya yang sakit, padahal ia tak pernah bercerita pada siapa pun tentang hal ini? "Dari mana ibu tahu ayahku sakit?" Airin tersenyum senang. Wanita yang sering berganti wajah seperti ini membuat Gio ngeri. "Itu mudah saja bagiku. Semudah menjentikkan jemari tangan. Bagaimana? Kau tertarik denganku?" Gio menelan ludah dengan sangat sulit. Kepalanya sudah buntu, tapi ia tak bisa berkata kasar karena wanita ini adalah bosnya. Ia tentu saja tak ingin kehilangan pekerjaan karena Anna kini bergantung padanya. Demi gadis kecil itu, ia berusaha membuat begitu banyak kompromi. Seketika Gio memberanikan diri berdiri. "Eh, maaf, Bu. Aku izin pulang. Aku rasanya tak enak badan." Sebelum membalik tubuhnya, wanita itu bicara lagi. "Apa ada wanita baik-baik yang mau menikah denganmu, Gio, jika tahu kamu hanyalah anak pungut. Mmh?" Gio membeku. Kalimat itu begitu tajam melukai hatinya. Ia belum pernah mendengar ada wanita yang berani menghinanya seperti ini. Tangannya mulai terkepal erat karena menahan amarah yang ingin meledak. Airin tertawa. "Aku bisa membawamu ke ujung dunia ... tapi bisa juga menghempaskanmu ke dasar samudra. Gio, sebaiknya pikirkan baik-baik tawaranku ini." Kalimat itu diucapkannya dengan pelan tetapi terdengar begitu mengintimidasi. Sebelum emosinya meledak, Gio meninggalkan tempat itu dengan menganggukkan kepala cepat sebelum pamit. Ia tak berani berkata-kata karena takut salah bicara. Emosi yang belum reda akan merusak segalanya. Di dalam taksi Gio hampir menangis. Matanya memerah hingga ia memalingkan wajahnya ke samping. Kedua tangannya gemetar. Ia tak pernah begitu terluka. Tak pernah sekalipun Gio bertemu dengan orang yang dengan mudah menghina dirinya hanya karena ia anak angkat. Ia sejauh ini adalah manusia yang tahu diri. Karena itu, ia selalu menghindar bila hampir bertengkar dengan Lily. Gio tahu dirinya bukan siapa-siapa, dan harusnya merasa bersyukur karena keluarga Hayes telah membesarkannya. 'Ya Allah ... bantu aku. Aku tidak ingin salah jalan, tapi aku harus bagaimana? Anna adalah tanggung jawabku, apakah aku harus berhenti bekerja demi membela perasaan?' Ia pulang dan segera masuk kamar karena tak ingin bicara dengan siapa-siapa. **** Juwita menghadang Sri yang turun dari bajaj di depan rumah Gio. Sri adalah pembantu Gio yang baru saja menjemput Anna pulang sekolah. "Ada apa sih?" tanyanya melihat tingkah Juwita yang tak bersahabat. "Kamu ke mana aja sih? Kalo majikan lagi butuh aja, kamu tidak pernah ada." Juwita bertelak pinggang. Sri menurunkan Anna dan membayar bajaj. "Ada apa?" Ia bertanya sekali lagi. "Tuh, majikanmu pulang gak bawa mobil, tapi gak keluar-keluar dari tadi. Gak tau ada apa!" Selesai bicara begitu, Juwita menyeberang dan masuk ke dalam rumahnya. Sri heran mendengarnya, tapi Anna begitu senang. Gadis kecil itu tak berhenti berlari hingga menemukan sang ayah di kamarnya. Anna mengguncang kaki sang ayah yang sedang berbaring tengkurap di atas ranjang. "Ayah!" Gio terbangun. Ia mengintip dari sebelah matanya yang terbuka, Anna mendekatkan wajahnya. "Ayah pulang, ya? Kenapa Ayah gak jemput Anna?" "Mmh? Maaf ya, Sayang. Ayah sedikit pusing jadi langsung tidur." Gio memiringkan tubuhnya ke arah Anna sambil memperhatikan penampilan gadis kecil itu dalam seragam TK-nya. "Ayah ... Ayah masih sakit?" Anna menangkup wajah sang ayah dengan kedua tangan kecilnya. "Kenapa mata Ayah merah? Ayah menangis?" Segera Gio melepas tangkupan tangan Anna. "Enggaklah. Mata ayah hanya kemasukan debu. Mana ada laki-laki menangis." Ia mengedip-ngedipkan matanya agar tak terlihat. Dengan kedua tangan kokohnya, Gio mengangkat Anna dan membaringkannya di samping. Mereka saling berhadapan. "Hanya kita berdua yang saling mengerti karena kita punya nasib yang sama." "Apa?" Anna melongo dengan wajah polosnya. "Ah, tidak." Gio meraih tubuh sang putri dan mendekapnya dengan lembut. "Ayah sayang Anna." "Anna juga sayang Ayah," ucap Anna yang bersandar di ddada bidang Gio yang hangat. 'Tapi nasibmu harus lebih bahagia dari aku, Anna. Harus!' batin Gio sambil menghela napas pelan. **** "Oh, kamu." Gio mendapati pembantunya baru datang sedikit telat pagi itu. "Maaf telat, Pak." "Tidak apa-apa. Ini hari libur." Gio kembali ke sofa sedang pembantu itu menutup pintu. Tak lama terdengar lagi bel berbunyi saat sang pria sedang sibuk dengan benda pipih di tangan. Ia melangkah mendatangi pintu dan membukanya. Kali ini Gio melongo. "Kamu ... Ni-na?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD