Dunia Vivian seakan berhenti. d**a terasa sesak bukan hanya karena terkejut, tapi karena… sakit. Sakit yang tidak seharusnya dia rasakan.
Kesadaran berputar dalam kepalanya. Hans sedang berusaha menyiapkan kejutan ulang tahun pernikahan. Sementara istrinya mencium pria lain di restoran mewah itu.
Vivian membeku. Tangan yang memegang tasnya kehilangan kekuatan. Jari-jarinya gemetar.
Hans, masih tidak tahu apa-apa, menatap lampu merah yang hampir berganti.
“Kalau kamu tahu apa yang dia mau, bilang ya. Biar aku bisa bikin Delia bahagia.”
Vivian tidak menjawab. Ia tidak mampu menjawab. Matanya masih terpaku pada bayangan Deliana yang masih menempel pada bibir pria itu. Detik itu juga, Vivian merasa seluruh dunia runtuh dan sesuatu yang gelap, pahit, dan asing mulai muncul di dalam hatinya.
Lampu berubah hijau. Hans menginjak gas. Dan Vivian masih terdiam, matanya memandang kosong ke luar jendela karena satu rahasia besar baru saja jatuh ke pangkuannya.
Rahasia yang akan mengubah segalanya.
Vivian masih menatap keluar jendela sebelum akhirnya bertanya pelan, “Om… kenapa Om mencintai Tante?”
Pertanyaan itu membuat Hans tertawa pendek. “Pertanyaan macam apa itu?” gumamnya, namun detik berikutnya ia menoleh, menatap Vivian dengan penuh kecurigaan.
“Jangan bilang… kamu sudah mulai jatuh cinta? Apa ada pria yang kamu sukai di kantor? Jangan. Semua pria di bank itu bukan pilihan yang baik.” Nada suaranya berubah percaya diri, bahkan protektif.
“Aku bisa carikan pria yang jauh lebih baik untukmu.”
“Om, aku serius,” bisik Vivian, membuat Hans kehilangan senyum menggoda itu.
Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Tante Deliana itu… wanita terbaik yang pernah Om temui. Dulu kami sangat bahagia, sangat saling mencintai lebih dari yang bisa kamu bayangkan,” katanya dengan suara yang terdengar seperti seseorang yang merindukan masa lalu.
“Kami mungkin terlihat dingin belakangan ini… tapi cinta itu ada. Dan Om akan mengembalikan semua momen-momen itu. Apa pun caranya.”
Vivian menatap Hans dengan hati yang terasa berat. “Kenapa Om begitu yakin? Bagaimana kalau… sebenarnya Tante sudah nggak merasakan hal yang sama lagi?” tanyanya ragu.
Hans langsung menggeleng dengan cepat, tatapannya tajam namun tetap lembut. “Jangan pernah berpikir seperti itu tentang Tante,” ujarnya tegas. “Dia sedang berada di masa paling berat dalam hidupnya. Pekerjaannya nggak mudah, tekanannya besar… dan soal anak ... kamu tahu sendiri, setiap ada acara keluarga pasti itu terus yang ditanyakan.”
Vivian menunduk, teringat banyak momen tidak nyaman yang pernah ia lihat sendiri.
“Kami sudah berusaha, Vivi…” lanjut Hans, suaranya mulai pelan, hampir rapuh. “Sebisa mungkin. Tapi mungkin Tuhan memang belum memberi kepercayaan itu kepada kami. Jadi… jangan men-judge Tante berlebihan. Dia sudah cukup terluka.”
“Paris,” ucap Vivian tiba-tiba.
Hans yang sedang fokus pada jalan menoleh cepat. “Apa?”
Vivian menelan ludah, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral meski hatinya masih berdebar karena apa yang ia lihat di restoran tadi.
“Tante pernah bilang… dia ingin liburan ke Paris. Katanya dia rindu suasananya, dan pengen jalan-jalan ke museum yang dulu pernah dia kunjungi.”
Untuk beberapa detik Hans terdiam, lalu perlahan senyum muncul di wajahnya, senyum hangat yang biasanya hanya muncul saat ia berbicara tentang Deliana.
“Paris, ya?” gumamnya, seolah merasakan secercah harapan. “Terima kasih, Vivian.”
Vivian hanya mengangguk kecil.
“Delia pasti senang,” lanjut Hans dengan semangat yang kembali hidup. “Aku akan pesan paket liburan yang bagus sekali. Sesuatu yang bakal bikin dia terpukau… dan mungkin, bisa mengembalikan masa-masa indah kami.”
Vivian memandangnya, diam-diam bertanya dalam hati… apakah Hans benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi? Atau… justru dia orang terakhir yang menyadarinya?
***
Esok paginya, meja makan tampak seperti biasa. Namun bagi Vivian, setiap detik terasa berat. Ia melihat bagaimana Hans beberapa kali melirik Deliana dengan gelisah, seolah sedang mencari waktu tepat untuk berbicara.
Akhirnya Hans meletakkan gelas kopinya. “Delia… akhir pekan ini kamu libur atau ada acara kantor?” tanyanya hati-hati.
Vivian menahan napas, berusaha tampak tenang meskipun hatinya berdegup.
Deliana mengernyit kecil. “Aku belum tahu. Memangnya kenapa?”
Hans melirik Vivian sekilas, seolah meminta keberanian. Vivian hanya membalasnya dengan senyum kecil.
“Aku mau ajak kamu makan malam,” ujar Hans kemudian. “Aku sudah dapat reservasi di restoran hotel Rose.”
Deliana sedikit terkejut. “Rose? Kamu dapat meja kosong di sana?”
Hans mengangguk pelan, berharap akan ada senyum hangat dari Deliana. Tapi respons itu tidak datang.
“Baiklah… aku usahakan,” ujar Deliana tanpa antusias, kembali menatap sarapannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat layarnya, lalu berdiri cepat.
“Presdir?” sapanya lembut, berjalan menjauh ke ruang tamu dengan suara yang lebih halus dari biasanya.
Vivian dan Hans saling menatap dalam keheningan yang canggung.
Tak lama, Deliana kembali sambil meraih tasnya. “Maaf, aku harus berangkat sekarang.”
Hans langsung berdiri. “Biar aku antar.”
“Nggak usah,” potong Deliana cepat. “Taksinya sudah menunggu.”
Saat hendak pergi, Deliana menatap Vivian. “Vivian, jangan repotkan om kamu di kantor, ya.”
Vivian hanya mengangguk. “Baik, Tante.”
Deliana pun menghilang di balik pintu, meninggalkan aroma parfum yang memudar cepat.
Hans menatap pintu yang tertutup itu cukup lama, bahunya turun perlahan.
Vivian memperhatikannya diam-diam, merasakan dadanya sesak oleh rahasia yang semakin besar dan perasaan yang semakin tak bisa ia kendalikan.
“Om…” panggilnya pelan.
Hans menoleh, tersenyum letih. “Ayo berangkat, Vivian.”
Vivian melangkah keluar rumah lebih dulu. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sebuah mobil asing yang terparkir di depan rumah. Ia mengerutkan kening, mencoba mengenali plat nomornya.
Dan saat pintu belakang mobil itu terbuka, napas Vivian seakan membeku.
Pria yang sama yang ia lihat di restoran kemarin itu keluar. Deliana yang berdiri di depannya menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Pria berjas mewah itu mendekat, meraih pinggang Deliana, dan dengan sangat natural Deliana membalas pelukannya. Mereka tampak begitu akrab, begitu hangat, begitu salah.
Vivian terpaku. Jantungnya berdentum keras, tubuhnya kaku. Ia bahkan tidak bisa berpaling saat pasangan terlarang itu masuk ke dalam mobil.
“Vivian!” panggil Hans dari belakang.
Vivian terkejut keras. Panik. Refleks ia berbalik dan langsung menarik Hans menjauh, membuat tubuh mereka bertabrakan. Hans memegangi bahu Vivian untuk menjaga keseimbangan.
“Eh—Vivian?” Hans memandangnya bingung. “Kenapa?”
Vivian tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada mobil presdir itu yang perlahan menjauh dari halaman rumah. Mobil yang membawa tantenya… dan pria yang seharusnya tidak bersamanya.
Saat mobil itu hilang di ujung jalan, barulah kesadarannya kembali. Dan saat ia menaikkan pandangannya, ia mendapati wajah Hans sangat dekat dengan wajahnya.
Begitu dekat… sampai Vivian bisa merasakan hangat napasnya.
Hans terdiam, matanya membulat sedikit karena terkejut dengan kedekatan itu. Vivian menelan ludah, jantungnya berdegup tidak karuan.
Perlahan, Vivian mengangkat wajahnya dan menatap ke mata Hans yang masih terpatung kaget… tanpa tahu bahwa dunia mereka baru saja berubah.