Boram merampal doa-doa di dalam kepalanya. Duduk memeluk lutut di antara gantungan pakaian, menunggu bantuan datang. Entah siapa yang tadi dia telpon karena terlalu panik ketika mendapati ada orang di luar kamarnya yang kemungkinan besar maling. Seingatnya dia sudah mengunci semua pintu dan jendela sebelum masuk kamar tadi. Yah walaupun seharusnya dia nggak perlu heran juga karena yang namanya maling pasti ahli dalam hal buka membuka. Sepertinya Boram memang sedang sial malam ini. Belum ada tidur, sempat galau menangisi almarhum Mas Kelana yang ujung-ujungnya harus mengkeret di dalam lemari menghindari apapun yang ada di luar sana. Betapa ngenesnya hidup sendirian. Boram tidak peduli dengan barang-barang yang mungkin di ambil si maling. Dia bisa membelinya lagi nanti meksipun tidak banya

