Hancur, satu hal yang pastinya dirasakan oleh semua orang tua jika mendengar kabar kurang mengenakan dari anaknya. Terlebih kabar tersebut mengatakan jika anaknya merupakan orang ketiga dari hubungan sang sahabat. Eva yang pasti sangatlah mengenal bagaimana putrinya. Tentu saja putrinya bukanlah tipikal sahabat yang munafik. Bukan juga tipikal w************n yang mau dijadikan orang ketiga. Bukan, Eva sangat yakin sekali jika Anara bukanlah orang seperti itu.
Saat ini dalam perjalanan pulang dari rumah Mikhaella di mana menjadi tempat berlangsungnya acara pertunangan putra dari Ayu dan Mikhaella, Eva terus saja menangis, ingin cepat-cepat pulang dan sampai di rumahnya. Ingin melihat bagaimana keadaan sang putri. Bisa saja ini salah dari anaknya Ayu itu, kan? Dia yang memang mau berpacaran dengan Anara sampai membohongi putrinya itu. Itu pasti. Pasti Anara ditipu. Anara yang dirugikan di sini. Anara yang buruk nama baiknya karena sudah dituduh melakukan yang tidak-tidak.
“Mas, ini kamu bisa lebih cepetan sedikit gak sih? Aku khawatir banget sama Anara! Aku takut kalau dia kenapa-kenapa. Aku takut kalau dia lagi drop banget karena dapet masalah sebesar ini. Ayo lebih ngebut lagi, Mas!” tekan Eva dengan suara lantang dan tangan yang turut menepuk lengan suaminya. “Jangan lelet gini lah mas nyetirnya,” lanjutnya penuh frustrasi.
“Iya ... sabar, Eva. Ini udah paling cepet, kita harus mikirin diri kita sendiri juga sebelum mikirin Anara. Bahaya kalau ngebut-ngebut apalagi jalanan rame kayak gini. Takutnya kita jadi dalam bahaya, Sayang. Kamu lebih baik sekarang berdoa aja semoga Anara baik-baik aja. Semoga dia enggak kenapa-kenapa. Anara cewek yang cerdas, kita berhasil didik dia dengan baik, dia pasti bisa mikir apa yang terbaik untuk dia lakuin dan apa yang enggak baik. Kamu tenang aja,” ujar Damares berusaha menenangkan istrinya.
Ya, Damares tahu sebagai ibu memang bukanlah hal yang mudah di saat anaknya tertimpa masalah, kita tak bisa di sampingnya. Pasti sangat memenuhi isi kepala, Damares sangat tahu itu. Namun apa boleh buat? Saat ini mereka berdua masih berada di jalan, keselamatan adalah yang paling utama. Bukan hanya untuk diri mereka berdua saja, tetapi untuk semua pengendara.
“Kamu tarik napas dalam-dalam, Sayang. Anara anak yang cerdas, semuanya pasti akan baik-baik aja. Anara pasti bisa nenangin diri dia sendiri.”
***
Menangis sampai ketiduran, pernahkah kalian merasakan hal tersebut? Bagaimana perasaannya? Apakah sangat lega saat bangun? Atau justru merasa kembali sedih saat bangun? Well, kata orang menangis sampai ketiduran merupakan level di mana kita merasakan sangat terluka sekali. Ibarat kata dunia kita sudah tidak baik-baik saja. Berat memang menjalani fase seperti itu, namun mau tidak mau kita harus lewati semuanya dengan baik dan lapang d**a. Kita harus bisa membuktikan kalau kita merupakan manusia yang kuat. Kita harus bisa membuktikan kalau kita juga berhak bahagia. Bahagia adalah hal yang berhak semua orang dapatkan tanpa terkecuali.
Usai sampai di rumah, Eva dapat melihat betapa lelahnya sang putri yang tidur dengan posisi melengkung di sofa, jejak air mata terdapat di mana-mana juga tisu yang berserakan di lantai kamar. Ya, Eva tahu masa yang tengah dijalani putrinya saat ini adalah masa yang sangat berat. Anara termasuk tipikal orang yang susah sekali percaya dengan orang lain, memilih siapa yang pantas menjadi sahabatnya. Bertahun-tahun sudah Anara dengan Mikhaella bersahabat, namun ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Nyatanya Tuhan menyiapkan hal yang sangat indah kelak. Eva yakin itu.
“Good night, Princess. Yang kuat dalam menghadapi hari ini, ya. I know, ini sama sekali enggak mudah. Tapi mamah yakin kalau kamu bisa lewatin itu semua dengan baik. Mamah dan papah ada di sini untuk kamu. Mamah dan papah akan selalu ada di samping kamu.”
***
Pukul dua dini hari, Anara terbangun dengan kondisi kelaparan. Gadis tersebut langsung mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk. Setelah itu ia langsung menatap kosong ke kamar yang sudah rapi padahal ia sangat ingat sekali bagaimana keadaan terakhir kamar ini. Tentunya kamar ini berakhir berantakan, tisu di mana-mana, jejak air mata di mana-mana. Mengerutkan keningnya dengan bingung, dalam hati ia berkata-kata. Kira-kira siapa yang membersihkan semuanya ini?
“Apa mamah yang bersihin semua ini, ya? Emangnya mamah tau kalau gue nangis? Mamah sama papah juga baru aja pergi ke acara tunangan anak dari sahabatnya, kan? Pasti acaranya sampai larut malam. So, enggak mungkin kalau mamah sama papah yang ngelakuin ini semua. Terus siapa dong yang bersihin kamar ini?” tanya Anara dengan jemari yang masih terus mengusap lengannya. Setegar mungkin menahan tangis karena dirinya sudah merasa sesak bukan main sedari tadi.
Malam ini Anara kehilangan banyak hal. Malam ini Anara kehilangan sahabatnya, kekasihnya, juga orang-orang terdekat di hidupnya. Banyak sekali yang tak pernah Anara duga, banyak sekali yang tiba-tiba saja terjadi bahkan tak pernah masuk dalam rencana. Sedih? Pastinya. Hal-hal yang tak terduga memang sangat menyakiti hati kita. Kecewa? Juga pasti. Di sini Anara tidak tahu apa-apa. Di sini Anara tidak tahu jika ternyata Dave-nya adalah Mas Va-nya Mikhaella. Di sini Anara sama sekali tidak tahu jika ia adalah yang kedua. Anara di sini juga ditipu, tetapi kenapa seluruh dunia di sini terus saja menyalahkan Anara? Tak ada yang memedulikan Anara. Tak ada yang peduli jika Anara juga sakit hati dan terluka di sini.
Kembali, Anara kembali meneteskan air mata saat kembali teringat dengan masalah yang saat ini ia hadapi. Gadis tersebut langsung saja menunduk membuat setetes air bening jatuh melintasi pipi yang selama ini berusaha tersenyum manis. Menyakitkan sekali, Tuhan. Semua kuasa-Mu sungguh menyakitkan untuk dijalani Anara. Semua hal yang kau berikan pada Anara saat ini sungguh menyakitkan.
“Dave ... kenapa kamu malah pergi dari hidup aku dan saat kita bertemu, kamu malah mau tunangan sama sahabat aku. Kenapa kamu bohong selama ini kalau aku jadi yang kedua? Kenapa kamu bohong selama ini kalau ternyata kamu udah punya calon istri? Sakit, Dave. Sakit banget rasanya. Sebelumnya aku enggak pernah duga seperti ini. Sebelumnya aku enggak pernah tau kalau akan jadi kayak gini. Di sini kamu yang bohong tapi aku yang kena imbasnya. Di sini kamu yang bermain api tapi aku yang dicemooh seluruh dunia. Kamu kejam, Dave! Kamu kejam banget. Aku benci sama kamu!”
“AKU BENCI KAMU, DAVE!”
Huh ... rasanya bagai dihimpit ribuan batu saja d**a ini, menyesakan. Tangis sudah setia menjadi teman rupanya. Tawa juga rasanya sangat hambar sekali untuk dilakukan. Mungkin sejak hari ini tak ada lagi kebahagiaan di hidup Anara karena sebelumnya Anara pernah berkata jika ia kehilangan Mikhaella, hidupnya akan redup dan tak akan pernah bercahaya lagi.