Seluruh staf menyempatkan diri mampir ke klinik di mana Tiwi dirawat pasca kecelakaan tunggal saat hendak berangkat kerja. Meskipun keadaan Tiwi tidak terlalu parah, tapi Tiwi belum diperbolehkan pulang karena perlu menjalani perawatan setidaknya sampai beberapa hari ke depan.
Sampai kemudian, beberapa staf berangsur-angsur pulang dan Bina sengaja yang paling terakhir karena ingin mengobrol dengan Tiwi dulu.
“Maaf ya Bin, jadi nggak bisa berangkat dan pulang bareng dulu.”
“Ya ampun Tiwi, jangan mikirin itu. Sekarang yang terpenting kamu pulih aja dulu. Aku syok banget sumpah, sampai tremor pas kamu nelepon dan bilang kecelakaan.”
“Bin, kalau aku nelepon artinya aku baik-baik aja. Masih sadar, makanya bisa nelepon,” kekeh Tiwi.
“Ih, kamu ini.”
“Terus Bina tadi pagi berangkat sama siapa?” tanya ibunya Tiwi yang memang ada di ruang perawatan juga.
Bina kemudian menoleh pada wanita paruh baya yang memang mengenalnya. Bahkan, Bina memanggilnya mama, bukan tante. Saking dekatnya Bina dengan Tiwi.
“Aku berangkat sama sepupuku, Ma.”
“Syukurlah. Semoga sepupu kamu bisa antar jemput kamu untuk sementara waktu ini, Bin,” kata Tiwi. “Soalnya nggak mudah dapat ojol,” lanjutnya.
Sejenak mereka mengobrol dan tak lama kemudian, Bina menyadari hari semakin malam. Tiwi juga seharusnya istirahat. Bina pun pamit pulang.
“Hati-hati di jalan ya, Bin. Minta jemput sepupu kamu aja,” saran Tiwi.
“Tiwi benar. Ini udah malam, sebaiknya kamu minta jemput saudara kamu,” pungkas ibunya Tiwi.
***
Jujur, Bina sungkan meminta jemput Niko. Sekalipun tadi pagi Niko mengantarnya, tapi bukan berarti Bina lupa kalau pria itu keluar kota tanpa bilang. Terlebih Bina masih terngiang suara seorang wanita yang menyebut ‘celana dalam’ pada Niko. Untuk itu, Bina memutuskan memesan ojol saja.
Baru saja Bina keluar dari klinik dan duduk di kursi panjang di depan untuk memesan ojol, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya. Bina kemudian mendongak.
“Mas Elan?” tanya Bina saat menyadari pria yang berdiri di hadapannya adalah seniornya yang juga ikut menjenguk Tiwi. Bahkan, tadi Bina ikut naik motor bersama Elan dari kantor menuju klinik. “Kok belum pulang?” sambungnya.
“Saya habis ngopi dulu di kantin, biar nggak ngantuk pas nyetir pulang. Kamu juga belum pulang rupanya.”
“Ini baru mau pulang.”
Elan kemudian melirik layar ponsel Bina yang sudah menampilkan halaman depan untuk memesan ojol.
“Jangan pesan ojol. Pulang sama saya aja sekalian. Kita se-arah, kan?”
“Loh, memangnya rumah Mas Elan di daerah mana?”
Elan kemudian menyebutkan nama daerah. “Se-arah, kan?”
Bina mengangguk-angguk.
“Kalau gitu bareng saya aja.”
“Enggak apa-apa nih, Mas? Tadi pas ke sini aku dikasih tebengan, sekarang pulang pun dikasih lagi.”
“Enggak apa-apa. Saya belum punya istri, kok. Jadi kamu nggak usah merasa nggak enak,” kekeh Elan. Bercanda. “Tentunya saya juga nggak bakalan minta ongkos,” sambungnya.
“Ya ampun.” Bina ikut terkekeh.
***
Niko gelisah. Sudah hampir pukul sembilan malam tapi Bina belum juga pulang. Bina juga tidak menjawab teleponnya saat coba ia hubungi. Itu sebabnya sejak tadi Niko menjelma seperti setrikaan yang bolak-balik antara ruang tamu dan teras depan. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda Bina datang.
Dan yang membuat Niko semakin khawatir adalah hujan turun dengan sangat deras. Se-deras saat Niko menembus jalanan untuk menangkap basah Velia waktu itu.
Sampai kemudian, penantian Niko berakhir saat sebuah motor matic berhenti tepat di depan gerbang. Bina yang basah kuyup turun dan tampak berbicara dengan seorang pria yang tadi memboncengnya. Setelah pria itu pergi, Bina buru-buru masuk rumah.
Niko? Ia sudah lebih dulu masuk ke kamarnya dan bersikap seolah-olah tidak melihat Bina. Rasanya tidak lucu kalau ia ketahuan sedang gelisah menunggu sepupunya itu pulang. Jadi lebih baik Niko pura-pura tidak tahu saja.
Hanya saja, Niko tak bisa memungkiri kalau dirinya penasaran ... siapa pria yang mengantar Bina?
Sementara itu, Bina langsung masuk dan menuju kamar mandi. Untuk lantai yang basah sepanjang langkahnya menuju kamar mandi, Bina berjanji akan mengepelnya nanti saja kalau sudah setelah mandi.
Bukannya apa-apa, Bina selalu disiplin setelah kehujanan pasti harus langsung mandi. Selain demi kebersihan dan kenyamanan, ini juga untuk menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak sakit atau merasa pusing setelah kehujanan.
Niko yang keluar dari kamarnya menyadari Bina sedang mandi. Ia kemudian mengepel lantai yang basah. Niko bahkan mengamankan tas Bina yang tergeletak begitu saja di lantai.
“Untung tasnya tahan air,” gumam Niko seraya mengelap tas Bina lalu meletakkan tas itu di sofa ruang tamu.
Niko lanjut ngepel sampai dapur dan dekat pintu kamar mandi karena lantainya memang basah se-panjang langkah Bina dari teras menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Bina yang menyadari Niko ada di dapur langsung memanggil nama sepupunya itu.
“Kak Niko!”
“Kenapa?”
“Kak Niko lagi ngapain?”
“Lagi ngepel lantai yang basah gara-gara lo.”
“Hmm, Kak Niko ... aku boleh minta tolong nggak?”
“Enggak.”
“Ih, serius.”
“Minta tolong apa? Buruan sebelum gue balik ke kamar.”
“Sebelum Kak Niko balik ke kamar, bisa tolong ambilin handuk aku?” tanya Bina. “Tadi pas nyampe, aku langsung ke kamar mandi. Jadi nggak bawa handuk,” jelasnya kemudian.
“Memang handuk lo di mana?”
“Di kamarku. Aku taro di gantungan belakang pintu kamar. Masuk aja nggak apa-apa,” kata Bina. “Maaf ngerepotin. Nanti cantolin aja di handle pintu kamar mandi. Makasih ya, Kak.”
Tidak ada jawaban yang artinya kemungkinan Niko sedang mengambilnya.
Beberapa saat kemudian, Niko kembali ke dapur lalu menggantung bathrobe pada pegangan pintu sesuai permintaan Bina.
“Udah tuh.”
“Sekali lagi makasih ya, Kak.”
Niko tidak menjawab. Ia juga tidak langsung ke kamar, melainkan pelan-pelan menarik kursi yang ada di meja makan lalu duduk di sana. Posisi duduknya membelakangi kamar mandi.
Saat hujan begini, Niko ingin menyantap mi instan dalam cup. Belum selesai menggunting bumbu-bumbunya, tiba-tiba lampu menjadi gelap. Bukan hanya lampu dapur dan kamar mandi, melainkan seluruh lampu.
“Serius ini mati lampu?” gerutu Bina yang masih ada di kamar mandi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. “Mana lagi ini handuknya?” Bina mengeluarkan tangannya untuk meraba-raba pintu, tapi ia tidak menemukan handuk yang dibutuhkannya.
“Apa handuknya jatuh?” gumam wanita itu lagi. Sialnya gelap, tidak ada cahaya sama sekali sehingga Bina kesulitan menemukan handuknya.
Bina mengira Niko sudah kembali ke kamar sehingga terbesit niatnya untuk keluar kamar mandi tanpa busana karena kemungkinan handuknya ada di lantai.
Memberanikan diri membuka pintu lebih lebar lagi, tanpa Bina sadari sebenarnya Niko sedang berjalan mendekat menuju pintu kamar mandi. Pria itu langsung beranjak dari duduknya saat mendengar Bina menggerutu handuknya tidak ada.
Niko yakin handuk Bina jatuh dan berniat mengambilkan untuk Bina, tanpa menyadari kalau Bina nekat keluar kamar mandi untuk mengambilnya sendiri dalam keadaan telanjang. Terlebih hujan semakin deras dan itu menyamarkan suara langkah serta pergerakan satu sama lain.
Sampai kemudian, mereka hanya berjarak satu langkah saja saat kompak berhadapan mengambil bathrobe yang tergeletak di lantai. Detik berikutnya lampu tiba-tiba menyala, sontak mereka sama-sama terkejut.
Niko terpaku saat melihat Bina tak memakai sehelai benang pun di hadapannya. Bukankah ini pemandangan yang gila?
Bina kemudian berteriak, “Aaaaa!”