3. NEXT DOOR

2407 Words
Tok…tok… Bryan membuka matanya yang masih mengantuk, tidurnya selalu di atas jam dua belas membuat matanya masih lengket bak di olesi lem di kedua katup matanya. Mendengar ketukan pintu yang tak kunjung berhenti, Bryan bangun dengan wajah bak singa yang di ganggu tidurnya. “siapa sih, ganggu tidur gue mulu!” bentak Bryan seraya membuka pintu dan menampakkan cewek dengan babydoll melekat di badannya. Bryan menghela nafas begitu mengingat ini cewek yang bersikeras membobol pintu kamarnya. Bryan membuka pintunya setengah, cowok itu sengaja diam membiarkan Gisna yang sibuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hanya karena canggung untuk mendahului bicara. “kak!” sapa Gisna dengan senyum cengiran khas miliknya. “ nggak usah cengengesan lo, buruan ada apa?” Tanya Bryan kesal, entah kenapa setiap Gisna tersenyum padanya ada gelitik hati yang segera ia usir dengan amarahnya. “benerin kran kamar mandi gue,pliss!” ucap Gisna memohon dengan tampang yang dibuat-buat. Bryan menatap dalam mata Gisna yang menatapnya penuh dengan harapan. Cukup lama ia berfikir, mulutnya yang tidak bisa di ajak bekerja sama dengan fikirannya. Seumur-umur baru pertama kali ini di Jakarta ia harus bertemu dengan cewek yang selalu membutuhkannya. Bryan akhirnya mau membantu Gisna. Meski tidak mengucapkan sepatah katapun namun kaki panjangnya melangkah menuju kamar Gisna. Cewek itu girang meski tak mendengar secara langsung suara Bryan meng-iya-kan permintaannya. “kenapa nih?” Tanya Bryan mengotak ngatik kran yang tak beroperasi dengan benar. “nggak tahu nih, nggak mau keluar airnya. Kak, gue tinggal mandi di samping dapur ya?” Tanya Gisna menggigit bibir bawahnya, tak enak hati tapi ia sudah telat. “maksud elo, gue suruh benerin terus lo mau pergi. Lo piker gue tukang benerin kran!” gertak Bryan dengan nada tinggi dan di tambah lagi menggema karena di dalam kamar mandi. “gue udah telat kak!” rengek Gisna spontan tanpa memikirkan rasa tak enak pada Bryan yang sibuk membenarkan kran yang mulai mengeluarkan air. Bryan kalah sekali lagi, akhirnya ia mengusir Gisna dengan tangan yang mengibas-ngibas pada Gisna untuk segera keluar. Dia benar-benar selalu kalah jika bertentangan dengan cewek itu. *** Gisna segera mengunci kamarnya Dia sudah telat bekerja di sebuah kedai Coffe tak jauh dari kost barunya. Ayah Refi sengaja mencari tempat kost alternatif yang terdekat dengan tempat kerja sahabat putrinya yang sudah seperti putrinya sendiri itu. Kampus sudah libur sejak kemarin namun tempat kerja Gisna justru ramai-ramainya pelanggan. Di hari liburan kuliah seperti ini Gisna justru lebih sering mencari pekerjaan double. Siapa bilang Ayahnya memberikan izin justru kedua orang tuanya melarang Gisna untuk bekerja, namun Gisna adalah sosok yang keras kepala seperti ayahnya. Jadi jangan heran apapun yang orang tuanya katakan tak menghentikan tekadnya untuk lepas dari ketergantungan padaa orang tuanya. Ddrrttt... ddrrrttt... Baru saja Gisna meletakkan tas kecilnya sebuah getaran ponsel membuatnya menghentikkan langkahnya. Di lorong ruang karyawan Ia mengecek ponselnya yang beberapa kali bergetar, sungguh membuatnya penasaran siapa gerangan yang mengirimkan pesan bertubi-tubi padanya. Fathur: Na Hei Liburan semester jalan yuk! Gisna memutar bola matanya malas, jujur saja lelaki yang sudah berstatus menjadi mantan kekasihnya itu membuatnya tak berniat melanjutkan pekerjaannya di hari ini. Sebenarnya sikap Gisna yang terlewat dingin mampu membuat Fathur menjauh namun nyatanya cowok itu selalu ada di manapun Gisna berada. Ddrrttt... ddrrtttt... "hah!" Gisna membuang nafasnya kasar begitu getaran ponselnya menghentikan langkahnya lagi, namun raut wajahnya berubah ketika ternyata ada chat dari sahabat karibnya yang mungkin dia baru saja bangun dari alam mimpinya. Refi : jam berapa lo pulang? Ntar gue mampir ke kost elu deh. Gisna: oke jangan lupa bawain gue nasi bungkus yeh. >. Gisna dengan semangat menyuruh sahabatnya itu, seperti biasa ketika sahabatnya itu berkunjung Gisna memanfaatkan kedatangan sahabatnya itu untuk kepentingan pribadinya. Gisna memang kadang menggunakan sifat ularnya. Gisna membersihkan meja pelanggan yang masih sepi itu, tiba-tiba bayangan tetangga barunya ah bukan tepatnya cowok yang satu kost dengannya, satu-satunya makhluk yang Ia kenal di beberapa kamar di kost barunya. "kok gak mau buka sih?" tanya Gisna pada pintu kamarnya yang kuncinya justru tak bergerak sama sekali. "ngapain lo di depan pintu kamar gue?" gertak suara bariton dari belakang Gisna. Suasana berubah mencekam rupanya kala Gisna membalikkan badannya yang Ia dapati adalah cowok dengan tubuh tak terlalu kekar namun tinggi menjulang dengan tatapan tajam bak seekor elang menemukan mangsanya. Kost itu terlalu sepi, yang Gisna lakukan hanya menunduk mencoba menemukan jawaban. Namun aura dingin di sekitarnya tak bisa membuatnya berfikir jernih. "ini kamar gue kok mas!" ucap Gisna pelan membela dirinya bahwa Ia tak salah kamar. "mas? emangnya gue kakak elo! Ini nomor sembilan kamar gue, dan kunci elo itu nomor enam b**o!" Takkk... Ucap cowok itu dengan sengaja menekan kata sembilan dan enam, sudah bernada tinggi kemudian menjitak jidat orang sesuka hatinya. Wajahnya begitu serius sampai Gisna yang ingin protes karena jitakkan yang membuatnya sedikit terjungkal terbuang begitu saja ketika manik mata itu bertemu begitu hitam pekat. "tapi ini sembilan kok!" ucap Gisna bersikeras jika kunci yang Bu Kost berikan padanya adalah angka sembilan. "daripada elo bersikeras sama pendapat elo itu mending elo cabut kunci yang perlahan berkarat itu terus elo coba di kamar depan gue ini. " ucap cowok itu dengan mengangkat alisnya sebelah.  Gisna mencabut kunci miliknya yang Ia yakini adalah sembilan, dengan langkah lebar Ia segera memasukkan kuncinya di kamar nomor enam tepat di depan kamar si cowok yang masih menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Menunggu apa yang akan terjadi. Begitu masuk kunci itu dengan ringan mau memutar ke kiri, dan terbukalah kamar nomor enam. Terbukti jika itu memang kamar Gisna karena di dalam kamar itu ada barang-barang miliknya dari kost lamanya. Dengan malu Gisna menoleh memberikan cengiran khas miliknya yang tanpa dosa itu pada cowok yang tesenyum sinis padanya. "mrenges lagi lo!" umpat cowok itu semakin kesal dengan segera Ia memasuki kamarnya dan terbebas dari cewek gila yang menjadi tetangga barunya itu. "Gisna antar pesanan ini ke alamat ini!" perintah manager Gisna begitu melihat yang dilakukan Gisna mengelap meja pelanggan yang tak berarah. Karena pandangan karyawannya tampak kosong tampak melamun. Terlalu sibuk memikirkan tetangga kamarnya yang berwajah suram sampai mampu membuat Gisna melamun. Wajahnya begitu familiar, pernah bertemu tapi dimana ? *** "gara-gara cewek itu gue harus mandi pagi!" ucap cowok yang sedang berkaca mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. "lo ngomong sama siapa sih, Bri?" tanya Raka yang mendengar gumanan sahabatnya. Padahal Satria dan Edo justru sibuk bermain gitar di ruang tamu. Kost ini memang lebih cocok di sebut dengan kontarakan karena ada dapur dan juga ruang tamu, dan ruang tengah untuk menonton TV. Hanya ada 14 kamar namun setiap empat kamar akan di batasi dengan fasilitas umum. Meski setiap kamar mempunyai kamar mandi sendiri. "iya kenapa sih lo, Bri bukan elo banget deh marah-marah gak jelas gitu apalagi mandi pagi!" ejek Satria sambil tertawa renyah mengolok tampilan Bryan yang sudah rapi dan juga wangi, padahal biasanya masih bau kasur dan rambut seperti tersengat listrik. "bayangin ada tetangga kos baru dia cewek masa iya nyuruh gue benerin kran air kamar mandinya, mana gue kesemprot air lagi pas krannya nggak sengaja jatuh. k*****t sumpah! Dan yang harus elo semua tahu ya! Gue baru sadar satu hal. cewek itu tuh yang minta di bayarin waktu di supermarket kemarin malem." umpat Bryan tiada habisnya mengingat bagaimana raut wajah cewek itu yang menahan tawa karena takut padanya. Sakitnya gak seberapa malunya itu bikin demam tujuh hari tujuh malam, ini pertama kalinya Ia mau bersusah payah dengan segala hal yang bukan urusannya. Mbak Ajeng saja yang berpenghuni lama di kost ini tak pernah mau menyuruh atau meminta bantuan pada Bryan karena jawabannya akan sama yaitu " males". Setan mana yang membuat Bryan membantu cewek yang akhir-akhir ini merepotkan dirinya itu.  "kalok gue jadi elo nih Yan, gue pinjemin kamar mandi gue deh sekalian modus." Ucap Edo dengan senyum songong begitu menemukan ide konyol itu. Dukkkk... Tanpa pikir panjang Raka menendang p****t Edo yang di hadapannya, Bryan yang sudah emosi justru semakin memerah padam mendengar respon Edo pada keapesannya di pagi hari libur pertama ini. "itu mulut belum pernah di tabok ya? Jangan-jangan jodoh lo kali itu cewek Yan." ucap Satria dengan tawa mengelegar mendengar ucapan Edo yang tak pernah sejalan dengan suasana. "b*****t emang! Teori darimana lagi sih itu!" umpat Bryan entah untuk keberapa kali. "tapi Yan tumben ini kost sepi yang lain kemana?" tanya Raka begitu menyadari hanya ada mereka di kost besar ini padahal banyak cewek berlalu lalang di sekitarnya. "inikan liburan semester mereka pulanglah!" ucap Bryan dengan malas menjawab pertanyaan tak berbobot Raka. Yang lain hanya diam setelah mengangguk-ngangguk tanda mengerti, mereka tak pernah bertanya pada Bryan kenapa cowok itu tak pernah pulang meski libur panjang. Mereka tak tahu masalah intinya yang mereka tahu hanyalah Bryan tak berhubungan baik dengan keluarga besarnya. “Terus si cewek itu kemana?” Tanya Satria mengalihkan pembicaraan yang kini mulai canggung. “Katanya sih telat, mungkin dia kerja.” Jawab Bryan sambal menerka-nerka penjelasan Gisna sewaktu dia minta tolong kepada Bryan untuk membenarkan kran kamar mandi di kamarnya. “Dia bukan anak kuliahan?” Tanya Edo yang langsung menoleh mendengar penjelasan Bryan. “Kuliah lah.” Ucap Bryan sedikit meninggikan nada bicaranya, entah mengapa suara-suara terdengar keras. Teman-temannya memicingkan pada Bryan, ada senyum misterius pada wajah ketiga sahabatnya. “Kok lo bisa tahu?” Tanya Raka mencibir dengan nada meremehkan. “Bodo amat ah!” ucap Bryan menanggapi berbagai tuduhan sahabatnya yang masih di angan-angan. Bryan sudah tahu respon sahabatnya akan jadi seperti ini. Dia pun beranjak meninggalkan teman-temannya yang masih terkekeh geli melihat kelakuannya. *** "gak usah senyum-senyum lo!" semprot Gisna pada Refi yang tak jadi menemuinya di kala jam istirahat kerja. Ada urusan mendadak yang membuat Refi menemui Gisna sepulang cewek itu bekerja. "marah ya?" tanya Refi garing, pertanyaan konyol di kala wajah sahabatnya sudah merah padam ibarat sebuah animasi banyak asap di sekitar telinga dan hidung Gisna di kala wajahnya mendidih di pucuk ubun-ubun. "lo tuh gila Ref? Gak ngasih tahu kalok kost gue ternyata campur. " ucap kesal Gisna mengingat kejadian bertubi-tubi akhir-ahir ini dengan cowok kamar depannya. "kata ayah itu yang paling murah Na, gue nurut ajalah apa kata Ayah gue." Ucap Refi dengan senyum garingnya membuat Gisna ingin melmpar sepatunya di muka tanpa dosa itu. Gisna tak merespon ucapan Refi, yang ada akan semakin meledak mendengar alasan-alasan Refi yang sok polos itu. Lagi pula ini bukan saat yang tepat karena mereka sedang perjalanan pulang, yup! Gisna sedang berada di jok belakang Refi. "by the way, cowok di kost lu ganteng kaga Na?" tanya Refi mulai mengkhayal yang tidak-tidak. Sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm di kepalanya. "gundulmu!" ucap Gisna segera masuk kost meninggalkan sahabatnya yang melongo melihat Gisna yang sudah lenyap di telan gerbang kost yang cukup tinggi itu. "k*****t itu bocah gue di tinggalin sendiri." Ucap Refi kemudian menyalakan motor maticnya dan melaju melawan dinginnya malam. *** Bryan menepi dari jalan raya secara perlahan. Ia malas masuk kuliah hari ini, ia membelokkan diri ke supermarket langganannya. Membeli rokok dan sekaleng minuman soda sepertinya bukan sesuatu yang buruk. Baru saja ia menaruh bokongnya di kursi, bahkan belum sampai menempel. Ada tiga orang berpakaian setelan sama duduk mengelilingi meja Bryan. Bryan sudah tahu siapa itu, ia tetap santai dengan wajah yang rileks. Mencoba sebiasanya mungkin menyembunyikan emosi yang bergejolak di d**a, begitu geram ingin menghabisi ketiganya. “Bos gue, menyuruh lo untuk datang di basecamp dan bergabung dengan kami. “ ucap salah seorang di antaranya. “Gabung? Lo piker gue b**o,hah! Elo anak buah Dendy t***l itu kan?” bentak Bryan dengan wajah sinis tak menyangka. Si tua gila harta itu selalu memaksanya untuk ikut bisnis busuk milik mereka. “Gue kesini ada niat baik, mau ngajak elo gabung. Denger-denger elo jagoan kampus yang tiada tandingannya.” Ucap sosok di samping Bryan. Ucapan lelaki itu terlihat sangat menyepelekan seorang Bryan. Hahaha… Gelak tawa terdengar dari ketiganya, mendengar temannya menyepelekan Bryan. Ketiganya menganggap diamnya Bryan adalah sebuah lelucon yang pernah ada. Padahal mereka tidak tahu saja situasi di bawah meja, tangan Bryan sudah mengepal kuat siap melayangkan pada wajah k*****t-k*****t itu. Bugg… Sebuah pukulan akhirnya mendarat di salah satu orang utusan Dendy itu, dengan tubuh yang tanpa aba-aba menerima hantaman keras membuat tubuhnya tersungkur dengan kursi yang jatuh ke belakang. “kurang ajar!” umpat salah satunya setelah membantu rekannya bangun. Ia segera berlari dengan tangan siap memukul Bryan. Sayangnya tak sesuai ekspetasi, dia sudah tersungkur dengan tendangan Bryan yang tepat mengenai d**a bidang orang itu. Bryan membabi buta, memukul keduanya dengan kursi yang mudah di angkatnya. Melayang mengenai wajah orang-orang utusan musuhnya sejak dulu. Bryan berdiri namun tak sadar seseorang bangkit dan melemparkan tendangan di kaki Bryan. Bugg… Bryan bangkit menendang perut ketiga orang yang tak ia kenal, persetan dengan CCTV yang terpasang di depan supermarket. Fikirannya kalut yang ada ingin segera pergi. “Bilang sama bos elo, gue gak bakal sudi buat gabung sama komplotan serigala kayak kalian!” tegas Bryan berbalik badan menuju meja yang tadi ia duduki. Bryan memakai helm full face miliknya dan segera menyalakan mesin, meninggalkan tiga orang yang terkapar dan menjadi tontonan kasir supermarket dari dalam. *** Gisna memasuki pekarangan rumah kostnya, dia menyadari kalua ia berpapasan dengan seorang pengendara motor yang juga masuk ke kost ini. Gisna bisa menebak tanpa memperhatikan detail siapa yang sedang melepas helm di kepalanya itu. Gisna pun memelankan langkahnya, dia tidak tahu setiap cowok itu datang dia selalu penasaran. Bryan yang menyadari ada seseorang di belakangnya segera menoleh, perasaannya lega begitu mengetahui ternyata Gisna yang berada di belakangnya. Awalnya ia berfikir kalua itu adalah komplotan Dendy yang mengutitnya sampai sini. “wajah kakak kenapa?” Tanya Gisna menyadari luka memar memenuhi wajah Bryan. Bryan terdiam, harusnya jika ia tidak ingin Gisna tahu dia tak perlu diam di samping Gisna yang sedang memperhatikan setiap lukanya. “mau gue obatin kak?” tawar Gisna berusaha menyentuh luka di pelipis Bryan. namun tangan itu lebih dulu di cekal oleh Bryan. gisna mendongak lurus menatap mata Bryan yang begitu gelap menurutnya ada sesuatu yang disembunyikan disana. Bryan melepas cekalannya dan segera pergi meninggalkan Gisna yang masih diam ditempatnya. Gisna mengusap pelan cekalan Bryan yang tidak sakit namun cukup kuat. Gisna segera masuk ke kost dan keadaan masih sama setiap harinya begitu sepi seperti hanya dia yang menyewa kost disana. Gisna tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi melalui jendela kamarnya. Bryan menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan dengan emosi. Ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan kebahagiaan yang semu yang menyelimuti hatinya. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD