Bara baru saja sampai di Bandung, di rumahnya, ia tengah terduduk termangu di ruang makan menikmati kelelahannya beberapa jam mengemudi dari Bandung ke Tasikmalaya, tempat sang adik semata wayang melakukan kegiatan KKN. Sebenarnya berkedok sedang mengistirahatkan badan, sebenarnya ia sedang terfikirkan dengan apa yang ia katakan kepada adiknya sehingga adiknya merasa seperti kehilangan pendukung untuk melangkahkan kakinya lebih jauh lagi. “Sebaiknya lo coba lupain si Bryan aja dek?” Begitulah ucapannya memutuskan sorot mata senang Gisna kala gadis itu membahas tentang lelaki yang kini berpenghuni dalam hatinya. Bara merasa iba karena seperti sudah menyurutkan semangat adiknya untuk tetap menunggu kepergian lelaki yang kembalinya entah kapan. Terlebih Bryan mungkin saja akan sedikit sul

