Gisna sudah berdandan rapi untuk ke kampus hari ini, menunggu Refi yang belum juga datang. Sahabatnya satu itu memang sangat super lama untuk segala hal apapun kecuali traktiran. Gisna sudah mengira jika Refi akan terlambat menjemputnya makanya Ia masih bersantai ria menonton film kartun sinema hari ini.
Sampai pagi ini Gisna belum melihat hidung Bryan yang biasanya muncul di belakangnya atau di depannya entah ada hal penting atau yang sengaja dibuat penting oleh cowok bermata tajam seperti elang itu.
Gisna menatap kamar Bryan yang tertutup, jendelanya masih tertutup dengan tirai dan tidak ada cahaya di celah-celah udara atas pintu menandakan cowok itu belum pulang sama sekali. Bukankah ini sudah memasuki waktu untuk kuliah, tunggu kenapa Gisna harus peduli? Harusnya Ia senang karena tak ada yang muncul tiba-tiba di hadapannya.
Mbak Ajeng muncul dari pintu kamarnya dengan rambut yang masih di gulung denga handuk ungu kesukaannya, Gisna memberi senyum untuk menyapa tetangganya yang kini akrab dengannya.
Ajeng duduk di samping Gisna dengan secangkir coffe latte di tangan kanannya, Ajeng memandang Gisna dari atas sampai bawah.
"Mau kuliah?" Tanya Ajeng yang langsung di balas anggukan singkat Gisna dengan senyum.
"Iya lagi nunggu temen jemput." Ucap Gisna menjelaskan alasannya masih duduk manis di ruang TV ini.
"Cie pacarnya nih?" Ledek Ajeng dengan mengangkat kedua alisnya di iringi senyum jahil miliknya.
"Apa deh orang cewek kok!" Tolak Gisna yang langsung mendapat respon lawan bicaranya ber-oh ria.
Sekali lagi Gisna menatap kamar Bryan yang masih gelap beberapa hari ini. Memang cowok itu kemana sampai Satria harus meminta nomor Gisna untuk dia.
"Mbak, Kak Bryan kemana kok aku jarang lihat?" Tanya Gisna tanpa basa basi menanyakan keberadaannya.
Tidak segera menjawab justru Ajeng melemparkan senyum misterius pada Gisna yang hanya mengerutkan keningnya melihat respon Ajeng yang diam membisu.
"Cie Kangen Bryan ya. Dia pulang ke Semarang." Jawab Ajeng enteng kembali meneguk coffe miliknya yang masih mengeluarkan kepulan asap dari cangkirnya.
"Apa deh dari kemarin di ledekin mulu kangen sama cowok itu!" Ucap Gisna kesal bukan main, seperti mereka sedang bersekongkol membullynya.
"Gisna!" Panggil seseorang dari luar membuat cewek yang asik bercengkrama menoleh berbarengan. Refi malu karena seperti mengganggu acara mereka hanya nyengir kuda.
Refi pun memutuskan menghampiri keduanya, Ajeng tersenyum yang di balas senyuman canggung Refi. Cewek pecicilan itu merasa tidak sopan akan tingkahnya barusan.
"Ref, kenalin ini mbak Ajeng tetangga kos sebelah. Mbak Ajeng ini Refi sahabat aku dari mana entah!" Canda Gisna begitu mengenalkan sahabatnya pada Ajeng.
"Refi, k*****t lu! Ngenalin gue gak ikhlas banget kan inces jadi malu." Ucap Refi berlagak ngambek yang justru mengundang tawa Ajeng dan Gisna yang sejak tadi hanya melongo.
"Mbak berangkat dulu ya!" Pamit Gisna yang langsung di balas anggukan dan senyum tulus Ajeng.
Kedekatan mereka cukup sebentar, Ajeng memang terkenal dengan keramahannya pada siapapun termasuk seperti dengan Refi, sahabat Gisna.
***
Seorang cowok dengan tas ransel dan juga kemeja yang dibalut kaos hitam polos di dalamnya sedang berjalan menyusuri koridor kamar si sebuah kos khusus cowok di dekat kampusnya guna segera menghampiri para sahabatnya yang mungkin sedang nongkrong di kos Satria.
Semarang-Jakarta memutuskan Bryan untuk istirahat di kos sahabatnya yang jaraknya lebih dekat di banding kos miliknya. Hari masih sore, sang mega juga belum mau pergi dari sisi langit menambah cahaya merah menyelimuti kota hari ini.
Melihat ada banyak sepatu di luar kamar Satria tak salah lagi jika sahabatnya berkumpul disini. Bryan melepas sepatu dan segera menerobos pintu masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Weh... kapten datang!" Sorak Raka memyambut kedatangan sahabatnya yang sudah seperti jemuran yang tak kunjung kering.
"Gimana udah kangen kita ye kan?" Tanya Edo dengan alis terangkat sebelah bersamaan senyum pepsodent menanti jawaban Bryan yang hanya memandang sahabatnya datar.
"Kangen Gisna yang bener!" Ralat Satria yang masuk kos dengan membawa beberapa makanan ringan untuk sahabatnya.
Di antara mereka berempat Satria adalah yang paling kaya karena dia adalah anak seorang pengusaha ternama di ibukota, meski begitu Satria berteman dengan siapapun dan jarang menunjukkan identitas yang sebenarnya.
"Eleh dapat nomornya aja kagak!" Ketus Bryan begitu Satria menyebut nama seorang cewek yang menghantuinya beberapa hari terakhir ini.
"Lo pikir si Gisna kayak cewek yang lain yang langsung nih nih begitu!" Ucap Satria tidak terima karena faktanya Gisna memang cewek yang begitu susah untuk di tebak.
"Bentar, jadi lo minta nomor si Gisna ! Suka beneran lo cuy!" Ucap Edo heboh,pasalnya Bryan tidak pernah meminta nomor cewek manapun kecuali mereka sendiri yang suka rela mengirim pesan pada Bryan terlebih dahulu.
Bryan yang tak mau menjawab ocehan sahabatnya segera melempar asal tas ranselnya dan segera merebahkan tubuhnya yang sudah letih berada di kereta selama berjam-jam.
Sedang Vita entah cewek itu kemana setelah berpisah di rumah nenek Bryan, cewek itu sama sekali tak mengirimkan pesan pada Bryan. Dan cowok bernama Gibryan Prayoga itu tak peduli sama sekali.
"Buruan pulang sonoh di tungguin dedek gemes!" Ucap Satria menggoda Bryan yang justru menutup kedua telinganya membuat seisi kamar tertawa melihat Bryan yang merah padam antara marah dan malu saling beradu.
***
Pukul sebelas malam Bryan rela menerobos hujan yang begitu lebat mengguyur kota Jakarta hari ini, tak peduli badan yang sudah basah kuyup dia segera mengunci kembali gerbang kosnya.
Membiarkan sepatunya di luar rumah dan berjalan sedikit cepat agar air hujan tak cukup banyak membasahi lantai. Langkahnya terhenti melihat seorang cewek duduk bersila di ruang tv dengan tangannya mengetik sebuah documen dengan lihai.
Tak mau ambil pusing Bryan segera mengambil alat mandi terlebih dahulu, badannya sudah lengket dengan keringat bercampur debu ibukota. Tak peduli tengah malam sekalipun.
Gisna yang melihat Bryan tak mengetahui keberadaannya atau memang sengaja tak melihatnya hanya cemberut merasa di abaikan. Entah kenapa hatinya menjerit begitu Bryan mengacuhkannya padahal bukankah sehari tanpa gangguan seorang brandal kampus begitu membahagiakan?
Dia pun segera melanjutkan tugasnya yang sudah hampir selesai, meski menghabiskan waktu cukup lama sampai tengah malam sekalipun matanya masih terjaga mengingat deadline sudah tinggal menghitung hari.
Tak beringsut lama Bryan berjalan menuju kamarnya dengan tangan sibuk mengeringkan rambut basahnya. Begitu matanya bertemu dengan mata teduh Gisna Ia hanya melirik sekilas dan melanjutkan langkahnya.
Gisna manyun tanda Ia benar di acuhkan oleh Bryan, dengan emosi yang terpendam tanpa sebab Ia mengetikkan jari jemarinya dengan sedikit kasar dan juga perasaan gusar.
Bryan keluar kamarnya membuat kosentrasi Gisna yang hampir terkumpul buyar tanpa sisa apapun.
Bryan mengaitkan kedua alisnya seperti bukan Gisna yang tak peduli setiap aktivitasnya, Ia mengurungkan niat untuk keluar justru langkahnya menghampiri Gisna yang entah benar atau tidak menurut Bryan berubah menjadi sedikit gugup.
Bryan duduk di sampingnya memilih diam dan menyalakan acara televise swasta yang sebenarnya tidak terlalu ia perhatikan. Gisna mencoba menetralkan alunan detak jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasanya.
Bryan sedikit mencodongkan tubuhnya pada Gisna membuat cewek itu semakin gugup, terlihat kelabakan ketika tangannya mengetikkan kata-kata yang tak sengaja jari jemarinya tekan.
"lo lagi ngerjain apa sih?" tanya Bryan dengan mengunci tubuh Gisna di rengkuhannya meski tak secara langsung mengunci cewek itu dengan kedua tangan bertumpu pada sisi meja.
"tugas dosen Manajemen Pemasaran nih." Jawab Gisna singkat pada Bryan yang kini menatapnya lurus penuh tanpa memberi celah untuk Gisna menghindar.
Baru saja Gisna akan beranjak tangan Bryan menekan pundaknya agar tetap pada posisi semula, spontan Gisna melotot kala nafas Bryan menyapu pundaknya. Di tambah aroma maskulin khas milik Bryan menusuk indra penciumannya.
"Mata teduh ini yang membuat gue pengen keburu balik kesini." Ucap Bryan tanpa berkedip menatap mata Gisna.
Ucapan ambigu yang penuh makna, namun gagal di cerna Gisna kala cowok itu berada di dekatnya rasanya Gisna tak berdaya untuk kembali normal selalu terdiam membisu.
Begitu sadar Gisna segera mengemasi barang-barang miliknya yang berserakan di meja dan segera masuk ke dalam kamarnya, berada di dekat cowok itu membuatnya tak bisa bernafas lega.
Mata Gisna melamun mengingat ucapan terakhir Bryan padanya ambigu, pendek namun berjuta makna. Tanpa sadar senyuman itu hadir kala Gisna terbayang wajah cowok yang kini sedang merebahkan tubuhnya di sofa dan tak lupa senyuman maut yang sejak Gisna beranjak tadi tak luntur juga.
Mungkin malam ini mereka sedang merasakan apa itu jatuh cinta dengan bibir yang terus menyangkalnya dan juga rasa tak mau di anggap gampang terlena.
Mata teduh ini yang membuatku ingin kembali. ❤