Saat itu Ben langsung fokus mencoba untuk meneliti dan mencari sebuah kasus yang memang menurut nya begitu sangat tidak memiliki keadilan hingga dirinya perlahan bisa mengerti dengan apa yang dirinya ingin lakukan di negara ini, yang sekarang benar-benar sedang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan mengenai apapun termasuk mengenai hukum.
Sampai ketika dirinya sedang mencoba untuk meneliti sebuah kasus dirinya tiba-tiba membaca kasus yang begitu sangat tidak adil, dimana isi kasus tersebut menceritakan mengenai seseorang yang sebenarnya melakukan kebaikan di sebuah tempat, dimana dirinya begitu mengerti jika tempatnya tinggal sangat tidak adil, dan pria tersebut adalah orang yang menjadi korban ketidak adilan di tempat tersebut.
"Hal seperti ini yang ingin aku bereskan, ada apa dengan keadilan di kota ini? apa semuanya memang sudah musnah tanpa sebuah keadilan? aku benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi dalam berita ini, pria ini benar-benar sangat mematuhi aturan dan bahkan menolong pemerintahan untuk memberantas pungutan liar yang ada di jalanan, tapi kenapa sekarang begitu sangat sangat memalukan karena pria ini malah. berbalik menjadi tersangka dia mendapatkan hukuman? bukankah sudah jelas pria ini melakukan apa yang dikampanyekan oleh pengurus di tempat tersebut yang berkata 'jika ada pungutan liar yang masyarakat temukan harap laporkan ke pengurus dan pihak yang berwajib, dan tak usah takut karena pihak berwajib dan pengurus akan melindungi pelapor pungli tersebut, dan bahkan memberikan santunan karena sudah berani melaporkan hal buruk yang terjadi'. Tapi kejadian yang ada di dalam berita ini begitu terbalik karena orang yang melakukan pungutan liar biasa saja bahkan tidak sedikitpun terekspos ada di dalam berita ini dan bahan mengejutkannya adalah malah si pria baik inilah yang menjadi mendapatkan sebuah hukuman karena tindakannya yang dituduh melakukan pencemaran nama baik kepada orang yang melakukan pungutan liar. Untuk inilah aku sekarang belajar dengan giat, karena ingin menjadi hakim yang bisa benar-benar menegakkan keadilan agar tempat tinggal ku ini tidak menjadi surga bagi orang-orang yang dzalim," ujar Ben.
Ketika Ben sudah membaca salah satu berita yang saat itu begitu sangat Ben rasa tak memiliki rasa kemanusiaan dan tak memiliki keadilan Ben pun tentu saja belajar dari kasus tersebut, apa yang dirinya butuhkan di tempatnya, dan tinggal apa yang dirinya butuhkan memberantas semua ini di dalam pikirannya. Malam itu Ben pun langsung saja berbaring ditempat tidurnya untuk beristirahat merasa jika pengetahuan yang dirinya butuhkan sudah cukup, dan sekarang giliran dirinya untuk beristirahat saja dulu agar esok hari Ben bisa pergi belajar di kampus lagi dengan fit, dan sangat siap.
"Bus, bus, bus," Ben terdengar sudah mandi hingga sek yang Ben harus lakukan tinggal bersiap memakai pakaian baiknya untuk pergi ke kampus.
"Guru, aku pergi dulu ke kampus. Nanti aku akan kembali berlatih sore hari,"ujar Ben ijin kepada Ster.
"Tunggu Ben!" seru Ster. " Ini untuk mu makan siang dan ongkos mu pergi ke kampus Ben," ujar Ster sambil memberikan uang.
"Guru, tapi kau tentu saja tidak usah memberikan ini padaku, aku sudah,"
"Tak apa-apa Ben, anggap saja ini upahmu karena kau yang sudah giat membantu ku di dalam ataupun luar perguruan," jawab Ster.
"Te-terima kasih guru, kau sangat membantuku. Terima kasih, aku pergi dulu guru," ujar Ben, semangat.
"Ya tentu Ben, berhati-hatilah. Belajar dengan giat Ben agar kau bisa menggapai cita-citamu, karena cita-citamu begitu sangat berarti dan akan bisa merubah tempat kita tinggal ini Ben, aku yakin itu," ujar Ster.
Mendengar hal tersebut Ben pun jadi tambah bersemangat untuk belajar dengan sangat giat, dan pada akhirnya langsung saja pergi ke kampus.
Diperjalanan meskipun saat itu Ben diberi uang ongkos ke kampus oleh Ster, Ben tak menggunakan uang tersebut untuk naik angkutan umum karena selain dirinya sudah biasa berjalan kaki, Ben pun juga sambil suka mengambil gambar dari orang-orang yang dirinya suka temui dijalan, bukan tanpa alasan Ben melakukan hal tersebut, tapi alasan yang bagus Ben sangat miliki saat itu. Ben yang saat itu sudah biasa berjalan ke kampus berjalan kaki sambil mengambil gambar menarik di jalan yang dirinya jumpai, memanfaatkan skillnya dalam laptop dan membuat sebuah artikel yang cukup banyak diminati orang-orang di website yang dirinya miliki sehingga Ben pun tentu saja selain memiliki sebuah pekerjaan sampingan dari menjual jasanya, Ben pun bisa sedikit mendapat penghasilan dari artikel menarik yang dirinya buat.
Dan salah satu artikel yang sedang Ben kerjakan sekarang adalah mengenai sebuah sisi positif dan sisi negatif dari kota tempatnya tinggal sekarang, seperti kehidupan banyak anak yang sangat menyenangkan karena mereka bisa bersenang-senang dengan kehidupan mereka yang saat itu sangat menyenangkan karena bisa dengan sangat lepas tertawa meskipun hanya memegang sebuah balon atau bermain lari-larian di taman dengan orang tua mereka. Dan hal menyenangkan tersebutlah yang Ben buat menjadi sebuah artikel yang akhir-akhir ini cukup diminati oleh banyak orang. Tapi selain itu Ben pun tak lupa mempublikasikan banyak artikel mengenai sisi negatif yang ada di kote tempatnya tinggal sekarang dan salah satu artikel yang dirinya buat mengenai sisi negatif yang ada di kota tempatnya tinggal adalah, beberapa orang yang pernah dirinya temui yang melakukan hal tak baik, seperti mengganggu sesama orang yang sedikit mengalami sebuah gangguan mental, dan Ben membuat hal tersebut menjadi sebuah artikel tapi dengan gaya bahasa yang tentu saja tak sampai tak enak diterima oleh pembaca.
Meskipun sebenarnya hal negatif yang Ben temui lebih banyak bahkan sering dibandingkan hal positif yang Ben temui, dimana hal yang menjadi permasalah utama di kota tempat tinggal Ben terus saja Ben lihat dan saksikan tidak adanya 'keadilan', dan Ben yang saat itu sepertinya sedang sial mendapatkan tragedi yang tidak adanya keadilan kembali dimana salah seorang pria yang kurang sehat secara mental mendapatkan hinaan dari orang-orang yang saat itu lebih baik dari pria yang mengalami gangguan mental tersebut, Ben yang saat itu tak memiliki keberanian untuk menghentikan semua kejadian tersebut karena yang menghina orang tersebut lebih dari satu orang, Ben pun tak diberikan keberanian untuk melerai semua itu dan yang Ben lakukan hanya bisa memotret kejadian tersebut, tapi Ben melakukan hal tersebut bukan hanya sebatas memotret dengan pikiran dan skillnya dalam menggunakan laptop beserta isinya Ben memposting tragedi bully tersebut di website yang dirinya miliki dan meminta simpati para orang yang ada di sekitar tempat kejadian agar bisa melerai jika ada perlakuan bully seperti itu lagi. Sikap Ben seperti itu mendapatkan sebuah apresiasi dari beberapa pihak yang melihat kejadian tersebut, tapi ada juga orang yang kadang berkomentar hal yang negatif juga dengan sikap Ben yang hanya malah mengambil gambar kejadian tersebut tanpa Ben yang mencoba menolong orang tersebut.
Dan karena sekarang Ben sudah mendapatkan gambar kejadian tersebut Ben pun langsung saja pergi, melanjutkan dirinya untuk pergi ke kampus dengan dirinya yang berpikir ingin segera membuat artikel mengenai kejadian tersebut dan memposting artikel tersebut di websitenya agar kejadian tersebut bisa secepatnya mendapatkan respon dari orang-orang yang bersimpati hingga akhirnya kejadian tersebutpun, mendapatkan respon baik dari orang sekitar sana dan tentu saja orang disekitar akan bisa membantu membereskan masalah tersebut hingga bully yang sempat Ben saksikan tak kembali Ben lihat.
Singkat cerita saat itu Ben langsung saja bisa sampai di kampus dengan waktu yang sebenarnya masih belum jamnya untuk masuk kelas, dan memulai pelajaran, tapi Ben sengaja datang ke kampus dengan lebih cepat karena Ben yang saat itu biasanya melakukan sebuah peregangan terlebih dahulu, agar Ben tak mengantuk di kelas ketika memulai pelajaran dan Ben pun bisa dengan sangat baik menyaksikan pelajaran yang ada di kelas hari itu.
Beberapa saat kemudian hari pun semakin cerah, bersama matahari yang semakin terang meneranginya yang berarti hari sudah semakin siang, meninggalkan pagi yang berudara dingin dan perlahan semua teman, kaka, ataupun adik kelasnya saat itu sudah mulai berdatangan juga ke kampus untuk melakukan hal yang sama yaitu belajar. Ben yang saat itu juga sudah ada lebih cepat dikampus sudah siap untuk belajar hanya tinggal menunggu saja dosen yang akan mengajar di kelasnya saat itu datang.
"Sepertinya aku hanya tinggal menunggu dosen yang akan mengajar di kelasku saja sekarang, tapi perasaan ku sedikit tak enak. Entah hanya perasaanku atau apa tapi ada sesuatu yang aku rasakan tak enak," ujar Ben, sambil memegang dadanya. "Ah sudahlah, mungkin itu hanya perasaan ku saja, sekarang mungkin apa yang lebih baik aku lakukan mulai melakukan editing dan menulis artikel mengenai kejadian yang aku lihat tadi sambil menunggu dosen yang akan mengajar di kelasku datang," ujar Ben, langsung membuka laptopnya.
Ben pun seketika langsung saja membuka laptop yang dimilikinya dengan sebuah earphone yang tentu saja menempel di telinganya, Ben selalu menggunakan earphone di telinganya ketika sedang fokus membuat artikel di kampusnya karena keadaan kampusnya yang sejatinya tak terlalu aman, karena ada beberapa orang b******k yang sok berkuasa dan hingga suka mencari gara-gara di kampus tersebut yang tentu saja mengganggu, hingga untuk menghindari gangguan bising yang mereka buat Ben pun langsung saja menggunakan earphone ketika dirinya fokus bekerja membuat artikel.
Beberapa saat kemudian Ben yang sedang fokus membuat artikel melihat beberapa orang yang berjalan dengan lagak sombongnya, dia yang didepan berlagak dingin sebenarnya b******k dan beberapa orang yang berjalan dibelakang orang tersebut memperlihatkan secara terang-terangan kebrengsekan mereka dengan mengacau di setiap jalan yang mereka lewati, apapun yang mengganggu hampir mereka lakukan kepada orang yang sedang bersantai di jalan yang mereka lewati, Ben sudah tak aneh melihat hal tersebut dan hanya terus saja fokus ke artikel yang sedang dirinya buat, tanpa sedikitpun melihat kearah mereka.