“Ra, apa kabar?” Indira mendekati sahabatnya yang tengah duduk menghadap jendela kaca. “Aku datang bersama keponakan mu, Ra.” Tak ada jawaban, Namun punggung Naura terlihat bergetar. Dia menangis saat mendengar suara yang selama beberapa bulan ini dia rindukan. Suami Naura meminta Indira duduk di sebelah sang istri. Begitupun dengan Safira dan Kalila, keduanya di perbolehkan ikut mendekat. “Ra, kamu gak mau peluk aku?” “Tante Naura,” suara lembut gadis kecil itu berhasil membuat Naura mengangkat kepalanya. “Kenalkan Aku, Kalila. Anaknya Mama Dira dan Papa Ihsan.” Senyum Naura mengembang saat melihat wajah cantik di depannya. Dia membawa Kalila ke dalam pelukannya. Tangisnya semakin menjadi saat mendapatkan balasan pelukan dari anak sahabatnya. Indira dan Safira ikut memeluk Naura dar

