"Tante kenapa nangis?" Hella yang ada didalam pelukan Mas Rudi terlonjak kaget, pun dengan Mas Rudi yang tak kalah pucat dari gundiknya. Kena kamu, Mas! Aku bergeming tak mengeluarkan satu pun kalimat, tapi pandanganku tajam melihat keduanya. Repleks Mas Rudi mendorong kasar tubuh Hella, segera bangkit dari duduknya. "Mamah dari mana? Tadi aku cari-cari tidak ada," ucapnya dengan ekpresi salah tingkah, terlihat sangat bod*h. Aku menautkan alis memandang sinis pada Hella. "Sudah peluk-peluknya?" tanyaku. "Eh ... itu," wajah itu memerah, tak sanggup meneruskan kalimat. "Lagi pijit-pijit?" ketusku. Geram sekali, berkali aku menarik nafas guna menormalkan detak jantung. Jangan sampai kemarahan ini meledak. Belum waktunya. "Kamu jangan salah paham, Mah. Aku cuma ingin menenangkan Hella

