bagian 101 - Luka Ayah.

1487 Words

Tercenung seorang diri, memandangi sekumpulan ikan mas koi yang berenang bebas di dalam kolam. Suara gemericik air menenangkan fikiran, hembusan angin alam menampar wajah dengan lembut. Pelan aku menghembuskan nafas, rasa sesak masih terasa meski aku coba melupakan segalanya. Ucapan Fiona selalu terngiang-ngiang dikepala. Yang mengatakan Ibu mertua adalah, Ibu kandungnya. Sekonyol itu Dunia. Tak habis fikir, sosok itu kembali hadir bahkan dia menjelma sebagai besanku. Benar-benar gilak! Memaafkannya sama saja dengan mengoyak harga diriku. Biarlah seperti ini terus, tidak berguna pula berbaik hati dengan perempuan murahan itu. "Permisi, Tuan ..." Bik Ijah datang membawa nampan beraroma kopi menggugah selera. Aku hanya menoleh, lalu mengangkat dagu. "Ini kopinya," ucapnya seraya mena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD