Menyusuri Jalanan Kota

2101 Words
Keesokan harinya, Dini telah siap dan rapi dengan baju kemejanya. Parfum pun telah Ia semprotkan di seluruh tubuhnya, hingga harumnya semerbak seisi kamar. Sepatu high heelt miliknya pun telah siap. Ia benar-benar telah bersiap untuk mengirim lamaran pekerjaan hari ini “Bip Bip Bip” suara getar Hp nya mengallihkan pandangannya yang sedari tadi sibuk di depan kaca mengamati penampilannya Dibukanya pesan singkat dari seseorang yang Ia kenal. “Sayang, hari ini jadi mengirim lamaran pekerjaan?” Dini membaca pesan singkat tersebut, pesan dari Pras “Iya jadi, Mas” tulis Dini di pesan tersebut “Doakan semoga nggak kesasar ya” tulisnya dengan emot tertawa yang lucu “Ya pakai, Maps dong sayang” “Coba nanti jika kesulitan jalannya, kamu telpon Mas” jawab Pras di pesan tersebut “Mas masih hafal jalanan di sana” tulisnya dengan emot meledek Dini tersenyum membaca pesan dari pesan melalui layar Hp nya. Ia tahu Pras cukup hafal jalanan kota Surabaya. “Iya gampang” jawab Dini singkat “Dini berangkat dulu, met kerja Mas Pras” tulis Dini dalam pesan singkatnya tersebut. Segera setelahnya Ia mengambil tas yang akan Ia pakai, dan mengecek kembali memastikan tidak ada yang tertinggal. Bergegas Ia menghampiri kedua orangtuanya untuk berpamitan. “Ayah Ibu, Dini berangkat dulu” “Naruh lamaran pekerjaan” kata Dini sambil duduk mendekati kedua orang tuanya “Perlu Ayah antar, Din?” tanya Ayahnya kepada Dini “Ndak perlu, Yah” “Dini bisa berangkat sendiri, sekalian keliling kota” “Baiklah jika begitu” “Hati-hati di jalan” kata Ibu memberikan pesan kepada putrinya “Siap, Bu, Ayah” jawab Dini sambil mencium tangan kedua orangtuanya dan siap berangkat Dini mengeluarkan motornya, dan melaju ke tempat tujuan perusahaan yang dituju. Dengan hati-hati ia melajukan motornya, melewati jalanan kota yang padat penuh dengan kendaraan yang melintas. Berhenti lah Dini saat lampu menunjukkan warna merah. Dini menyempatkan untuk melihat di sekelilingnya. Terlihat di depannya beberapa perempuan yang berpakaian rapi, dengan celana khas kantoran “Sepertinya yang di depan ini berangkat kerja di kantor, pakaiannya rapi” “Sepatunya juga bagus” “Nanti Aku juga bakalan dandan seperti mereka dan kerja di kantor” gumam Dini sambil membayangkan penampilannya nanti saat sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan Dini kembali melajukan motornya, hingga sampai pada komplek pertokoan yang Ia tuju “Ruko Dirgantara” gumam Dini saat membaca tulisan besar di gapura pintu masuk pertokoan tersebut “Ini tempatnya, tinggal cari blok dan nomornya” pikir Dini sambil kembali melajukan kendaraannya dan mencari blok yang ia tuju. Hingga motornya berhenti saat menemukan tulisan Blok N 21 “Ini dia, Ruko Dirgantara Blok N nomor 21” pikir Dini Sejenak Ia mengamati tempat tujuannya. Dari depan terlihat tidak terlalu ramai. Dini memarkirkan motornya, dan merapikan pakaiannya agar tidak kusut selama di perjalanan tadi. Ia membuka tas dan mengeluarkan amplop coklat bertuliskan “PT Selaras Mandiri” nama perusahaan tersebut. Dini mengetuk pintu kaca kantor tersebut dan perlahan memasuki ruangan “Permisi” sapa Dini sambil membuka pintu kantor tersebut “Iya, silahkan masuk” jawab seseorang dari balik meja di depannya “Bu, apa benar di perusahaan ini sedang membutuhkan tenaga Administrasi” tanya Dini dengan nada suara yang sopan “Oh benar, mbak” jawab seseorang dengan blazer pink membuat Dini terpukau “Nanti jika sudah bekerja dan gajian, Aku juga mau ah beli blazer seperti Mbaknya, dan dipakai saat bekerja” gumamnya sambil tersenyum “Baik, Bu, saya kemari mau mengantarkan surat lamaran pekerjaan di perusahaan ini, sebagai Administrasi, sesuai yang ada di lowongan” jawab Dini masih dengan suara lembutnya “Iya silahkan, bisa diletakkan di rak plastik ini, Mbak” jawab perempuan tersebut “Hari ini sudah ada tiga lamaran yang masuk, mbaknya yang ke empat” kata perempuan itu kembali “Wah peminatnya banyak ya, Bu” jawab Dini saat mendengar penjelasan dari perempuan tersebut “Ah, kan ada tahapan seleksinya, rejeki nggak kemana” jawabnya kembali sambil tersenyum “Baik jika begitu, Bu, saya mohon pamit” “Terima kasih untuk waktunya” kata Dini berpamitan dengan senyumnya yang mengembang “Iya, sama-sama mbak, hati-hati di jalan” kata perempuan ramah tersebut Dini perlahan meninggalkan kantor tujuan pertamanya, Ia cukup senang bisa sedikit mengobrol dengan pegawainya “Mbaknya ramah sekali, supel, enak diajak ngobrol” gumam Dini Dini kembali melajukan motornya, menyusuri jalanan kota di jam-jam sibuknya. Ia menuju perusahaan kedua. Jarak menuju perusahaan kedua cukup jauh. Panasnya udara di siang hari ini begitu melelahkan bagi Dini. Ia jarang berkendara di siang-siang hari seperti saat ini. Dulu saat masih kuliah, jam masuknya pagi dan baru selesai di sore hari. Meskipun ada jam kuliah yang singkat, Dini enggan untuk pulang jika dirasa masih siang, karena malah harus berpanas-panasan ketika pulang. Dan kali ini Ia merasakan betul panasnya jalanan kota di siang hari. Saat berhenti di lampu merah, Ia kembali mengamati sekelilingnya. Ada yang bekerja sebagai kurir, dimana motornya penuh dengan tumpukan bungkusan paket yang siap diantar ke pemiliknya. Dini juga melihat seorang Ibu dengan sepeda kayuhnya, membawa dagangan yang terlihat masih ada isinya. Dini tertegun dengan pemandangan yang jarang Ia lihat selama ini. Dini juga melihat Bapak Ojek Online lengkap dengan jaket sebagai identitasnya tengah membonceng penumpang “Semua orang sibuk bekerja” “Pak Kurir pasti capek dan lelah berkeliling kota mencari alamat penerima paketnya” “Ibu pedagang juga pasti lelah seharian mengayuh sepedanya menjajakan dagangannya, dan perjuangan belum usai karena dagangannya masih ada” “Pak Ojek juga lelah, namun lelahnya terbayarkan saat ada penumpang yang memakai jasanya” “Ayah dan Ibu pasti juga lelah dengan pekerjaannya, dan di usianya saat ini masih harus bekerja” gumamnya “Semoga jika nanti Dini sudah bekerja, Ayah dan Ibu bisa kuminta berhenti untuk bekerja dan menikmati masa tuanya di rumah saja” “Masak, ngobrol dengan tetangga, ikut kegiatan kampung” pikir Dini Tak terasa Ia telah sampai di jalan yang Ia tuju. Ia periksa kembali alamat dan nomor perusahaannya untuk memastikan lokasi perusahaan tersebut “Benar ini tempatnya” “Kantornya cukup besar, beda dengan perusahaan yang pertama tadi” gumam Dini saat melihat rumah besar yang ternyata sebuah kantor “Oh ada Security nya” pikir Dini “Pagi, mbak” sapa Bapak tersebut Dini cukup kaget dengan sapaan tersebut, Ia baru mau melangkah maju dan bicara, eh sudah didului sama Bapaknya “Eh, Iya Bapak” “Apa benar ini PT Joyo Kencono?” tanya Dini dengan sopan “Benar, Mbak?” “Ada keperluan, apa mbak?” tanyanya kembali kepada Dini “Saya mau menaruh lamaran pekerjaan, saya baca infornya disini membuka lowongan pekerjaan sebagai Administrasi” jawab Dini “Oh, mau naruh lamaran pekerjaan” “Langsung masuk saja, mbak, nanti di dalam ada yang melayani” jawab Bapak tersebut “Baik, Bapak, saya masuk ya, Pak” jawab Dini ramah “Iya, mbak, silahkan” jawab Bapak tersebut Dini melangkahkan kakinya kedalam ruangan yang dituju oleh Bapak Security tadi. Ia melihat ruangan yang cukup besar, ada sofa lengkap dengan koran di meja. “Permisi” sapa Dini sebelum masuk ke ruangan tersebut “Iya, silahkan” jawab seseorang dari dalam ruangan “Permisi, Bu, saya mau mengirim lamaran pekerjaan disini” jawab Dini sambil membawa amplop coklat yang sudah Ia siapkan sedari tadi “Oh iya, silahkan, bisa ditumpuk disini” jawab nya sambil menunjukkan meja yang rupanya sudah penuh juga dengan tumpukan amplop coklat seperti miliknya “Jika sesuai dengan kebutuhan, akan kami hubungi untuk mengikuti wawancara” kata orang tersebut menjelaskan kepada Dini “Oh iya, Bu, baik saya mengerti” “Terima kasih ya Bu” jawab Dini “Sama-sama, hati-hati dijalan” jawab orang tersebut kepada Dini Dini meninggalkan perusahaan tersebut, sambil tidak lupa berpamitan kepada Bapak Security di pos depan “Pak, mari, terima kasih ya, Bapak” sapa Dini kepada Bapak tersebut “Iya mbak, sama-sama, hati-hati di jalan” jawab Bapak tersebut dengan ramah “Dua perusahaan sudah ku masukkan lamaran pekerjaannya, semoga tembus sampai wawancara” gumam Dini Kembali Ia melanjutkan perjalanan menuju perusahaan ketiga. Lokasi tidak terlalu jauh dari perusahaan kedua, Ia cukup melaju kurang lebih lima belas menit, Dini telah sampai di tempat tujuan “Jalan Laksana No 23” gumam Dini saat sampai di depan rumah sesuai alamat yang Ia tuju “Seperti perusahaan yang kedua, rumah difungsikan sebagai kantor” kata Dini saat melihat rumah tersebut Tak banyak berfikiri Dini langsung mengarahkan kakinya menuju lobi kantor tersebut. Tidak ada Security seperti kantor kedua tadi, “Kantornya juga cukup sepi jika dari depan” “Tapi pintu ruang utama nya terbuka, coba cek dari ruangan itu semoga ada pegawainya” ucap Dini saat melihat lihat lokasi kantor tersebut “Permisi, selamat siang” ucap Dini sambil mengetukkan pintu ruangan tersebut Terlihat seseorang yang sibuk di depan layar komputer, menengok ke arah Dini “Iya, ada yang bisa kami bantu?” jawab pegawai tesebut “Siang, Bu” “Mohon maaf, apa benar di perusahaan ini sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai Sekretaris?” tanya Dini dengan suara perlahan “Oh iya, Mbak, benar sekali” “Mbak mau naruh surat lamaran” tanyanya kembali kepada Dini “Masuk saja, Mbak” katanya kepada Dini “Iya, Bu, terima kasih” jawab Dini sambil memasuki ruaagan tersebut perlahan “Lamarannya bisa ditaruh di meja sini, sudah banyak juga yang mengumpulkan surat lamaran” kata pegawai tersebut kepada Dini “Oh iya, Bu, baik” jawab Dini sambil meletakkan amplop coklat di meja pegawai tersebut “Nanti jika sesuai dengan kualifikasi, segera kami hubungi untuk interview” kata pegawai tersebut menjelaskan kepada Dini “Siap, Bu” “Terima kasih informasinya, Bu” “Saya pamit, Bu, terima kasih” kata Dini sambil melangkah keluar ruangan tersebut “Iya sama-sama, Mbak” jawab ramah pegawai tersebut Dini melangkah menuju motor yang Ia parkir di halaman kantor tersebut “Yess, sudah selesai semua” ucap Dini dalam hati “Mampir minimarket dulu lah, beli minum” katanya dalam hati Dini melajukan motornya menyusuri jalanan kota, sempat Ia melirik jam tangannya “Sudah jam dua siang” “Lelah juga seharian keliling begini” “Tapi puas, bisa tahu lokasi masing-masing perusahaan” “Kalau boleh meminta, Aku harap bisa diterima di perusahaan kedua” “Kantornya besar, luas, bagus” “Pasti di dalamnya nyaman” pikiran Dini melayang membayangkan dimana nanti Ia akan diterima bekerja Motornya berhenti di minimarket untuk membeli sebotol minuman. Ia meminumnya di teras minimarket tersebut, sambil melepas lelah setelah seharian berkeliling kota “Bip Bip Bip” suara dering Hp nya dari dalam tas Segera Ia mengambil Hp tersebut dan melihat panggilan masuk dari Pras “Mas Pras” jawab Dini saat mengangkat panggilan dari Pras “Sayang, Mas telepon berkali-kali kenapa tidak diangkat?” “Mas, khawatir” ucapnya nyerocos dengan suara yang cukup melengking membuat telinga Dini sakit “Dini kan dijalan, Mas” “Nggak boleh nyetir sambil pegang Hp” “Bahaya” jawab Dini singkat “Iya,Dini minta maaf” ucap Dini kembali “Ya kan bisa pas berhenti sambil dilihat Hpnya” ucap kembali Pras “Ya..Ya..Ya” “Maaf” ucap Dini singkat “Sekarang gimana, apa sudah pulang?” tanya Pras dengan nada yang mulai melembut pada Dini “Sudah tiga perusahaan yang kutaruh lamarannya, Mas” “Ini perjalanan pulang, istirahat bentar sambil minum” “Hmm, lelah ya seharian keliling nyari perusahaan?” tanya Pras pada Dini “Lumayan, tapi Dini seneng bisa lihat sibuknya kota” “Bisa tahu jalan-jalan juga” “Gak kesasar tadi?” tanya Pras kembali “Untungnya tidak, tadi sempat dijelaskan sama Ayah sebelum berangkat” “Ya sedikit berputar-putar, tapi nggak sampai kesasar dan lama nyarinya” jawab Dini kepada Pras “Syukurlah jika begitu, Mas lega dengarnya” “Mas khawatir sayang, maaf ya, Mas bilangnya kasar” ucap Pras pada Dini “Pulangnya hati-hati ya” “Kabari Mas jika sudah dirumah” kata Pras “Iya siap, Mas” jawab Dini “Mas Pras lanjut kerja lagi ya sayang” “Hati-hati di jalan” ucap Pras mengakhiri teleponnya kepada Dini “Iya, Mas” ucap Dini sambil menutup telepon dari Pras Dini memasukkan Hpnya kembali kedalam tas, menikmati tegukan minuman yang terasa segar sambil melihat jalanan di depanya “Panas betul siang ini” gumamnya “Pulang ah, makan masakannya Bi Ismi di rumah” kata Dini dalam hati Dini menuju motornya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini rumah adalah tujuannya. Ia sudah sangat lelah setelah seharian mengelilingi jalanan kota. Ia ingin segera sampai rumah dan istirahat
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD