"Aku heran, apa aku setampan itu untuk didekati? Tolong aku Abigail, usir wanita di depan."
Abigail tertawa lalu membuka pintu, Alisa nampak mengagumi wajah Abigail yang tampan dan mempesona. Sampai bibirnya terbuka. Alisa memang cantik, tapi malaikat tidak mungkin tergoda sedikitpun dengannya. Abigail menyentilkan tangannya di dahi Alisa dan meniupnya.
"Pulanglah."
Seketika Alisa membalikkan badannya seolah terhipnotis dengan ucapan Abigail, Alisa lalu berjalan menuju keluar apartemen milik Devan. Abigail tersenyum senang seolah dia menang. Dia menatap Devan dan membuka lebar pintu apartemen. Malam ini Devan akan memburu mencari jodohnya. Namun, sebelum itu terjadi, Devan mengambil ponselnya dan meminta kepada pengacaranya untuk mengurus Alisa agar segera ditangkap dan dimasukkan ke kantor polisi.
Devan menyusuri jalanan yang lumayan ramai, malam Sabtu banyak pasangan muda mudi yang keluar saling berpegangan tangan. Menurut Devan ini adalah hal yang paling konyol seumur hidupnya. Mencari jodohnya untuk lebih lama bertahan hidup.
Dia melihat Alisa yang sedang berjalan pulang dari kejauhan. Devan merasa terusik dengan matanya yang memandang Alisa. Devan menginginkan mantan tunangannya saat ini juga pergi dari hidupnya. Devan mengejar Alisa, Abigail melihatnya mencegah Devan.
“Hei, apa yang kamu lakukan Devan?” tanya Abigail.
“Tentu saja membawa Alisa ke penjara.”
Abigail memutar bola matanya kesal. Tidak, Devan tidak ingin memenjarakan Alisa, Abigail bisa melihat isi hati Devan bahwa dia menginginkan berada di dekat Alisa dan meminta permohonan maaf dari Alisa.
“Jangan membohongi diri sendiri Dev. Aku tau apa yang ada di dalam hati dan otakmu. Baiklah, aku tidak akan berurusan lagi denganmu jika masih menginginkan Alisa. Lagipula aku tidak diperbolehkan terlalu lama disini. Masih ada antrian pencabutan nyawa. Kau jagalah dirimu sendiri. Sesekali aku akan datang untuk mengingatkan dirimu waktumu tidak banyak.”
Devan tertegun atas ucapan Abigail, belum sempat Devan menjawab Abigail seketika menghilang.
“Dasar malaikat baperan.” Devan mencibir dan kembali berjalan, Abigail kembali muncul di sampingnya.
“Saat malaikat menjadi manusia, dia juga memiliki perasaan.” Devan terkejut munculnya Abigail secara tiba-tiba, namun sedetik kemudian Abigail menghilang lagi.
Devan menghembuskan napas karena sangat shock dengan apa yang dia lihat saat ini. Rasanya seperti mimpi bertemu dengan malaikat yang berubah menjadi manusia.
Devan mengejar kembali Alisa dan meraih pergelangan tangannya. Memanggil Alisa. Tapi rupanya mantra Abigail masih melekat di pendengaran Alisa sehingga tidak ada yang Alisa dengar lagi kecuali ucapan Abigail yang menyuruhnya pulang.
Devan lalu membiarkan Alisa pergi, dia sebenarnya sangat mencintai Alisa sepenuh hati. Langit malam tak berbintang hari ini. Sama seperti hati Devan yang sangat kesepian dan menyimpan luka yang dalam. Dikhianati oleh tunangannya sendiri adalah hal yang paling mengesalkan dan membuat Devan hampir saja terpuruk. Apa memang dia telah melawan takdir yang sebenarnya? Devan merasa semua yang dia pilih salah, seharusnya dia mengikuti takdir. Jika memang saatnya dia seharusnya mati, mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuknya. Mengetahui jika Alisa telah berkhianat sudah membuat Devan merasakan sakit hati yang tidak bisa tersembuhkan. Bahkan jika Devan menemukan jodohnya apakah dia akan bisa mencintai orang lain?
Devan lalu kembali berjalan menyusuri jalanan kota yang begitu sepi dan mencekam apalagi tidak ada langit di atas.
Berulang kali Devan melihat batu cincin merah, tidak ada sama sekali yang menyala. Devan lalu menyusuri gang kecil, melihat beberapa para gadis perempuan sedang berjalan, ajaibnya sekilas batu merah itu menyala. Devan mengikuti ketika gadis itu, terdapat 3 gadis yang baru saja melewatinya.
Yang pertama menggunakan jaket hoodie berwarna putih, tidak jelas bagaimana wajahnya karena tertutup oleh rambutnya. Perempuan kedua menggunakan baju berwarna merah dan celana jeans selutut. Yang ketiga gadis mengenakan jam tangan dengan jaket jeans.
Devan lalu mengejar mereka yang baru saja melewatinya. Dia mengejar mereka dan menepuk gadis yang menggunakan jaket jeans. Cincin Devan menyala dan bersinar terang. Akhirnya Devan menemukan jodohnya. Dia menatap gadis yang menggunakan jaket jeans itu.
Gadis cantik yang masih remaja, umur 22 tahun dan memiliki paras cantik.
"Hai," sapa Devan.
Gadis itu menyerngitkan dahinya, tatapan matanya menunjukkan jika dia merasa risih dengan Devan dan melihat Devan seperti lelaki hidung belang yang ingin menerkam mereka.
"Ck, mau apa?" ucap gadis itu maju, tangannya memelintir tangan Devan.
"Katakan! Apa yang kamu cari?" ucap gadis itu galak.
Devan meringis kesakitan. Ini salah paham.
"Aw! Tidak, aku tidak berniat mengganggu kalian, aku hanya ingin berkenalan dengan kalian."
Gadis dengan jaket jeans itu seketika membulatkan matanya tidak suka dengan ucapan Devan. Dia menendang tulang keringnya hingga Devan meringis kesakitan.
"Astaga, apa yang kamu lakukan?" ucap Deeta, salah satu temannya yang menggunakan jaket hoodie.
"Aku baru saja menyelamatkan kalian dari p****************g. Dasar tua bangka!"
Plak gadis dengan jaket jeans menampar keras pipi Devan.
Kali ini dia mengepalkan tangannya untuk memukul Devan. Kay memang memiliki sifat hati-hati dan waspada kepada lelaki.
“Kayla! Cukup!” ucap Deeta. Dia mencegah sahabatnya untuk memukul lagi lelaki yang tidak mereka kenal.
“Astaga Kay, apa yang telah kamu lakukan?” tanya Maurence, gadis yang menggunakan baju merah.
Sudut bibir Devan berdarah dan sedikit luka karena pukulan Kayla. Devan hanya merintih kesakitan bahkan kini Devan mengaduh kesakitan tak berdaya. Kayla kesal karena Devan, dia sengaja melakukan ini kepada Devan karena Kay pernah mengalami trauma hampir dilecehkan oleh seorang lelaki, tapi untung saja Kay lebih kuat dan bisa melawan lelaki itu.
“Aku padahal tidak berniat buruk, aku hanya ingin mengenal kamu.” Devan memperhatikan cincinnya, warna merahnya sangat menyala, Devan yakin pasti gadis yang memukulnya adalah jodohnya.
“Aku? Ingin mengenal aku?” Kayla maju selangkah, dia ingin kembali menghajar Devan namun dicegah oleh Maurence.
“Tunggu. Anda ... Bukannya Devan Arsein Fredoit? Pengusaha yang terkena kasus korupsi dan n*****a?” tanya Maurence menyelidik.
“A-aku?” Devan gugup dan mencoba menghindar dari mereka. Devan membalikkan badannya namun Kayla menarik kerah baju Devan.
“Hei! Bukannya itu artinya anda BURONAN?” teriak Kayla.
“Tidak, kalian salah paham coba cek di website.” Devan membela dirinya, memang kasus n*****a dan korupsinya baru saja terungkap kebenarannya, hanya saja anehnya
Maurence mengeluarkan handphonenya dan benar saja dia baru membaca headline berita hari ini jika Devan terbukti tidak bersalah.
"Oh iya ma-maaf Pak." Maurence menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Devan.
"Bapak? Apa saya setua itu?" tanya Devan tertawa.
"Setidaknya mungkin umur anda sama dengan dosen saya."
Kayla masih saja berwajah masam, dia sama sekali tidak mempedulikan siapa Devan. Gadis itu lalu pamit berjalan duluan.