Menjelang Pagi

1000 Words
Setiba di gerbang sekolah, sederet mobil hitam berukuran besar terparkir. Segelas es jeruk manis yang masih tersisa esnya pun kujatuhkan. “Kau tahu ...,” ucapku sembari membuka kerekan tas. Kubuka saja pelembab bibir di dalam tas dan dengan segera, setengah wajahku bersembunyi di dalaman tas berkain flanel. “k*****t!?” jeritku setelah merasakan aliran listrik yang menyetrum bibirku. “Benda apaan ini?!” teriaku di tengah gerbang hitam sembari menodongkan benda yang menyerupai pemulas bibir. Seharusnya berwarna cerah, lamun berwarna hitam gelap dengan sisinya yang keras. “k*****t itu menukar tasku!” Tanganku pun dengan acap mengorak-orek tas sembari merasakan kedutan. Melihat perlatan hitam aneh dan asing yang bukan merupakan kepemilikanku membuat diriku berlari memasuki gedung sekolah meninggalkan Quinn yang mengikutiku. “Apa itu?” tanya Quinn yang menempel di pundak. Menunduk di depan pintu kelas karena berat badan Quinn membebani punggungku, Quinn pun berlari ke kelas setelah mengambil tas putih yang berisi peralatan aneh itu. Memutarlah dirinya di tengah kelas untuk melihat diriku. Tersimpul dengan satu gigi gingsul, dirinya pun mengeluarkan benda aneh dari dalam tas itu. Benda aneh yang semacam kabel berwarna hitam dengan bentukan kontak di ujung kabel itu. Digerak-gerakkanlah kabel hitam panjang itu olehnya sembari melompat-lompat ke kanan dan ke kiri di depan guru lalu Quinn pun berkata, “Kemarilah! Cotot ... cotot!” “Quinn!” Ibu guru yang berdiri tegak pun menyadarkan temanku itu. Kotak hitam aneh dengan kabel memanjang ditarik oleh Quinn yang sedang melangkah ke bangkunya. Aku pun melangkah masuk ke kelas lalu melewati papan yang bergambar listrik-listrik paralel dengan rumus tegangan. Duduklah aku di bangku tengah, di samping temanku itu, yaitu Quinn. “Bangunkan aku usai pelajaran fisika.” Melipat tangan di atas meja, aku pun bersiap untuk tidur di kelas. Namun, teman-temanku bukannya mendengarkan guru malah sibuk mendengarkan argumen Quinn. “Bukankah itu alat penyadap?” tanya seorang siswi di belakangku lalu terdengarlah suara gaduh saat dirinya merampas kabel hitam dari tangan Quinn. “Coba lihat isi tasnya,” pinta halus seorang siswa dari belakang yang menyentuh rambut dan juga leherku lalu tas yang ia raih dari Quinn menabok kepala belakangku hingga terdorong ke depan. “Maafkan aku, aku tidak sengaja” gumamnya sambil menahan tawa. Setelah itu, terdengarlah suara kerekan tas yang terbuka. “Wow ... wow!” Suara ribut yang dipenuhi siswa terdengar dari sisi kiri belakangku, aku pun hanya bisa memutarkan sepasang bola mataku keatas sebelum bersiap tidur di atas meja kembali. “Apakah ini lipstik setrum?” tanya Quinn di sampingku membuat diriku menoleh padanya. Digenggamlah benda keras berwarna hitam yang menyerupai lipstik itu, dengan memiringkan kepalanya dan alis yang mengerut seolah-olah Quinn sedang menantang dirinya sendiri. “Jangan macam-macam dengan alat itu, itu benar-benar menyetrum!” sahutku yang kemudian kututup dengan menutup mata dan kembali menghadap ke depan. “Benarkah ... apakah aku boleh mencobanya?” tanya Quinn kembali lalu lengan kananku disetrum seseorang yang tak ku ketahui, aku pun mencium lantai. Menggaruk rambut lalu menggosok-gosokkan mataku yang gatal. Aku pun melanjutkan tidur nyenyakku di sebuah tempat yang sangat empuk sembari memeluk guling. “Kau sudah bangun?” Suara lembut yang terdengar seperti Quinn mendekat ke kupingku. “Rara, Kau sudah bangun?” Suaranya terdengar semakin keras. Namun, seperti bisikan yang diperkecil, sangat kecil. Mataku pun terbuka kemudian melihat sesosok Quinn yang duduk di kursi dengan wajahnya yang berjarak sangat dekat dengan wajahku. “Kau sudah bangun?” bisik Quinn lagi dengan pelan, lamun meninggi pada ujung kalimatnya. Gigi-giginya yang bersilau pun membangunkanku dari kasur. “Jam berapa ini?” tanyaku pada Quinn sembari menggaruk-garuk kepala. “Jam 7 sore,” sahut Quinn yang mengeluarkan sisir dari tasnya. “Apa?” sahutku yang segera menuruni kasur berwarna putih. Berlarilah aku ke arah cermin, menampakkan seorang wanita dengan rambut gombrang-gambrengnya. Menarik karet ungu dari rambutku, kuikati saja tinggi-tinggi dengan karet itu lalu Quinn pun mendatangi diriku dengan sebuah sisir, lamun aku malah menggeleng dan langsung mengambil tas dari atas kasur. “Kau ke mana?” tanya Quinn yang kepada diriku yang sedang melangkah keluar ruangan. “Pulang! Ke mana lagi?!” sahutku kebingungan dengan tangan melayang memegangi tas tanpa kerekan. “Kau ... tidak ingin ke suatu tempat?” tanya Quinn kepadaku dengan kedua alisnya yang naik dan gigi gingsulnya yang tertampak. Kutarik tangan kanannya dengan tangan kiriku, berlari bersamaku untuk melewati gerbang sekolah yang tergembok. Lantas saja kupanjati gerbang sekolah meninggalkan Quinn yang masih saja berdiri. Melompat ke bawah dan menghadap ke kiri lalu berjalan lurus melihat kanan dan kiri di tengahnya kegelapan. “Kamu tidak takut?” tanya Quinn seketika di belakang dengan ekspresinya yang berubah 180 derajat. Kugelengkan kepalaku sembari tetap melangkah dan menengok ke kiri maupun ke kanan. Jalan Belati? Tertulis pada plang jalan yang tertancap di depan kios pedagang es jeruk manis, seketika membuat Quinn bertanya, “Kamu tahu jalan ini?” Sinar dan suara dari bus melintas cepat, untung saja Quinn berhasil kutarik tangannya dari jalan raya. “Aku tidak tahu ada bus di jam begini.” “Kamu tidak keluar sore atau pun malam” Quinn melihat ponselnya. Aku pun melihat celana coklat pendek besar dengan ukuran kaki kekar nan raksasa yang tertampak bertepatan di bawah tangan Quinn. Mengejap-ngejapkan mata dan nafas yang mulai memberat, aku pun mulai memegang plang jalan dengan kuat saat mata ini menyelusuri pemilik kaki berwarna sao matang yang kekar dan berbulu lebat. Mata mulai membesar menatap matanya yang mendelik dan badan mulai litak tak mampu bergerak melihat jidatnya yang tertutup rambut gondrong lepek atau pun urat-urat yang memenuhi lehernya serta masker hitam mode sekarang. Menumpu hingga metahkan plang jalan yang membuat Quinn betanya, “Kenapa kamu?” Ponsel pun terjatuh dari genggaman temanku itu disaat dirinya menoleh ke pria bertubuh raksasa. Tangan Quinn juga yang tadinya melayang dan menggenggam ponsel menjadi terayun ke bawah hingga menampilkan d**a kekar yang terbalut sebuah kaos. Kaos oblong hitam yang di tengahnya bergambar seekor ayam ketawa. Aku pun menaikkan alisku saat melihat itu. Namun, tanpa kusadari lagi diriku kembali mencium tanah setelah disetrum seseorang yang tidak kuketahui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD