Menghadap

1792 Words
“Masuk!” Max menatap tajam pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Tubuh orang itu sedikit bergetar menahan takut, pasalnya dia tidak bisa memenuhi apa yang diperintahkan sang tuan padanya. “Kenapa dia tidak juga menemuiku?” geram Max pada Asih. Ini pertama kalinya dia harus menunggu—benar-benar menunggu. Gadis desa itu ternyata sangat berani menetang perintahnya. “Ma—maaf, T—Tuan, dia tidak mau kalau harus pakai seragam pekerja yang biasa.” Max mendengus keras. “Berani sekali dia melawan perintahku! Katakan padanya jika dia tidak menuruti perintahku, maka jangan harap keluarganya di kampung akan hidup aman.” Tubuh Asih bergetar mendengar ancaman tuannya. Apa yang dikatakan pria itu bukan sekadar ancaman belaka dan tak pernah ada yang meleset. “Sudah saya lakukan apa yang Tuan perintahkan, tetapi dia tetap teguh pada keputusannya. Di—dia bahkan sudah pasrah dengan apa yang akan T—Tuan lakukan pada dia dan keluarganya. Dia lebih memilih menderita di dunia daripada harus menderita di akhirat, ka—katanya.” Max tertawa, tetapi beberapa menit kemudian kembali menggerutu bahkan mengumpat. Apa yang dikatakan gadis desa itu sangat menohok egonya, dia seperti tengah disindir oleh gadis desa itu. Sial*n, gadis desa yang sombong sekali. Max tiba-tiba memamerkan senyuman miringnya. Dia ingin melihat sampai mana gadis desa itu kuat menjadi orang sok ta'at seperti itu. Dia sangat tertantang untuk merubah gadis sok alim itu menjadi perempuan yang haus akan kegemerlapan dunia. “Jadi bagaimana caranya agar dia mau menemuiku?” Si*l! Demi ingin bertemu dengan gadis desa itu, Max harus menurunkan harga dirinya di depan pelayannya. Bahkan gadis itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan perempuan-perempuan yang saat ini diundangnya ke pestanya malam ini. “Bi—biarkan dia memakai seragam milik saya, T—Tuan.” Max meneliti tubuh Asih dari atas sampai bawah. Yang benar saja! Apanya yang akan dia nikmati kalau harus berpakaian ala-ala wanita tua seperti ini? “Itu permintaannya, Tuan. Jika Tuan setuju, dia bersedia menemui Tuan, tetapi jika tidak, dia juga siap menerima ancaman Tuan.” “Gadis sombong!” tukas Max sambil menatap tajam pada pakaian yang dikenakan Asih, seolah dia tengah berbicara dengan Lela. “Kita lihat saja! Sampai mana kamu bisa bertahan dengan hidup sucimu itu!” “Lakukan saja yang dia inginkan!” ucap Max sambil menghadap cermin, meneliti kembali penampilannya yang sudah terlihat sempurna. “Bawa dia ke ruang pesta untuk menemuiku!” “Dan jangan coba-coba meminta penawaran lagi!” lanjut Max setelah melihat tubuh Asih sedikit menegang. “Baik, Tuan.” Max mengibaskan tangannya, menyuruh Asih keluar dari kamarnya. Setelah pelayan tua itu keluar dan menyisakan dirinya saja di sana, Max mengembuskan napas panjang, merasa aneh dengan dirinya yang bisa menoleransi seseorang yang dengan terang-terangan menentangnya. Sebenarnya kekuatan apa yang dimiliki gadis itu? Kenapa malah dia yang mengalah? Ah, tentu saja, karena dia sedang memainkan permainan. Biarlah gadis itu merasa aman dulu karena keinginannya dia penuhi, tapi lihat saja nanti, seorang Max yang akan mengendalikannya. “Wellcome to my trap, gadis desa!” desis Max penuh janji. Senyumannya semakin miring dengan mata terpejam, bahkan jantungnya kembali berdebar saat mengingat suara Lela yang sedang menangis. Tangisannya saja sudah terdengar merdu, bagaimana jika dia menjerit ...? Ah, si**an! Hahahaha. ....... Asih menatap takjub pada Lela yang berbalut seragam pelayan miliknya. Memakai baju milik seorang wanita tua aja, dia kelihatan sangat cantik, apa lagi jika dia memakai seragam seperti yang lainnya? Bahkan sebagian tubuh atasnya tertutupi oleh kerudung panjangnya. Lela meremas ujung rempel baju yang mirip seperti apron itu—gugup. Apa lagi ketika sadar jika Asih terus memperhatikannya tanpa berkedip, membuatnya semakin tidak nyaman. “A—apa Neng terlihat sangat aneh, Bi?” tanya Lela menyadarkan Asih dari keterpakuannya. Asih beberapa kali mengerjap sebelum akhirnya dia menjawab sambil tersenyum canggung. “Kamu sangat cantik, Neng. Bibi gak yakin jika Tuan tidak terpesona sama kamu.” Wajah Lela memucat mendengar penuturan Asih, membuat pelayan tua itu sangat menyesali perkataannya. Asih lupa jika gadis di depannya ini bukanlah gadis yang haus pujian apa lagi jika dikaitkan dengan tuannya. “Maksud Bibi, Bibi yakin jika tuan tidak akan melakukan apapun pada kamu. Bibi merasa kalau ....” Asih membisikkannya, “kalau tuan tidak akan bisa melawanmu.” Lela menatap Asih bingung. “Memangnya Neng akan berantem dengan tuan apa gimana, Bi? Kenapa ada lawan-melawan? Neng gak bisa beladiri, ambu juga gak suka kalau Neng berantem. Neng gak mau berantem, Bi. Neng gak bisa dan gak pernah pukul orang, Neng juga gak mau dipukul.” Asih terkekeh mendengar ucapan Lela yang begitu polos. Ya ampun, masih ada ya, manusia sepolos Lela di dunia ini? “Kamu tidak perlu melawan siapapun, jika pun iya harus, tak perlu memakai otot untuk melawannya! Cukup dengan keteguhan hatimu pada Tuhanmu. Bukan begitu?” Lela mengangguk mantap, rasa takutnya akan menghadap sang tuan sedikit berkurang karena Asih terus menyemangatinya. Lela sangat bersyukur dia masih dipertemukan dengan orang yang baik meskipun mereka baru saling mengenal, bahkan Lela baru tahu jika pelayan tua itu tidak sekeyakinan dengannya. “Bibi benar sekali. Apapun itu tidak akan bisa terjadi jika Allah tidak berkehendak. Tak perlu takut pada manusia—yang hanya sesama makhluk Tuhan.” Asih tersenyum seraya mengusap pundak Lela. “Bagus! Dan sekarang buktikan jika kamu tidak takut apapun selain pada Tuhanmu sendiri.” Lela mengangguk sambil mengepalkan tangannya, lalu meninjukannya ke atas. “Semangat!” “Semangat!” Asih mengikuti tingkah Lela, mengepalkan kedua tangannya. “Ayok!” Mereka berjalan beriringan masuk ke rumah utama. Lela sempat terpukau dengan interior rumah super besar itu, dia benar-benar merasa seperti sedang di negeri dongeng. Banyak barang-barang hiasan yang belum pernah dilihatnya—di tivi sekalipun. “Kita bertemu dengan nyonya rumah ini juga ‘kan, Bi?” bisik Lela sambil matanya masih berkeliling ke semua sudut. “Di sini hanya ada tuan, beliau belum mempunyai istri.” Langkah Lela seketika berhenti. “Jadi tuan masih bujangan?” Asih tersenyum. “Lebih tepatnya beliau masih single.” “Sama aja atuh, Bi. Single itu bahasa Inggrisnya, bujangan istilah orang Indonesia-nya.” “Tapi Tuan Max sering kaw*n. Apa itu masih disebut bujangan?” Asih memilih tak menjawab lagi pertanyaan Lela. “Bi, Tuan Maxnya di mana? Kok rumahnya sangat sepi, ya? Tante Marni sama pekerja lainnya di mana?” “Tuan sedang mengadakan pesta di lantai dua. Makanya semua pelayan bertugas di sana.” Lela melotot tak percaya. “Bahkan rumahnya sudah besar dan luas, masih ada lantai lainnya?” Asih mengangguk. “Rumah tuan ada 3 lantai.” “Apa? Padahal tuan belum menikah, untuk apa rumah sebesar itu?” “Selera dan pemikiran kita tentu tidak sama dengan mmereka. Kepala kita tentu tidak akan sampai ke tahap cara mereka berpikir, cukup ungkapkan dalam hati saja.” Lela mengangguk. Benar juga, ini bukan urusannya. Asih membawa Lela masuk lift, dan menekan tombol 2. Hanya beberapa detik lift kembali terbuka dan mereka sudah tiba di tempat tujuan. Lela sontak memegang telinganya, tepat saat pintu lift terbuka. “Ini kenapa bising sekali, Bi?” Bahkan Lela tak sadar jika dia berkata sedikit menjerit. “Ini ruangan pestanya.” Asih memegang pergelangan tangan Lela. “Ayo! Abaikan apapun yang kamu lihat di sini! Kalau perlu tutup mata saja, biar Bibi yang menuntunmu sampai ke tuan.” Tepat setelah Asih mengakhiri ucapannya, mata Lela tak sengaja melihat Marni yang tengah duduk di pangkuan Parto sambil meliukkan tubuhnya, bersama beberapa pelayan lainnya yang sempat berkomentar saat Lela dibully sang tante siang tadi. “Astaghfirullaah!” Tubuh Lela bergetar, tangannya tak sadar meremas tangan Asih dengan kuat, membuat pelayan tua itu seketika menoleh ke arahnya. “Kenapa?” “B—Bi. Apa sebaiknya besok saja Neng bertemu tuannya. T—Tuan mungkin sedang tidak bisa di ganggu sekarang,” ucap Lela memelas. Asih mengembuskan napasnya, lalu menggeleng. “Tidak bisa! Tuan Max menginginkan kamu menemuinya sekarang.” Mata Asih mengikuti penglihatan Lela. “Sudah Bibi katakan! Abaikan atau pejamkan saja matamu!” “Ta—tapi ....” “Tidak apa! Bibi akan mencoba menjagamu.” Meski was-was, Lela tetap mengangguk dan langsung menutup rapat kedua matanya sesuai interupsi Asih. Jantungnya berdetak cepat selama perjalanan menuju ruangan sang tuan, terlebih telinga Lela begitu banyak mendengar suara aneh yang entah mengapa sangat menakutkan untuknya. Ternyata, di kota jauh lebih angker dari pada di kampung. Langkah Lela terhenti karena tak sengaja menubruk tubuh Asih yang berhenti tanpa aba-aba. “Bi, kita sudah sampai?” tanya Lela sambil membuka mata. Namun, tubuhnya sedikit melonjak melihat dua pria bertubuh besar tengah mencegat mereka. “Ada perlu apa?” tanya salah satu pria berbaju hitam itu. “Saya ingin bertemu tuan,” jawab Asih tenang. “Bilang saja pada tuan, jika saya sudah datang!” Salah satu dari mereka masuk, dan tak lama kembali lagi. Pria itu mengangguk dan mempersilakan Asih dan Lela masuk. Lela terbatuk-batuk saat pertama kali kakinya menginjakkan ruangan itu. Ruangan yang cukup besar dengan cahaya lampu temaram ditambah asap rokok yang menggumpal seperti kabut, membuat Lela yang tak biasa langsung batuk tanpa henti. Dan lagi ... bau apa ini? Kenapa seperti bau singkong busuk? Perut Lela seketika melilit dan mual. Ya Allah, tempat apa ini? Batuk Lela belum juga mereda, tangannya terus menghalau asap roko yang menggumpal di sekitar wajahnya, tak menyadari jika dirinya kini sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Asih membantu menepuk punggung Lela agar batuknya sedikit mereda, sampai akhirnya Lela bisa sedikit bernapas karena asap yang semula tebal, berangsur berkurang—bahkan menghilang. “Bi, tuannya di mana? Kenapa kita malah ke ....” Ucapan Lela terhenti saat sadar jika di depannya sudah banyak pasang mata yang memperhatikannya. Dengan refleks Lela beringsut dan berlindung di balik tubuh Asih. Tubuhnya langsung bergetar melihat pemandangan di depannya. Ada sekitar 5 orang lelaki di depannya, sedang duduk di meja panjang setengah membundar, menatapnya penuh bingung juga penasaran. Lela menatap takut pada mereka, terlebih para lelaki itu tidak duduk dalam keadaan tenang dan sendirian, melainkan ada dua perempuan yang bergelantungan di kedua sisi para lelaki itu. Tangan mereka tidak pernah diam, terus kelayapan pada kedua tubuh perempuan di sisi mereka. “B—Bi, se—sepertinya kita salah ruangan. A—ayo kita kembali!” ajak Lela dengan suara sudah seperti jangkrik terjepit. Tanpa di duga salah satu dari kelima lelaki itu berdiri dan menghampiri Lela dan Asih. “Woaaah, siapa ini? Biarawati dari mana, humm?” Lela semakin beringsut dan berlindung ke belakang tubuh Asih. Tangan dan tubuhnya sudah bergetar hebat dan berkeringat dingin. “Wow ... cantik sekali ternyata!” Tatapan lelaki itu sontak menjadi lapar. Tangannya terulur untuk menyentuh Lela, membuat gadis itu sontak menjerit keras. “AMBU ....” BUGH! “ARGH ...!” jerit lelaki itu melolong kesakitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD