“Murahan?” ulang Vailea tanpa sengaja
Vailea langsung terpaku pada satu kata yang singkat namun sangat menyakitkan tersebut. Kedua manik matanya bahkan nyaris melompat keluar dari tempatnya, saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Ibu Sen yang tadi menyambutnya dengan antusias dan ramah, kini menampakkan sifat aslinya. Perempuan bermulut pedas dengan insting tajam dan tak berperasaan.
“Tentu saja. Aku tahu kalau tadi malam kau pasti menghabiskan malam bersama putraku. Kalau tidak, mana mungkin kau keluar dari kamar yang sama dengannya!” tuding Erlaine. Tangannya mulai menunjuk-nujuk pada wajah Vailea.
Tangan Vailea mengepal dengan erat. Logika perempuan berumur 50 tahunan di hadapannya itu memang benar, tapi Vailea merasa dia sedang direndahkan disini. Dia juga tidak bermalam dengan Sen atas keinginannya sendiri.
“Sudah berapa kali kau melakukannya dengan putraku, murahan?” tanya Erlaine lagi.
“Perempuan sepertimu tidak seharusnya duduk bersanding dengan putraku dalam penampilan yang sempurna. Kau seharusnya mengenakan pakaian yang tidak layak.”
Sambil mengucapkan hal tersebut, tangan Erlaine mengangkat gelas Vailea di atas meja. Kemudian dengan perlahan, dia menuangkan isinya, tepat di rok dress Vailea. Mengotori kain itu dengan noda merah yang dihasilkan dari warna sirup frambozen.
Mendapat perlakuan yang sama sekali tidak menyenangkan dari Erlaine, Vailea hanya bisa diam. Menundukkan kepala dengan mata yang memandang tumpahan air di rok gaunnya.
“Air itu sepertiku, perempuan buangan yang tidak pantas bersanding dengan laki-laki karena sudah kehilangan kehormatannya,” simpul Vailea di dalam hatinya.
“Nah,” ujar Erlaine sambil kembali meletakkan gelasnya di atas meja.
Perempuan itu lantas mengancam, “Kalau putraku bertanya mengapa rok gaunmu bisa basah, katakan saja kalau kau tidak sengaja menumpahkannya. Awas saja kalau kau berani mengadu pada putraku! Aku akan membuat perhitungan padamu, murahan!”
Vailea menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil berusaha keras menahan air mata supaya tidak tumpah. Dia sangat terluka dengan rentetan kenyataan pahit ini. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kehilangan kehormatan, terkekang, kini dia mendapat mertua yang kejam dan bermuka dua.
“Seharusnya … aku kabur saja,” lirih Vailea.
Gadis itu menyesali keputusannya untuk tidak kabur ketika melihat kedua orang tua Sen. Dia malah berhenti dan mematung di tempat. Dia juga tidak menolak fakta kalau dia bukan kekasih Sen. Padahal, dia bisa mengambil banyak kesempatan untuk berkelit dan melarikan diri.
***
Selesai berbincang dengan Sen, Carl mengajak Sen untuk kembali bergabung dengan Erlaine dan Vailea. Sen menurut saja. Kebetulan, dia juga sudah lama tidak berbincang dengan sang bunda. Sen rindu menceritakan keluh kesahnya dalam hal pekerjaan. Akan tetapi, matanya memicing sempurna ketika melihat ada noda tak biasa di rok gaun yang dikenakan oleh Vailea. Sen melihat ada tumpahan berwarna merah di sana.
Tanpa ragu, Sen menghampirinya dan bertanya, “Ada apa dengan gaunmu, Lea?”
Vailea tersentak mendengarnya. Perempuan itu sama sekali tidak menyangka kalau Sen akan kembali secepat ini. Mana Erlaine masih ada di depannya. Vailea jadi lebih takut untuk menyampaikan kebenarannya.
“I-itu … aku tadi tidak sengaja menumpahkan minuman,” sahut Vailea takut-takut.
“Hei, kenapa takut begitu? Aku tidak akan marah karena kau mengotori gaun pemberianku,” ujar Sen, berusaha memberi kode bagi Vailea untuk lebih natural berakting sebagai kekasihnya. Sebab sikap Vailea barusan, menurutnya sangat kaku dan lebih cocok dikategorikan sebagai respon seorang pelayan ketika mengotori pakaian milik Nona atau Tuannya.
“Tapi ini mahal, ‘kan?” sahut Vailea sebisanya.
“Masih mahal kamu dibandingkan gaun ini, Sayang. Gaun ini masih bisa aku beli lagi. Satu kontainer kalau perlu. Tapi kalau kamu … tidak ternilai harganya,” gombal Sen dengan disertai elusan kepala yang lembut.
Rasa nyaman pun menelusup di hati Vailea. Menyingkirkan rasa takut yang tercipta karena kehadiran Erlaine di hadapannya.
Sejurus kemudian, Vailea bertanya, “Boleh aku berganti baju sebentar?”
“Tidak perlu,” ujar Erlaine, sebelum Sen mengatakan persetujuannya.
Baik Sen maupun Vailea pun langsung mengarahkan pandangannya pada Erlaine. Mereka tentu heran karena perempuan itu tiba-tiba menjawab padahal tidak ditanyai.
Untuk menjawab rasa penasaran di benak keduanya, Erlaine berkata, “Mama tadi ditelpon sama teman Mama buat ketemuan sebentar lagi. Mama mau pamit.”
“Nggak bisa ditunda, Ma?” tanya Sen, kecewa karena belum puas bermanja-manja dengannya.
“Nggak bisa, Sayang. Lain kali aja kita ngobrol panjang kali lebar. Mama sebenarnya juga masih pengen kenalan sama calon menantu Mama,” dalihnya.
Saat mengatakan kalimat terakhir, Erlaine menatap Vailea. Membuat perempuan itu terpaksa mengulas senyum manis seraya menyambut, “Lea juga masih pengen ngobrol sama Mama sih, sebenarnya. Tapi Lea nggak bisa larang Mama buat terus terusan di sini nemenin Lea.”
“Gapapa, Lea. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Oh ya, jangan lupa ganti baju. Nanti kedinginan kalau kamu nggak buru-buru ganti baju,” saran Erlaine, berpura-pura baik.
Vailea tersentak. Dia kembali diingatkan tentang gaunnya yang basah.
“I-iya. Terima kasih, Ma,” ujar Vailea sambil menganggukkan kepala.
“Iya, sama-sama,” balas Erlaine dengan senyum palsunya.
Di samping mereka, Sen menerbitkan bulan sabit di bibirnya. Dia merasa senang melihat sang Mama lekas akrab dengan Vailea. Sen sama sekali tidak sadar kalau senyuman dan interaksi yang ditunjukkan oleh Erlaine dengan Vailea merupakan kepalsuan belaka. Mereka bermain rapi dengan tujuannya masing-masing.
***
Sepeninggal orang tuanya, Sen membawa Vailea kembali ke kamar. Karena takut perempuan itu kabur, Sen repot-repot menggenggam tangannya. Vailea pun tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri.
“Ganti bajumu dengan baju yang nyaman kau pakai. Hari ini, aku akan membawamu ke suatu tempat,” perintah Sen tanpa memerinci tempat apa yang akan mereka kunjungi dan hal apa yang akan mereka lakukan di sana.
“Tapi,” ujar Vailea menggantung.
Sen langsung memusatkan fokusnya pada Vailea. Ingin mendengar apa yang hendak dikatakan oleh perempuan yang mampu membuatnya melanggar peraturan Papa dan Mama untuk tidak menyentuh perempuan sebelum terikat dalam hubungan suci pernikahan.
“Masih sakit,” ungkap Vailea malu-malu. Bahkan untuk mengurangi rasa malu yang terasa, dia memalingkan wajahnya ke kanan.
Mendengar perkataan Vailea, Sen langsung tersedak. Dia bahkan langsung membulatkan mata. Lupa kalau perbuatannya semalam membuat Vailea kesakitan.
“Ka-kalau begitu … kita perginya besok pagi saja. Sekarang ganti bajumu dan beristirahat. Aku akan menyusul masuk limabelas menit lagi. Sebaiknya kau sudah berpakaian lengkap kalau tidak mau aku menerkammu lagi,” ucap Liam, mengambil keputusan yang dinilainya menguntungkan kedua belah pihak.