Sarah berjalan dengan gembira sambil membawa kantung plastik berisikan mangga yang ia ambil dari rumah Minho, gadis itu terlihat bahagia saat akan memasuki rumah bermaksud untuk pamer karena dirinya mengambil banyak mangga di pohon yang ada dibelakang rumah sahabatnya.
"Ma, aku bawa mang...ga..." Tapi langkahnya berhenti saat melihat rumahnya sedang kedatangan tamu, kedua saudari dan Kakak iparnya datang bahkan Ibunya juga ikut duduk bersama di ruang tamu.
Gadis itu terdiam lalu melangkah ke dapur untuk menaruh kantung berisikan mangga dan menaiki tangga kearah kamarnya yang berada di lantai atas, Sarah benar-benar malu karena bertemu dengan tamu dalam keadaan sedang berantakan, rambut diikat asal dan baju yang kotor sehabis memanjat pohon tadi siang.
Di dalam kamar Sarah mengunci pintu lalu terdiam sebentar mencoba mengingat salah satu tamu yang datang ke rumahnya, wajahnya tidak asing tapi Sarah tidak ingat dimana ia melihat salah satu tamu dibawah sana.
"Oh My God! Itu 'kan Pak Junho, sekarang jadi ganteng begitu..." Sarah tersenyum saat mengingat kembali wajah Guru sekolahnya itu, "tapi Pak Junho ngapain disini?"
Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk, gadis itu membuka sedikit pintu kamarnya mengintip siapa yang ada diluar, tubuhnya menahan pintu dari dalam saat saudarinya memaksa masuk kedalam kamar.
"Buka dong pintunya, aku mau masuk!"
"Mau ngapain sih Kak Fanny kesini? Udah sana di bawah aja sana!" Omel Sarah sambil terus menahan pintu kamarnya.
"Aku mau ngomong sama kamu, buka dulu pintunya..."
Sarah membuka pintu kamarnya sambil memasang ekspresi kesal pada saudarinya, "Apa? Mau ngomong apa?"
"Kamu mandi terus pakai baju yang rapih, kita makan malam bareng sama tamu dibawah."
"Ih! Nggak mau, ah! Aku capek mau tidur," ucap Sarah lalu mengambil pakaian dari dalam lemari.
"Sar, dengerin aku. Dibawah sana ada laki-laki yang dateng untuk ngelamar kamu..."
"Ngelamar? Kakak ngomong apa sih?! Kak, aku emang udah dewasa tapi aku belum mau nikah. Lagi pula yang dateng itu Guru aku waktu sekolah, gimana juntrungannya aku nikah sama Guru aku sendiri?!" Sarah mengomeli Fanny lalu mendorong wanita itu keluar dari kamarnya.
"Pokoknya aku nggak akan keluar buat temuin ataupun makan malam bareng mereka, sekarang Kakak keluar dari kamar aku!" Teriak Sarah sambil mendorong Fanny keluar dari kamar dan menutup rapat pintu kamarnya.
"Sarah! Dengerin aku dulu..."
"Aku nggak mau dengerin Kakak!!" Teriak Sarah dari dalam kamar.
Fanny menghela nafas kesal lalu kembali ke bawah untuk meminta Mamanya yang membujuk Sarah karena adiknya itu tidak mau mendengarkannya, tapi bukannya Mamanya yang membujuk Sarah malah laki-laki bernama Junho yang mendatangi Sarah.
Pintu kamar Sarah kembali di ketuk, kali ini lebih sopan dari ketukan Fanny. Sarah sama sekali tidak membukakan pintu kamarnya karena ia tahu jika akan ada orang lain yang datang untuk membujuknya.
"Sarah, ini Saya Junho. Saya mau ngomong sama kamu, boleh?"
"Bapak ngapain kesini? Saya nggak mau nikah sama Bapak, jadi lebih baik Bapak pergi!" kata Sarah dari dalam kamarnya.
"Sarah, sebelumnya saya minta maaf karena tiba-tiba datang ke rumah kamu untuk melamar kamu. Tapi semua itu karena mendiang Ayah kamu datang ke mimpi saya dan..."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, "Bapak mimpiin Ayah?"
"Kalau kamu mau keluar untuk ngobrol, saya akan cerita semuanya ke kamu."
Sarah menatap Junho lalu keluar dari kamarnya, ia berjalan menuruni tangga bersama Junho yang ada dibelakangnya. Kedua saudarinya yang melihat penampilan Sarah hanya bisa menahan malu karena adiknya itu hanya menggunakan piyama dengan motif beruang.
Makan malam antara dua keluarga tiba-tiba saja batal karena Sarah menolak, kedua orang tua Junho sudah pulang lebih dahulu atas permintaan Junho dan keluarga Sarah terus meminta maaf atas sikap putri bungsu mereka.
Junho yang masih tetap berada di rumah Sarah sedang mencoba untuk berbicara agar Sarah tidak salah paham atas kedatangan keluarganya, sedangkan Sarah masih belum mengerti kenapa Junho ingin melamarnya yang sempat menjadi muridnya beberapa tahun yang lalu.
Mereka berdua duduk di teras depan sambil menikmati nasi goreng yang dibelikan Suami Iren, keluarga Sarah merasa tidak enak karena acara makan malam bersama batal karena ulah Sarah dan malah berakhir dengan membeli nasi goreng yang biasa berkeliling di komplek mereka.
"Saya tau kalau kamu masih sangat muda untuk menikah dan usia saya sudah sangat dewasa, tapi saya sudah berpikir dengan matang untuk mewujudkan impian Ayah kamu."
Sarah memainkan jemarinya karena merasa gugup untuk berbicara, dirinya takut salah bicara dan malah merusak segalanya.
"Saya nggak minta kamu untuk jawab sekarang, kamu bisa berpikir dulu sebelum menjawab lamaran saya."
tbc