Sebuah Pengakuan

2007 Words

“Masyaallah ….” “Ibu … inikah bidadarinya?” Hendra mengucek matanya sekali, kemudian dia berkedip beberapa kali. Tak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya, Hendra pun kembali mengucek mata untuk kedua kalinya. “Aw …,” pekik Hendra saat Wengi mencubit lengannya terlalu keras. “Buruan berangkat,” ajak Wengi yang berjalan lebih dulu meninggalkan Hendra yang masih meringis mengusap lengan tangannya. “Bu, itu tadi beneran Wengi ya?” ringis Hendra bertanya pada Lusi karena dia masih tidak percaya dengan penglihatan matanya. “Bukan. Bidadari,” kekeh Lusi. Seketika Hendra pun terlihat salah tingkah hingga dia buru-buru meraih tangan lusi untuk dicium, kemudian beralih mendekati Wati untuk mencium tangan ibu dari gadis cantik yang hari ini seratus kali lipat terlihat lebih cant

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD