Menyembunyikan Identitas

1240 Words
"Jika kamu sampai menembakku, apa kamu tahu apa yang akan kamu alami?" Aina menggeleng tanpa menggeser pistolnya dari kening Andra. "Seluruh bodyguard keluarga Prayoga akan mencarimu, bukan untuk dijebloskan ke penjara, tetapi untuk disiksa dan diperkosa beramai-ramai. Setelah itu tubuh tidak berdayamu akan diberikan pada singa yang ada di halaman belakang mansion keluarga Prayoga." Aina bergidik ngeri membayangkan semua perkataan Andra benar-benar terjadi padanya. Ia segera menurunkan pistolnya dan duduk kembali untuk menulis. "Kalau begitu, saya tidak akan membunuh Anda, tetapi saya akan membius lagi, lalu melucuti semua pakaian Anda. Kemudian dini hari nanti saya akan membawa dan menggeletakkan Anda di lobby apartemen ini. Setelah itu saya akan merekam dan menyebarkan video Anda ke media sosial." "Ancamanmu cukup mengerikan, tapi apa kamu tahu hacker? Aku bisa menyewa puluhan hacker hanya untuk menghapus semua video yang sudah kamu sebarkan." "Apa Anda tahu istilah jejak digital tidak bisa dihapus? Anda mungkin bisa menghapus video yang masih beredar di media sosial, tapi Anda tidak bisa menghapus video yang sudah terlanjur di download dan disimpan. Mungkin saja ada beberapa tante-tante kesepian yang sudah menyimpan video tubuh polos Anda sebagai pelengkap khayalan mereka." Andra lagi-lagi tersenyum kecut mendengar ancaman konyol Aina, "Sepertinya kamu wanita yang pandai menyerang." "Terima kasih, itu salah satu bakat saya yang baru saja saya sadari. Mungkin jika Anda tidak mengatakan, saya tidak akan pernah menyadarinya." "Dasar bodoh! Itu bukan bakat namanya. Lagipula aku sedang mencela bukan memujimu, kenapa kamu malah dengan bangga mengucapkan terima kasih?" "Kali ini Anda menyadarkan kelembutan kepribadian saya. Saya baru menyadari betapa rendah hatinya saya dengan menganggap sebuah celaan sebagai pujian." Andra mendengus setelah selesai membaca tulisan Aina. Ia sebenarnya merasa lucu dengan segala jawaban Aina, tapi ia tidak ingin menunjukkan tawanya. "Wanita gila. Lama-lama otakku akan ikut gila jika menjadikanmu bodyguardku." Aina kembali menulis sesuatu, tetapi perkataan Andra seketika menghentikan gerak jarinya. "Jangan bilang wanita gila adalah sifat yang baru kamu sadari dan menganggap itu sebagai pujian!" ujar Andra. Aina menutup mulutnya karena tidak bisa menahan tawanya yang lepas. "Dari tawamu, sepertinya aku baru menyadari bahwa aku pandai menghibur orang." Aina berusaha menghentikan tawanya untuk menulis. "Saya juga baru menyadari kebodohan saya, bukannya marah saat dituduh, malah tertawa." Andra tersenyum melihat wanita yang awalnya menjengkelkan, kini bisa menghiburnya. "Apa Anda mulai nyaman dengan saya?" "Tidak sedikit pun!" "Tetapi tanpa Anda sadari, wajah kesal Anda sudah berubah jadi senyum dan saya yakin senyum itu berasal dari perasaan nyaman Anda ketika berbicara dengan saya." "Kamu terlalu percaya diri!" "Harus! Sebagai calon bodyguard Anda, saya harus percaya diri. Karena itu adalah modal saya untuk selalu melindungi Anda." "Percaya diri sekali menyebut dirinya sebagai calon bodyguard," batin Andra. "Bisa kamu tunjukkan caramu memukul?" Aina mengangguk dan langsung mengepal tangan dengan kuat. Ia berlutut dari duduknya dan langsung melayangkan kepalan tangannya ke wajah Anda. Andra tentu tidak diam saja melihat Aina melayangkan pukulan padanya. Ia sedikit menyerongkan tubuh ke arah kanan hingga pukulkan Aina meleset ke arah kiri dan pipinya mendarat di bibir Andra. "b******k! Pipi ini harusnya untuk Kak Bi," gerutu Aina. Aina segera menjauhkan pipinya dari Andra sambil mengelap jejak bibir Andra. Ia kembali duduk untuk menulis. "Bodoh! Kenapa memukul aku?!" hardik Andra saat melihat Aina menulis. "Kenapa Anda mencium saya? Anda ingin mengambil keuntungan dari seorang gadis bisu?" Karena kesal, Aina mengabaikan protes Andra. Ia menunjukkan tulisan sambil terus menggosok pipinya. "Apa?"pekik Andra saat membaca tulisan Aina. "Hei! Kamu yang menghampiri lebih dulu. Harusnya aku yang marah!" Aina tidak mengelak lagi dan hanya bisa menatap Andra dengan tatapan sinis. "Kenapa kamu arahkan pukulanmu padaku?" tanya Andra lagi. "Karena Anda yang menyuruhnya" "Aku menyuruhmu menunjukkan caramu memukul, bukan memukulku." "Agar Anda bisa merasakan sakitnya pukulan saya dan yakin dengan kinerja saya." "Mana ada seperti itu?!" Aina tidak menulis lagi dan memasang wajah cemberut sambil tetap menggosok pipinya. Ia masih tidak rela pipinya dicium pria lain selain Abi, pria yang tetap ia cintai meskipun sudah meninggalkannya begitu saja. "Hei, kenapa kamu terus menggosok pipimu?! Apa ciumanku sangat menjijikkan?!" protes Andra karena merasa tersinggung dengan tindakan Aina. "Bukan menjijikkan, tapi saya takut Anda jatuh cinta pada saya dari ciuman tadi. Jadi saya harus segera menghapusnya," bohong Aina. Andra tertawa meremehkan pikiran Aina yang menurutnya tidak mungkin jatuh cinta hanya dari ciuman. Apa lagi hanya ciuman di pipi. "Bagaimana, Tuan, apa sekarang saya resmi menjadi bodyguard Anda. Apa segala bakat saya tadi sudah menunjukkan saya ini bodyguard yang multi talenta dan pandai menghibur?" Tawa Andra seketika hilang begitu Aina menunjuk kertas untuk ia baca kembali. "Tidak. Aku tidak membutuhkan semua bakatmu!" tolaknya, tegas. "Baiklah, Anda ingin saya bius dulu atau saya buka semua pakaian Anda?" ancam Aina lagi. Andra menunduk untuk melihat kancing kemeja dan resleting celana yang sudah terbuka. Hati kecilnya merasa takut wanita bisu yang menyekapnya benar-benar melakukan ancamannya. Aina tidak mau Andra berpikir terlalu lama, ia segera berlutut dari duduknya dan dengan berani menurunkan kerah kemeja Andra hingga ke bahu sebagai pembuktian ancamannya. "Tunggu! Lepaskan dulu ikatan tanganku!" Aina kembali duduk untuk menulis. "Tidak akan saya lepas sampai Anda menerima saya sebagai bodyguard!" "Kenapa kamu ingin sekali menjadi bodyguardku?' "Apa Anda ingin kita kembali ke topik awal?" "Aku butuh alasan lain selain membutuhkan pekerjaan." "Uang. saya butuh uang untuk biaya hidup." "Uang? Apartemenmu cukup mewah dan—" Andra tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mengedarkan pandangan ke penjuru kamar dan baru menyadari ternyata ini adalah kamar apartemennya yang dulu ia berikan pada Danu. "Kamu adiknya Danu?" tanyanya dengan wajah serius. Aina langsung menggeleng saat Andra bisa menebak siapa dirinya. Ia takut jika Andra tahu ia adalah adik dari Danu, bodyguard yang baru saja dibunuh oleh keluarganya, Andra akan menolak dirinya menjadi bodyguard, atau mungkin akan ikut membunuhnya. Meskipun Danu dengan jelas menyuruh dirinya untuk mencari Andra Prayoga, tetapi ia tidak tahu, Andra ini orang yang patut dimintai perlindungan atau justru akan menyerang. "Siapa namamu?" tanya Andra. Aina berpikir sejenak untuk memikirkan nama yang cocok dan tidak diketahui oleh keluarga Prayoga, hingga ia berpikir untuk mengambil dua huruf dari nama panggilannya. "Nama saya Na." tulis Aina. "Tadi kamu bilang, kamu adik dari bodyguard profesional, apa itu Danu?" selidik Andra. Aina kembali berpikir dan merutuki kebodohannya yang tanpa sengaja menyebutkan sedikit identitasnya. "Saya tidak kenal siapa Danu. Saya adik dari Bobi—bodyguard yang bisa berjaga di bank swasta, membuka dan menutup pintu untuk nasabah yang datang atau mengatur antrian." "Apa? Itu security, bodoh!" "Iya, itu maksud saya!" "Apa kamu tidak bisa membedakan security dan bodyguard?" "Maaf, saya salah mengira. Saya pikir bodyguard dan security sama saja." bohong Aina. Andra berpikir sambil kembali mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan lebih detail sekaligus meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah mengira dan yakin ini adalah apartemennya. Dari letak tempat tidur, lemari, AC, sofa di depan ranjang, rak-rak pajangan, hingga jam dinding, semua masih sama seperti enam tahun lalu. Pintu walk in closet dan pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu jati pun tidak berubah. Kecuali pecahan pada kaca di sebagian pintu walk in closet-nya. Membuat ia sangat yakin ini adalah apartemen miliknya. "Kamu kenal Juan?" tanya Andra setelah puas mengedarkan pandangannya. Aina langsung menggeleng dan mengelak saat Andra menyebutkan nama saudara yang ia rindukan. Andra terus memperhatikan Aina dengan seksama untuk meyakinkan dia adalah adik Danu dan Juan, meskipun ia tidak tahu rupa, nama, dan tempat tinggalnya. "Aku yakin dia adik Danu dan Juan. Juan bilang identitas adik Danu tidak boleh ada yang tahu demi keselamatan, dan pasti dia sengaja menyembunyikan identitasnya agar tetap aman," pikir Andra. "Bagaimana? Apa Anda menerima saya?" tulis Aina lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD