Sebuah restoran western di tengah kota sangat tenang siang ini. Fluora Raquele Tedjaja sedang duduk sendirian dengan sebuah buku yang berada ditangan kirinya. “Apakah ada hal lain yang anda butuhkan?” Tanya seorang pelayan pada Floura.
Istri Erwin Tedjaja itu tersenyum lalu menggeleng anggun, hal itu cukup untuk membuat pelayan itu meninggalkannya. Suara sepatu sangat pelan dan tegas terdengar oleh Floura, membuat wanita itu meninggalkan bukunya dan memilih menatap orang itu.
Tepat seperti dugaannya. “Apa aku membuat anda menunggu, Nyonya Tedjaja?”
“Berhenti memanggil aku ‘Nyonya Tedjaja’ Wina. Duduklah” Wina tersenyum ramah lalu mengambil duduk di depan Floura. “Aku sudah memesankan kamu makanan, aku harap seleraku tidak terlalu melenceng”
Hari terkahir Wina berada di Indonesia, dan Floura mengajaknya makan siang.
“Tentu tidak, ma. Selera kita sama tentu saja” Ujar Wina ringan membuat Floura menatapnya dan Wina segera meralat ucapannya. “Maafkan aku.”
“Aku senang kamu masih memanggilku mama.”
“Maafkan kebiasaanku. Itu sangat tidak sopan, maafkan aku” Wina sungguh menyesal ketika dengan tidak sengaja ia memanggil Floura dengan sebutan ‘mama’ seperti saat hubungannya dengan Jo baik-baik saja.
Ini adalah pertemuan ketujuh Wina dengan Floura dalam satu tahun ini. Floura terlalu sibuk mengurusi yayasan amalnya yang sudah merambah Afrika dalam dua tahun terakhir ini. jadi wanita itu jarang sekali terlihat di Indonesia.
Itu juga alasan Erwin Tedjaja sering hilang tiba-tiba. Karena menemui istrinya tentu saja. “Aku tetap menjadi mama kamu, sampai kapan pun. Suka tidak suka, Wina” putus Floura membuat Wina terdiam.
“Tentu saja ma, terima kasih” kalau boleh jujur Flora adalah orang ter-netral saat pertunangan Wina dengan Jo dibatalkan sepihak tiga tahun lalu. Floura tidak menyalahkan ataupun membenarkan Wina yang mengambil keputusan sepihak tanpa berdiskusi dengannya.
Lalu saat putra keduanya memilih menikahi Rinjani ia juga tidak terlalu mengusiknya. Namun semua orang tahu Floura cukup peduli dengan anak-anaknya walaupun saat ini lebih mengabaikan Jo yang mengecewakannya. Empat tahun lalu saat Jo membawa pulang Wina, Floura sudah memberikan peringatan pada Wina tentang apa yang akan terjadi.
Entah kenapa instingnya benar. Dan ia sudah siap dengan keadaan tiga tahun lalu. Floura juga lah yang membuat Wina tinggal di rumahnya dengan suami dan putri sematawayangnya dulu.
Karena Floura tahu Wina adalah gadis yang tepat untuk dipertahankan. Namun ia juga tidak membenci Rin—menantunya saat ini. Jo sudah cukup dewasa untuk memutuskan semuanya. Tugas Floura hanyalah menasehati dan tidak ikut campur.
“Bagaimana sekolah Tiffany. Kudengar kemarin ia membolos lagi” percakapan ringan dipilih Floura meski ia tahu Wina bukanlah wanita yang suka berbasa-basi.
Keduanya lalu mengobrol panjang lebar. Hingga lima belas menit kemudian, seorang yang Wina tidak menyangka akan diundang Floura datang.
“Maaf kalau aku mengundang seseorang yang mungkin membuat kamu tidak nyaman” ujar Floura pada Wina.
“Hai Ma.. maaf aku terlambat” seseorang dengan gaun bunga cerah datang dan duduk di samping Wina.
Floura rasa perlu membuat menantunya untuk tidak salah paham lagi dan menyusahkan Wina yang selama ini bersamanya.
“Tidak apa-apa Rin. Aku sudah memesankan makanan untuk kamu” ujar Floura ramah.
Wina melihat Rin dengan santai duduk disampingnya mau tidak mau harus bersikap ramah. “Hai Rin..”
“Oh.. Wina. Aku tidak menyangka mama mengundang kamu”
“Aku juga begitu”
Floura kemudian angkat bicara untuk keduanya. “Aku rasa aku perlu menjelaskan posisi Wina kepada kamu Rin. Mengingat terakhir kamu salah paham dan membuatmu hampir kehilangan bayi kamu”
Wina terdiam menyimak dan Rin menyanggah. “Aku hanya penasaran dengan kepentingannya dan kenapa mama dan papa sangat baik kepadanya” ujar Rin protes.
Sangat kekanakan. Batin Wina
“Aku paham kenapa kamu seperti ini. Tapi bisakah kamu bersikap lebih dewasa?”
Rin terdiam dengan kalimat ibu mertuanya itu. Floura memang dingin, namun Rin tidak menyangka dirinya akan dipermalukan oleh mertuanya sendiri.
Dalam hati Wina berharap Floura tidak menjelaskan keadaan sebenarnya dirinya bagi keluarga Tedjaja.
Mantan calon menantu. Mantan pacar Jo. Hampir tunangan dengan Jo. Wanita yang keluarganya dibunuh secara tidak langsung oleh ayah Rin?
Memikirkannya saja membuat Wina tidak bisa membayangkan wajah Rin nantinya.
“Wina adalah anak angkatku dengan Erwin, karena Tif sangat tegas menginginkan Wina menjadi kakaknya setelah pernikahan kamu dengan Jo”
’alasan yang bagus’ batin Wina.
Rin menoleh pada Wina yang duduk disampingnya sementara Wina tersenyum manis pada Rin. “Maaf membuat kamu salah paham, dan tidak menjelaskan dari awal posisi aku” ujar Wina.
“Aku yang minta maaf karena salah paham dengan kamu” ujar Rin yang kini bisa tersenyum lega karena dulu mengira Wina adalah calon istri Jo yang diinginkan Erwin dan Floura. “Aku kira kamu adalah menantu yang diinginkan keluarga ini”
Floura menatap Wina dan keduanya saling terdiam beberapa saat sampai seorang pelayan membawakan pesanan mereka.
“Aku juga minta maaf untuk kejadian kemarin Wina”
“Tidak masalah”
“Dan..” dengan ragu-ragu Rin melanjutkan kalimatnya. “Untuk artikel itu, aku tidak bermaksud melakukannya”
“It’s okay, lagi pula itu sudah menghilang”