Wina dan El masih memandangi lukisan itu.
“Kalau saya berhasil membawa pulang dia, apa yang anda inginkan sebagai konpensasi dari saya?” tantang Wina malam ini pada pria yang baru saja dikenalnya.
“Sepertinya itu tidak perlu” ujar El dingin.
“Oh baiklah kalau begitu, karena banyak orang menginginkan koneksi dengan Tedjaja. Anda cukup angkuh dengan menolak tawaran saya”
“Karena saya tidak yakin anda bisa membawa pulang dia”
“Saya bertanya kalau saya berhasil” El adalah lawan debat tersulit yang penah ditemui Wina selama ini. El terlalu angkuh, sombong, dan dingin.
Karena kebanyakan pria akan dengan senang hati mengalah pada Wina ketika Erwin Tedjaja bersama wanita itu. Untuk membuat koneksi dengan Erwin Tedjaja, Langkah pertama adalah berkenalan dengan Wina karena Erwin akan selalu mempertimbangkan ucapan Wina.
“Hmm.. saya akan mentraktir anda lunch besok, kalau saya berhasil membawa pulang ‘menuju danau’ ini dan kalua anda memiliki waktu”
Wina juga merupakan gadis yang tegas, yang mengetahui dengan jelas apa yang diinginkannya. Dan dengan mudah menyampaikan keinginannya pada orang lain. Walaupun El tahu sangat tidak perlu untuk membuat koneksi dengan Wina, karena adiknya sendiri juga merupakan seorang lawyer. Namun El menghargai keberanian Wina mengungkapkan keinginannya dengan tegas dan berani.
“Saya akan membawa anda ke tempat favorit saya kalua anda berhasil membawa pulang itu. kalau begitu, dimana anda menginap, dan saya akan menjemput anda besok”
Wina lalu menyebutkan sebuah hotel yang tidak jauh dari tempat lelang Kastara kali ini.
***
Pada akhirnya Wina berhasil membawa pulang ‘Menuju Danau’ yang sangat disukainya itu, dan berhasil meruntuhkan ego El yang sangat yakin menolak kompensasi makan siang dengannya, namun tetap saja keduanya bertemu lagi siang ini.
“Ah.. sepertinya ada yang harus membawa saya mengelilingi Beijing siang ini” ejek Wina pada El yang sedang menyetir.
El tersenyum dan untuk pertama kalinya Wina melihat senyum tulus pria itu.
Untuk sesaat Wina dapat merasakan detak jantungnya tanpa harus fokus mendengarkan jantungnya itu.
“Gadis yang sangat licik” ujar El disela senyumnya.
Wina tersadar kemudian berujar lagi. “Jadi, tempat makan seperti apa yang menjadi favorit anda?”
“Hmm.. kalau kamu tidak keberatan dengan restoran keluarga dipinggir jalan, saya akan membawa kamu kesana”
Kamu? Wow tuan kaku memanggil aku dengan sebutan ’kamu’
“Tentu saja tidak”
“Baiklah kalau begitu” El melajukan mobilnya menuju tempat makan yang dia maksudkan sembari bercerita tentang beberapa tempat yang ditemui keduanya pada Wina.
Ketika keduanya sudah sampai, mereka harus mengantri beberapa lama untuk mendapatkan meja. Keduanya kembali mengobrol semakin akrab, hingga tidka menyadari ada yang mengambil foto keduanya.
Hari ini El terlalu banyak bicara dan tersenyum. Sedangkan Wina terlalu banyak tertawa dengan candaan yang El lontarkan.
“Aku kira kamu benar-benar seperti bapak-bapak, El” ujar Wina menganggapi lelucon El.
El kemudian melangkah maju karena antrian sudah semakin dekat, Wina yang masih tertawa pun mengikutinya. Dan tanpa sadar heels yang dikenakan Wina terjerumus pada salah satu lubang dari lantai depan restoran itu, yang membuat Wina seketika oleng.
El menyadarinya langsung merengkuh Wina agar Wanita itu tidak terjatuh. Wina yang terkejut sontak emnghentikan tawanya.
El berhasil membuat Wina berdiri Kembali dengan baik, dan sekaligus membuat Wina salah tingkah.
“Maaf kan kecerobohan aku” Wina benar-benar menyesal dan mengatakan kalimat itu setelah El melepaskan rengkuhannya pada pundak Wina.
“Lain kali kamu harus lebih berhati-hati” ujar El kembali dingin. Sejujurnya El lega bisa membuat Wina tidak terjatuh, namun jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan keras ketika secara tidak langsung dirinya memeluk Wina.
Dan untuk mengatasi kegugupan pria itu, El memasang muka dinginnya kembali.
Wina menyadari El berubah menjadi dingin, tapi Wina tidak tahu alasannya. Hingga Wina sadar ada kamera yang mengarah pada keduanya.
Wina kemudian bertanya pada El “Apakah ada artis disini? Aku melihat seorang dengan kamera jarak jauh disana”
“Ada aktris yang sedang makan siang disana sepertinya” jawab El melihat seseorang gadis dengan baju yang sangat sederhana namun dikelilingin oleh banyak orang di dalam restoran. “Pantas saja, disini mengantri. Padahal biasanya tidak seperti ini”