Rin melayangkan tamparan pada Wina, dan Wina tidak membalas hanya merapikan rambutnya yang ikut bergerak mengikuti kepalanya yang terkena tamparan Rin.
Baik Wina maupun Rin tidak sadar kalau banyak mata yang mengawasi keduanya. Sejak awal Rin memasuki lantai kantor Wina, Erwin sudah tahu dan segera menuju kantor dari kediamannya.
Erwin mengawasi keduanya dari depan pintu lift yang terbuka beberapa saat lalu. Erwin tahu Wina dipermalukan seperti itu, dan Wina tidak membalas bukan karena Wina tidak bisa. Erwin tahu Wina lebih dari mampu untuk membalas menantunya yang kasar itu, namun Wina hanya bersikap sopan dan memberi muka untuknya karena Rin adalah menantunya.
Ethan tiba pada lantai Wina beberapa saat setelah Erwin tiba, dan melihat Wina ditampar oleh istri Jo. Ethan hendak maju menghentikan pertengkaran keduanya ketika Erwin mencegah pria itu untuk ikut campur.
“Kenapa tidak?” tanya Ethan pada Erwin yang mengawasi perdebatan itu.
“Jangan mempermalukan Wina” ujar Erwin singkat jelas padat yang membuat Ethan terdiam di tempatnya.
Baik Erwin dan Ethan juga tahu kalau banyak pasang mata yang melihat adegan itu. Keduanya juga tahu tidak sulit untuk mengatasi pegawai seperti mereka.
“Papa pasti akan membela aku dan membuat kamu dikeluarkan dari perusahaan kami” ujar Rin lagi.
“Kamu perlu melihat pembagian perusahaan ini, Rin. Sebelum kamu mempermalukan suami kamu” ujar Wina. Wina meraih ponselnya dan menghubungi Jo yang sebelumnya berusaha menghubunginya.
“Hai Wina” suara Jo dari ponsel Wina yang menggunakan mode speaker.
Wina membalas sebelum Jo mengucapkan hal yang bisa memperburuk suasana. “Tolong jemput istri kamu di kantor aku sekarang, Jo.”
“Rinjani?”
“Ya. Nyonya Rinjani Tedjaja yang membuat kantor aku ramai siang ini” balas Wina lagi.
Rin tidak dapat berkutik, dan Rin membenci Wina yang memiliki nomor suaminya. Walaupun jelas-jelas Rin tahu Wina tidak menyimpan nomor suaminya karena tidak ada nama kontak dan hanya ada nomor telepon Jo pada tampilan telepon yang Wina perlihatkan pada Rin.
Wina kemudian menutup panggilan itu. “Kamu tahu pintu keluarnya, dan suami kamu akan datang sebentar lagi”
“Kamu..” Rin menunjuk wajah Wina yang sudah berantakan karena terkena kopinya.
“Aku cukup sibuk untuk berurusan dengan kamu, Rinjani. Jadi tolong, jangan pernah mencariku lagi”
“Bukan aku yang akan mencarimu”
“Aku tidak peduli, baik kamu dan suami kamu, kalian harus berhenti untuk menemuiku”
“Jo tidak akan pernah mencari kamu untuk menceraikan aku”
“Oh aku pun tidak ingin menjadi pengacara perceraian kalian”
“Jangan harap kami akan bercerai”
“Aku hanya berharap suami kamu berhenti mencari aku untuk urusan pribadinya”
Lift yang terbuka menampilkan Jo yang terengah-engah. Erwin dan Ethan menoleh untuk melihat siapa yang turun dari lift.
Wina menyadari kehadiran Jo, dan membuat gadis itu juga sadar bahwa Erwin dan Ethan telah mengawasinya.
“Lihat, suami kamu datang untuk menjemput kamu” ujar Wina pada Rin.
Rinjani kemudian menjatuhkan dirinya, seolah-olah Wina memukulnya. Karena kalau dari sudut pandang lift, posisi Rin sangat menguntungkan dan terlihat didorong oleh Wina yang berada dekat dengan tubuh Rin.
Ketika Rin yang terjatuh dan menangis sambil menuduh Wina dihadapan Jo yang terengah-engah, Erwin dan Ethan memasuki ruang tamu bersamaan dengan Jo.
Rin tidak menyadari bahwa papa mertuanya juga hadir di kantor itu.
Kalimat pertama yang Jo ucapkan tentu saja nama istrinya dan membantu Rin yang sedang mengandung untuk berdiri. “Maafkan istri aku, Win” ujar Jo pada Wina.
Rin terdiam kaget dan bingung dengan sikap Jo yang bahkan tidak bereaksi dengan tuduhan yang diberikannya pada Wina.
“Dia mendorongku, Jo. Kenapa kamu meminta maaf padanya?” suara Rin yang kini sudah bisa berdiri sendiri.
“Pa..” Rin merengek setelah melihat Erwin berdiri di dalam ruangan itu berharap Erwin akan membelanya.
Jo terdiam tidak menanggapi, sementara Jo sudah melepaskan jasnya untuk menyelimuti Rin yang basah tanpa mengucapkan kata apa pun.
“Aku yang minta maaf sudah membuat kamu harus berada disini, Jo” ujar Wina menanggapi Jo. “Dan Rin, aku pastikan aku tidak akan pernah menjadi pengacara perceraian kalian besok ataupun di masa depan”
“Kamu…” Rin kembali menunjuk Wina dengan jarinya.
“Pa.. maaf aku membuat menantu kamu marah-marah di kantor” ujar Wina pada Erwin yang masih terdiam dan hanya memberikan gestur kedipan pada Wina.
“Kalau begitu aku permisi, perlu waktu lama untuk membersihkan kopi dari kepala aku” ujar Wina yang kemudian meninggalkan ruangan, di ikuti Ethan yang tidak memberikan komentar apapun.
“Kembalikan silver card yang papa berikan, Jo” ujar Erwin pada anaknya. Hanya kalimat itu yang Erwin ucapkan melihat kejadian ini, dan itu membuat Jo takut.
Jo tahu ketika ayahnya marah adalah saat Erwin tidak banyak berkomentar dan memilih diam.
Rin berkeringat dingin, menyadari bahwa mertuanya tahu bahwa dirinya membawa silver card suaminya.
“Baik pa” ujar Jo kepada Erwin yang kemudian berlalu meninggalkan keduanya.