Ungkapan Cinta Rama

3077 Words
POV. Rama "Rama,tumben jam segini udah bangun." ucap ibuku yang sedang memasak didapur. "iya Bu,dari semalam gak bisa tidur."jawabku pada ibu ketika aku mau kekamar mandi untuk mengambil air wudhu. "makanya,jangan sering begadang,jadi kebiasaan gak tidur malamkan."ucap ibu yang terus ngomong walaupun aku sudah didalam kamar mandi. "oh ya ram hariini kamu liburkan nanti bantu ibu diruko ya,ada bongkaran barang soalnya dan pasti butuh banyak tenaga."ucap ibu lagi. "gak bisa Bu,aku udah ada janji sama teman."jawabku ketika keluar dari kamar mandi. "emang janjinya gak bisa diundur nanti sore aja atau nanti malam gitu."pinta ibu "ya gak bisalah Bu,ini urusan penting gak bisa ditunda."bohongku pada ibu,padahal hari ini aku pingin menemui Ira,pingin mengungkapkan isi hati ku,dan perasaan ku ini sudah gak bisa ditahan-tahan. "nanti setelah urusan selasai,aku langsung keruko deh buat bantuin ibu." jawabku sambil menuju kekamar untuk menunaikan sholat subuh. "terserah kamu deh."cuma itu jawaban dari ibu yang kudengar. Jam 9 pagi aku udah bersiap pergi kerumah ira,kurapikan rambut,kupakai minyak wangi disekujur tubuh dan tak lupa merapikan baju didepan cermin.sambil menghela nafas kulihat penampilanku didepan cermin.kemeja kotak warna hitam ku padankan dengan jeans warna biru, "cukup kerenlah."batinku. setelah semua rapi kuambil kunci motor,hp dan dompet diatas nakas.kemudian kukeluarkan motor matic kesayanganku dan langsung saja kutancap gas menuju kerumah Ira. Sesampainya dirumah ira,kuparkirkan motor tepat didepan halamannya yang agak luas tapi bersih dan asri,sangat nyaman,pot-pot tanaman ditata rapi didepan teras rumah,memang Ira dan ibunya suka bercocok tanam.dan didepan rumah juga terdapat satu pohon mangga besar,bikin adem dan asri. tepat didepan pintu Ira,aku ragu untuk mengetuk pintu,hatiku tak karuan dan jantungku berdetak begitu kencang. tapi mau mundur udah terlanjur disini, batinku bergemuruh antara maju atau mundur,setelah mengatur nafas panjang,kemudian ku putuskan untuk tetap maju apapun yang akan terjadi. Tok.tok.tok "Assalamualaikum....".kuketuk pintu sambil mengucapkan sallam. "wa'alaikum sallam....".kudengar dari dalam ada yang menjawab sallam. kreeek... "oh mas Rama,mau cari kak Ira ya,kak Ira lagi mandi".jawab Laila adik Ira setelah membukakan pintu. "kak Rama tunggu diteras aja ya la.tapi kok sepi emang Bulek ayu kemana la. "ucapku sambil duduk dibangku yang ada diteras. "ibu masih kepasar mas,bentar ya mas.laila panggilkan kak Ira dulu sebentar".ucap Laila lagi sambil masuk kedalam tanpa menunggu jawaban dariku. Sambil menunggu Ira keluar,aku bermain hp,selain biar tidak bosen dan bengong,hp juga untuk menghindari pandangan mata tetangga,banyak tetangga Ira yang memandang kearah ku,mereka melihatku dengan tatapan aneh,bahkan ada yang melihatku sambil berbisik-bisik satu sama lain,entah apa yang mereka gosipkan tentang aku.hal itu membuat aku semakin risih dan tak nyaman. lama banget aku menunggu Ira,udah hampir satu jam, tapi Ira gak keluar-keluar,hingga membuat aku semakin gelisah. "apa jangan-jangan,Ira gak mau keluar ya."batinku "cepetan dong Ra,keluar kok lama banget sih,gak tau apa aku malu banget dilihatin tetangga kamu".batinku lagi. "maaf ya ram,agak lama".ucap Ira mengagetkanku.mendengar suara Ira,reflek aku langsung berdiri dan memandang Ira,gadis pujaan hatiku saat ini.melihat penampilan Ira aku sangat terpukau, gak nyangka ternyata Ira itu sebenarnya sangat cantik.apa lagi pagi ini,Ira memakai setelan blouse kekinian dan celana jeans terus dipadupadankan dengan hijab warna hitam.sungguh membuatku semakin jatuh hati. POV. Ira "Ira.....bangun jam 8 ini,anak gadis kok jam segini baru bangun,cepetan bangun,makanya kalau habis sholat itu jangan tidur lagi,pamali tau."teriak ibu membangunkan ku. "ih ibu,gak tau apa aku tuh masih ngantuk,semalam gak bisa tidur gara-gara mikirin anak tetangga." batinku kesal karena teriakan ibu yang menggangu tidur nyenyak ku. malas ku bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. "ada apa sih Bu,sukanya kok tetiak-teriak kalau manggil anaknya,aku juga masih ngantuk Bu,lagian ini kan hari libur jadi sekali-kali bangun siang gak apa-apakan".jawabku dengan agak cemberut. "kamu ini ya,dibilangin kalau habis subuh itu jangan tidur,nanti rejekinya dipatok ayam loh".omel ibuku "ya gak mungkinlah Bu,kitakan gak punya ayam".jawabku lagi "ngomong sama kamu itu emang susah,udahlah,ibu mau kepasar,nanti setelah sarapan,jangan lupa,cuci piring,adikmu tadi udah nyapu tinggal kamu yang belum kerja".cerocos ibu sambil kedapur mengambil tas belanjaan dan pergi meninggalkan rumah menuju kepasar. aku menuju kemeja makan untuk sarapan,rencana setelah sarapan,nyuci piring,setelah itu mandi karena pagi ini aku pingin main kerumah Dewi. setelah selesai nyuci piring,kuambil handuk dan menuju kamar mandi. mumpung hari libur aku pingin manjain diri dengan mandi agak Lamaan,hingga aku bisa merawat diri dengan luluran,shampoan,kondisioneran dan lain sebagainya. ketika sedang asyik keramas,tiba-tiba pintu kamar mandi digedor-gedor oleh adikku. brak.brak.brak "kak,cepetan mandinya ada kak Rama tu didepan".ucap Laila adikku. "Apa!Rama".tiba-tiba aku kaget mendengar omongan adikku. Cepat kuselasaikan ritual mandiku,kemudian membilas dengan handuk dan segera menuju kamarku. kubuka lemari lama kupilih baju apa yang akan kupakai dan akhirnya mataku tertuju pada blouse biru yang baru kubeli bulan lalu dipasar.kuraih blouse itu dan juga celana jeans.setelah berpakaian rapi aku menuju lemari hias untuk sekedar merias wajahku.tipis saja kumerias wajahku aku paling tidak suka berpenampilan menor dengan bedak tebal.lipstik pink menjadi sentuhan terakhirku.kemudian aku memakai hijab,setelah semuanya siap,kemudian aku melangkah keluar dan benar saja kulihat dari pintu seorang lelaki duduk dibangku teras rumahku dan laki-laki itu adalah Rama. "maaf ya ram,agak lama".ucapku ketika kulangkahkan kaki untuk mendekati sosok Rama ditempat duduknya. mendengar sapaan ku,Rama terkejut dan langsung berdiri dan memandangku,lama sekali Rama memandangiku entah apa yang dipikirkannya. "Rama.kok malah bengong sih".panggilku "eh.enggak kok,kamu kok udah rapi,emang mau kemana".tanya Rama sambil kebingungan menutupi rasa groginya. "aku pingin main kerumah Dewi".jawabku "oh kirain".ucap Rama lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "kirain apa".jawabku penasaran. "eh enggak,gak apa-apa,gimana kalau kita jalan-jalan,mumpung libur,aku traktir makan bakso mau".ajak Rama padaku. "boleh juga".lagian siapa juga yang bisa nolak kalau mau ditraktir makan bakso. "tunggu ya aku ambil tas sama hp dulu".izinku pada Rama,kemudian aku masuk rumah mengambil hp dan tasku,tidak lupa aku juga masuk kekamar Laila untuk pamitan. "la.kakak keluar sebentar ya,nanti kalau ibu nanyain bilang kakak keluar sama kak Rama,oke..."pintaku pada Laila. "iya,tapi jangan lupa,nanti pulangnya Laila bungkusin bakso satu".ucap Laila. "iya kalau ingat ya".jawabku singkat. Setelah titip pesan sama Laila,aku langsung menemui Rama. "ayok,ram".ajakku pada Rama. kemudian aku dan Rama meninggalkan rumahku,kami naik motor Rama aku membonceng Rama. POV. Bu Dina "Sayur...Bu Dina sayur...".panggil tukang sayur langganan ku. "iya bang sebentar,saya ambil uang dulu".ucapku pada tukang sayur itu. setelah mengambil uang kemudian keluar menuju tukang sayur. "silahkan Bu Dina,belanjaannya masih lengkap loh ya kan bang".ucap mbk Endah tetangga depan rumahku yang dibarengi anggukan tukang sayur dan senyuman mbk Iis yang juga tetanggaku. ketika sedang asyik memilih sayur tiba-tiba terdengar sapaan dari sepasang laki-laki dan perempuan yang berpapasan dengan kami dengan mengendarai motor,jelas sekali kulihat perempuan yang dibelakang motor itu adalah siIra anaknya ayu,dan lelaki yang memboncengkannya adalah Rama anak tetangga gang sebelah. "permisi ibu-ibu,numpang lewat".begitu Ira menyapa kami dan kami cuma senyum menjawab sapaan dari Ira,melihat Ira berboncengan dengan Rama,membuat hatiku tidak begitu suka.apalagi kalau benar mereka berpacaran bisa sangat bahaya,bisa-bisa ayu dan keluarganya jadi besar kepala,aku tidak boleh tinggal diam,aku akan bikin semua orang memandang buruk Ira. "Eh ibu-ibu,lihat tu siira,mulai deketin sirama".ucapku mulai menghasut ibu-ibu. "emangnya kenapa to buDina,biarin aja,mereka kan masih muda,kayak gak pernah muda aja sih buDina ini".jawab mbk Iis menimpali omonganku. "bukan begitu,mbk tau gak siapa si Rama itu".ucapku lagi gak mau nyerah. "tau lah,Rama anaknya Bu Ning kan,orang kaya gang sebelah yang punya sawah berhektar-hektar,terus punya toko sembako yang besar dan sukses itu kan."jawab mbk Iis menerangkan. "nah tu tau makanya,si Ira itu ngedeketin si Rama yang kaya,supaya nanti ketularan kaya dan gak susah lagi hidupnya ya kan".ucapku mengompori dua tetanggaku,barangkali aja lewat bibir mereka nanti Bu Ning akan tau hubungan mereka,dan apalagi kalau dia tau, Ira cuma memanfaatkan Rama,pasti Bu Ning akan menolak hubungan mereka. "apa benar,kalau si Ira itu matre,kayaknya anak itu kan baik dan sopan".tambah mbk Endah. "ya mungkin emang Ira baik dan sopan, tapi kalau dideketin laki-laki yang banyak duwit, apalagi sirama itu kan warisannya banyak,coba siapa yang gak tergoda,dan pasti bapak sama ibunya juga ikut andil,lihat aja anak gadisnya dibawa laki-laki kok tenang aja,ya gak". "iya juga sih ya,ayu dan suaminya itu kan serba kekurangan pasti senang banget ya,tau si Ira dapat pria bukan sembarangan,wah...bersyukur sekali ya siIra bisa dapat Rama".jawab mbk Iis. "Ira mah pasti bersyukur banget tapi sirama dapat Ira pasti bakal tersungkur,apalagi nanti kalau sudah mulai minta ini itu,namanya juga matre". ucapku lagi agak sewot. "eh diam,itu ada Bu ayu jalan kemari." ucap mbk Iis sambil meletakkan jari telunjuknya dimulut,supaya kami berhenti menggosipin keluarga Ira. kemudian kami serempak melihat ayu berjalan mendekati kami dengan membawa dua buah plastik besar warna hitam yang kalau gak salah isinya belanjaan. "eh,Bu ayu pagi-pagi udah borong aja,emang abis belanja dimana." "iya Bu Endah,ini biasa belanja mingguan dipasar." "ya udah,mari ibu-ibu." "iya...silahkan."kompak kami bertiga menjawab,tak lepas mata ini mengamati apa yang sebenarnya dibawa oleh ayu itu,masak belanjaan satu Minggu sebanyak itu. "tuh,kalian lihatkan masih pagi aja udah borong barang sebanyak itu,dapat dari mana coba uangnya,ya kan."ucapku setelah memastikan kalau ayu sudah masuk kedalam rumahnya. "ya,suaminya lah Bu,masak uang buDina."jawab mbk Endah sambil tertawa dan mbk Iis juga ikut tertawa,membuat aku agak kesal. "ya gak mungkinlah kalau dari suaminya,orang kerjanya aja,cuma penjual balon,yang keuntungannya gak seberapa buat makan sehari-hari aja pasti kurang." "itu mah saya yakin,si ayu itu minta uang sama Rama buat belanja makanya,anak gadisnya dibawa dia cuek aja."cerocosku yang diikuti anggukan oleh kedua teman gosipku,dan aku pun tersenyum karena sudah sukses membuat ibu-ibu percaya dengan semua omonganku. "ya udah bang,ini berapa semua belanjaan saya." "saya itu hitung dulu ya Bu Dina?" "ayam,sayur sama tempe,udah ini aja tumben sedikit banget belanjanya Bu,total jadi dua puluh ribu". "lagi malas masak sebenarnya bang,cuma kasihan aja lihat Abang udah manggil-manggil,nih uangnya pas dua puluh ribu ya?" "iya buDina makasih ya?" "ya udah,ibu-ibu saya masuk kedalam rumah dulu ya mau masak takut kesiangan."pamitku pada mbk Endah dan mbk Iis yang masih sibuk memilih sayur,betah sekali mereka berada ditukang sayur,lama-lama milih sayur toh ujung-ujungnya cuma lauk tempe atau tahu. masuk kedalam rumah kulihat Bagas sedang duduk santai diruang tamu sambil main hp. "kamu tau gak,kalau gadis pujaan mu sedang boncengan dengan cowok lain". "ibu apaan sih". "itu siIra tadi boncengan sama Rama,wanita seperti itu yang kamu suka,w**************n". "Ira sama Rama itu kan berteman Bu,jadi ya....mungkin cuma jalan-jalan aja." "kalau gak ada apa-apa,ya gak mungkinlah boncengan bareng,mesra lagi". "pokoknya ibu gak suka,kalau kamu berhubungan serius sama siira,ibu gak mau kalau kamu nanti jadi mangsa selanjutnya setelah Rama".ku tegaskan ucapanku itu kepada Bagas,supaya dia mengerti bahwa ibunya ini benar-benar tidak suka kalau dia berhubungan dengan ira.tapi sikap Bagas membuatku agak kesal,dia seolah tidak mau mendengarkan semua ucapanku. "emangnya gak ada apa gadis selain Ira,teman kamu kan banyak gas!" "kamu sih,dulu udah ibu sekolahin tinggi-tinggi,eh malah pilih kerja dipabrik.lihat tuh Abang sama adik kamu,gak sia-sia ibu nyekolahin mereka,tuh Abang kamu sekarang kerja dikecamatan gajinya tinggi dan punya jabatan,adik kamu sekarang ngabdi disekolahkan ibu gak lama lagi jadi PNS lah kamu!" "Bagas tuh pingin kerja sesuai dengan minat Bagas Bu,lagian kerja dipabrik itu cuma sementara karena Bagas lagi ngumpulin modal buat buka usaha yang berkaitan dengan mesin."agak emosi Bagas menjelaskan. "usaha,ya kalau berhasil jadi sukses kalau gagal,bangkrut jadinya Bagas?" "kamu itu ya kalau dikasih tau orang tua itu la mbok nurut gas,kalau kamu sekarang jadi PNS,hidup kamu tu gak bakalan susah,gaji terjamin,bonus ada,dan yang lebih penting gas,semua orang akan menghormati kita,faham gak sih kamu itu".agak emosi aku memberi pengertian kepada Bagas putra keduaku,sebagai seorang ibu aku hanya pingin melihat mereka sukses seperti aku dan suamiku. saya Dina Anggraini,sudah sudah 30 tahun saya jadi guru disebuah SD saya mempunyai 3 orang anak,anak pertama saya bernama Hendra Setiawan dan sekarang sudah bekerja dikecamatan bagian kependudukan,anak keduaku bernama Bagas Setiawan sekarang bekerja disebuah pabrik bagian mesin,dan anak ketigaku bernama Atika Setiawan satu-satunya anak Perempuanku,ia sekarang bekerja sebagai guru honorer disd tempat ku bekerja,sedangkan suamiku bernama Andika Tubagus Setiawan dia seorang kepala sekolah disebuah SMP,dan jabatan-jabatan itu yang membuat kami disegani dan dihormati,makanya saya sangat menginginkan semua anak saya bisa menjadi PNS,tapi tidak dengan bagas,setelah lulus SMA ia kuliah mengambil jurusan mesin,namun setelah lulus kuliah bukannya bekerja disebuah perusahaan besar malah bekerja disebuah pabrik,itu yang membuatku sangat kecewa. "capek ibu tu ngomong sama kamu gas,bikin ibu kecewa aja,udah gak berprestasi eh sekarang malah cari cewek yang gak bermutu,mau kamu itu apa sih gas?"terasa kesal aku menasehati anak ini. "udahlah Bu,Bagas bahagia kok kerja dipabrik,Bagas suka,dan Bagas senang,jadi tolong ibu gak usah ngebanding-bandingin lagi Bagas sama bang Hendra dan Atika,Bagas capek Bu,kayak gini terus,Bagas pingin juga pingin dihargai Bu?"ucapnya agak kesal dan kemudian beranjak dari tempat duduk dan menuju ke kamarnya. "kamu itu ya gas,kebiasaan kalau diajak bicara pasti pergi,ibu ini belum selesai ngomongnya,dasar anak ini ya,dari dulu gak pernah nurut sama orang tua." aku sengaja berteriak supaya Bagas mendengarkanku. "ada apa sih Bu,kok teriak-teriak gitu?" ucap suamiku yang entah dari mana. "itu loh pak,si Bagas gak mau dengerin omongan aku." "ya udah lah Bu,biarin aja dibahas ngelakuin apa yang dia suka,yang penting dia gak bikin susah kita." "kebiasaan bapak itu ya,selalu belain si Bagas,kalau aja ya,dulu bapak gak izinin si Bagas sekolah dimesin,mungkin sekarang Bagas itu udah jadi PNS pak,gak susah kayak sekarang." kulihat suamiku cuma menggeleng-geleng mendengar ucapanku,kesal aku dengan kedua lelaki itu,kutinggal kedapur aja untuk menyimpan belanjaan ku tadi. "kenapa aku gak suruh si Tika buat ngedeketin Rama aja ya,dia kan kerja ditempat foto copy milik Rama,wah ide bagus itu kayaknya".pikirku untuk mulai merayu Tika agar dekat sama Rama. buru-buru aku menuju kamar Tika untuk melancarkan aksiku. "tik,Tika kamu didalam nak". "iya Bu,ada apa ya."jawab Tika anakku dari dalam kamarnya. "ibu masuk ya nak" . "masuk aja Bu,gak dikunci kok". kreeeek...... kubuka pintu pelan dan kulihat anak gadis ku sedang bercermin didepan kaca,sangat cantik,jelas saja setiap bulan aku dan Tika rajin perawatan wajah dan tubuh dan skincare yang digunakannya pun yang sangat mahal jadi pantas kalau dia begitu cantik,gak kayak siIra,kalau saya lihat siIra itu biasa aja,bahkan gak ada cantik-cantiknya,tapi kenapa ya,banyak laki-laki yang suka padanya termasuk anakku bagas.itu membuat aku begitu kesal kenapa harus Ira sih,kenapa bukan gadis dari kalangan keluarga terhormat jadikan semua orang akan semakin segan padaku. "kamu belum berangkat tik". "ini udah mau berangkat Bu." "ibu mau ngomong sebentar tik". "ibu mau ngomong apa sih,Bu?" "menurut kamu,Rama itu gimana orangnya."ku mulai berbicara serius dengan Tika. "ya..Rama itu baik,Bu." "masak cuma baik aja,sih.emang kamu gak tertarik apa sama Rama". "ibu ini,apa-apaan sih Bu,ya enggaklah Bu,aku sama Rama itukan cuma berteman dan sekarang dekat ya,karena sekarang Rama itu atasan aku." "udah Bu,aku berangkat kerja,udah ibu gak usah mikir yang enggak-enggak." "aku pamit ya Bu."ucap Tika sambil mencium tanganku. "nih anak diajak ngomong kok,gak bisa serius." "kalau kamu memang suka sama Rama,ibu setuju kok,ibu dukung." "ibu mah,ngacok,udah ah Tika pamit, Assalamualaikum...?" "walaikumsallam...?"kulihat Tika pergi kerja dengan naik motor,padahal tempatnya kerja sangat dekat,tapi dia malu katanya kalau harus jalan kaki,selain jadi guru Tika memang bekerja ditempat fotocopyan milik Rama,bergantian sama adik Rama yang sedang kuliah. POV. IRA Selama perjalanan kami hanya diam,terik matahari pagi dan hempasan angin menemani perjalanan kami,pemandangan menyejukkan mata pun terpampang indah didepan mata,selama perjalanan kami disuguhi pemandangan hamparan sawah disisi kanan dan kiri jalan yang sangat menyejukkan mata,aku hanya menikmati keindahan tersebut tanpa berkomentar apa-apa,selama perjalanan aku berpikir bagaimana cara menolak Rama,kalau nanti Rama nembak aku,pikiranku sibuk merangkai kata untuk menolaknya,sedangkan aku sendiri tak tau apa yang dipikirkan Rama. "gimana Ra,pemandangannya baguskan." suara Rama tiba-tiba mengagetkanku. "bagus,emangnya kita mau kemana sih ram." "ketempat yang kamu suka." dan tiba-tiba Rama mengerem mendadak,sontak itu membuatku kaget dan reflek agak memeluk dia dari belakang,entah itu disengaja atau tidak. "apaan sih ram,bikin kaget aja." ucapku sewot sambilku pukul punggung Rama karena sewot. "maaf itu,ada batu,tapi kamu suka gak." aku diam mendengar pertanyaan Rama,entah apa yang kurasakan sekarang jujur biasa aja,tidak ada rasa apapun saat Rama,mengerem mendadak tadi pun hanya kesal yang kurasa,berbeda saat aku membonceng mas Bagas,rasanya campur aduk.ada senang,grogi,malu dan tentu saja deg-degan apa lagi saat aku tak sengaja menempel dipunggunnya karena melewati jalanan yang tak rata,ada rasa yang aneh yang aku rasa,yang aku sendiri pun tak tau itu apa. 30 puluh menit perjalanan kami,akhirnya sampai tujuan,ternyata Rama mengajakku kepantai,tempat yang sangat aku suka,selain pemandangannya indah,berada di pantai juga membuat hati tenang. "yuk,kita istirahat dan makan bakso dulu disana."ajak Rama setelah memarkirkan motor dan melangkah kewarung yang ada dipinggiran pantai. aku mengikuti langkah Rama dibelakang. didalam warung cukup ramai,mungkin hari Minggu jadi banyak pengunjung,Rama mengajakku duduk dipojokan yang agak jauh dari tempat duduk pengunjung lain. "mau pesan apa ya mas."ucap seorang pelayan laki- laki berbadan kurus kepada kami setelah kami duduk. "bakso dua sama es teh dua ya,mas." Rama sudah begitu hapal dengan makanan kesukaanku,dia juga tau minuman yang biasa kupesan untuk teman makan bakso,jadi dia tidak pertanya kepadaku dan langsung memesankan ya untukku,iya.kami biasa pergi makan bakso bersama biasanya sih bertiga dengan dewi,jadi Rama sudah tau banget dengan semua kesukaanku. tidak lama pesanan semangkok bakso kami pun datang,aroma kuah bakso yang begitu menggoda membuat aku tidak sabar ingin mencicipinya,ditambah pemandangan pantai dan suara ombak membuat nambah nafsu makan.selama menikmati bakso kami hanya diam,Rama makan bakso sambil melihat kearah laut,lahap aku melihat Rama makan,mau mengajak bicara tapi aku tau banget Rama tidak begitu suka diajak bicara kalau sedang makan,takut tersedak katanya. cepat sekali Rama menghabiskan baksonya,sesekali Rama melihatku yang sedang makan sambil tersenyum karena melihatku makan sangat lama dan juga melihatku kepedesan. "sudah makannya?" ucap Rama kemudian setelah melihat mangkok ku sudah kosong. aku cuma mengangguk sambil kuhabiskan sisa es teh untuk menghilangkan rasa pedas dilidah,memang kalau makan bakso tidak pedas rasanya kurang nikmat,tapi untuk mendapatkan kenikmatan memang memerlukan pengorbanan jadilah lidah dan perut harus mau berkorban demi kenikmatan semangkok bakso. Rama kemudian memanggil pelayan tadi untuk membayar pesanan kami,lalu Rama mengajakku keluar dari warung dan mengajak duduk ditepian pantai. "gimana ra.kamu suka?" "suka,makasih ya ram?" "oh iya,sebenarnya kamu ngajak aku kesini,mau ngomong apaan sih." kurasakan tiupan angin laut yang menenangkan jiwa,namun aku masih bisa mendengar rama menghirup nafas panjang dan menghembuskannya. "8 tahun sudah ya ra.kita bersahabat dari SMP sampai sekarang,kita selalu bersama". "namun akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang aneh,yang aku rasakan ketika melihat dan dekat dengan mu." Rama menghentikan omongannya,dia kemudian memandangku begitu dekat,dan tatapannya begitu serius. "ra.aku pingin bisa bersamamu terus tapi bukan sebagai sahabat,aku pingin menjadi segalanya untukmu dan aku pingin menjaga serta melindungimu selalu." Rama kemudian menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "dengar baik-baik ya..nur Syafira,kalau aku ridho ramadhan,sangat sayang dan cinta sama kamu,aku pingin kamu jadi pacar aku,apa kamu mau?" aku kaget mendengar ucapan Rama,aku juga bingung harus bagaimana menjawabnya.tatapan mata Rama yang tajam dan penuh tanya membuat ku semakin bingung dengan perasaanku,aku juga takut membuatnya kecewa dan menghancurkan harapannya.aku bingung benar-benar bingung jawaban apa yang harus aku berikan. lama kutatap mata Rama,kemudian kupejamkan mata dan sebuah anggukan kuberikan kepada Rama sebagai jawaban dari pertanyaannya.kulihat mata Rama berbinar- binar raut kebahagiaan terpancar jelas,namun sebaliknya aku tidak merasakan kebahagiaan tersebut,bahkan aku lebih menyesali keputusanku,aku terpaksa karena tidak mau melihat Rama kecewa. . "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD