Hari ini Olivia kembali datang ke rumah sakit seperti hari-hari sebelumnya. Seperti yang dikatakan dokter, Reyhan harus kembali melakukan operasi untuk kedua kalinya agar kondisinya semakin membaik. Hal ini dilakukan karena respons dari tubuh Reyhan yang masih kurang baik usai diopersi sehingga ia belum juga sadarkan diri. Olivia datang untuk mendampingi Reyhan, ia ingin selalu berada di samping Reyhan dan memanjatkan doa untuknya. Olivia sangat ingin Reyhan segera membuka matanya yang selalu ia rindukan itu.
"Kali ini kau harus lebih kuat, berjanjilah ini akan menjadi operasi terakhirmu. Aku sangat merindukanmu," bisik Olivia. Perawat yang membawa Reyhan mendorong brankar memasuki ruang operasi membuat mata Olivia mengikuti arah kemana Reyhan dibawa.
"Tunggulah disini Olivia, semoga kali ini lebih berhasil." Olivia mengangguk pelan membiarkan dokter yang bertugas untuk melakukan operasi pada Reyhan ikut masuk ke dalam ruangan.
Olivia menunggu di luar ruangan, menduduknya tubuhnya di bangku yang sudah disiapkan. Ia bergerak gelisah merasa tidak sabar menunggu operasi segera usai. Di dalam hati tidak henti-hentinya ia berdoa meminta kelancaran untuk operasi yang sedang dijalani Reyhan. Rasanya sudah cukup lama ia menunggu, jika dulu masalahnya terletak pada uang yang membuat Reyhan tidak kunjung sembuh, namun kini itu bukan lagi menjadi masalah. Olivia berharap tidak akan ada lagi masalah lain agar Reyhan bisa secepatnya sembuh. Namun tidak bisa pula dipungkuri oleh Olivia bahwa sembuhnya Reyhan nanti akan menimbulkan kekhawatiran baru dalam dirinya.
Kini keadaannya sudah tidak sama lagi seperti dulu, Meskipun tidak ada cincin melingkar di jari manisnya karena cincin itu sengaja ia simpan tiap kali mengunjungi Reyhan untuk setidaknya menghargai perasaan Reyhan meskipun ia tidak berdaya, namun fakta bahwa dirinya merupakan istri dari seorang Sabian Cavano benar-benar tidak bisa dipungkiri. Olivia merasa sangat dilema bagaimana cara memberi pengertian pada Reyhan nantinya, bahkan ia sempat berfikir untuk menyembunyikan saja semuanya dari Reyhan seolah tidak terjadi apa-apa. Lagi pula ia yakin pernikahannya dan Bian tidak akan berlangsung lama, dan itu yang ia harapkan. Ya, mungkin itu memang pilihan yang bagus, setidaknya tidak akan ada yang tersakiti nantinya.
Saat sedang menunggu dengan perasaan khawatir, tiba-tiba saja ponsel milik Olivia berdering. Mendengar suara dering telfonnya membuat Olivia langsung mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya, tertera nama Reno. Ya sebelumnya Reno pernah memberikan nomornya sekaligus meminta nomor Olivia, ia berkata bahwa Olivia bisa menghubunginya kapanpun jika membutuhkan sesuatu. Merasa akan ada sesuatu yang penting, Olivia mengangkat telfon dari Reno tersebut.
"Ada apa Reno?"
"Sekarang?"
"Apa tidak bisa beberapa jam lagi? saya sedang ada urusan."
"Baiklah, saya akan segera pulang."
"Tidak usah, saya bisa pulang sendiri."
Olivia menghembuskan nafas panjang saat sambungan telfon terputus. Ia melirik ke arah pintu ruang operasi serta lampu yang masih menyala pertanda bahwa operasi masih berlangsung. Rasanya sangat berat untuk meninggalkan Reyhan apalagi dengan keadaan seperti ini, ia ingin tahu bagaimana hasilnya. Bagaimana jika nanti Reyhan sadar dan tidak mendapati dirinya di sampingnya? Tapi Olivia juga harus pergi karena seperti yang dikatakan Reno bahwa ia harus pulang sekarang atas permintaan Bian.
Akhirnya meskipun terasa sangat berat untuk pergi, Olivia memutuskan untuk pulang, mungkin ia bisa kembali lagi setelah urusannya dengan Bian selesai. Olivia hanya berharap bahwa apapun urusannya dengan Bian tidak akan memakan waktu yang lama nantinya sehingga ia bisa kembali saat Reyhan sudah sadarkan diri nantinya.
***
Olivia menatap keluar melihat awan yang biasa ia lihat dengan cara mendongakkan kepala ke arah langit kini terasa sangat dekat karena tempat duduk yang ia dapati tepat di samping jendela pesawat. Ini kali pertama Olivia menaiki pesawat, dan hebatnya lagi ia langsung menaiki kelas bisnis tanpa harus tau bagaimana kelas ekonomi. Olivia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan naik pesawat apalagi duduk di kursi yang sangat nyaman seolah-olah bukan berada di dalam pesawat seperti ini, bahkan ia bisa berbaring dengan kaki yang tidak harus ditekuk seperti bayangannya menaiki pesawat sebelumnya.
Pandangan Olivia berada pada seseorang yang menempati tempat duduk di sampingnya yang tampak sibuk dengan MacBook-nya. Bahkan di saat seperti ini ia tampak masih sibuk bekerja. Sebenarnya Olivia merasa sangat kesal pada Bian yang tiba-tiba membawanya untuk ikut ke Roma. Ya, Roma, tempat dimana salah satu keajaiban dunia itu berada. Olivia tidak tahu ia mimpi apa tadi malam sampai ia harus tiba-tiba pergi ke Roma hari ini menemani Bian untuk menghadiri sebuah acara disana.
Olivia sangat merasa bersalah pada Reyhan karena tidak bisa menemani Reyhan hingga operasinya selesai. Bahkan Olivia harus menunggu beberapa hari untuk kembali bisa menemui Reyhan karena perjalanan mereka menuju Roma untuk urusan pekerjaan ini pasti akan cukup memakan waktu. Olivia hanya bisa mendengus kesal, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apapun perintah Bian karena ini merupakan pekerjannya.
Olivia sedikit kaget saat tiba-tiba mata Bian yang tadinya terlihat fokus menatap layar tiba-tiba tertutup dengan tangan yang bahkan masih ada di keyboard. Apa dia sedang tidur? kenapa tiba-tiba sekali? nafasnya terlihat teratur, terlihat dari pergerakan tubuhnya pertanda bahwa ia benar-benar tidur. Wajah Bian terlihat sangat damai saat tidur dan sama sekali tidak menakutkan dan mengintimidasi. Jadi dapat Olivia simpulkan yang selama ini membuatnya sulit bicara dan menjadi sangat kikuk itu adalah mata Bian yang sangat tajam. Lihatlah saat mata itu tertutup ia terlihat sangat hangat dan damai.
Untuk beberapa saat Olivia memanfaatkan saat-saat seperti ini untuk memperhatikan wajah Bian yang tidak pernah berani ia lakukan sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Bian sangat tampan, Olivia tidak akan mengelak fakta itu meskipun ia tidak suka pada Bian. Wajahnya tidak sepenuhnya Indonesia, sepertinya ada campuran yang entah dari mana itu. Olivia mengerti, pasti Bian sangat lelah karena ia selalu saja bekerja tiada henti. Bahkan sejak mereka memasuki pesawat hingga kini entah sudah berada di langit mana, Bian terus saja bekerja, entah apa yang sedang ia kerjakan.
"Apa aku pernah mengizinkan kau untuk menikmati wajahku?" Olivia terkesiap mendengar suara Bian. Mulutnya terbuka untuk berbicara, namun matanya masih tertutup. Bagaimana bisa ia tahu bahwa Olivia sedang memperhatikannya? apa ia memiliki mata di samping telinganya? Dengan cepat Olivia langsung memalingkan pandangannya kembali menatap keluar jendela. Rasanya jantungnya masih berdegup sangat kencang mendengar ucapan tiba-tiba dari Bian karena tertangkap basah sedang memperhatikan suaminya itu. Tidak ingin hal itu terulang kembali, Olivia memutuskan untuk tidak lagi melirik Bian selama penerbangan berlangsung.
***
Bian menggandeng pinggang Olivia yang ramping begitu mesra memasuki sebuah gedung tempat peluncuran sebuah produk baru dari jam merek ternama. Perusahaan Bian ikut serta dalam peluncuran ini karena nantinya penjualan di Indonesia berada di bawah naungan perusahaan milik Bian. Tentu saja ini merupakan acara yang sangat bergensi, oleh karena itu Olivia sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan tugasnya dengan baik agar tidak mengecewakan Bian.
Bian tampak sibuk berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya dari berbagai negara. Perawakan orang-orang di sekitarnya sangat tinggi membuat tengkuk Olivia agak sakit memandanginya satu persatu. Olivia tidak begitu banyak bicara, ia hanya sesekali melemparkan senyum manisnya saat dirinya menjadi bahan pembicaraan. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang lumayan membuat Olivia sedikit banyaknya mengerti apa yang tengah mereka bicarakan.
Pandangan Olivia mengedar melihat ke sekelilingnya. Bukan hanya Bian yang membawa pasangan, para pebisnis lainnya pun tampak membawa gandengan dengan dandanan yang berkelas. Sepertinya mereka berlomba-lomba memberikan penampilan terbaiknya untuk acara ini. Tidak berbeda dengan para wanita-wanita berkelas itu, Olivia pun melakukan hal yang sama. Namun bedanya semua yang ia kenakan bukanlah pilihan dirinya melainkan pilihan orang suruhan Bian yang selalu bertugas untuk menentukan apa yang akan ia pakai saat acara penting seperti ini.
Setelah beberapa saat, acarapun selesai. Sebenarnya bukan benar-benar selesai, namun beberapa tamu yang kebanyakan orang-orang penting itu satu persatu sudah mulai meninggalkan tempat termasuk Bian yang kini sudah menggandeng Olivia keluar dari gedung.
"Antarkan dia kembali ke hotel."
"Baik Tuan." Olivia menatap bingung pada Bian yang hanya berdiri di depan mobil dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana. Apa ia tidak akan ikut dengan Olivia kembali ke hotel bersama?
"Apa kau tidak kembali ke hotel?" tanya Olivia. Entah keberanian dari mana tiba-tiba Olivia bertanya pada Bian membuat dahi Bian sedikit berkerinyit.
"Apa istriku sudah belajar berbicara?" tanya Bian dengan nada datar cenderung dingin namun Olivia bisa merasakan ada ejekan di dalamnya. Mungkin karena selama ini Olivia lebih banyak diam.
Tanpa menjawab ucapan Bian, Olivia langsung bergegas memasuki mobil diikuti Reno yang juga ikut bersama mereka ke acara itu. Reno langsung melajukan mobilnya sesuai dengan titah Bian untuk mengantarkan Olivia ke hotel. Olivia menatap Bian dari jendela, merutuki dirinya yang seperti sangat ingin tahu. Lagi pula apa urusannya dengan Olivia, dia dan Bian kan sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain.
"Tuan ada janji untuk minum dengan teman-temannya, tidak usah khawatir Nyonya," ucap Reno seolah-olah menjawab kebingungan Olivia.
"Tidak, aku sama sekali tidak khawatir. Lagi pula apa urusannya denganku," jawab Olivia. Reno menatap Olivia dari kaca sembari tersenyum kecil. Pesona tuannya itu tidak akan bisa dipungkiri oleh siapapun termasuk istri tuanya itu sekalipun.
Olivia menatap keluar jendela dengan pandangan sendu. Ia kembali merutuki dirinya yang lupa membawa ponsel saat perjalanan ke Roma membuat ia sampai sekarang belum mengetahui kabar terkait operasi Reyhan. Olivia benar-benar tidak sabar untuk segera pulang dan mengetahui apakah Reyhan sudah sadar atau belum. Sangat besar harapannya agar Reyhan sukses pada operasinya kali ini.
***
Olivia bergerak tidak nyaman dalam tidurnya saat merasakan sesuatu menyentuh lehernya. Awalnya ia berusaha menghiraukan rasa itu karena rasa kantuknya yang lebih besar. Namun lama kelamaan ia merasa sentuhan itu tidak hanya di bagian lehernya namun juga merambah ke bagian dadanya.
"Bian!" Olivia memekik saat membuka mata dan mendapati tubuh besar Bian sedang berada diatasnya. Pria itu tengah memberi kecupan-kecupan kecil di bagian dadanya yang entah sejak kapan sudah terbuka. Tangan kecil Olivia berusaha mendorong tubuh Bian, namun nihil. Tubuh itu sama sekali tidak beranjak dari atasnya.
"Bian, aku mohon pergilah," ucap Olivia dengan nada yang sudah bergetar takut. Bian menatapnya dengan tatapan sayu. Bibirnya yang terbuka membuat Olivia bisa merasakan bau alkohol yang begitu kuat dari mulutnya.
Baru Olivia ingin kembali membuka suara agar Bian segera pergi, tiba-tiba saja Bian mencium bibirnya, melumatnya tidak sabaran membuat Olivia kualahan. Tangan Olivia memukul-mukul d**a Bian namun sama sekali tidak digubris. Tangan Bian malah bergerak bebas meremas dadanya membuat air mata Oivia menetes. Memang Olivia adalah istrinya, namun bukan berarti Bian bisa memperlakukannya seperti ini bahkan dengan tiba-tiba menyelinap ke dalam kamarnya yang terpisah dari kamar Bian.
Bian terus memagut bibir Olivia sembari tangannya mulai menjamah bagian bawah Olivia yang entah sejak kapan juga sudah terbuka. Olivia menutup matanya rapat-rapat saat merasakan jari-jari Bian berada di bagian bawahnya. Seolah tidak sabaran, Bian langsung memasukkan miliknya ke dalam inti Olivia membuat Olivia menjerit merasakan nyeri dan sakit.
"Tenanglah Sayang, sakitnya hanya sebentar, setelah itu hanya akan ada kenikmatan," ucap Bian dengan suara seraknya sambil terus berusaha memasuki Olivia yang luar biasa sempit baginya.
Bian mulai bergerak membuat Olivia meremas seprai menahan rasa nyeri. ia bahkan tidak berdaya untuk melawan Bian yang tampak benar-benar tidak sadar sekarang ini. Bian mempercepat geraknya mencari kepuasan untuk dirinya sendiri.
"Ahhhh Bian..."
"s**t! suaramu bahkan lebih indah dari pada jalang termahal sekalipun," erang Bian frustasi.
Entah berapa lama Bian menjadikan Olivia sebagai pemuasnya membuat Olivia benar-benar merasa lelah dan tidak berdaya lagi seolah-olah Bian tidak ada puasnya padahal hanya dia yang bermain disini. Tiba-tiba saja tuh Biam ambruk dan nafasnya naik turun. Tidak berapa lama ia tertidur pulas di saping Olivia. Olivia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia berbaring membelakangi Bian sembari terisak. Ia tidak menyangka bahwa ia akan melakukan hal ini dengan Bian. Ia merasa benar-benar bersalah kini dengan Reyhan. Kini hanya bayangan Reyhan dan rasa bersalah yang sangat besar yang bisa ia rasakan.