CEMBURU

1004 Words
Bab 12 Arman tertawa melihat penampilan Miksel yang sangat berbeda, ini kali pertama Arman melihat Miksel, memakai pakaian seperti itu. selama ini dia hanya melihat Miksel memakai pakaian yang kekinian. "Kenapa? apa aku terlihat aneh memakai nya?"Ucap Miksel yang tidak nyaman dengan pakaian yang dia pakai. "Bagus, kau terlihat berbeda dengan pakaian itu,"ucap Arman yang masih tertawa. "Aku akan ganti pakaian ini!" Miksel yang berbalik arah menunju kamar kembali. "Tunggu! pakaian itu bagus untuk mu,jangan di ganti,ayo cepat pergi! kita akan terlambat." "Tapi kau menertawakan ku, aku merasa tidak percaya diri keluar dengan baju ini, ini berbeda dengan style ku," Ucap Miksel yang memperhatikan pakaian yang dia kenakan. "Sudah, ayo kita berangkat!"ajak Arman dan berlalu pergi. Miksel tak punya pilihan lagi, dia tetap harus memakai baju tersebut. dengan langkah yang tak nyaman,Miksel sesekali memperbaiki kain sarung nya, dia takut kain itu akan melorot saat dia berjalan. setelah berada di dalam mesjid, Arman mulai menyampaikan Tausiah nya kepada orang-orang kampung, Miksel yang memperhatikan Arman saat berbicara menyampaikan tentang agama sangat fasih, dia merasa minder, untuk mendapatkan hati Andine. "Arman memang lelaki idaman, tidak mungkin Andine akan tertarik pada ku, dia pasti lebih tertarik pada Arman, sesuai dengan kriteria nya, sementara aku, sholat saja sangat jarang,"ucap Miksel dalam hati yang membandingkan dirinya dengan Arman. "Baik lah bapak-bapak dan ibu-ibu, saya akhiri pengajian kita malam ini, saya harap saya menyampaikan dengan benar, dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah,"ucap Arman mengakhiri ceramah nya. orang-orang mulai bangkit satu persatu meninggalkan mesjid, dan kembali kerumah masing-masing. Begitu pula Arman dan Miksel keluar bersama dari dalam mesjid. Andine yang memperhatikan orang-orang yang keluar dari dalam mesjid satu persatu, namun tak ada orang yang ingin dia lihat. "Kau sedang cari apa, Andine?"tanya Sasa yang memperhatikan tingkah laku Andine. "Tidak, tidak ada, ayo kita pergi!"Andine yang berjalan meneruskan kan langkah kakinya. "Aku tau,... kau sedang mencari Miksel?" Tebak Sasa. "Tidak,... aku mencari ibuk, iya aku mencari ibuk,"jawab Andine gugup. "Kau tidak pandai berbohong Andine, jadi jangan lakukan itu,"ucap Sasa menertawakan nya. "Oke, aku memang mencari nya, tapi aku baru sadar, dia tidak mungkin, pergi ke acara seperti ini,"ucap Andine memandang ke depan. "Siapa bilang? kau tidak bisa menuduh sembarangan," ucap Sasa. "Tapi kenyataannya seperti itu,Sa." "Coba lihat ke arah belakang!"Sasa yang memutar kepala Andine untuk menoleh kebelakang. Terlihat Arman dan Miksel berjalan bersama sambil berbincang dan tertawa. seketika Jantung Andine berdegup kencang, dia merasa kan getaran yang hebat saat melihat Miksel, dia juga tak menyangka Miksel akan datang ke acara pengajian seperti ini. "Ayo kita pergi,Sa!"ajak Andine yang menarik tangan Sasa menerus kan perjalanan dan tetap memandang ke depan. "Kenapa pergi? kamu kan mencari pujaan hati mu?"ucap Sasa mengoda Andine. "Sudah jangan banyak bicara! kita pergi saja," ajak Andine yang terus berjalan. "Ustadz Arman.."Teriak Sasa menyapa Arman. Arman yang mendengar suara memanggil nama nya, melihat Sasa melambaikan tangan ke arah nya, Arman pun membalas lambaian tangan Sasa kembali, dan berjalan menuju ke arah mereka. "Kenapa kau melakukan ini pada ku Sasa?ucap Andine yang terpaksa menghentikan langkahnya. "Justru aku membantu mu, agar kau bisa bertemu dengan pangeran impian mu,"ucap Sasa tertawa puas. "Asamualaikum, Andine, Sasa,"ucap Arman menyapa "Waalaikumsalam,"ucap Sasa dan Andine serentak. "Wah, bulek tampan,kau terlihat berbeda mengena kan kain sarung itu?"ucap Sasa sambil tertawa. Miksel yang merasa malu hanya mengaruk kepala nya yang tak gatal. Andine yang hanya tersenyum dengan pakaian Miksel, dia menyukai Miksel dengan pakaian rapi seperti itu, dia terlihat berbeda di mata Andine, dengan pakaian sebelumnya yang Sangat aur-auran. "Hey, menatap jangan lama-lama,"ucap Sasa yang berbisik pada Andine. Andine pun salah tingkah dengan apa yang di katakan Sasa, dia tak menyangka Sasa memperhati kan nya secara detail. "Kalian mau kemana?"tanya Arman. "Kita mau pu../ "Kita mau makan nasi goreng di pinggir jalan,"ucap Sasa yang memotong pembicaraan. Andine menatap Sasa, apa yang sedang dia bicarakan, ini semua tidak di rencanakan mereka pada awal nya, Sasa hanya mengedipkan mata nya dan tersenyum pada Andine. "Baik lah, hati-hati di jalan,"ucap Arman. "Kalian mau bergabung dengan kita? nasi goreng nya sangat enak! kalian juga belum pernah mencicipi makanan di kampung ini kan?"ucap Sasa menawarkan. "Tapi kita sudah makan malam sebelumnya," jawab Arman. "Tidak masalah, kita bisa makan lebih banyak malam ini, kita juga sangat ingin makan nasi goreng yang sangat enak di kampung ini,"jawab Miksel tiba-tiba. "İtu baru bagus bang bulek tampan, kita saja tidak takut gemuk saat makan malam,ayo kita pergi!"ajak Sasa dan berjalan bersama Andine. Miksel dan Arman berjalan di belakang Sasa dan Andine, mereka mengikuti arah yang di tuju mereka, sampai pada akhirnya langkah mereka terhenti di persimpangan jalan, terdapat nasi goreng yang di sebutkan Sasa. "Bang, kita pesan 4 porsi ya!"ucap Sasa dan duduk di bangku yang telah tersedia dan juga di susul oleh Andine, Arman, dan Miksel. "Orang baru ya neng?"tanya tukang nasi goreng yang asing melihat Arman dan Miksel. "İya bang, mereka ini tamu special, jadi buat kan menu yang special ya bang, tapi jangan mereka aja, kita juga dong, pelanggan tetap abang," cerocos Sasa. "Siap neng!"jawab tukang nasi goreng tersebut dan menyiapkan nasi goreng nya. Andine yang hanya menunduk dan tidak berkata apa-apa, dia merasa sangat gugup, dan tak tahu harus memulai pembicaraan. "Kenapa kamu diam aja?"Sasa yang bertanya kepada Andine. "Aku tidak diam saja kok," ucap Andine. "İya dari tadi kamu hanya diam,"ucap Miksel melihat Andine. "Apa kamu tidak nyaman kita makan bersama?"Tanya Arman. "Kalian seperti menyidang aku? aku tidak punya kekuatan untuk melawan kalian ber tiga,"ucap Andine untuk menutupi kegugupannya. "Aku akan bersama mu di saat tersulit,"ucap Miksel dengan tersenyum. "Cie.. cie .. Andine dapat kata-kata romantis dari Miksel,"goda Sasa. Arman hanya menatap Miksel, dia tak menduga Miksel akan berkata seperti itu kepada Andine. Bersambung.. Happy reading ? terima kasih sudah mampir dan semoga terhibur ? lanjut terus buat baca episode selanjutnya ya ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD