Bab 9
Miksel segera menyantap makanan yang di hidangkan Andine.
"Enak sekali masakan ini, sama kayak seperti restoran ya,pak?" Ucap Miksel dengan nasi yang penuh di mulutnya.
"hehehe, kamu ini ada-ada saja, ini hanya makanan sederhana," Jawab Bapak tersenyum.
"Benar loh,Pak! Ini pasti Andine yang masak?maka nya terlihat enak dan harum, pas di mulut kayak gurih gitu jengkol nya," Ucap Miksel yang mencoba mengoda Andine.
"Tapi bukan aku yang masak," Cetus Andine.
Bapak hanya tersenyum melihat tingkah Miksel, yang berusaha menggoda Andine.
"Aku pikir juga seperti itu," Miksel yang kalah malu dan melanjutkan makan nya.
"menyebalkan," Ucap Andine mengerut kan alis nya.
"Kita sudahi saja pekerjaan ini sampai di sini saja, hari sangat terik dan panas, besok kita akan lanjutkan kembali," Ucap bapak memandang ke arah sawah.
"Baik,Pak!" Jawab Miksel yang sudah selesai makan.
"Mari kita pulang!" Ajak bapak dan bangkit dari pondok, berjalan menuju kerumah
Andine yang berkemas menyusun rantang kembali dan berniat hendak pulang juga.
"Terima kasih, atas makanan nya." Ucap Miksel tersenyum yang berdiri di luar pondok.
Andine yang mendengar itu, tersenyum di balik cadar hitam nya.
Miksel memperhati kan Andine, ada daya tarik perasaan nyaman saat dia melihat Andine.
"Maaf ya," Ucap Andine tiba-tiba.
"Apa?" Tanya Miksel tak mengerti.
"Ayo kita pergi!" Ajak Andine yang selesai menyusun rantang nya.
Miksel dan Andine pun berjalan bersama untuk menuju perjalanan pulang.
"Aku minta maaf, kerena waktu itu udah ngasih kamu minuman teh Asin," Ucap Andine memulai pembicaraan.
"Oh, itu, akhirnya kau mengaku?" Ucap Miksel mengangguk kan kepala nya dan tersenyum.
"Iya, waktu itu aku kesal pada mu." Ucap Andine memandang ke depan.
"Kesal kenapa? aku juga tidak tahu apa penyebab kau kesal pada ku? pertama kali kita bertemu kau sangat jutek pada ku," Jawab Miksel menerangkan.
"Pertama kali bertemu?" Tanya Andine tak mengerti.
"Iya saat aku melihat mu mengajar anak-anak di pondok," Jawab Miksel.
"oh, jadi dia tidak ingat saat pertama kali bertemu di persimpangan jalan? dan marah-marah pada ku?" Ucap Andine dalam hati.
"Kau tidak ingat?" Tanya Miksel kembali.
"oh iya, aku ingat!"Jawab Andine gugup.
"Kenapa kamu gugup? apa ada yang salah?" Miksel yang mengerut kan keningnya.
"Tidak! aku tidak gugup, ayo cepat sedikit jalan nya! ini sangat panas," Ajak Andine mempercepat langkah kaki nya.
"seharusnya aku yang mengatakan itu pada nya," Ucap Miksel mengaruk kepala nya.
"hey tunggu! kau cepat sekali berada di depan," Miksel yang berusaha mengejar Andine yang sudah jauh di depan.
Andine memperlambat langkah kaki nya saat mendengar teriakkan Miksel. tak berapa lama, Miksel sudah berada di samping Andine dan berjalan bersama.
"Jadi sekarang kita damai," Miksel yang memberikan tangan nya untuk bersalaman dengan Andine
"Iya kita damai," Ucap Andine mengatupkan kedua tangannya di depan wajah Andine.
"maaf," Miksel yang menarik Kembali tangannya.
"Tidak masalah, cepat atau lambat kau akan mengerti apa yang boleh dan tak boleh di dalam agama kita," Ucap Andine tersenyum.
Miksel hanya mengangguk saja saat Andine berkata seperti itu, dia juga merasa sedikit aneh dan malu, saat bersama Andine, dia melihat Andine Sangat berbeda dengan wanita yang dia temui sebelumnya.
Andine terlihat baik, dan tertutup. Miksel mulai mengagumi Andine dalam diam.
Tak berapa lama, Andine dan Miksel sampai di rumah, bapak yang terlihat duduk di kursi teras bersama Arman.
"Arman?" Ucap Andine.
"Assalamualaikum, Andine," Ucap Arman menyapa.
"Waalaikumsalam,"Sahut Andine.
"Arman, dari tadi nunggu kamu Andine," Ucap ibuk yang keluar dari dalam rumah.
"Ha? menunggu kerena apa?" Tanya Andine tak mengerti.
"Loh, Arman bilang kalian ada janji untuk mengajar bersama sama anak-anak," Jawab İbuk.
"Astagfirullah, Andine lupa! maaf ya Arman, kamu udah lama ya nunggu aku?"
"Gak kok cuma baru 20 menit aja," Jawab Arman.
"20 menit? maaf ya sekali lagi, aku ambil buku ke dalam ya, setelah itu akan berangkat bersama ke pondok," Ucap Andine yang berlalu masuk ke dalam rumah.
Ibuk dan bapak hanya geleng-geleng melihat Andine yang sangat pelupa.
"Gimana pekerjaan kamu di sawah?" Tanya Arman pada Miksel.
"Menyenangkan," Ucap Miksel tersenyum.
Arman seakan tak percaya, Miksel mengatakan pekerjaan nya sekarang sangat menyenangkan, kerena dia tahu betul tabiat Miksel yang sebenarnya.Miksel tak pernah mau bekerja keras, kerena dia sudah biasa di manja, dengan kekayaan orang tua nya dari kecil.
"Ayo kita pergi Arman!" Ajak Andine yang keluar dari dalam rumah.
Arman yang bangkit dari duduknya pamit kepada bapak dan ibuk, "Kita pergi dulu ya buk."
"Iya, hati-hati di jalan," Ucap ibuk.
bapak yang hanya mengangguk dan tersenyum.
Andine dan Arman segera berangkat dan berjalan menuju ke pondok.
"Bagaimana tadi di sawah nya? nyaman kah Nak?" Tanya ibuk kepada Miksel.
"Saya Nyaman aja buk," Jawab Miksel tersenyum.
"Miksel di sengat matahari, keringat nya mencucur terus, wajah nya pun merah Buk," Ucap bapak tertawa.
"Iya begitu lah, nama nya juga kerja di sawah, tanpa ada pelindung, matahari dengan bebas menyengat tubuh kita," Ucap ibuk tersenyum.
Miksel hanya tersenyum mendengar kata-kata ibuk.
"Miksel lucu juga ya," Ucap Andine kepada Arman.
"Lucu kenapa?" Tanya Arman tak mengerti, melihat Andine yang tiba-tiba membicara kan Miksel.
"Iya lucu aja, dia ngajak aku berdamai tadi di sawah, waktu menuju perjalanan pulang," Ucap Andine.
"Kalian berdamai? memang nya kalian kenapa?" Tanya Arman.
"Lupakan! hmm.. kamu sama Miksel sudah lama saling mengenal," Tanya Andine penasaran.
"Iya, aku dan miksel berteman saat kita masih kecil," Terang Arman menjelaskan.
"Tapi kenapa wajah nya seperti orang luar?wajah tidak seperti wajah lokal?" Tanya Andine.
"Iya, ayah nya orang Amerika, dan ibu nya orang Indonesia, itu kenapa wajah nya terlihat seperti orang luar."
"Hmm.. dia tampan," Ucap Andine yang kelepasan memuji Miksel.
"Apa?" Arman yang tak menyangka Andine berkata seperti itu.
"Tidak ada! oh iya, apa keluarga nya juga tinggal di sini?" Tanya Andine yang sedikit gugup.
"Tidak ibu nya menetap di Amerika bersama ayah nya," Jawab Arman.
"Jadi apa yang dia lakukan di sini?" Andine yang terus bertanya tentang Miksel.
"Kenapa kamu bertanya tentang Miksel terus?" Tanya Arman yang mulai merasa cemburu.
"Ha? kita sudah sampai, ayo masuk!" Andine yang mengalihkan pembicaraan, dan masuk kedalam pondok.
Arman terdiam dan berdiri di luar pondok, menatap Andine yang masuk ke dalam pondok. Arman merasa ada yang aneh dengan semua pertanyaan Andine yang hanya bertanya tentang Miksel.
Arman tidak bisa mengingkari hati nya, kalau dia merasakan sesuatu di hati nya, Arman merasa cemburu, saat Andine terus bertanya tentang Miksel.
Bersambung ....
Happy reading ?
jangan lupa follow dan + ke rak buku ya ?