Aku tersentak dari lamunan karena Papa menepuk pundak, lalu berdehem pelan sembari kembali menatapnya gugup. "Apa kamu sudah lama di sini?" ulangku. Karin masih diam yang membuat telapak tanganku terasa lembab. Akan tetapi, tak berselang lama dia menggeleng. "Baru saja, kok. Aku hanya mau mengajak Mas sarapan," jawab Karin pada akhirnya. Syukurlah. Aku pikir dia mendengar semua percakapan kami tadi. "Iya. Ini juga baru mau ke sana. Ayo!" ajakku yang dijawabnya dengan anggukan, lalu pergi lebih dulu sambil menggendong Kamal. "Apa papa bilang. Kita tidak akan bisa tenang dengan terus membohonginya seperti ini, Malik. Coba pikirkan kembali sebelum terlambat," ucap Papa pelan. "Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, Pah. Aku sudah yakin dengan semua ini," sahutku, lalu mulai melangkah me

