rutinitas yang bian jalani setiap harinya monoton. hanya hari hari yang penuh dengan pekerjaan. tidak ada waktu baginya untuk healing ataupun shopping. berangkat pagi dan pulang sore hari. terkadang malam apabila ia harus bekerja lembur. wajahnya nampak begitu serius. ia jarang tersenyum lebar apalagi tertawa lepas hanya senyuman tipis yang sesekali menghiasi wajahnya.seolah beban hidup yang begitu berat menumpuk di punggungnya. tapi memang benar. saat ini ia adalah satu satunya orang yang menjadi tulang punggung keluarganya.
dahulu ia adalah orang yang berada. hidup serba berkecukupan. tidak pernah ia merasa kesulitan seperti yang ia rasakan sekarang.
bahkan namanya begitu dielu elukan oleh semua orang. terlahir dari keluarga yang kaya raya, anak seorang pejabat. namun siapa sangka roda kehidupan berputar cepat. ia yang kaya raya mendadak jatuh miskin setelah sang ayah di fitnah. harta kekayaan yang bergelimang habis di ambil oleh negara. sang ayah sempat masuk penjara beberapa tahun dan setelah keluar sang ayah jatuh sakit dan menderita. sang ibu yang tidak kuat menghadapi kenyataan hidup harus menghembuskan nafas terakhirnya karena serangan jantung. bian tidak memiliki adik ataupun kakak, ia anak tunggal. parahnya lagi saudara dari ayah atau ibunya semua menjauh. mungkin mereka merasa malu atas apa yang terjadi.
sungguh itu adalah kenangan hidup yang begitu pahit. dan kepahitan nya masih ia rasakan sampai saat ini. namun sebelum kenangan pahit itu ada sepotong kenangan yang tidak bisa bian lupakan. kenangan manis tentang cinta pertama nya. cinta pertama yang terukir dalam dan membekas di hatinya. sebuah nama. nama seorang pemuda yang mewarnai hari hari nya dahulu. hari hari yang penuh dengan senyuman hangat dan tawa yang lepas.