Sebelum terciptanya Dunia Modern. Sebuah meteor besar melewati bumi namun sebagian serpihan meteor-meteor kecil jatuh menghujani sampai kepermukaan bumi dan mendarat dengan dahsyat ke beberapa daerah di daratan bumi.
Batu meteor yang jatuh ke daratan bumi itu berdiameter cukup besar hingga beratnya pun lebih dari 30 ton. Batu meteor itu memiliki sumber energi bahkan melebihi tenaga nuklir. Di perkirakan bukan hanya satu akan tetapi ada 5 batu atau lebih meteor yang jatuh di beberapa daerah.
Seorang ilmuwan bernama Sheo Lee berstatus sebagai staf khusus di laboratorium yang berada disebuah kota. Dia bersama rekannya sesama ilmuwan membuatkan sebuah wadah untuk menampung sumber energi yang di keluarkan oleh batu meteor itu. Bertahun-tahun meneliti, menguji coba dan mencari cara untuk menampung energi luar biasa dahsyat hanya dari sebuah batu meteor. Terciptalah pilar raksasa dengan ketinggiannya mencapai ratusan meter bahkan sampai mencakar langit.
Keberhasilan Sheo Lee dan rekan-rekannya dalam membuat sebuah pilar raksasa di akui oleh beberapa pemimpin. Di empat kota lain juga terdapat batu meteor yang serupa di tempat mereka akan tetapi pancaran energi warnanya berbeda-beda, Sheo Lee bersama rekan-rekannya diminta membuatkan pilar raksasa seperti ciptaannya yang pertama kali. Hingga pada akhirnya ke lima daerah pun memiliki masing-masing pilar raksasa yang di sebut Lifestone.
Hari demi hari, bulan, sampai beberapa tahun ke lima daerah itu semakin pesat kemajuan teknologi, pembangunan dan ekonomi merubah semua daerah itu menjadi kota-kota besar hingga di sebut Dunia Modern. Mulai dari kecanggihan alat tranportasi, alat komunikasi sampai pada persenjataan dan peralatan militer. Kini 5 kota itu pun memiliki masing-masing namanya dengan sebutan Kota Red, Kota Blue, Kota Green, Kota Orange, dan Kota White.
Setiap kota mempunyai seorang Kapten dan juga pasukan untuk menjaga keamanan kota dari gangguan orang-orang yang ingin mencuri sumber energi Lifestone. Suatu ketika pernah terjadi kekacauan besar di kota Orange dari serangan para bandit yang ingin merampas paksa Lifestone. Pertahanan mereka sempat kalah sehingga mereka pun meminta bantuan dari kota Blue di ketua oleh Indra sebagai kaptennya.
Indra adalah kapten muda gagah berani menunjukan aksinya bersama dengan pasukannya melawan para bandit. Tentu saja armor teknologi dikenakan oleh Indra untuk pertama kalinya, musuh-musuhnya tidak ada yang sanggup berhadapan dengannya. Namun armor canggih itu bukan sembarang orang yang dapat mengenakannya, karena setelah melepasnya kondisi tubuh menjadi lemas menguras tenaga sampai berlebih. Meski Indra masih muda tapi prestasi dari sekolah kemiliteran tidak diragukan lagi untuk mengenakan armor canggih itu. Tubuhnya juga kekar dan terlatih mampu bertahan 1 jam lebih saat mengenakan kostum armor.
Kini ke 5 kota sepakat membentuk Aliansi dan membuat benteng pertahanan besar. Keluar masuk Dunia Modern tersebut harus menggunakan gelang tangan teknologi smart di lengkapi sistem sensor G online koneksi satelit. Apabila terdeteksi melakukan tindak kejahatan sistem G akan mengeluarkan listrik kejut hingga membuat penggunanya terkapar selama 30 menit.
Di luar Dunia Modern masih ada beberapa kota kecil dan masih terjaga nuansa klasik nan alaminya meski mendapatkan saluran energi Lifestone hanya sebagai pembangkit listrik Itu sudah cukup bagi warga sekitarnya. Ada sebuah bangunan sekolah, kantor, tempat perpustakaan, mini market dan sebuah taman mini.
Salah satu kampung halaman Indra berada di kota kecil berdekatan dengan sebuah pegunungan dan juga keindahan pantai memiliki lautan yang memukau.***
Indra dan Rocky kini keluar dari taman pusat perbelanjaan. Disana Rocky di belikan beberapa pakaian dan juga di manjakan dengan berbagai macam permainan seru.
"Kapten, laper nih! Kita makan yuk," ajak Rocky tangannya menarik-narik tangan Indra.
"Okey! Kita makan kepiting rebus kesukaan ku, gimana?" tanya Indra bersemangat. Namun di balas dengan gelengan kepala Rocky. Dia menunjuk kearah sosis jumbo yang ada di restoran mewah.
"Hah! Selera dia tinggi sekali mau makan di restoran mewah," gumam batin Indra, melihat kearah Rocky yang tersenyum dengan imutnya membuat Indra pasrah dan akhirnya mereka berjalan menuju ke restoran itu.
Tidak disangka Rocky begitu bersemangat sekali ingin memakan sosis yang berukuran jumbo dimasak oleh koki profesional yang langsung memasaknya dengan meriah di depan mereka berdua sampai menciptakan aroma begitu lezat. Indra melirik dan menggelengkan kepalanya melihat kearah Rocky dengan nafsu makan seorang anak kecil melahap makanannya benar-benar terlihat kelaparan.
"Untung saldo ku baru di isi oleh Ryuga. Kalau tidak, habislah aku jadi pencuci piring di restoran ini!" gumam batin Indra sembari melihat saldo di gelang tangannya yang menampilkan layar hologram menunjukan angka nominal saldo miliknya.
Setelah puas menikmati masakan di restoran mewah, kini mereka beranjak dan keluar dari restoran ingin segera berangkat pulang menuju rumah Indra.
"Kita tidur disana?" tanya Rocky, lagi-lagi tangannya menunjuk kearah tempat hotel berbintang.
"Bukan! Rumah ku jauh lebih keren dari itu!" jawab Indra dengan membuang nafas kasar, membuat Rocky menerawang dalam imajinasinya.
"Ini anak orang kaya, apa?" gerutu batin Indra sedikit mulai kesal.
Kini mereka berdua berjalan menuju motor yang ada di parkiran. Indra menyalakan motornya dan menaikan Rocky terlebih dulu yang duduk di belakangnya.
"Kapten,"
"Hmm??"
"Aku akan ikut bersama mu!" seru Rocky tersenyum polos.
"Memangnya dari tadi kau ikut dengan siapa? kalau bukan dengan ku!" Balas Indra dengan motor melaju sedang, namun membuat Rocky menertawakan ucapan Indra.
Sudah puas mengajak Rocky berkeliling Dunia Modern. Kini mereka keluar dari perbatasan benteng Dunia Modern, beberapa petugas langsung mempersilahkan dan memberi hormat kepada Kapten Indra. Rocky yang di belakang Indra, ia melambaikan tangannya ke arah petugas yang berjaga di pintu gerbang tersebut. Mereka pun membalas lambaian tangan dan tersenyum tipis, bergumam sesama petugas bahwa kapten Indra sudah memiliki seorang putra.
"Boy!!
"Iyaa Kapten!
"Pegang yang erat, kita power booster!!
"Siaap Kapten!" mereka berdua bersemangat melajukan motornya dengan kecepatan menggunakan energi power booster dari Lifestone. Rocky yang di belakang semakin erat pelukannya dipinggang Indra.
Motor kesayangan Indra memang terbuat khusus dari logam bercampur Lifestone, baik bahan termasuk juga komponen-komponennya di desain sangat kokoh dan tampilannya pun gagah. Di lengkapi dengan energi power booster juga di bekali persenjataan teknologi canggih, seperti pedang laser, senjata laser yang bisa keluar dari dua arah samping belakang kanan dan kiri.
Memasuki kota kecil, kecepatan motor melaju sedang. Kini mereka berdua sudah sampai di depan rumah dan terlihat Rocky yang sudah mulai mengantuk dan kelelahan.
Indra berjalan memasuki teras rumahnya dan membuka pintu dengan sebuah kartu pengenal, kemudian pintu pun terbuka sembari menggendong Rocky yang berada di belakang punggung Indra. Berjalan menuju kamar dan merebahkan Rocky di tempat tidur.
"Anak ini cukup tangguh juga, baru berusia 5 tahun dia sudah setangguh ini bisa melewati angin malam yang dingin," gumam Indra menatap kearah Rocky yang sudah terlelap tidur di dalam kamarnya.
Rumah Indra cukup besar kalau hanya untuk mereka berdua saja. Desain rumah yang nyaman dan tentram tidak ada kebisingan kota di daerah itu, hanya saja suara-suara binatang malam yang melantun menjadi ciri khas alami.
Sinar matahari sudah memasuki kamar. Tangan kecil mengerjapkan kedua matanya dan melihat seisi ruangan yang membuat keheranan anak kecil itu.
"Ini di mana?"
Bertanya-tanya kebingungan saat bangun dan turun dari tempat tidurnya, mencoba keluar dari kamar. Saat hendak memegang pedal pintu, tiba-tiba pintu di buka oleh Indra terlebih dulu dan tanpa sengaja pedal pintu dari dalam mengenai dahi anak kecil itu.
"Aduuhh ... Sakit!" suara anak kecil terdengar kesakitan oleh Indra. Matanya berkaca menahan sakit di dahinya.
"Eeh kau sudah bangun yah? Maaf, aku tidak sengaja," ucap Indra, ia terheran ketika mendengar suara anak kecil itu berubah terdengar berbeda dari malam tadi.
"Kau lagi sakit, Rocky?" Indra kembali bertanya dan tangannya menyentuh dahi anak kecil itu. Di balas gelengan kepala dan balik bertanya kepada Indra.
"Paman siapa? Aku di mana? Ayah dan ibu kemana?" pertanyaannya beruntun keluar dari mulut anak kecil itu. Belum sempat Indra menjawab semua pertanyaan itu.
"Dan siapa Rocky?" tanya anak itu lagi, membuat Indra mengerutkan dahinya semakin ia tidak mengerti.
Seketika Indra memutar balik dalam pikirannya yang penuh dengan tanda tanya. Menarik nafas dalam dan menghela nafasnya perlahan, mencoba menjelaskan kepadanya anak itu. Mereka duduk di tepi tempat tidur, tangan Indra merangkul bahu anak itu dan menceritakan terjadinya sebuah kecelakaan sampai kepada cerita orang tuanya yang sudah tiada, hingga Indra mengatakan bahwa panggilannya adalah Rocky, namun dia menggelengkan kepala dan menyatakan bahwa dirinya bernama Ricky bukanlah Rocky.
Melihat Ricky yang terdiam menundukkan wajahnya, Indra pun turun dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu, namun dia masih terpikirkan Ricky yang melamun dan mencoba menghibur dalam diamnya.
"Baiklah jagoan, kesedihan mu akan hilang ketika tersenyum. Kamu segera mandi dan setelah itu kita sarapan pagi. Sudah ku masakkan makanan buat mu," ucap Indra, dia beranjak keluar dari kamar dibalas anggukan oleh Ricky yang masih menunduk.
Keduanya sama-sama dalam pikiran yang penuh tanda tanya, apalagi Ricky tidak memahami apa yang tengah terjadi kepada ayah ibunya. Mendapatkan kabar orangtuanya sudah tiada dalam sebuah kecelakaan, namun ketika Ricky mengingat-ingat terakhir kali kejadian adalah gambaran tangan mengerikan dengan cakar yang besar. Membuat kepala Ricky rasa nyeri dan sakit luar biasa saat mengingat-ingat hal itu. Dia menangis tak bersuara menahannya hanya dengan mengepalkan kedua tangan di dadanya.
Indra masih berada di balik pintu, dia bisa merasakan apa yang saat ini tengah di rasakan oleh Ricky, menerima kenyataan pahit bahwa sudah tidak memiliki kedua orangtua di usianya yang masih sangat muda. Indra pun adalah seorang anak yatim piatu sewaktu usia 8 tahun, dimana kedua orangtuanya juga terkena sebuah musibah kecelakaan.