Kamu Menyebalkan Tapi Aku Suka

1584 Words
Eva tiba di depan sebuah restauran dengan langkah gontai ia memasuki restauran itu sampai ia bertemu dengan laki-laki yang merupakan manager di restauran itu. "Aku ingin bicara denganmu" "Maaf ada perlu apa nona?" Tanya manager itu bingung. "Haruskah aku mengulang kata-kataku? Kubilang aku ingin bicara denganmu" Manager itu menggaruk kepala tak gatal "Baiklah silahkan lewat sini nona" Tak ingin ambil pusing akhirnya manager itu mengarahkan Eva ke ruangannya. "Jadi apa yang ingin anda bicarakan, nona?" Tanya manager setelah sampai di ruangannya. Tanpa basa-basi Eva meronggoh tas silvernya dan menyodorkan sebuah foto di atas meja. Manager itu mengernyit heran lalu mengambil foto itu "Ini Elina, salah satu karyawan di restauran ini" "Iya, dan aku ingin kau memecatnya" Manager itu semakin bingung "Kenapa saya harus memecatnya, sejauh ini dia bekerja sangat baik dan selalu datang tepat waktu, jadi tidak ada alasan saya memecatnya" "Kalau begitu, memberhentikanmu dari posisi ini juga tak perlu alasan, bukan begitu?" Eva tersenyum miring. "Maksud anda?" "Okay kau mungkin memang tidak mengenalku, tapi mungkin kau kenal dengan perusahaan NACA Group yang merupakan klayen besar di perusahaan bos mu, dan aku adalah putri dari direktur utama perusahaan itu, aku bisa saja meminta ayahku agar bilang pada bos mu untuk memberhentikanmu" Tantang Eva dengan mengangkat sebelah alisnya. Sontak manager itu membelalak dan meneguk ludahnya, manager itu mengangguk pelan "Baiklah, saya akan memecat Elina" Tntu saja ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, jaman sekarang mencari pekerjaan itu susah. Ia tidak mau menyia-nyiakannya, meskipun demi itu dia harus mengorbankan orang yang tidak bersalah. "Good, senang bekerja sama denganmu" Ucap Eva seraya beranjak berdiri. Seseorang yang sedari tadi berdiri di dekat pintu yang terbuka sedikit bergegas pergi saat melihat Eva hendak beranjak dari sana, jangan sampai ia ketahuan bahwa sedari tadi dia menguping pembicaraan mereka. *** "Sudah jangan nangis lagi, gak cape dari tadi terus nangis?" Ucap Arsa mulai jengah dengan Elina yang tak berhenti menangis. Elina mendonggak menyorot tajam "Lalu aku harus apa Arsa? Ketawa, seneng, bahagia, gitu?" "Tadi itu pertama kalinya aku bertemu ayahku dan kau malah membawaku pergi dari sana hiks" Lanjut Elin a terisak. "Kamu tidak dengar, mereka menghinamu Elina, mereka meredahkanmu. Oh atau kau memang suka di perlakukan seperti itu?" "Aku tidak peduli dengan mereka, aku hanya ingin ayahku, kau tidak mengerti!" "Justru karena aku mengerti, maka aku tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti itu. Dan jika kau lupa, bahkan tadi ayahmu mengusirmu!" Elina tersentak terdiam mendengar ucapan Arsa. Iya, dia kini teringat dengan perkataan ayahnya tadi yang seolah memang tak pernah menginginkan kehadirannya. "Pergilah, aku bahagia dengan keluargaku dan kau pun bahagialah dengan keluargamu" perih sekali saat mengingat itu. Setelah bertahun-tahun di campakan bahkan kini hanya untuk sekedar bertemu saja ayahnya menolak. Dia bilang keluarga, lalu apakah dirinya juga bukan keluarganya? Bukankah ia juga anaknya?. Elina menutup wajahnya dengan kedua tangannya semakin kencang menangis. Melihat itu, Arsa mendekat dan duduk di samping Elina memeluknya membiarkan kepala gadis itu tenggelamnya di d**a bidangnya "Jangan menangis lagi, jangan menangis untuk sesuatu yang tidak perlu. Bukankah selama ini kau baik-baik saja tanpanya, tetaplah seperti dulu yang tidak membutuhkan ayahmu" Elina mendonggak menatap wajah Arsa "Aku butuh Arsa, aku selalu butuh ayahku, aku juga ingin seperti mereka, aku inginkan kasih sayang ayahku, aku butuh itu Arsa" Wajah itu begitu pilu kala Arsa menatapnya. Arsa kembali memeluknya "Kalau begitu aku yang akan memberikan itu, aku yang menggantikan sosok ayah untukmu, aku yang akan memberikan kasih sayang itu. Aku menyayangimu Elina. Jadi jangan menangis lagi" Arsa mengelus kepala Elina lembut. Seperti di terpa ribuan ombak hati Elina bergemuruh. Ada perasaan asing yang menyeruak, perasaan asing yang sayangnya ia sukai. Elina tidak tahu apakah yang di katakan Arsa itu benar namun itu terdengar begitu tulus hingga membuat perasaannya membuncah yang membuat Elina sangat senang dan nyaman. Aroma musk dan kayu manis menyeruak ke rongga hidungnya begitu wangi membuat Elina lebih tenang, ia semakin membenamkan wajahnya di d**a bidang laki-laki itu dan semakin mengeratkan pelukannya "Terima kasih, terima kasih Arsa" Seru Elina. Kemudian Elina mengurai pelukan mereka "Arsa, aku ingin pulang, nenek pasti mengkhawatirkanku dan aku juga mengkhawatirkannya" "Baiklah, ayo" ___ Setelah dari apartemen, Arsa justru tidak langsung membawa Elina pulang tapi malajukan mobilnya ke tempat lain. Elina tentu saja bingung Arsa akan membawanya kemana. "Arsa, ini bukan arah ke rumahku. Kita akan kemana?" "Sebentar saja Elina, temani aku, setelah ini aku akan mengantarmu" "Iya tapi untuk apa kita kesini?" Tanya Elina lagi saat mobil Arsa memasuki area mall. "Besok ulang tahun bunda, dan sekarang temani aku mencari kado untuknya" Ucap Arsa seraya membuka pintu mobil. Elina ikut keluar dari mobil itu dan menyusul langkah besar Arsa karena laki-laki itu jalan terlebih dahulu. "Kau juga harus datang" Ucap Arsa saat mereka sudah berkeliling mencari hadiah yang pas. Elina menunjuk dirinya sendiri "Aku?" "Hm" "T-tapi a-ku–" "Bunda adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Tadi kau memintaku untuk mengantarmu bertemu dengan ayahmu dan aku memintamu untuk datang di acara ulang tahun bundaku" Arsa melirik Elina sebentar. "B-aiklah" "Kak Aca" Teriak melengking seseorang dari arah samping kiri membuat membuat Arsa dan Elina menoleh. Gadis itu berlari ke arah mereka, Arsa tersenyum manis pada gadis itu, oh sepertinya atmosfer di sana mulai tidak nyaman. "Kak Aca kesini juga, kak Aca mau cari kado buat aunty Nara juga?" Tanya Eva dengan berbinar. "Hm" Jawab Arsa bergumam. "Baiklah ayo, aku juga tadi baru membeli ini" Eva langsung mengapit tangan Arsa sembari mengacungkan totebag yang katanya hadiah untuk Nara. Percikan-percikan api mulai menjalar di hati Elina saat melihat itu, melihat bagaimana Eva bergelayut manja dilengan Arsa dan mirisnya Arsa membiarkan itu. Mereka berhenti di toko perhiasan, di mana di sana terpajang berbagai perhiasan mewah nan elegan, bahkan Elina sampai termengo melihat kilauan-kilauan dari batu-batu mulia itu. Arsa dan Eva sibuk melihat-lihat perhiasan di sana. Mata Elina juga tertuju pada sebuah kalung dengan liontin motif bunga Azalea berhiaskan berlian-berlian kecil dan terlihat sederhana begitu berbeda dengan kalung-kalung lain yang mempunyai berlian besar dan mewah. "Arsa, kalung ini cantik, aku yakin bundamu akan suka" Ucap Elina tersenyum senang. Arsa menoleh pada Elina dan kalung yang ditunjuk gadis itu "Kamu suka kalung itu?" Elina mengangguk antusias "Dan aku yakin bundamu juga akan suka" "Tidak, aunty Nara tidak akan suka, lagipula kalung itu terlalu sederhana dan tidak akan cocok untuk aunty" Sahut Eva tiba-tiba. "Lebih cantik yang ini" Lanjut Eva menunjuk kalung yang hampir seluruhnya dari berlian dan di tengah liontinnya ada berlian yang lebih besar. Arsa menoleh pada liontin yang ditunjuk Eva. "Bukankah ini sangat cantik?" Imbuh Eva lagi. Arsa mengangguk mengiyakan. Eva tersenyum sumringah menatap Elina tersenyum miring dan Elina segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Eva. "Um kak Acha Eva mau kalung itu" Tunjuk Eva merengek pada kalung liontin kupu-kupu yang dikelilingi permata dan taburan berlian tentunya. Dan lagi, Arsa mengangguk mengiyakan. Sedangkan Elina hanya menatap dua orang yang tengah sibuk perhiasan untuk bundanya Arsa dan untuk Eva. Elina masih menatap kalung liontin kecil sederhana itu, entah mengapa ia begitu jatuh hati dengan kalung satu itu. "Mbak maaf, kalung yang itu berapa ya?" Tanya Elina pada penjaga toko karena jika harganya terjangkau Elina ingin sekali memilikinya. Mbak-mbak itu tersenyum ramah "Rp. 15.000.000,00. kak soalnya meskipun terlihat sederhana kalung ini memiliki berlian meskipun kecil-kecil dan sedikit. Model yang seperti itu tinggal satu lagi dan tidak di produksi lagi" Terang sang penjaga toko. Elina menelan salivanya kasar. Elina begitu tercengang, ia pikir harganya tidak sebesar itu. Bagi orang kecil seperti Elina mana mungkin punya uang sebanyak itu, kalau pun punya takan Elina gunakan hanya untuk membeli perhiasan. Lebih baik untuk melanjutkan studinya. Ah sudahlah mungkin barang-barang seperti itu memang hanya untuk orang-orang dari kalangan bangsawan saja. Elina juga tidak mungkin kan merengek seperti Eva meminta dibelikan pada Arsa, memangnya siapa Elina, saudara bukan, pacar juga bukan, istri apalagi, teman? Ya mungkin hanya itu. Atau sebatas orang asing yang tidak sengaja saling kenal. Asing tapi kenal? Ah bagaimana sih "Mau beli kalungnya kak? Pasti cocok di kulit kuning langsat seperti kakak" Ucap penjaga toko itu sedikit merayu, ciri khas pedagang Elina terkekeh samar "Ehehe enggak deh mbak, tadi saya cuma nanya aja" Ucap Elina agak malu juga sudah nanya-nanya. Elina melirik lagi pada dua orang yang masih sibuk itu, terlihat sekali wajah bahagia Eva karena dibelikan kalung yang ia inginkan. Sikap Arsa juga begitu manis dan lembut pada gadis itu, berbeda 180° dengan saat bersamanya yang hanya ketus, dingin, mahal ngomong, sekalinya bersikap baik hanya beberapa detik. Ugh melihat mereka mereka membuat Elina semakin terbakar, jika tadi hanya percikan sekarang sudah menjadi kobaran api di hati Elina, begitu panas hingga ia tak bisa lagi ada di sana. "Um Arsa, aku duluan ya, sekarang kan ada Eva yang menemanimu jadi aku tidak harus disini lagi. Nenekku juga pasti sudah menunggu. Duluan ya permisi" Ucap Elina basa-basi pamitan. Setelah itu ia melenggang pergi. Saat sudah beberapa langkah berjalan Elina menoleh lagi sebentar pada mereka. Elina berdecak, jangankan menyusulnya seperti di drama-drama Korea bahkan untuk sekedar ngomong aja Arsa enggak. Setidaknya bilang hati-hati kek. "Sumpah, gedeg banget aku tadi saat mau aja menemani Arsa" Gumam Elina bermonolog. Mata Elina sedikit berkaca-kaca. Kenapa sih sikap Arsa itu membingungkan dirinya. Baru aja tadi pagi sikapnya baik dan lembut tapi sekarang dia kembali ke wujud aslinya, dingin dan menyebalkan. Apalagi saat bersama gadis itu Arsa jadi lupa akan Elina, lupa kalau di bumi ini juga ada Elina yang sialnya menyukai laki-laki itu. Baru kemarin malam juga Arsa bilang Eva bukan siapa-siapa, tapi lihat sekarang, sikapnya pada Eva tidak mencerminkan kalau Eva itu bukan siapa-siapa. "Kamu jahat Arsa, tapi aku suka kamu" -Elina To be Contiuned
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD