Aku memijit pelipisku yang terus berdenyut sejak 1 jam lalu. Lebih tepatnya setelah melayani orang tua pasien yang akan berkonsultasi mengenai masalah kesehatan gigi pada anaknya. Rasa sakit itu tak kunjung reda, bahkan setelah aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Menghembuskan nafas berulang kali untuk menghilangkan rasa sesak yang kini aku rasakan. Sembari memejamkan mata berharap rasa sakit yang sungguh menyiksa tubuh dan kepalaku ini segera menghilang secepatnya. Aku mengutuk diriku sendiri. Menyesali keteledoran dan kebodohanku beberapa hari terakhir sejak pertemua dengan Dania 1 minggu yang lalu. Karena setelah dia mengajukan pertanyaan yang sangat sensitif bagiku dan melihat bagaimana reaksinya. Entah mengapa hal itu selalu terbayang-bayang di ingatanku dan menjadi beban p

