Napasnya makin memburu, tenggorokannya terasa kering lagi, dan rasa panas itu kembali menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya, membuat kakinya makin tak bertenaga.
Bayangan wajah pemuda itu, senyum nakal dan tatapan menggodanya, terus berputar di kepalanya.
"Dia pasti tau kalo gue lagi ngintip dia dari tadi," batin Kiara.
Pikiran gila yang sempat muncul tadi kembali berputar makin kencang. "Gimana ya rasanya batang itu menempel di sini" gumamnya sambil mengelus pelan perut bagian bawahnya.
Ia membayangkan bagaimana rasanya jika benda besar, panjang, dan berurat kasar itu masuk ke dalam dirinya, memenuhi ruangan sempit itu.
Tangan Kiara bergerak sendiri, turun perlahan menyusuri pinggangnya, lalu masuk ke balik celana tipis yang ia kenakan. Jari-jarinya menyentuh bagian dalamnya yang ternyata sudah basah kuyup sejak tadi, lembap dan becek karena cairan yang keluar sejak tadi.
"Kalau saja dia datang ke sini..." bisiknya pelan, matanya memejam rapat membayangkan skenario itu. "Gue pasti nggak bakal nolak. Gue pasti bakal buka semua buat dia. Biar dia pakai aku sepuas hatinya sama benda besar itu."
Dengan sisa tenaga yang ada, Kiara perlahan berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Ia menggeser dan menutup rapat kaca pembatas balkon.
Ia berjalan terhuyung-huyung menuju tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk yang sejuk saat menyentuh kulitnya.
Namun kesejukan itu hanya sesaat, karena rasa panas yang membakar dirinya jauh lebih kuat. Matanya menatap ke langit-langit kamar, tapi bayangan bentuk tubuh kekar itu, urat-urat yang menonjol, dan benda besar yang menjuntai panjang itu kembali berputar nyata di depan matanya.
Tangan kanannya meraba-raba ke samping, meraih tas yang tergeletak di pinggir ranjang. Jari-jarinya bergerak gelisah menyibakkan isinya, mencari satu benda yang selama ini terus menemaninya.
Hingga akhirnya, ujung jarinya menyentuh benda kecil berwarna merah muda yang licin dan halus. Jantungnya kembali berpacu kencang saat mengeluarkan benda itu, memegangnya dengan tangan yang tak henti bergetar.
Kiara menggeser posisinya, berbaring lebih nyaman dengan kedua kaki sedikit terbuka. Napasnya makin berat dan pendek. Perlahan, ia meletakkan benda kecil itu tepat di bagian paling atas celananya, di garis tengah yang menonjol, tepat di atas daging lunaknya yang sudah terasa sangat gatal dan berdenyut denyut.
Kedua matanya terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka. Jempolnya yang gemetar menyentuh tombol kecil di bagian bawah benda itu. Sekali tekan... dan seketika itu juga, getaran halus menjalar langsung ke seluruh area itu.
Bzzzt.
Getaran itu berputar cepat, menggelitik dan menabrak bagian paling nikmat di sana melalui lapisan kain tipis itu. Kiara langsung menekan punggung tangannya ke mulut, menahan erangan panjang yang hampir lolos.
Getaran itu berputar cepat, menggelitik dan menabrak bagian paling nikmat di sana melalui lapisan kain tipis itu. Kiara langsung menekan punggung tangannya ke mulut, menahan erangan panjang yang hampir lolos.
Punggungnya perlahan melengkung terangkat dari kasur, sementara pinggangnya bergerak naik turun mengikuti irama getaran itu.
Bayangan pemuda itu kembali datang, kini terasa makin nyata. Dalam benaknya, benda berwarna merah muda itu berubah wujud menjadi batang panjang berurat milik pemuda itu.
Ia membayangkan seolah-olah getaran ini adalah tekanan benda besar itu yang sedang menekan dan menggosok lembut bagian serabinya.
"Ah... sialan..." desisnya tertahan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Rasanya luar biasa. Rasa nikmat yang bergetar menjalar cepat dari titik kecil itu, menyebar ke perut, lalu merambat naik sampai ke d**a dan lehernya.
Semakin lama, ia makin menekan benda itu lebih kuat ke tubuhnya, tubuhnya makin menggeliat hebat, dan rasa basah di balik celananya makin meluber luas, membasahi benda mainan itu dan membuatnya terasa makin licin.
Di tengah rasa nikmat yang mulai memuncak, tangan kirinya yang gemetar meraba sisi kasur mencari ponsel yang tadi ia letakkan.
Layar itu menyala, dan di sanalah rekaman tadi terpampang jelas. Jempolnya menekan tombol putar, dan seketika itu juga, pandangannya kembali terpaku pada pemandangan yang membakar akal sehatnya.
Di layar kecil itu, terlihat jelas sosok kekar itu berdiri di bawah cahaya lampu jalan. Ia melihat kembali bagaimana kain hitam itu meluncur turun, bagaimana benda besar itu menjuntai lemas dan berat, lalu perlahan mengeras seiring gerakan tangan pemuda itu yang mengusap pelan sepanjang batangnya yang penuh urat.
Kiara menahan napas, matanya membelalak tak berkedip, sementara getaran dari benda merah muda itu masih terus berdenyut kencang di balik celananya.
Melihat video pemuda itu memegang dan memainkan miliknya, rasa geli dan panas di tubuhnya berlipat ganda berkali-kali lipat. Rasa gatal yang tadinya biasa saja, kini berubah menjadi dorongan liar yang tak tertahankan.
"Uhmmm..." rintihnya tertahan, napasnya berubah jadi suara desahan pendek dan cepat. Rasanya sudah tak sanggup lagi menahan segala kenikmatan ini di balik lapisan kain penghalang.
Dengan tangan yang gemetar hebat karena rasa nikmat, Kiara melepas cengkeraman tangannya dari mulut. Ia membiarkan ponsel itu tetap berputar, lalu kedua tangannya bergerak ke pinggangnya.
Ia duduk dan menarik celananya ke bawah mengangkat sedikit bokongnya, lalu meluncurkannya melewati pinggul, paha, sampai di pergelangan kaki dan akhirnya melempar ke bawah kasur.
Sekarang tak ada lagi penghalang. Benda merah muda itu kini menempel langsung pada kulit halusnya itu, tepat di atas puncak daging lunaknya yang sudah membengkak dan basah kuyup.
Getaran itu langsung terasa berkali-kali lipat lebih kuat, Kiara langsung menekuk kakinya dan merapatkan paha, tubuhnya berguncang hebat menahan rasa yang mendadak meledak itu.
Belum cukup, rasa ingin menelanjangi dirinya semakin menguasai fikirannya. Tangannya naik ke atas, menyambar ujung baju hitam yang ia kenakan. Dengan satu tarikan, baju itu meluncur keatas kepalanya, melewati dua bukit gofardhan yang menggugah pemandangan.
Kini ia terbaring telanjang di atas kasur. Tubuhnya yang putih mulus kini terbuka sepenuhnya, dadanya naik turun kencang dengan kedua bukit lunak yang mengembang dan putingnya yang sudah menegang keras karena rangsangan. Kulitnya kemerahan, berkeringat, dan berkilau terkena cahaya lampu kamar.
Di bawah sana, benda merah muda itu masih bergetar kencang, kini terendam di tengah belahan pahanya yang basah dan licin, tepat menekan bagian paling inti kenikmatannya. Cairan bening terus mengalir deras membasahi alat itu dan menyebar sampai ke kasur.
Matanya kembali terpaku ke layar ponsel. Ia melihat lagi benda besar milik pemuda itu yang kini terlihat makin tegang di video, berurat dan membesar siap menerobos benteng pertahanannya.
Kiara mendesis panjang, menggeser pinggangnya maju mundur mengikuti getaran alat itu, membayangkan kalau yang menempel dan menggetarkan dirinya sekarang bukan benda plastik kecil itu, melainkan batang besar, dan panas milik pemuda itu.
"Kalau ini aja sudah segila ini..." bisiknya serak, tangannya mulai meraba dan meremas gundukan bukitnya dengan kasar, sementara matanya tak lepas dari layar.
Kiara perlahan mengangkat kedua kakinya, menekuk lututnya hingga kedua paha terbuka lebar membentuk huruf M yang sempurna. Posisi itu membuat segala bagian tersembunyinya terekspos penuh.
Dibawah sana, bibir yang merah muda dan bengkak kini terlihat terpisah lebar, basah kuyup dan berkilauan terkena cairan bening yang terus mengalir.
Benda merah muda itu masih bergetar hebat di puncak tonjolannya, menciptakan ritme nikmat yang terus menggetarkan seluruh sarafnya. Namun rasanya masih kurang. Tangannya yang gemetar perlahan turun meninggalkan gunung kembar itu, meluncur turun melewati perutnya yang rata dan halus, lalu mendarat tepat di tengah belahan pahanya yang lembap itu.
Jari tengahnya langsung menyentuh celah basah itu, merasakan betapa licin dan beceknya sana. Ia mulai mengelus pelan dari bawah ke atas, menggosok bibir yang lunak itu dengan gerakan memutar yang lambat. Setiap kali ujung jarinya menyapu bagian seperti kacang itu, tubuh Kiara tersentak kencang, punggungnya makin melengkung naik ke atas, dan mengeluarkan erangan panjang yang sudah tak bisa lagi ia tahan.
"Hhhhaaaa... sialan... nikmat banget..." desisnya parau, napasnya memburu makin kencang.
Ia merasakan betapa kenyal dan tebalnya daging lunak itu di bawah sentuhan jarinya. Cairan bening terus membasahi seluruh jari-jarinya, membuat setiap usapan terasa makin licin.
Ia mulai mempercepat gerakan tangannya, menggosok lebih cepat, sementara jari telunjuknya ikut menekan dan menarik-narik bagian kecil yang menonjol itu, persis di sebelah alat getar merah mudanya.
Matanya masih terkunci tajam ke layar ponsel yang ada di sampingnya. Di sana, ia melihat ulangan kembali bagaimana tangan besar dan berurat milik pemuda itu menggenggam batang kekarnya, mengusap ke atas dan ke bawah dengan gerakan kuat.
Gambaran itu langsung bercampur dengan sensasi sentuhan tangannya sendiri.
Dalam benaknya, ia tak lagi merasa jari-jarinya yang menyentuh sana. Ia membayangkan itu adalah jari-jemari kasar milik si pemuda yang sedang mengelus dan meremas mmk nya yang basah ini. Ia membayangkan betapa besar dan lebarnya telapak tangan itu jika menutupi seluruh bagian bawahnya.
"Ah... kalau dia yang ngelus ini... pasti rasanya jauh lebih enak..." rintihnya lirih, pinggangnya kini mulai bergerak naik turun, menggesekkan serabinya ke telapak tangannya sambil mencari kepuasan tersembunyi.
Ia menyibakkan lebih lebar lagi bibir serabinya dengan dua jari tangannya, memperlihatkan liang yang sudah merah merona dan terbuka menganga, menanti sesuatu yang besar untuk masuk ke dalamnya.
Jari tengahnya yang basah dan licin itu perlahan menyentuh bibir lubangnya yang rapat dan kenyal, menekan sedikit masuk ke dalam sebatas ujung jari.
Seketika itu, Kiara mendesis keras dan membuang kepalanya ke belakang. Rasa ketat dan sempit itu langsung mengingatkannya kembali pada ukuran raksasa yang ia lihat tadi di video.
"Gede banget... gede banget itu..." gumamnya tak beraturan, matanya berair karena rasa nikmat yang makin memuncak. "Kalau yang masuk itu dia... kalau yang ngisi lubang sempit ini batang besarnya... Gue pasti bakal loyo... pasti gak bisa berbuat apa apa selain pasrah..."
Ia makin cepat menggerakkan tangannya, menggosok-gosokkan bagian itu dengan liar, sementara benda merah muda yang bergetar itu masih terus menabrak-nabrak daging lunaknya yang makin becek.
Dua puluh menit lebih ia bergumul dengan rasa nikmat itu, napasnya memburu tak beraturan, tubuhnya bergetar hebat. Hingga akhirnya, titik puncak itu datang meledak seketika.
"AHHHHHHH... SIALAAAAAN!!!" teriaknya mengerang keras sejadi-jadinya, suaranya melengking tinggi menembus keheningan malam.
Pinggangnya terangkat tinggi ke atas, bokongnya terangkat lepas dari kasur, seolah-olah ada tenaga dahsyat yang menarik seluruh tubuhnya naik.
Bersamaan dengan itu, semburan cairan bening yang kental dan hangat menyembur keluar dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Aliran itu memancar jauh ke atas, membasahi perutnya yang putih mulus, menyebar luas hingga membanjiri kedua bukit lunaknya yang menggoda, lalu merembes deras ke segala arah, membasahi pinggang, sela paha, hingga membasani seprai di bawahnya.
Semprotan itu tak berhenti hanya sekali, melainkan memancar berkali-kali dengan kuat dan berdenyut, seolah tak ada habisnya.
Tubuh Kiara kejang-kejang hebat, punggungnya terus melengkung dan menegang, kakinya menekuk kaku di udara sementara seluruh badannya tersentak-sentak tak terkendali oleh gelombang kenikmatan yang mmengguncang
Matanya terpejam kuat, mulutnya meringis menampakkan giginya, tenggelam sepenuhnya dalam rasa puas yang meledak-ledak, sampai akhirnya ia terhempas kembali ke kasur dengan napas tersengal berat, tubuhnya lemas tak berdaya dan basah kuyup oleh cairan yang menyembur ke mana-mana.