Getaran Hebat

1191 Words
Getaran halus itu mulai terasa, namun Kiara merasa belum cukup. Rasa ingin tahunya yang besar dan hasrat yang mulai membara mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih berani. Ini adalah pengalaman pertamanya. Tangan mungilnya sedikit gemetar, ia mengambil kembali kotak kemasan benda itu dan melirik sekilas panduan cara pakainya yang tertera di sana. "ooh...Jadi... begini caranya ya..." bisiknya pelan, wajahnya memerah padam dan senyum tipis dibibirnya membayangkan fungsinya. Dengan ragu namun tak sabar, ia perlahan menurunkan karet pinggang celana pendek kainnya yang tipis itu secara perlahan dan lembut. Perlahan namun pasti, ia menyelipkan alat kecil berwarna pink itu masuk ke dalam, menempatkannya tepat di celana dalamnya, tepat di tempat yang paling sensitif. Ssstt... Sensasi dingin benda asing itu membuatnya mendesis pelan. Ia menekan tombol on. Bzzzt... Saat getaran itu mulai bekerja menyentuh kulit mulusnya untuk pertama kalinya... "Ahhhnn...!!" Mata Kiara seketika menyipit kuat-kuat seolah terpejam sendiri, keningnya berkerut, dan mulutnya sedikit terbuka menahan sensasi yang begitu luar biasa. Rasanya... aneh, geli, tapi sangat nikmat hingga membuat seluruh otot kakinya tiba-tiba menegang. Getaran itu menusuk-nusuk lembut, seolah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Kiara menggerakkan pinggangnya pelan, menekan benda itu diantara celah sempitnya agar posisinya pas. "Wahhh... e-enak banget..." desisnya tak percaya. Ia tidak menyangka benda sekecil itu bisa memberikan efek seheboh ini pada tubuhnya. Namun, rasa gerah dan hasrat yang semakin membara membuatnya merasa pakaian ini justru menjadi penghalang yang menyebalkan. Ia ingin bebas. Ia ingin seluruh kulitnya merasakan sensasi ini tanpa batas. Perlahan, dengan napas yang mulai memburu, tangan mungilnya bergerak menarik ujung kaos putih tipis yang ia kenakan. Angkat... Dengan gerakan cepat namun gemetar, ia menarik kaos itu ke atas melewati kepalanya dan melemparnya jauh ke lantai. Kini, bagian atas tubuhnya benar-benar terlihat sempurna. Karena sejak tadi ia memang tidak mengenakan penyangga, kini tak ada satu pun kain yang menutupi d**a indahnya. Dua buah bukit kembar yang putih, mulus, dan kenyal terpampang megah di hadapan cahaya lampu. Dua buah tombol mungil itu sudah mengeras sempurna, berdiri tegak karena udara dingin kamar dan juga karena gairah yang meledak-ledak. Kiara tidak berhenti di situ. Tangannya turun ke pinggang, mencengkeram karet pinggang celana pendek kain halus dan tipis itu. Sreeett... Karena bahannya yang licin dan ringan, celana itu pun turun dengan sangat mudah dan cepat, meluncur melewati pinggul ramping dan paha putihnya, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya dan berguling ke bawah kasur. Sekarang, Kiara benar-benar tanpa sehelai benang pun. Hanya tersisa benda kecil berwarna pink itu yang masih terpasang di antara kedua pahanya, masih terus bergetar menyenangkan, menjadi satu-satunya benda yang menempel di tubuhnya yang mulus dan putih bersih itu. "Ahhnn..." erangnya lemah saat merasakan getaran benda itu menempel pada kulitnya yang mulus. Rasanya aneh, perih, tapi sangat memuaskan ego dan hasratnya. Ia merebahkan tubuhnya kembali, membiarkan dirinya terpampang sempurna di bawah cahaya lampu putih yang remang. Tubuhnya yang indah terpancar, lekuk pinggang yang ramping, perut yang rata, dan kaki jenjang yang terbuka lebar, memberikan akses penuh bagi alat itu untuk bekerja. Tangannya kini bebas bergerak. Satu tangan memegang alat di bawah sana, menekan dan menggerakkannya sesuka hati, sementara tangan lainnya mulai naik, memijat lembut gundukan yang kini bebas berguncang. "Mmmhh... ahh..." Kiara memejamkan mata, kepalanya terlempar ke belakang. Tanpa ada kain yang menghalang, sensasinya berkali-kali lipat lebih kuat. Getaran itu terasa sangat dalam, menusuk-nusuk lembut dengan rasa geli yang menjalar. Ia menggoyangkan pinggangnya naik turun, menunggangi alat itu dengan liar, seolah-olah ia benar-benar sedang melakukannya dengan seseorang. "Ya... seperti itu... lebih dalam..." bisiknya tak sadar, suaranya parau dan penuh gairah. Keringat mulai membasahi dahi dan lehernya, membuat kulitnya tampak berkilau indah di bawah lampu. Di ruangan yang sunyi ini, hanya terdengar suara dengungan halus dari alat itu dan erangan nikmat yang tak sanggup lagi ia tahan. Kiara Devina, gadis pendiam dan lugu itu, kini benar-benar melepaskan sisi gelap dan liarnya untuk pertama kalinya tanpa ada yang menghalangi. Getaran itu semakin kencang, seakan ikut merasakan sensasi yang sedang dirasakan pemiliknya. Kiara tidak lagi menahan diri. Rasa malu dan ragu yang tadi sempat ada, kini lenyap terbawa oleh arus kenikmatan yang membanjiri seluruh indranya. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan sensasi sehebat ini, sensasi di mana tubuhnya bergetar hebat dipenuhi oleh gairah yang tak bisa ia kendalikan. "Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt..." Suara dengungan itu terdengar semakin cepat dan intens di dalam keheningan kamar. Tangan kirinya terus memijat dan meremas gundukannya yang kenyal itu dengan liar. Jari-jarinya memutar dan mencubit pelan tombol-tombol yang sudah keras seperti batu itu, membuat sensasi di bawah sana semakin bertambah ratusan kali lipat. "Ah... ahh... Inii... enak banget..." rintihnya panjang. Kakinya yang jenjang dan putih mulus semakin melebar, memberikan ruang gerak yang lebih bebas bagi tangannya. Tubuhnya yang mulus dan sempurna kini tampak berkilauan oleh keringat tipis di bawah cahaya lampu, menciptakan pemandangan yang sangat memikat. Pinggangnya bergerak naik turun dengan ritme yang semakin cepat, menunggangi alat kecil itu dengan penuh hasrat. Ia membayangkan bahwa itu bukanlah benda yang bergetar, melainkan bagian tubuh seorang pria yang sedang memasukinya dengan ganas dan lembut. Membayangkan sosok pemuda yang tadi ia lihat di tepi sungai... Membayangkan pria itu yang sedang berada di atasnya sekarang... "Ya... seperti itu... jangan berhenti... ahh!!!" Puncak kenikmatan sudah sangat dekat. Rasa panas itu mulai berkumpul di perut bagian bawah, meluap-luap siap meledak kapan saja. Jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang, napasnya memburu tak beraturan. Kiara mengepal kuat sprei di samping tubuhnya, kuku-kukunya menancap sedikit pada kain itu. Matanya terpejam sangat erat, alisnya berkerut menahan rasa nikmat yang luar biasa perih itu. "Ini... ini dia..." batinnya berteriak. "AHHHHHN...!!!" Tubuhnya tiba-tiba menegang kaku sekuat tenaga. Punggungnya melengkung tinggi membentuk busur sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Kepalanya terlempar jauh ke belakang, memperlihatkan leher jenjang yang putih dan mulus. Gelombang cairan itu akhirnya pecah! Getaran hebat menyapu seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Rasa nikmat itu meledak begitu dahsyat, membuat seluruh otot tubuhnya berkedut-kedut hebat menahan sensasi yang luar biasa. "Ah... ah... ah..." Erangan panjang itu keluar dari bibirnya yang merah, namun segera ia tahan dengan menggigit keras bibirnya sendiri sendiri agar tidak terdengar terlalu keras. Air mata haru dan nikmat bahkan sedikit menetes dari sudut matanya. Perlahan-lahan, sensasi ledakan itu mulai mereda, berganti menjadi rasa lelah yang sangat nikmat dan hangat yang menjalar ke seluruh penjuru tubuh. Kiara mematikan alat itu dengan tangan yang masih gemetar, lalu melepaskannya dan meletakkannya di samping bantal. Ia terbaring lemas, napasnya masih memburu deras, dadanya naik turun kencang. Tubuhnya terasa panas namun sangat rileks. "Huuhh... huuhh..." Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong namun wajahnya berseri-seri penuh kepuasan. "Uhmmm enak banget..." bisiknya pelan, suaranya terdengar serak dan lemah. "Begitu hebatnya ya..." Ia tidak pernah menyangka bahwa melepaskan hasrat bisa terasa seindah dan sememabahkan ini. Rasa sepi yang tadi menggerogoti hatinya, kini hilang sama sekali, digantikan oleh rasa puas dan hangat yang luar biasa. Kiara tersenyum tipis, tangannya perlahan bergerak menyentuh dadanya sendiri yang masih berdenyut sensitif. "Malam ini... baru permulaan..." gumamnya pelan, matanya mulai terasa berat dan mengantuk. Kiara tidak langsung memasang pakaian, ia justru membiarkan udara menyentuhnya dan merasakan rileks yang luar biasa. Dengan perasaan yang tenang dan hati yang hangat, Kiara pun perlahan memejamkan mata, siap terlelap dalam mimpi yang pasti akan sangat manis dan penuh warna malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD