Rasa campur aduk ini, antara rasa nikmat luar biasa dan bahaya nyata berdiri di dekatnya, ternyata membuat segalanya berkali-kali lipat lebih dahsyat. Otaknya seakan kabur, antara ingin berteriak nikmat atau diam membatu.
Keringat dingin bercampur keringat panas membasahi kening dan lehernya.
Ia melihat ujung sepatu hitam Pak Dimas berdiri diam tak jauh dari kakinya yang mulus dan terbuka lebar.
Jika tirai ini bergerak sedikit saja tertiup angin, dan pak dimas melihat sedikit tubuhnya, rahasia nakalnya akan terbongkar seketika.
“Pergilah... atau... ayo mendekat...” batinnya mengigau di tengah kekacauan rasa.
Tangannya makin ganas bergerak di sana, menjilat bibirnya sendiri dengan napas memburu.
Rasanya makin lama makin memuncak, makin dekat ke ujung kenikmatan, sementara sosok guru itu masih berdiri di sana, tak sadar sama sekali bahwa di balik kain tipis itu ada muridnya yang sedang memuaskan diri sendiri.
Pinggang Kiara tak bisa dikendalikan lagi, bergerak naik turun mengikuti gerakan tangannya, mencari kepuasan secepat mungkin, meski ia berusaha mati-matian menahannya agar tak bersuara.
Desahan panjang dan bergetar lolos dari sela bibirnya, sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun di ruangan sunyi itu terdengar begitu jelas di telinganya sendiri.
Pak Dimas seolah menghentikan gerakannya sejenak.
Ia hanya diam. Menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mendengar sesuatu dan menangkap aroma manis yang tidak asing baginya menguar di udara.
Kiara memejamkan mata rapat-rapat, tangannya makin cepat dan liar menggesek daerah sensitifnya, tenggelam sepenuhnya dalam rasa nikmat dan ketakutan yang memuncak bersamaan.
Detak jantungnya berpacu sangat cepat, seolah mau melompat keluar dari d**a.
Di saat yang sama, gelombang kenikmatan itu makin menghebat, mendesak ingin meledak, sementara jari-jarinya tak berhenti bergerak cepat dan liar di sana, menggesek, menekan, membelai dengan ritme yang makin menggila.
Pak Dimas baru saja melangkah mendekat, tangannya terulur hendak menyibakkan ujung tirai putih itu, ketika tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan ruangan.
Bunyinya nyaring dan panjang, membuat gerakan tangan pria itu terhenti seketika sebelum menyentuh tirai.
Kiara menahan napas, matanya terbelalak lebar menatap jari-jari tangan yang hanya berjarak beberapa senti dari kain tipis itu. Namun anehnya, tangannya di bawah sana tak berhenti bergerak sedikit pun.
Justru rasa tegang dan penasaran ini membuatnya makin liar, jari-jarinya makin cepat menggesek bagian celah kenikmatan itu, menikmati sensasi bahaya yang terasa mendekat.
Pak Dimas menarik kembali tangannya, lalu merogoh saku kemejanya.
Saat ia melihat nama penelepon di layar, raut wajahnya berubah menjadi serius dan sedikit mengerutkan kening. Ia segera mengangkat panggilan itu, suaranya tenang dan sopan di telinga Kiara.
"Selamat pagi, Pak Kepala Sekolah," ucapnya tegas namun rendah, masih berdiri persis di samping ranjang tempat Kiara bersembunyi.
Di balik tirai itu, Kiara hanya bisa diam mendengarkan setiap kata yang terucap.
Tubuhnya masih bergetar hebat, kakinya makin terbuka lebar tanpa sadar, sementara jari-jarinya yang basah dan licin terus bergerak maju mundur, menggesek-gesek seirama dengan getaran benda merah muda yang masih menempel kencang.
Rasa nikmat itu makin memuncak, tapi ia menahannya sekuat tenaga, membiarkan sensasi itu berputar liar di dalam perutnya sambil mendengarkan percakapan di dekatnya.
"Iya, Pak. Saya sedang ada di ruang UKS untuk berkas administrasi," jawab Pak Dimas sambil berjalan pelan sedikit menjauh, tapi masih cukup dekat untuk terdengar jelas. "Baik Pak, laporan rapat kemarin sudah selesai saya susun. Akan saya antarkan ke ruangan Bapak sebentar lagi."
Setiap kata yang keluar dari mulut guru itu terdengar begitu tenang dan berwibawa.
Padahal hanya selembar kain yang memisahkannya dengan murid yang sedang memuaskan diri sendiri. Kontras itu membuat gairah Kiara makin tak terkendali.
Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, menahan desahan panjang yang hampir lolos, sementara jarinya makin ganas menekan dan menggesek titik paling puncak kenikmatannya.
"Siap, Pak. Permisi kalau begitu, saya akan ke sana sekarang," tutur Pak Dimas, lalu mengakhiri panggilan itu.
Kiara mendengar suara langkah kaki itu yang perlahan menjauh menuju pintu, diikuti bunyi engsel yang berderit pelan saat ia keluar dan menutup pintu kembali.
Baru setelah suara langkah kaki itu hilang sepenuhnya di lorong, Kiara membiarkan dirinya terhuyung ke belakang, bersandar lemas di dinding.
Napasnya terengah-engah berat, keringat membasahi seluruh tubuhnya, dan rasa nikmat yang tertahan itu akhirnya meledak hebat, membuatnya menggigil panjang, matanya terpejam nikmat sambil bibirnya berbisik pelan penuh kepuasan.
"Hampir saja... tapi... rasanya makin gila..."
Getaran benda merah muda itu masih terasa berdenyut kencang di sana, seolah enggan berhenti mengirimkan sisa-sisa kenikmatan yang masih bergelora di sekujur tubuhnya.
Kiara masih memejamkan matanya, membiarkan sisa rasa panas dan geli itu menjalar perlahan, menikmati setiap detik kelegaan yang luar biasa itu.
Jari-jarinya yang basah dan lembap perlahan ditarik keluar, lalu kembali ia jilat pelan satu per satu, merasakan rasa manis dan asin khas dirinya sendiri yang kini terasa jauh lebih nikmat dari apa pun.
Perlahan ia menurunkan rok seragamnya yang sudah naik tinggi hingga ke pinggang, merapikannya kembali seperti semula, seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi di balik tirai itu.
Meski penampilannya kembali tertutup, ada kilatan liar dan puas yang tak bisa disembunyikan dari manik matanya, serta rona merah di pipinya yang masih belum sepenuhnya hilang.
Ia perlahan bangkit berdiri, kakinya masih terasa lemas dan gemetar sedikit, namun langkahnya terasa jauh lebih ringan, lebih bebas, dan lebih leluasa. Benda merah muda itu masih ia biarkan menempel di sana, terselip aman dan nyaman di balik kain, bersiap untuk dinyalakan kembali kapan saja ia mau.
Sebelum keluar, ia melirik cermin kecil di dinding ruang UKS, membenarkan letak kerah bajunya dan merapikan rambutnya yang sedikit keluar melalui sela-sela jilbabnya.
Di pantulan itu, ia melihat wajah Kiara yang sama seperti dulu, manis, pendiam, dan lugu, namun kini ia tahu ada sisi lain dari dirinya yang jauh lebih liar, lebih berani, dan penuh rasa ingin tahu yang tak terbendung.
"Di luar nggak ada yang tahu kok..." bisiknya pada bayangan itu sambil tersenyum miring dan nakal. "Padahal gue baru saja merasakan surga, ditempat ini."
Dengan hati-hati, ia membuka pintu ruang UKS sedikit demi sedikit, mengintip ke luar lorong yang masih sepi dan kosong.
Aman. Tidak ada siapa pun.
Kiara melangkah keluar perlahan, menutup pintu kembali dengan tenang, lalu berjalan santai menyusuri koridor menuju kembali ke kelas.
Setiap langkah kakinya kini terasa berbeda.
Benda kecil itu masih bergetar halus, berdenyut pelan seirama dengan ayunan pinggangnya, mengirimkan sensasi geli yang tersisa dan mmenggelitik
Angin lorong yang sejuk kembali menyapu bagian bawah tubuhnya, membuat ia harus menahan senyum malu sekaligus nikmat yang terus tersungging di bibirnya.
Ia membayangkan Pak Dimas sedang berjalan tenang menuju ruang Kepala Sekolah, Kiara rasa tak ada sedikit pun bayangan di benak pak dimas bahwa beberapa menit yang lalu, ia berdiri persis di samping murid yang sedang tenggelam dalam kenikmatan terlarang.
Pikiran itu saja sudah cukup membuat gairahnya kembali menyala pelan.
Sesampainya di depan kelas, teman-temannya masih ramai bercerita dan tertawa, belum ada tanda-tanda bel masuk berbunyi.
Kiara masuk dengan wajah tenang, duduk kembali di bangku belakangnya seolah tak ada kejadian apa pun. Ada teman yang menyapa menanyakan ke mana ia pergi tadi, dan dengan santai serta suara lembut ia menjawab, "Ah, tadi pusing sedikit, istirahat sebentar di UKS. Sekarang sudah enakan kok."
Jawaban itu polos, dan dipercaya semua orang. Tak ada yang curiga sedikit pun bahwa gadis manis itu, yang tersenyum ramah itu, baru saja melakukan hal paling nakal dan memuaskan yang pernah ada.
Di balik meja, kakinya sedikit terbuka, membiarkan udara masuk lebih leluasa, sementara tangannya diam-diam meremas roknya pelan.
Kiara menatap jendela ke luar, memandang langit cerah dengan perasaan penuh kemenangan. Hari ini masih panjang, sekolah masih berjam-jam lagi, dan benda merah muda kesayangannya masih aman tertanam di sana, siap dinyalakan kembali kapan saja ia menginginkannya.