Belum sempat Kiara benar-benar menenangkan detak jantungnya, sisa-sisa kenikmatan yang dahsyat itu kembali meledak di dalam tubuhnya.
Getaran halus benda merah muda itu seolah menolak berhenti, membuat setiap otot di celah serabi tersebut kembali menegang hebat, tak mampu lagi menahan tekanan yang berkumpul di sana.
Tanpa peringatan, cairan hangat dan pekat itu menyembur keluar dengan kekuatan jauh lebih besar dari sebelumnya, mengalir deras membasahi seluruh lekuk pahanya, memancik ke belakang hingga membasahi bagian bawah dan belakang rok seragam abu-abunya, lalu jatuh berderai ke lantai keramik dengan suara basah yang samar namun jelas terdengar di telinganya sendiri.
Cairan itu tak hanya menetes perlahan, melainkan membanjir, meninggalkan jejak basah yang melebar di kain seragamnya.
Di bagian belakang rok abu-abu itu, noda gelap yang cukup besar kini terpampang nyata, merembes lebar dan terlihat sangat kontras dengan warna kain yang kering di sekitarnya, menempel dingin di kulitnya.
Namun Kiara sama sekali tidak menyadarinya.
Pikirannya masih kabur, matanya masih berkunang-kunang, dan rasa nikmat yang meluap-luap itu membuatnya lupa segalanya, tak peduli apa yang terjadi pada penampilan dan sekelilingnya.
Satu-satunya hal yang menyadarkannya sedikit adalah rasa hangat yang menjalar di lantai di bawah kakinya.
Ia melihat cairan itu berkilauan terkena cahaya lampu, mengancam akan terlihat oleh siapa saja yang melirik ke bawah meja.
Kiara panik tapi tetap berusaha tenang, agar tak ada yang curiga. Kiara segera menggerakkan ujung sepatu hitamnya. Ia menggesekkan sol karet itu ke lantai berulang kali, mengusap, menyebarkan, dan menggosok noda basah itu hingga hilang, menyamarkannya menjadi sedikit tak terlihat.
Ia lakukan itu dengan gerakan cepat namun hati-hati, matanya sesekali melirik ke arah Pak Dimas dan teman-teman sekelas, berharap tak ada yang menangkap gerakan aneh kakinya itu.
Setelah memastikan lantai bersih tanpa jejak, Kiara menarik kembali kakinya ke posisi semula.
Ia merasa ada bagian kain yang terasa berat, dingin, dan sedikit lengket menempel di kulit paha belakangnya, tapi ia mengira itu hanya keringat dingin akibat pertarungan tadi.
Di sebelahnya, Sari yang sedari tadi penuh curiga, melihat semuanya dengan sangat jelas.
Ia menyaksikan bagaimana cairan itu memuncrat keluar dan jatuh ke lantai, melihat gerakan cepat Kiara yang sedang mengelap bukti itu pakai sepatunya, dan yang membuat wajahnya memerah padam sampai ke telinga... ia melihat noda gelap lebar yang kini menghiasi bagian belakang rok abu-abu temannya itu.
Noda itu sangat terlihat, kontras sekali dengan warna seragamnya yang pucat, berkilau basah dan menyebarkan aroma manis yang sangat pekat, panas, dan memabukkan yang kini tercium tajam hingga ke hidungnya.
Mulut Sari sedikit terbuka karena tak percaya. Matanya membelalak kaget menatap punggung Kiara.
Dia tidak sadar...
Batinnya bergetar hebat.
Dia sama sekali tidak sadar kalau roknya Perasaan campur aduk memenuhi hatiSari, rasa kaget luar biasa, rasa malu yang membuatnya ingin menunduk dalam, sekaligus rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan.
Ia tak menyangka Kiara seberani itu, sehancur itu dalam menahan diri, sampai melakukan hal semejijik dan senakal itu di dalam kelas, dan sampai meninggalkan jejak sejelas itu di seragamnya tanpa ia sadari.
Bel pulang tiba-tiba berbunyi nyaring.
TRIIINGGGG...!
Suara itu memecah ketegangan di dalam kelas seperti petir yang menyambar. Beberapa murid langsung bersorak kecil lega, kursi mulai bergeser, buku-buku ditutup tergesa, dan suasana kelas yang tadinya tenang berubah riuh dalam sekejap.
Di depan kelas, Pak Dimas menutup bukunya pelan lalu tersenyum tipis. “Baik, pelajaran selesai. Jangan lupa tugas minggu depan dikumpulkan tepat waktu.”
“Iyaaa, Pak!” jawab murid-murid hampir bersamaan.
Namun di bangkunya, Kiara masih duduk membeku.
Napasnya belum sepenuhnya stabil. Tubuhnya masih terasa lemas dan hangat setelah ledakan kenikmatan yang barusan menghancurkan pertahanannya. Ia bahkan belum berani berdiri karena pahanya masih sedikit gemetar di balik meja.
Sementara itu di sebelahnya, Sari makin gelisah.
Matanya terus melirik ke bagian belakang rok abu-abu Kiara yang masih tampak jelas basah dan lebih gelap dari bagian lain. Dalam keramaian kelas yang mulai berdiri dan bergerak, noda itu justru terlihat semakin mencolok.
“Ki...” bisik Sari pelan, gugup.
Kiara menoleh lambat dengan wajah masih sedikit merah. “Hm?”
Sari langsung salah tingkah. Tenggorokannya tercekat melihat ekspresi polos temannya yang sama sekali belum sadar keadaan dirinya. “A-anu...” suara Sari mengecil. “Lo... jangan berdiri dulu.”
Kiara mengernyit bingung. “Kenapa?”
Belum sempat Sari menjawab, beberapa murid laki-laki di barisan belakang sudah mulai berjalan melewati lorong bangku sambil dorong dorongan. Suara kursi berdecit memenuhi ruangan.
Deg.
Jantung Sari langsung berdegup lebih cepat. Kalau Kiara berdiri sekarang... semua orang pasti langsung lihat. Sari buru-buru menarik lengan Kiara pelan untuk kmbali duduk. “Tunggu bentar,” bisiknya makin panik. “ini Serius.”
Kiara mulai merasa ada yang aneh. “Sari... ada apa sih?”
Wajah Sari merah padam. Ia melirik cepat ke belakang rok Kiara lalu menunduk lagi karena malu sendiri. “Rok lo...” katanya lirih hampir tak terdengar. “Basah banget di belakang...”
Kiara langsung membeku. “...Hah?”
Wajahnya yang tadinya memerah kini berubah pucat dalam sekejap. Ia menatap Sari tidak percaya, lalu perlahan mencoba merasakan bagian belakang roknya dengan telapak tangan gemetar di bawah meja.
Dan saat ujung jarinya menyentuh kain yang dingin, lembap, dan lengket itu
Deg.
Napasnya tercekat. Matanya langsung membelalak panik. “omaygadd...” bisiknya lirih nyaris tanpa suara.
Rasa malu yang luar biasa menghantam kepalanya sekaligus. Jantungnya berdetak kacau sampai terdengar jelas ke kepala. Ia baru sadar kenapa bagian belakang roknya terasa berat sejak tadi.
Kiara spontan duduk lagi ke kursi, wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Tangannya buru-buru menarik ujung blazer tipis seragamnya ke bawah, berusaha menutupi bagian belakang semampunya.
“Kelihatan banget...?” tanyanya pelan dengan suara gemetar.
Sari menggigit bibir bawahnya gugup sebelum mengangguk kecil. “Lumayan jelas...” bisiknya hati-hati. “Kalo lo berdiri sekarang, pasti kelihatan.”
Kiara langsung menunduk dalam. Rasanya ia ingin menghilang saat itu juga.
Di sekitar mereka, murid-murid mulai keluar kelas satu per satu. Suara langkah kaki, tawa, dan obrolan bercampur memenuhi ruangan. Beberapa siswa bahkan sudah melewati bangku mereka tanpa curiga sedikit pun.
Namun bagi Kiara, setiap suara terasa mengancam. Ia takut ada yang tiba-tiba melihat. Takut seseorang mencium aroma manis yang masih samar tercium di sekitar tempat duduknya.
“gue gimana sekarang...?” bisiknya panik. “gue nggak mungkin jalan keluar kayak gini...”
Sari ikut gelisah. Matanya bergerak cepat mencari ide. Tiba-tiba ia meraih tasnya lalu mengeluarkan jaket olahraga berwarna maroon. “Nih,” katanya cepat sambil menyerahkan jaket itu. “Iket di pinggang lo.”
Kiara menatap jaket itu seperti melihat penyelamat hidupnya sendiri.
Dengan tangan masih gemetar, ia segera mengambilnya dan segera mengikat jaket itu di pinggang, memastikan bagian belakang roknya tertutup rapat.
Baru setelah itu ia bisa bernapas sedikit lega. Namun rasa malu masih membakar wajahnya tanpa ampun.
Sari menatap Kiara beberapa detik sebelum akhirnya berbisik pelan, campuran gugup dan tak percaya masih terasa jelas di suaranya. “gue serius, nggak nyangka lo bisa senekat itu di kelas...”
Sari menunduk malu setelah mengucapkan itu. Tangannya meremas tali tasnya sendiri, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat sepanjang pelajaran tadi. “gue pulang duluan ya...” katanya pelan. “Jaketnya balikin besok aja.”
Kiara langsung mengangguk cepat, masih terlalu malu untuk menatap mata temannya itu. “I-iya... makasih banget, Sar...”
Sari hanya mengangguk kecil sebelum buru-buru berjalan keluar kelas. Wajahnya masih merah sampai telinga saat melewati pintu.
Tak lama kemudian, suasana kelas mulai benar-benar sepi. Suara langkah kaki menghilang di lorong. Kipas angin di langit-langit kembali terdengar jelas berdecit pelan, memutar udara sore yang hangat di dalam ruangan.
Kiara menghela napas panjang. Akhirnya sepi... Ia mulai membereskan buku-bukunya perlahan sambil memastikan jaket yang terikat di pinggangnya masih menutupi bagian belakang rok dengan rapat.
Namun saat hendak berdiri, matanya menangkap sesuatu di sudut belakang kelas.
Ada seseorang di sana.
Seorang laki-laki masih tertidur telungkup di lantai, wajahnya bersandar di atas tas yang dijadikan alas. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangannya terkulai lemas ke lantai.
Anak itu memang terkenal seperti itu.
Sering tidur di kelas, bolos saat jam pelajaran, dan nyaris tak pernah peduli pada omelan guru.
Raka.
Kiara langsung terdiam. “Loh...” gumamnya pelan. “Dia dari tadi masih di sini?”
Sesaat ia ragu. Kalau keluar sekarang, mungkin lebih aman. Tapi meninggalkan seseorang sendirian tertidur di kelas kosong juga membuatnya merasa tidak enak.
Akhirnya, dengan langkah pelan dan hati-hati, Kiara mendekati sudut kelas itu. “Raka...” panggilnya lirih.
Tak ada jawaban.
Cowok itu bahkan tidak bergerak sedikit pun. Kiara berjongkok pelan di dekatnya lalu menyentuh bahunya hati-hati. “Rak... bangun. Udah pulang.”
Baru saja ia mengguncang bahunya pelan,
Bzzzt.
Getaran kecil tiba-tiba terasa dari balik rok Kiara.
Deg.
Wajah Kiara langsung pucat. “Oh tidak—”
Karena gugup dan bergerak terlalu cepat, benda merah muda kecil yang sejak tadi tersembunyi rapat di balik roknya tiba-tiba meluncur jatuh dari sela pahanya.
Pluk.
Benda itu memantul kecil di lantai... tepat mengenai jari tangan Raka yang tergeletak di dekat tasnya.
Dalam sepersekian detik, dunia Kiara seperti berhenti total. Matanya membelalak sempurna. Napasnya lenyap. Dan perlahan... Raka mulai bergerak.