Lima: Menyusun Rencana

1937 Words
"Jadi ini kantor kamu?" tanya Valdo setelah menghentikan mobilnya di area pemberhentian sebuah gedung tinggi. Hari ini dia memaksa untuk mengantar Qiana ke kantor. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin mulai mengenal perempuan yang akan menjadi istrinya dua tahun kedepan. Qiana mengangguk, masih sangat canggung dengan hubungan dia dan Valdo. "iya, perusahaan tempat aku kerja sewa tiga lantai di gedung ini" jawab Qiana sambil membuka sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya. "kamu kerja di bagian apa?" "content writer" Valdo mengangguk, tidak buruk juga posisinya. "makasih ya kak, aku kerja dulu" pamit Qiana sambil bergerak membuka pintu mobil. "oke. Nanti pulang kerja aku jemput" "harus?" tanya Qiana dengan wajah seperti tidak ingin. Valdo yang melihat ekspresi wajah itu hanya tersenyum samar lalu mengangguk "iya, soalnya mau aku  ajak lansung ketemu ibu" Sontak mata Qiana membulat "hari ini? kok gak bilang dulu?!"  "udah santai aja. Aku bilang, lebih cepat, lebih baik" jawab Valdo santai. Qiana menghela napas, tidak ingin meladeni ucapan Valdo, jadi dia putuskan hanya mengangguk pasrah. Terserah laki-laki itu saja. "aku keluar" pamit Qiana lalu turun dari mobil. Entahlah, baru pertama kali Qiana naik mobil mewah, apalagi di antarkan ke kantor. Sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Qiana dan saat turun dari mobil, rasanya seperti  orang-orang  memperhatikannya. Entahlah, mungkin perasaan Qiana aja, atau Qiana yang terlalu norak. Qiana melangkah memasuki gedung tinggi tersebut. Di lobi, bercampur para karyawan dari beberapa perusahaan yang menyewa lantai di gedung tersebut, jadi tidak heran jika suasananya cukup ramai. Dia naik lift dan tiba di tempat dia bekerja. Qiana tiba di mejanya, tidak memiliki kubikel, meja kerja Qiana cukup besar dengan komputer yang menjajar. Cukup membuat suasana kantor terlihat santai. Karena para karyawan bisa saling melihat karyawan lain tanpa di jaga oleh kubikel. "pagi, Qi" sapa Indah, rekan kerjanya. Dia duduk tepat disamping kursi Qiana. "pagi, Ndah" "Mba Icha tadi kirim beberapa info untuk kita redaksikan" Qiana mengangguk, tangannya menyalakan komputer. "oke, banyak gak?" "engga kok, cuma beberapa aja, gak bikin lembur" "oh iya Ndah, kayanya bulan ini gue terakhir kerja disini" Qiana menatap Indah. Di kantor, hanya Indah yang menjadi rekan kerja terdekatnya. Karena jujur saja, dengan kondisi perekonomian Qiana, membuat Qiana memiliki rasa minder yang sangat besar. Ditambah lagi, ada rekan kerjanya yang terkadang menatap dia dengan pandangan yang membuat Qiana sangat minder. Entahlah, entah orang tersebut memang sengaja menatapnya seperti itu -meremehkan- atau dia tidak bermaksud melakukan itu -memang orangnya seperti itu- seperti beberapa orang yang jika bicara memiliki nada suara yang tinggi, seolah membentak padahal baginya itu biasa dan tidak membentak. "loh, kenapa? dapet kerjaan baru? dimana?" Indah begitu antusias bertanya, bahkan menggeserkan kursinya lebih dekat lagi kepada Qiana. Qiana menggeleng sambil tersenyum "bukan, aku mau nikah, Ndah" "what?!" mata Indah membulat, pasalnya, meskipun dia dan Qiana tidak di golongkan best friend forever, tapi hubungannya cukup dekat hingga dia bisa tahu jika Qiana selama ini tidak memiliki pasangan. "lo dijodohin?" lanjut Indah. Qiana kembali tersenyum "iya, dijodohin sama Tuhan" "Ih, Qi! serius!" "Engga Ndah, gue gak di jodohin kaya cerita novel yang lo baca." 'cuma kaya sinetron, nikah kontrak' lanjut Qiana dalam hati. "taaruf?" Qiana menggeleng "engga juga" "jadi selama ini, lo diem-diem emang udah punya pacar?" Tidak menggeleng untuk membantah atau mengangguk untuk membenarkan, Qiana hanya memilih untuk tersenyum singkat. Membuat Indah dibuat semakin penasaran. "udah ah, yuk kerja" Qiana mengalihkan pembicaraan, membuat Indah langsung cemberut. *** Selesai makan siang, Qiana pergi ke toilet, dia juga sudah membicarakan soal dirinya yang akan berhenti bekerja. Icha, sang ketua tim dengan jujur menyayangkan keputusan Qiana, dia mencoba menahan Qiana dan memberi saran Qiana agar tetap bekerja meskipun sudah menikah. Bagi Icha, dibandingkan yang lain, Qiana paling bisa diandalkan, paling sedikit melakukan kesalahan dan paling cepat mengerti jika diberi arahan. Tapi keputusan sudah dibuat, Qiana harus melakukan apa yang sudah dia dan Valdo sepakati. Dia tetap harus keluar dari perusahaan meskipun Icha mencoba menahannya.  Di dalam toilet, Qiana berpapasan dengan karyawan di bagian keuangan, mereka seumuran dengan Qiana dan mereka adalah golongan yang membuat Qiana benar-benar merasa rendah diri. Menatap Qiana meremehkan dan setelah Qiana pergi, Qiana akan mendengar tawa mereka. Tapi balik lagi, entah itu perasaannya atau memang mereka sengaja. Kak Valdo Jangan lupa, kalau mau pulang, kabarin. Qiana menghela napas, lalu mengetik balasan untuk Valdo. (iya, Kak) Send.  Meletakkan ponselnya kembali keatas meja, Qiana mulai melanjutkan pekerjaannya lagi. Sebelum dia resmi keluar, dia tetap harus melakukan segala pekerjaan seperti biasanya dan jika nanti penggantinya datang, dia juga harus mengajarkan. "Qi, jangan lupa info buat yang give away ya" Icha mengingatkan. "baik mba, hadiahnya gak ada perubahan kan Mba? sama tanggalnya juga" "iya, gak ada perubahan" "iya mba" Qiana mengangguk lalu lanjut bekerja. Hingga akhirnya jam kerja selesai. Qiana langsung mengirim pesan kepada Valdo. "lo langsung pulang?" tanya Indah, mereka sedang merapihkan meja mereka sebelum pergi. Qiana mengangguk "iya" "lo kapan mau nikah? gue di undang dong?" Qiana tersenyum "belum pasti tanggalnya, lagian nanti juga mau sederhana aja kok, kalau lo mau datang, datang aja" jawab Qiana. Setelah selesai merapihkan meja dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Qiana dan Indah berjalan keluar. Ada beberapa karyawan yang juga sudah pulang, tapi ada juga yang lembur atau masih betah ngobrol-ngobrol. Saat di lift, Qiana mendapat balasan pesan dari Valdo, laki-laki itu bilang dalam sepuluh menit akan tiba dan Qiana hanya membalasa pesan tersebut dengan kata 'iya'. "gue duluan ya, Qi. Ojol gue udah datang" Qiana mengangguk "iya Ndah, hati-hati" Indah pergi dengan ojolnya, sedangkan Qiana memilih berdiri di depan gedung untuk menunggu Valdo. Bukan hanya dia, tapi cukup banyak karyawan yang juga tengah menunggu jemputan atau menunggu ojol mereka. Hingga mobil Valdo tertangkap oleh kedua mata Qiana. Laki-laki itu memberhentikan mobil, tepat di hadapannya. Qiana lagsung masuk, lagi-lagi rasanya aneh, rasanya seperti orang disana melihat kepadanya. "capek?" tanya Valdo sambil mulai menjalankan mobilnya lagi dan Qiana memasang sabuk pengaman. "biasa aja" jawab Qiana. "kita langsung ke rumah ya, aku udah kasih tahu ibu dan ibu udah gak sabar nunggu" "aku takut" Valdo tersenyum, matanya masih fokus menatap jalanan yang cukup ramai karena sudah masuk di jam pulang kerja. "santai aja, kamu kan udah ketemu ibu pas di rumah sakit." "kalau ibu tanya-tanya?" "nanti aku yang usahakan untuk jawab, kalau engga, ya kamu ngarang aja" "takut salah ngomong" "ada aku, tenang aja" Valdo benar-benar mencoba menenangkan Qiana. Qiana menghela napas, lalu mengangguk. *** Mobil berhenti di carport rumah mewah, Qiana menelan ludah karena begitu gugup, dia bahkan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat seperti mau meledak. "ayo, ibu udah nunggu" ajak Valdo saat Qiana sudah keluar mobil tapi tetap diam, berdiri di samping mobil. Qiana menarik napas dalam, lalu perlahan mengembuskannya. Valdo yang melihatnya hanya tersenyum geli, lucu. Pikirnya. "jangan gugup" Valdo menarik tangan Qiana. Qiana yang terkejut hanya bisa mengerjapkan matanya dan mengikuti langkah Valdo. Ini kali pertama ada laki-laki yang menarik dan menggenggam tangannya seperti ini. "ya ampuuuuuuuuun. Si cantik" Mira langsung memeluk Qiana. Rasa senang benar-benar tergambar jelas diwajahnya. Valdo melangkah sedikit menajauh, membiarkan ibunya memeluk Qiana dengan puas.  "ini kamu beneran? Qiana? yang dirumah sakit itu?" Mira menangkup pipi Qiana. Menatap wajah Qiana dengan puas, memastikan jika Qiana yang sekarang ada di hadapannya sama dengan Qiana yang ada di rumah sakit tempo hari. Qiana mengangguk, lalu Mira kembali memeluknya "ibu seneng banget" "Bu, udah dong. Qiana baru pulang kerja, capek. Suruh duduk kek, atau kasih minum" celetuk Valdo. "ya ampun, lupa. Ayo sayang" Mira langsung menggandeng Qiana masuk lebih dalam dan berhenti di ruang tengah atau ruang keluarga. "bi, buatin minum bi" teriak Mira. Qiana duduk di sebelah Mira, tangannya masih di genggam erat oleh Mira. "bilang sama ibu, beneran kamu yang bakal jadi calon mantu ibu?" Mira bertanya dengan wajah penuh antusias. Qiana melirik Valdo yang duduk di sofa single. Laki-laki itu hanya tersenyum samar. "iya bu" jawab Qiana dengan lembut, membuat Mira tersenyum lebar. "akhirnya. Jadi, setelah pertemuan dirumah sakit itu, kalian diem-diem sering ketemuan?" Qiana mengangguk, dalam hati meminta maaf karena berbohong. "anak bandel! bilang dong kalau udah deketin Qian, kan ibu jadi gak akan maksa kamu sampe mau jodohin kamu" Mira menatap tajam Valdo yang hanya mengangkat bahunya. "tapi, kamu kan gak pernah minta nomor Qiana, nomornya kan ada di hp ibu" "Valdo samperin ke kosan lah" Mira tertawa "dasar. Kalau Qiana, ibu langsung setuju. Pake banget. Ayo, mau kapan menikah?" todong Mira langsung. "langsung banget nih bu?" tanya Valdo. "iya lah! yang baik itu jangan di tunda-tunda" Qiana hanya diam, membiarkan Valdo yang mengambil alih pembicaraan. "iya, terserah ibu. Tapi waktunya biar aku sama Qiana yang tentuin" "jangan lama-lama! bulan depan!" "cepet banget Bu" "iya, nikah dulu aja. Resepsinya terserah mau kapan, yang penting kamu sama Qiana cepet nikah" "ibu gak sabar banget" "memang!" "iya, nanti di urus aja baiknya" Minum datang, Mira langsung mempersilahkannya dan Qiana juga langsung meminumnya. Bukan haus, hanya berharap agar dia bisa lebih tenang. "kita langsung makan malam yuk" ajak Mira kemudian. "ayah?" tanya Valdo. "ayah kamu pulang malem, dia lembur" jawab Mira lalu menarik pelan tangan Qiana. Dia tahu jika Qiana masih merasa malu. Mereka pergi ke ruang makan, memulai makan malam sambil diselingi obrolan-obrolan ringan. "kesan pertama itu penting buat ibu. Pas ketemu kamu di rumah sakit, ibutuh langsung suka sama kamu, dalam hati tuh langsung aja pengen punya hubungan baik setelahnya. Intinya, kamu anak baik menurut ibu. Eh tahu-tahu kemarin Valdo bilang kalau dia mau nikah sama kamu. Ibu kaget banget, seneng rasanya" ucap Mira, keduanya tengah merapihkan bekas makan malam mereka. Qiana juga sudah bercerita tentang ibunya yang ada di Bandung dan ayahnya yang tidak tahu kemana. Awalnya dia takut akan menerima respon kurang baik, tapi ketakutan itu hilang saat Mira dengan lembutnya mengusap lembut punggunya dan menyemangati dirinya. Tidak ada kata atau raut meremehkan sama sekali dari Mira. Sekalipun dia tahu jika calon besannya jauh dari kata sederajat dengannya. "makasih bu, aku harap, aku bisa jadi menantu baik buat ibu, tegur aku kalau aku salah ya bu" pinta  Qiana. Dia berjanji, meskipun rumah tangganya dengan Valdo hanya sebuah rumah tangga kontrak, dia akan tetap melakukan yang terbaik. Dia akan menghormati ijab kabul yang Valdo ucapkan.  "iya sayang, ibu percaya kamu adalah perempuan terbaik yang Tuhan jadikan jawaban atas semua doa yang ibu panjatkan" Hati Qiana langsung seperti disayat, memohon ampun kepada Tuhan karena sudah berbohong. *** "Kita nikah bulan depan, tanggal tujuh ya. Soalnya aku juga harus ngurus pembangunan restoran yang di daerah Jakarta Barat" jelas Valdo saat mobil yang di kendarai nya berhenti di lapangan dekat kosan Qiana. "Iya." jawab Qiana, pasrah. "Ibu di Bandung gimana?" "Besok aku mau ke Bandung, mau ngomong sama ibu" jawab Qiana. Valdo mengangguk, "pulang dari Bandung, kita langsung ngurus berkas ya. Surat resign juga udah di kasih kan?" Qiana mengangguk "Iya udah, bulan ini aku terakhir kerja" "Bagus" Valdo melihat Qiana yang nampak begitu pasrah. Tangannya tanpa sadar terulur dan mengusap lembut kepala Qiana "meskipun pernikahan kita kontrak, aku janji akan memperlakukan kamu dengan baik" ucap Valdo. Pada dasarnya, mereka bukanlah musuh yang saling membenci, jadi tidak ada alasan jelas untuk Valdo bersikap buruk. Jika uang dijadikan alasan, toh Qiana juga melakukan apa yang dia inginkan. Selama bisa saling berhubungan baik, kenapa harus bertengkar?. Atau bisa saja Valdo menyebut Qiana sebagai w************n karena bersedia setelah di imingi uang. Tapi dibalik itu semua, itu adalah urusan Qiana. Perempuan itu pasti memiliki alasan jelas karena menerima usul Valdo, yang jelas, masalah yang dia punya bisa teratasi. "Terus kamu mau nikahan yang gimana? Pestanya" Qiana menggeleng "sederhana aja, cuma keluarga. Ijab kabul aja juga gak masalah" "Beneran?" "Iya, bener." "Yaudah, nanti kita atur ya" Qiana mengangguk, bagi Qiana ijab kabul saja sudah cukup untuk sebuah pernikahan yang hanya memiliki batas waktu dua tahun. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD