Chapter 2: Bring Your Enemy Closer

402 Words
Louise Lucchese berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun merah marun yang jatuh sempurna. Rambut disanggul rapi, mata dipulas tajam, dan senyum kecil terlukis di bibir. Malam ini, dia bukan Louise. Malam ini, dia adalah Nerus. Nama samaran yang ia gunakan sejak masa kuliah di University of Palermo kini dihidupkan kembali. Tapi kali ini bukan untuk sekadar menyembunyikan identitas—melainkan untuk menyusup langsung ke dalam jantung keluarga yang telah menghancurkan hidupnya: keluarga Luciano. ___ Pesta berlangsung di vila megah milik salah satu rekanan Black Shadow di Catania. Musik klasik mengalun, gelas anggur bergemerincing, dan tawa kosong memenuhi udara. Tapi Louise tidak datang untuk bersenang-senang. Matanya mengunci pada satu pria: Emiliano Luciano. Tampan, berwibawa, dan penuh pengaruh. Emiliano adalah sepupu sekaligus braccio destro—tangan kanan—dari Massimo Luciano. Louise tahu satu hal: lewat pria ini, ia bisa menyentuh pusat kekuasaan Black Shadow. ___ Emiliano menoleh. Pandangan mereka bertemu. “Buonasera,” sapa Emiliano dengan senyum halus. “Non credo di averti mai vista prima.” (Selamat malam. Kurasa aku belum pernah melihatmu sebelumnya.) “That makes two of us,” jawab Louise pelan. “I'm Nerus.” “Emiliano,” katanya sambil menyentuh ringan punggung tangannya. “Would you grant me a dance?” Louise hanya mengangguk. Jemari mereka bersatu di lantai dansa. ___ Saat berdansa, Emiliano memperhatikannya dalam diam. “You don’t belong here,” bisiknya. “You move like someone who knows exactly what she’s doing.” “For a woman who grew up in Sicily, surviving is an art,” jawab Louise tenang. “And I’m a fast learner.” Emiliano tertawa. Senyumnya tulus—mungkin terlalu tulus. “Sei diversa,” katanya. (Kau berbeda.) “That’s the idea,” Louise membalas dengan pandangan menusuk. ___ Malam semakin larut. Emiliano mengantarnya ke luar, menahan langkah di dekat mobil. “I’d like to see you again,” katanya pelan. Louise tersenyum. Senyum tipis yang membuat pria manapun percaya. “You will.” Lalu ia pergi—meninggalkan Emiliano yang berdiri terpaku, seperti pria yang baru saja melihat bintang jatuh dari langit. ___ Di kejauhan, ponsel Nevoncia bergetar. Pesan masuk dari Louise: “Sono dentro. Lui comincia a fidarsi.” (Aku sudah masuk. Dia mulai percaya.) Nevoncia tersenyum tipis. Permainan telah dimulai. ___ MAAF JIKA TERDAPAT KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITA Terimakasih, Semoga Suka Dengan Cerita Yang Saya Buat Jangan Lupa Like & Komen!!! Dan Tetap Dukung Saya Terus Yaa>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD