( sekuel cerita Affair With My Step Brother)
Damien.
Namaku Damien Holland.
Anak kedua dari 3 bersaudara Holland.
Juga saudara jauh dari Arnold Holland.
Kakakku adalah Christ dan adikku adalah Brian. Perbedaan umurku dengan kakakku adalah 5 tahun dan perbedaanku adikku cukup jauh.., 14 tahun. Sementara, aku dengan Arnold hanya 3 tahun.
Jika ada yang bertanya;
' Mengapa perbedaan umur adikku begitu jauh...'
Tentu karena kami ingin memiliki saudara perempuan- sementara, rahim Aunt ku tidak lagi bisa mengandung dan melahirkan lagi ketika rahimnya terluka-akibat melahirkan saudara jauhku.., Arnold.
Jadilah mommyku melepas KB nya dan mulai program mengandung. Hingga akhirnya, mommyku mengandung adikku- saat aku berumur 13 tahun.
Awalnya, aku sedikit kecewa. Karena, yang lahir adalah laki-laki.
Aku ingin adik perempuan. Jika tidak.., aku akan menjadi korban dari malapraktek mommy ku.
Malapraktek?
Ya! Praktek mendadani anak laki-lakinya dengan pakaian anak perempuan.
Kakakku yang kaku jelas tidak mungkin di dandani mommy. Mommy malah akan merasa aneh saat melihat wajah kaku kakakku-saat ia telah di dandani menjadi wanita. Sedangkan, Gabriela-wanita menjadi teman sejak kecil kami?
Dulu, ia adalah gadis tomboy-baginya; ia lebih suka memakai celana dari pada rok yang lucu dan ia yang lincah meski seorang perempuan-membuat ibuku kesusahan mendadaninya.Terkadang, saudara jauhku-Arnold, juga menjadi korban- ketika berkunjung kemari.
Ia dan keluarganya memang tinggal di rumah yang berbeda-hanya dua hari dalam satu minggu atau saat hari libur saja ia dan keluarganya akan menginap di rumah kami.
Awalnya, aku juga bertanya;
' Mengapa, kita tidak tinggal dirumah yang berbeda sama seperti keluarga Arnold.'
Namun, mommy dan Daddy hanya berkata;
“ Kita jarang berada di rumah. Jika kita tinggal di rumah yang berbeda..., siapa yang akan menjaga kalian dan adik kalian?”
Kedua orang tuaku memang lebih banyak berada di rumah sakit dari pada di rumah-namun, grandpa dan grandma pun sama sama- sama jarang di rumah.
Namun sedikitnya, aku paham.., mengapa lebih memilih tinggal bersama di rumah Grandpa.
Karena memang, rumah Grandpa itu besar dan luas. Jika tersesat pun-tubuh kecil kami hanya akan tersesat di halaman-bukan di jalanan.
Saat aku kecil..., jika saudara jauhku datang-aku bisa memiliki teman bermain-namun, jika tidak. Aku akan kesepian. Kakakku yang berbeda 5 tahun lebih tua adalah orang yang kaku dan tidak bisa di ajak bercanda- sedari ia kecil. Sedangkan Gabriela? Ia memang tomboy-namun, di dalam pikirannya; hanya bisa menggoda Christ setiap perempuan itu kerumah Grandpa. Itu memang menyenangkan- namun, tidak bisa setiap hari-karena...,Gabriela memang tidak menginap di rumah grandpa.
Sedang adikku?
Adikku yang masih bayi hanya bisa menangis dan tidak bisa di ajak bercanda.
Awalnya, aku memang tidak dekat dengan adikku.
Aku ingin adik perempuan dan bagiku yang saat itu berumur 14 tahun- rasanya cukup aneh memiliki adik yang masih bayi di saat aku sendiri sudah remaja seperti ini.
Aku memang anak kedua-namun, karena pribadi kakakku yang kaku- mommy lebih memilih memberikan beban tanggung jawab mengasuh adikku kepadaku. Dan karenanya; aku jadi tidak bisa bermain-seperti kakak dan saudara jauhku.
Saat itu.., aku bukan hanya tidak dekat dengan adikku-namun, juga membencinya. Aku bahkan pernah berharap agar adikku ini tidak lahir.
Siapa yang menyangka jika Tuhan benar-benar mendengar doa ku.
Suatu hari, adikku demam. Tubuhnya panas dan ia bahkan tak kuat lagi-hanya untuk menangis. Aku ketakutan.
Aku takut di marahi mommy ku-mengingat jika ia menyerahkan tanggung jawab merawat adikku-di pundakku.
Mommy ku mempercayai ku dan aku tidak ingin membuatnya menangis-apa lagi kecewa. Ia adalah wanita yang konyol- namun, aku paling tidak suka melihat mommy ku menangis. Hatiku terasa ada yang sakit- ketika melihat sifat konyol ibuku menjadi tangis.
Itu sebabnya, aku memilih ke dapur sambil menggendong adikku-untuk membuatkan ramuan yang sama seperti yang mommy ku buat-ketika kami.., aku, kakak, adik dan daddy ku saat sedang sakit.
Aku tidak pernah memasak sebelumnya-namun, demi adikku aku memilih mengiris tanganku hanya agar adikku sembuh. Aku jadi teringat pada mommy ku. Ia konyol dan juga tidak bisa masak.
Namun, saat aku dan anak-anaknya sakit-ia adalah orang pertama yang akan serius menjaga kami. Ia bahkan bisa membuatkan minuman obat yang biasa di minumkan untuk kami-ketika kami sakit.
‘ Aku ingin menjadi seperti mommyku.’
Sejak saat itu..., aku benar- benar menjaga adikku dengan sepenuh hati. Aku tidak ingin mommy ku kecewa padaku. Ia telah memberi tanggung jawab merawat adikku-itu sebabnya.., aku harus membuktikan jika ia memang pantas mempercayakan tanggung jawab itu kepadaku.
Awalnya, aku menjaga adikku karena merasa memiliki tanggung jawab merawatnya. Namun, lambat laun, akupun menjadi menyayanginya. Tak heran, hampir setiap hari akulah yang selalu menjaganya. Sedari bayi merah-akulah orang pertama yang menjadi saksi tumbuh kembangnya adikku itu.
Saat aku berumur 17 tahun dan adikku berumur 3 tahun.., aku dan adikku di beri kamar sendiri- namun, adikku selalu menyusul ke kamarku hanya untuk tidur di kamarku. Ia memang tukang tidur. Tak masalah! Ia masih balita. Jika tidak, terkadang, akulah yang selalu ke kamarnya-sekedar untuk melihat keadaannya.
Saat aku berumur 18 tahun.., aku melihat acara festival Robot yang ada di kota ku dan aku tertarik membuat robot dan program.
Jika tidak bisa memiliki adik perempuan-mungkin, aku bisa membuat robot seperti adik perempuan, bukan?
Untuk kali pertama.., aku memiliki mimpi.
Aku ingin belajar ke Jepang hanya untuk belajar programmer dan merakit robot android.
Aku menceritakan kepada semua orang perihal mimpi dan cita-cita ku. Kecuali pada kedua orang tuaku.
aku masih ingat jika aku masih memiliki tanggung jawab yang di berikan pada mommy ku kepadaku-jika aku menceritakan mimpiku-aku takut; jika, mereka akan melarangku bermimpi.
Satu hal yang tak kukira adalah;
Mommy hanya datang ke kamarku-ketika aku sedang mencoba membuat program baru.
Aku pikir.., ia benar- benar akan melarangku- terlihat dari ia yang datang ke kamarku tanpa mengetuk pintu dan seolah marah kepadaku.
Satu hal yang tak ku sangka adalah.., ia hanya datang ke kamarku dan bertanya;
“ Kau mau menjadi programmer dan mengambil study ke Jepang?” tanya Mommy saat itu.
“ I..., iya.” ucap Damien ragu.
“ Kenapa kau tidak mengatakannya pada mommy?” kesal Mommy saat itu.
“ Ka..., karena aku takut..., kau akan menolak mimpiku ini.” ucapku saat itu membuat mommy ku terdiam. Satu hal yang tak kusangka adalah.., mommy ku akan mengelus rambutku.
“ Mom?” heranku.
“ Kau tahu, betapa sakitnya mommy- saat tahu aku menjadi orang terakhir yang tahu mimpimu? Anakku sendiri?” pertanyaan Mommy membuatku terdiam antara bingung dan tak tahu harus menjawab apa.
“ Aku memang menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga adikmu, Dam. Namun, bukan berarti aku akan membatasi mimpimu.” ucapan Mommy itu lantas membuatku senang.
“ Kau mendukungku, mom?” tanyaku dengan girang.
“ Tentu. ” ucapnya lagi.
Senang? Tentu saja senang. Aku ingin berlatih programmer dan belajar membuat Android Robot.
Meski terdengar sepele-namun, butuh waktu untuk menyempurnakan program dan butuh waktu pula untuk merakit sebuah robot-apa lagi, aku yang sebelumnya tidak memiliki bakat membuat program dan robot.
Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajarinya dan melewatkan akhir dari ujian beasiswa ke jepang pada tahun itu.
Tak masalah! Ujian beasiswa untuk masuk ke campus ternama di Jepang ini di adakan setiap 3 tahun sekali. Karena, mereka hanya menyeleksi orang-orang berbakat- untuk menjadi mahasiswa terbaik di universitas mereka-aku yakin jika saat itu aku bisa mengikuti ujian seleksi nya dan mendapatkan beasiswa ke campus bergengsi di Jepang.
Sebenarnya, tanpa beasiswa pun-aku dapat mendaftar ke universitas itu dengan cara mendaftar biasa-namun, aku ingin membuktikan jika aku bisa memenangkan beasiswa itu dan itu menjadi tantangan baru untukku-sekaligus, untuk memacu semangat diriku-agar lebih mau belajar dan berusaha.
Saat itu, Arnold mulai jarang ke rumah Grandpa. Dari yang aku dengar.., keluarganya-terutama Uncle Lucas sedang dekat dengan seorang anak-lebih tepatnya.., Assistant pribadinya yang lebih tua satu tahun dari Arnold. Dan tampaknya, uncle menganggapnya sebagai anak laki-lakinya sendiri-mengingat jika rahim Aunt Berta yang tak lagi bisa memiliki anak.
Namun, saat aku berumur 20 tahun.., aku dengar, jika pria yang di baru aku ketahui bernama Jason itu-telah mengkhianati uncle ku-menyebabkan proyek yang di kerjakannya bocor sebelum tender berlangsung.
Saat itu aku menyadari jika.., ayahku yang sebelumnya hanyalah seorang apoteker-kini, lebih banyak terjun langsung untuk merawat orang-orang sakit.
Namun, aku tidak menyadari jika.., ayahku melakukan itu-karena uncle ku yang menyembunyikan sakitnya.
Saat aku berumur 21 tahun.., aku yang hendak ke Jepang untuk mengikuti seleksi dan ujian untuk mendapatkan beasiswa.., mendapatkan kabar jika Uncle tiada.
Terkejut?
Siapa yang tidak terkejut ketika orang aku tahu selalu sehat dan ceria-ternyata menyembunyikan sakitnya?
Aku lebih terkejut lagi ketika melihat tubuh uncle ku yang selalu tampak sehat-tampak hanya tinggal tulang berbalut kulit ketika ia tiada.
Aku berencana hanya menghibur Arnold sebentar-setelah itu meninggalkan pria itu-untuk ujian di Jepang-namun, melihat Arnold yang tampak terpuruk-sekali lagi.., aku memilih melupakan mimpiku.
Arnold-pria yang dulu ceria-kini, keceriaannya padam.
Aku tidak suka.
Selama ini, kami selalu bermain bersama juga bercanda bersama dan ketika ia hanya bisa bersedih seolah menyesal-ia tidak seperti Arnold yang kukenal.
Bahkan, kakak pertamaku yang selalu dingin saja--sampai meluruhkan egonya dan meminta maaf pada Arnold-karena merasa bersalah pada saudara jauhku itu. Namun, hal itu tidak berpengaruh bagi pria itu.
Sekali lagi, aku memilih melupakan waktu ujian ke Jepang hanya untuk menghibur saudara jauhku itu. Namun, seolah-apa yang aku dan adikku lakukan itu tidak berpengaruh bagi Arnold.
Tak heran! Kami dengar.., Arnold bahkan sampai turun ke jalan dan menjadi troublemaker-untuk menunjukkan kecewanya.
Namun, saat itu, aku sendiri sedang belajar untuk ujian ke Jepang-begitupun dengan adikku.
Jika Arnold yang selalu serumah dengan Uncle saja-tidak tahu jika Uncle sakit- apa lagi kami yang jarang ke rumahnya.
*
Tengah hari, kami semua tidur di rumah uncle Lucas-tepatnya kamar Arnold-sementara, para orang tua kembali ke rumah grandpa. Karena memang, Gabriela harus banyak istirahat karena baru saja melahirkan-bahkan, kakak iparku itu baru saja tersadar dari coma nya.
Kakak ipar ku itu memang memilih melahirkan ketiga anak kembarnya dengan cara lahiran normal-tak heran, jika ia sampai coma karena kelelahan dalam melahirkan kedua putra dan satu putri kembarnya. Sementara, Christ memilih ikut menemani istrinya-bagaimanapun, istrinya itu baru saja terbangun dari Coma- namun, memilih memaksakan dirinya untuk menghadiri pemakaman uncle Lucas. Sementara, Grandpa dan grandma memilih pulang-untuk membantu merawat Gabriela dan ketiga anak kembarnya.
Lalu, mommy dan daddy memilih kerumah sakit karena ada patient atau mungkin, mengurus perusahaan Uncle Lucas? Entahlah! Namun, aku memilih menemani Arnold-untuk menghibur saudara jauhku itu dan dimana ada aku-adikku pasti memilih untuk ikut menemaniku. Jadilah kami bertiga tidur di kasur yang sama dengan Arnold.
*
Aku terbangun ketika ingin buang air kecil.
Aku sungguh terkejut ketika Arnold yang tidak ada di sampingku.
‘ Ia tidak akan melakukan hal nekad kan?’ batinku takut.
Aku memilih untuk membangunkan adikku dan Aunt untuk mencari Arnold.
Ternyata, ia ada di depan danau.
Aku pikir.., ia akan melakukan hal nekad.
Namun, ternyata ia hanya memeluk Aunt dan menangis sambil terus meminta maaf pada Aunt-bagai kaset rusak yang terus mengulang-ulang ucapan yang sama.
‘ maaf.’
‘ maaf.’
‘maaf.’
Hanya kata itu saja yang pria itu ucapkan sambil menangis dan memeluk Aunt Berta.
*
Semenjak hari itu.., aku memilih melupakan mimpiku. Namun, bukan hanya aku saja yang melupakan mimpiku. Adikku yang sebelumnya lebih suka tidur-mengatakan ingin menjadi dokter. Mungkin, ia tidak mau, sampai kejadian seperti uncle Lucas terulang. Dimana kita, sebagai keluarga saja tidak tahu-jika ada salah satu anggota keluarga kita yang sakit.
*
“ Kau tidak jadi mewujudkan mimpimu, Dam? Bukankah kau ingin membuat Android dan bersekolah di Jepang?” tanya mommy ketika aku malah mengambil study Psychologist. Ya. Berbeda dengan Brian yang ingin menjadi dokter-aku memilih menjadi psychologist.
Aku ingin bisa melihat.., siapa saja yang berbohong dalam mendekati kita dan tulus mendekati kita- agar, kejadian dimana orang seolah mendekati kita dengan tulus-namun, ternyata mengkhianati kita di belakang- tak terjadi lagi.
Bagi orang yang mengkhianati- hal itu adalah hal biasa- namun, bagi yang di khianati?
Rasa kecewa yang amat sangat-tak jarang membuat orang menjadi sakit karena kecewa. Dan aku tidak ingin.., saudara jauhku ataupun keluargaku yang lain merasakan hal yang sama seperti yang di alami uncle Lucas--di khianati oleh orang yang di percaya- bahkan, yang sudah di anggap keluarga dan anak sendiri.
“ Tapi..., aku ingin belajar Psychologist, mom. Aku ingin menyembuhkan Arnold dan tak ingin melihatnya terus seperti itu. Aku juga berharap, aku dapat membaca mimik seseorang-sehingga, aku jadi tahu, jika ia jujur atau tidak.” jelasku. Mommy menatapku dengan pandangan sendu. Itu memang alasan lainku. Selain bisa membaca mimik wajah seorang-sejak kehilangan uncle Lucas- Arnold berubah.
“ Kau tidak harus mengorbankan mimpimu, Dam...” lirih mommy.
“ Namun, aku ingin melihat Arnold kembali seperti semula, mom.” ucapku saat itu.
Dan itulah yang terjadi. Aku hanya bisa menyimpan selebaran berisi ujian beasiswa ke Jepang dan memilih mendaftar menjadi psychologist.
Aku kesulitan awalnya-namun, aku berusaha agar bisa lulus lebih cepat dan dapat menyembuhkan Arnold lebih cepat
Namun, aku bukan hanya dapat lulus lebih cepat-namun, IP bahkan tertarik pada kemampuanku. Mereka tertarik untuk merekrutku.
Aku menerimanya. Setidaknya, dengan bekerja menjadi bagian menjadi IP-aku dapat melindungi Arnold dan saudaraku yang lain. Dan setidaknya, aku masih bisa menggunakan kemapuanku untuk kugunakan dalam setiap misi-yang mengharuskan memakai alat-alat canggih. Dan ya..., memang, selama ini; semua alat dalam misi-aku buat sendiri.
-
Satu hal yang tidak aku sangka adalah.., ternyata hanya karena satu wanita- ia kembali menjadi dirinya yang normal. Ini menyebalkan.
Namun, aku bersyukur ia kembali menjadi Arnold yang dulu. Sementara itu, aku memilih mencari Ale di sela menjalani misiku. Agar saudara jauhku benar-benar kembali jadi dirinya seperti semula-meski, akhirnya ia menjadi memiliki seperti Phobia karena trauma masa lalu. Ia takut dekat dengan orang luar dan ia yang dulunya supel-jadi menutup diri dan tidak mudah terbuka kepada orang lain.
Jujur! Aku sedikit menderita ketika menjadi IP.
Aku bahkan harus berhadapan dengan darah dan obat- obatan yang mengusik perutku. Namun, aku harus tetap makan-jika tidak aku akan sakit.
Lambat laun.., akupun terbiasa. Lebih baik merasa mual dari pada tidak bisa mengisi perut.
Aku bahkan pernah mendapatkan misi harus mencari sekawanan pengedar narkoba. Aku bahkan hampir mati kelaparan karena hanya meminum getah Lira-hanya untuk mengisi perutku.
Lambat laun.., aku jadi paham cara bertahan hidup di hutan dan cara memasak tanpa harus menimbulkan asap.
Dan karena keteguhanku-aku naik pangkat ke pangkat yang mulai di hormati. Dan membuatku memiliki julukan;
EYEWOLF.
Mata serigala.
Karena ilmu psychology ku-selain bisa melihat orang yang berbohong-aku jadi bisa memprediksi apa yang akan di lakukan orang. Aku juga bisa menggunakan kemampuanku-untuk membuat rencana dan memimpin pasukan misi.
Disanalah aku bertemu dengannya.
Catherine.
Perawat khusus di pasukan militer.
Ia polos, berbakat dan cantik. Satu hal yang menarik perhatianku adalah.., ia yang tidak pernah lelah menyatakan perasaanku-meski aku selalu menolaknya.
Sejujurnya, aku juga menyukainya. Ia cantik dengan mata Blue sapphire nya- yang membuatku seolah terhynoptis dan merasa senang-ketika di dekatnya.
Namun, mengingat saudara jauhku yang masih mencari seorang wanita-membuatku memilih mengesampingkan perasaanku.
Aku yakin, ia akan selalu mencintaiku.
Namun, sepertinya.., aku salah.
Di pernyataan kesekian dan penolakanku kesekian pula.., ia tak lagi terlihat mengejarku-hanya untuk menyatakan perasaanku. Karena, memang begitulah yang biasa terjadi. Entah sudah pertanyaan ke berapa ia menyatakan isi hatinya kepadaku-namun, ia tak juga menyerah-seolah penolakanku tak berarti baginya. Aku pikir, kali inipun sama.
Selama beberapa waktu-aku mulai gelisah karena tidak melihatnya.
Aku menyadari jika sebenarnya, aku telah jatuh hati padanya. Terbukti dari aku yang resah ketika tidak melihatnya.
Aku bahkan sedikit khawatir padanya dan diam-diam menanyakan kabarnya pada teman kerjanya.
Aku tidak bisa memakai tenaga IP untuk mencarinya- karena, aku pikir.., ia hanya di pindahkan kerja di daerah lain-lagi pula, aku masih harus mencari kekasih hati saudara jauhku.
Belajar psychologist-sungguh dapat menutupi perasaanku- agar tidak terlalu nampak ketara. Tidak akan ada yang menyadari jika selama ini..., aku menahan rindu-dengan sifat konyolku yang lebih dominan dari pada menanyakan kabar satu wanita.
Aku pernah hampir lupa menahan ekspresi wajahku-ketika aku melihat Catherine kembali-ketika pesta tahun baru. Percayalah.., jika aku sangat senang-melihat wanita itu lagi. Jika bukan karena aku yang tidak ingin terlihat menyukainya-mungkin, aku akan memeluknya sebagai ungkapan penyaluran rasa rindu yang amat sangat.
Saat pesta tahun baru-aku yang memiliki jabatan yang lumayan tinggi-membuatku menjadi pembawa acara sekaligus panitia yang menyerahkan piala penghargaan kepada yang berprestasi.
Dan percayalah! Betapa bangganya aku-ketika ia berprestasi. Aku mati-matian menahan senyum. Saat aku memberikan piala dan piagam pernghargaan prestasi padanya.
Namun, senyum itu luntur seketika-di gantikan rasa khawatir-ketika aku mengetahui jika alasan ia tidak kelihatan belakangan ini- karena merawat patient di medan perang di negara tetangga.
Namun tidak heran jika ia menjadi mendapat penghargaan karenanya! Ia tidak pernah takut merawat patient juga pasukan khusus di medan perang.
Aku kembali bangga padanya.
Namun, rasa bangga itu kembali menjadi kesal-ketika bukan aku-nama yang ia sebut. Namun..., tunangannya.
Tunangan?
Ia memiliki tunangan yang merupakan teman masa kecilnya.
Dan itu...;
Membuatku jadi gelap mata.
Untuk kali pertama-setelah lulus menjadi seorang psychologist-aku melupakan dasar-dasar psychology karena gelap mata.
Aku cemburu dan aku tidak ingin Catherine menikah dengan pria lain.
Saat itu, yang ada di pikiranku adalah.., hanya aku. Hanya aku yang boleh menikahi wanita berambut pirang dengan netra blue sapphire itu.
Setelah dari pesta tahunan tersebut.., aku mengundang Catherine-dengan alasan pesta kecil- kecilan.
Aku memang kebal Aphrodisiac-namun, aku tidak menyangka jika ia juga kebal terhadap obat panas tersebut.
Aku memang memiliki Apartment di berbagai negara-sebagai tempat aku tinggal. Dan aku mengundangnya untuk minum-minum.
Wanita itu menyadari jika ada sesuatu yang aneh. Namun, dengan alasan mabuk-dengan mudah aku menciumnya. Aku pikir.., ia yang selalu mencintaiku- takkan menolakku.
Namun, melihat penolakannya.., membuatku gelap mata.
Aku memaksanya.
Dan aku pikir-setelah aku menitipkan benihku di tubuhnya-ia takkan pergi meninggalkanku.
Namun, ternyata.., aku salah.
Keesokan harinya ketika aku terbangun dari tidurku. Ia pergi.
Ia pergi.
Aku terlihat tidak berubah dengan senyum konyolku. Namun, aku seolah kehilangan separuh hidup dan semangatku. Aku hanya pandai menutupinya dengan ilmu psychology yang ku pelajari. Namun, tanpa di sadari..., aku mulai jatuh ke menikmati nicotine. Apapun-hanya agar rasa sakitku terobati.
Rasa rindu jelas menggerogoti hatiku.
Aku selalu mencarinya-di sela aku juga mencari wanita yang di sukai Arnold.
Tanpa terasa.., 2 tahun terlewati.
Dan satu hal yang tak kusangka adalah.., aku telah menjadi seorang ayah.
Ada orang yang tidak menghargai anak perempuannya dan ada yang ingin mendekap anak perempuannya-namun, tidak bisa karena terhalang jarak yang begitu jauh.
Kini.., aku bukan hanya merindukan Catherine-namun, juga putri kami.
Aku ingin mendekapnya-menggendongnya- menciumi pipi gembulnya-menina bobokannya.
Namun, aku hanya bisa mendekap fotonya.
Foto dimana Catherine menggendong putriku-untuk bersekolah di Swiss.
Campus dan study yang sama dengan adikku mengambil beasiswanya.
Aku melupakan jika Catherine adalah seorang perawat-karena pikiranku yang bercabang.
Berpura-pura konyol-mencari kekasih hati Arnold-menjalani misi IP dan mencari Catherine.
Aku menderita karena rindu.
Aku pikir-aku sudah bisa menutupi perasaanku dengan baik.
Aku tidak menyangka jika keluarga ku tahu tentang Catherine dan Anastasia-putriku.
Lebih tidak menyangka lagi jika Aldista yang di cari Arnold-akan menjadi bagian dari keluarga Arnold-dalam hubungan saudara. Berbeda dengan Catherine-karena, aku sudah tahu wajah dan nama asli nya-Arnold hanya mengetahui nama panggilan Aldista dan nama wanita itu saja- sementara, aku tidak dapat memastikan wajahnya-sehingga, pencarian Aldista sedikit memakan waktu lebih lama dari Catherine.
Dengan dukungan dari semua keluargaku dan kenyataan bahwa Arnold juga akan melamar Ale-setelah wanita itu lulus kuliah. Aku berjanji-aku memilih mengejar Catherine dan memberi status pada Ana.
Melanjutkan mimpiku dan mengambil study ku ke Jepang