“ dan akhirnya ia sadar dan terbangun dari tidur panjangnya.” jelas Christ mulai memakan camilan yang telah di pesannya.
“ lalu? Apa yang terjadi setelahnya?” tanya Brian yang juga sedang memakan makanan yang ia pesan. Pria itu memang tidak sempat menjenguk ke rumah sakit dulu- karena, ia masih anak- anak.
“ ia terdiam.” jelas Christ.
“ ia benar- benar kehilangan ingatannya?” tanyaku.
“ ia memang bertindak seolah kehilangan ingatannya. Namun, aku yakin; ia tidak kehilangan ingatannya.” jelas Christ.
“ lalu?” heranku.
“ sepertinya; ia menyadari ada yang berubah dari dirinya.” jelas Christ.
“ maksudmu...; soal kecelakaan yang menimpa istrimu itu dan memutuskan sebagian syarafnya?” tebakku.
“ ya. Ia bercita- cita menjadi fashion design- namun, kecelakaan itu jelas mengubur mimpinya itu bukan?” tanya Christ.
“ bukankah; sekarang, ia bisa menggendong anak- anak kalian?” tanya Brian.
“ aku yang memberinya obat untuk menghilangkan nyeri pada ototnya. Namun, itu hanya bertahan sementara.” jelas Christ.
“ kenapa; tidak di gunakan untuk ia melanjutkan mimpinya.” tanyaku- memakan brownies.
“ aku sudah mengatakan kepada Gabriela- sekaligus meminta maaf padanya. Namun, ia hanya berkata; jika apa yang terjadi- bukan sepenuhnya salahku dan sekarang; ia telah memiliki putra dan putri- itu sebabnya; ia ingin focus pada pertumbuhan mereka terlebih dahulu.” jelas Christ.
“ aku jadi ragu; apakah, ia benar- benar hanya berpura- pura atau benar- benar kehilangan ingatan.” ucapku setelah memikirkan apa yang terjadi pada iparku.
“ kenapa; kau mengatakan hal itu?” tanya adikku itu.
“ ia terlalu lapang d**a- untuk merelakan mimpi yang sudah ia inginkan sedari kecil. Namun; itu hanya pendapatku saja. Aku tidak bisa sepenuhnya menyimpulkan jika tidak melakukan sesi tanya jawab.” jelasku.
“ yah..., ia kehilangan ingatan atau tidak. Yang terpenting; aku akan menganti apa yang tidak bisa kulakukan di masa lalu dengan masa sekarang dan masa depan.” jelas Christ- membuatku merasa geli.
“ kenapa?” heran Christ padaku dan Brian. Sepertinya; adikku itu juga merasa geli akan tingkah kakak tertuaku ini.
“ aneh rasanya; melihat suasana kaku menjadi romance.” keluhan Brian adalah isi hatiku juga.
“ abaikan! Lalu? Apa yang terjadi setelahnya?” ucapku memilih menyesap minumanku.
“ ia menyadari jika ada perubahan pada dirinya. Namun, ia tidak bertanya apapun soal tangannya dan malah bertanya; siapa aku ini?” jelas Christ.
“ lalu? Apa yang kau lakukan?” tanyaku.
“ aku diam. Namun, sebenarnya; aku begitu terkejut dan tidak mempercayai jika; Gabriela mengalami Amnesia.” jelas Christ.
“ apakah; itu alasan kau tetap memboyongnya kerumah pengantinmu, dulu?” tanyaku.
“ ya.” jawabnya.
“ kenapa; kau tidak membawanya pada kami? Hanya agar; kami bisa mengatakan apa yang biasa kita lalui bersama dengan istrimu dulu?” tanya Brian.
“ tentu karena; aku tidak ingin ia kabur.” jelas Christ.
“ apa?” heran Brian.
“ apa ini karena; istrimu yang ingin membatalkan pernikahan kalian?” tanyaku yang telah menyelesaikan makanku.
“ membatalkan pernikahan? Apa bisa?” tanya Brian.
“ ya, keyakinan kita; memang tidak ada yang namanya cerai- Karena memiliki pegangan; yang di satukan oleh Allah tidak bisa di ceraikan oleh manusia. Namun; pembatalan janji menikah- bisa di lakukan. Biasanya; hal itu karena pernikahan yang terjadi akibat perjodohan dan; ketika pernikahan mereka belum genap satu tahun.” jelasku.
“ yah..., meski aku sendiri tahu. Jika, alasan Gabriela memilih membatalkan pernikahan juga berpura- pura Amnesia- adalah; mungkin, karena ia kecewa kepadaku. Karena; aku yang tak kunjung menjenguknya ketika di rumah sakit.” jelas Christ.
“ memangnya; kau kemana saat itu?” heran Brian.
“ seperti yang aku katakan tadi; aku berdoa.” jelas Christ.
“ dan..., sebenarnya, yang syok akan keadaan tangan Gabriela bukan hanya istriku itu- namun, juga aku. Itu sebabnya, aku berusaha membuat obat untuk meredakan nyeri tangan istriku itu.” jelas Christ.
“ apa itu alasan; mengapa, kau jadi sering bermalam di lab mu saat itu?” tanyaku.
“ begitulah.”
“ tapi; dari yang aku lihat; kau berkata dengan dingin kepada Gabriela- ketika; aku mengantarnya; kerumahmu.” jelasku yang masih ingat kejadian yang sudah sangat lama itu.
“ aku masih tidak terima jika; Gabriela benar- benar Amnesia dan alasan lainnya; karena, aku kesal ketika kalian mengantar istriku kerumah.” jelas Christ.
“ kami mengantarnya kerumahmu; karena, kau tidak menjemput istrimu dan kedua orang tua kita ada operation darurat saat itu- jadi, tidak bisa mengantar Gabriela pulang.” jelasku. Aku tidak menyangka jika; sedari dulu, kakak ku ini sudah posesive kepada istrinya.
“ aku lupa, karena; sibuk membuat obat untuk tangan Gabriela. Begitu aku ingin menjemputnya- ia sudah di antar kalian.” jelas Christ.
“ dan aku rasa; Gabriela semakin marah padamu- ketika; kau yang berkata dingin tentang hubunganmu dan istrimu.” jelasku.
“ kenyataannya memang seperti itu." jelas Christ.
" tapi; kau tidak harus berkata terus terang seperti itu. " jelasku.
" kau tahu sendiri; aku memang saintis- namun, aku lemah dalam menjelaskan.” jelas Christ.
“ Itu sebabnya; saat menjelaskan product baru- selalu Gabriela yang menjelaskan?” tanya Brian.
“ kurang lebih.” jelas Christ.
“ tak heran; jika Gabriela marah dan meminta membatalkan pernikahannya saat itu.” jelasku.
“ kenapa?” tanya Brian dan Christ.
Terkadang; adik dan kakakku ini bisa sama- sama kaku- yang berbeda adalah; terkadang, Brian bisa sesekali bersifat konyol.
“ siapa juga yang tidak akan marah- ketika; suaminya sendiri- mengatakan; jika pernikahan kalian ada hanya karena perjodohan. Apa lagi, Christ hanya menjawab jika alasan ia menerima perjodohan ini- hanya karena Gabriela yang menyukai pria itu. Itu sama saja mengatakan; jika Christ tidak menyukai Gabriela dan terpaksa menerima perjodohan ini.” jelasku.
“ perempuan memang terkadang suka berspekulasi sendiri.” keluh Christ.
“ lalu? Apa yang akhirnya kau lakukan?” tanya Brian.
“ tentu saja aku menolak permintaan nya. Aku beralasan jika; pernikahan itu suci dan sakral dan aku tidak ingin bermain main dengan pernikahan.” jelas Christ.
“ lalu? Alasan sebenarnya?” tanyaku.
“ tentu saja; karena, aku tidak ingin bercerai dengannya.” jelas Christ.
“ jadi; dari awal, kau sudah menjilat air liurmu?” tanyaku.
“ sedari awal aku menerima pernikahanku dengan Gabriela- aku memang sudah mengakui hal itu.” Aku Christ.
“ lalu? Mengapa; kau tidak pernah menerima pernyataan cinta Gabriela?” tanya Brian.
“ apa aku pernah menolak Gabriela- sedari awal; istriku itu menyatakan perasaannya padaku?” tanya Christ membuatku dan Brian terdiam.
“ aku hanya tidak pernah menjawabnya. Karena; aku tidak tahu harus berkata apa untuk menjawabnya.” jelas Christ.
“ yah..., sifat kaku mu itu memang dapat membuat orang salah sangka.” jelasku.
“ itu sebabnya; aku tidak lagi bisa melakukannya pada Gabriela.” jelas Christ.
“ kau takut; Gabriela akan meninggalkanmu?” tanyaku.
“ ya, apa lagi; ia bukan wanita yang peka.” jelas Christ.
“ siapapun; akan salah sangka pada sifatmu. Kami yang adik- adikmu saja, terkadang masih suka salah mengartikan perasaanmu.” keluhku.