Curahan hati seorang Christ

1134 Words
“ dan akhirnya ia sadar dan terbangun dari tidur panjangnya.” jelas Christ mulai memakan camilan yang telah di pesannya. “ lalu? Apa yang terjadi setelahnya?” tanya Brian yang juga sedang memakan makanan yang ia pesan. Pria itu memang tidak sempat menjenguk ke rumah sakit dulu- karena, ia masih anak- anak. “ ia terdiam.” jelas Christ. “ ia benar- benar kehilangan ingatannya?” tanyaku. “ ia memang bertindak seolah kehilangan ingatannya. Namun, aku yakin; ia tidak kehilangan ingatannya.” jelas Christ. “ lalu?” heranku. “ sepertinya; ia menyadari ada yang berubah dari dirinya.” jelas Christ. “ maksudmu...; soal kecelakaan yang menimpa istrimu itu dan memutuskan sebagian syarafnya?” tebakku. “ ya. Ia bercita- cita menjadi fashion design- namun, kecelakaan itu jelas mengubur mimpinya itu bukan?” tanya Christ. “ bukankah; sekarang, ia bisa menggendong anak- anak kalian?” tanya Brian. “ aku yang memberinya obat untuk menghilangkan nyeri pada ototnya. Namun, itu hanya bertahan sementara.” jelas Christ. “ kenapa; tidak di gunakan untuk ia melanjutkan mimpinya.” tanyaku- memakan brownies. “ aku sudah mengatakan kepada Gabriela- sekaligus meminta maaf padanya. Namun, ia hanya berkata; jika apa yang terjadi- bukan sepenuhnya salahku dan sekarang; ia telah memiliki putra dan putri- itu sebabnya; ia ingin focus pada pertumbuhan mereka terlebih dahulu.” jelas Christ. “ aku jadi ragu; apakah, ia benar- benar hanya berpura- pura atau benar- benar kehilangan ingatan.” ucapku setelah memikirkan apa yang terjadi pada iparku. “ kenapa; kau mengatakan hal itu?” tanya adikku itu. “ ia terlalu lapang d**a- untuk merelakan mimpi yang sudah ia inginkan sedari kecil. Namun; itu hanya pendapatku saja. Aku tidak bisa sepenuhnya menyimpulkan jika tidak melakukan sesi tanya jawab.” jelasku. “ yah..., ia kehilangan ingatan atau tidak. Yang terpenting; aku akan menganti apa yang tidak bisa kulakukan di masa lalu dengan masa sekarang dan masa depan.” jelas Christ- membuatku merasa geli. “ kenapa?” heran Christ padaku dan Brian. Sepertinya; adikku itu juga merasa geli akan tingkah kakak tertuaku ini. “ aneh rasanya; melihat suasana kaku menjadi romance.” keluhan Brian adalah isi hatiku juga. “ abaikan! Lalu? Apa yang terjadi setelahnya?” ucapku memilih menyesap minumanku. “ ia menyadari jika ada perubahan pada dirinya. Namun, ia tidak bertanya apapun soal tangannya dan malah bertanya; siapa aku ini?” jelas Christ. “ lalu? Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “ aku diam. Namun, sebenarnya; aku begitu terkejut dan tidak mempercayai jika; Gabriela mengalami Amnesia.” jelas Christ. “ apakah; itu alasan kau tetap memboyongnya kerumah pengantinmu, dulu?” tanyaku. “ ya.” jawabnya. “ kenapa; kau tidak membawanya pada kami? Hanya agar; kami bisa mengatakan apa yang biasa kita lalui bersama dengan istrimu dulu?” tanya Brian. “ tentu karena; aku tidak ingin ia kabur.” jelas Christ. “ apa?” heran Brian. “ apa ini karena; istrimu yang ingin membatalkan pernikahan kalian?” tanyaku yang telah menyelesaikan makanku. “ membatalkan pernikahan? Apa bisa?” tanya Brian. “ ya, keyakinan kita; memang tidak ada yang namanya cerai- Karena memiliki pegangan; yang di satukan oleh Allah tidak bisa di ceraikan oleh manusia. Namun; pembatalan janji menikah- bisa di lakukan. Biasanya; hal itu karena pernikahan yang terjadi akibat perjodohan dan; ketika pernikahan mereka belum genap satu tahun.” jelasku. “ yah..., meski aku sendiri tahu. Jika, alasan Gabriela memilih membatalkan pernikahan juga berpura- pura Amnesia- adalah; mungkin, karena ia kecewa kepadaku. Karena; aku yang tak kunjung menjenguknya ketika di rumah sakit.” jelas Christ. “ memangnya; kau kemana saat itu?” heran Brian. “ seperti yang aku katakan tadi; aku berdoa.” jelas Christ. “ dan..., sebenarnya, yang syok akan keadaan tangan Gabriela bukan hanya istriku itu- namun, juga aku. Itu sebabnya, aku berusaha membuat obat untuk meredakan nyeri tangan istriku itu.” jelas Christ. “ apa itu alasan; mengapa, kau jadi sering bermalam di lab mu saat itu?” tanyaku. “ begitulah.” “ tapi; dari yang aku lihat; kau berkata dengan dingin kepada Gabriela- ketika; aku mengantarnya; kerumahmu.” jelasku yang masih ingat kejadian yang sudah sangat lama itu. “ aku masih tidak terima jika; Gabriela benar- benar Amnesia dan alasan lainnya; karena, aku kesal ketika kalian mengantar istriku kerumah.” jelas Christ. “ kami mengantarnya kerumahmu; karena, kau tidak menjemput istrimu dan kedua orang tua kita ada operation darurat saat itu- jadi, tidak bisa mengantar Gabriela pulang.” jelasku. Aku tidak menyangka jika; sedari dulu, kakak ku ini sudah posesive kepada istrinya. “ aku lupa, karena; sibuk membuat obat untuk tangan Gabriela. Begitu aku ingin menjemputnya- ia sudah di antar kalian.” jelas Christ. “ dan aku rasa; Gabriela semakin marah padamu- ketika; kau yang berkata dingin tentang hubunganmu dan istrimu.” jelasku. “ kenyataannya memang seperti itu." jelas Christ. " tapi; kau tidak harus berkata terus terang seperti itu. " jelasku. " kau tahu sendiri; aku memang saintis- namun, aku lemah dalam menjelaskan.” jelas Christ. “ Itu sebabnya; saat menjelaskan product baru- selalu Gabriela yang menjelaskan?” tanya Brian. “ kurang lebih.” jelas Christ. “ tak heran; jika Gabriela marah dan meminta membatalkan pernikahannya saat itu.” jelasku. “ kenapa?” tanya Brian dan Christ. Terkadang; adik dan kakakku ini bisa sama- sama kaku- yang berbeda adalah; terkadang, Brian bisa sesekali bersifat konyol. “ siapa juga yang tidak akan marah- ketika; suaminya sendiri- mengatakan; jika pernikahan kalian ada hanya karena perjodohan. Apa lagi, Christ hanya menjawab jika alasan ia menerima perjodohan ini- hanya karena Gabriela yang menyukai pria itu. Itu sama saja mengatakan; jika Christ tidak menyukai Gabriela dan terpaksa menerima perjodohan ini.” jelasku. “ perempuan memang terkadang suka berspekulasi sendiri.” keluh Christ. “ lalu? Apa yang akhirnya kau lakukan?” tanya Brian. “ tentu saja aku menolak permintaan nya. Aku beralasan jika; pernikahan itu suci dan sakral dan aku tidak ingin bermain main dengan pernikahan.” jelas Christ. “ lalu? Alasan sebenarnya?” tanyaku. “ tentu saja; karena, aku tidak ingin bercerai dengannya.” jelas Christ. “ jadi; dari awal, kau sudah menjilat air liurmu?” tanyaku. “ sedari awal aku menerima pernikahanku dengan Gabriela- aku memang sudah mengakui hal itu.” Aku Christ. “ lalu? Mengapa; kau tidak pernah menerima pernyataan cinta Gabriela?” tanya Brian. “ apa aku pernah menolak Gabriela- sedari awal; istriku itu menyatakan perasaannya padaku?” tanya Christ membuatku dan Brian terdiam. “ aku hanya tidak pernah menjawabnya. Karena; aku tidak tahu harus berkata apa untuk menjawabnya.” jelas Christ. “ yah..., sifat kaku mu itu memang dapat membuat orang salah sangka.” jelasku. “ itu sebabnya; aku tidak lagi bisa melakukannya pada Gabriela.” jelas Christ. “ kau takut; Gabriela akan meninggalkanmu?” tanyaku. “ ya, apa lagi; ia bukan wanita yang peka.” jelas Christ. “ siapapun; akan salah sangka pada sifatmu. Kami yang adik- adikmu saja, terkadang masih suka salah mengartikan perasaanmu.” keluhku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD