* kembali ke masa sekarang *
Aku melihat Anastasia mulai mengantuk dan aku sendiripun lelah.
Dan karena, aku yakin jika; saudara jauhku ini- tidak akan keluar dari kamar pengantinnya; sampai besok- aku memutuskan untuk langsung ke kamar dan beristirahat- mengajak putri dan kekasih hatiku tentu saja.
“ kita istirahat, yuk.” ucapku sambil menggandeng tangan Catherine dan menggendong Ana yang sudah mengucek matanya sedari tadi. Ini pasti sudah waktunya; putriku itu beristirahat.
Melihat jika; pesta pernikahan ini mulai bertemakan hal- hal dewasa- yang tidak sepantasnya di lihat anak kecil; aku memutuskan membawa putriku itu ke kamar- yang memang di sediakan untuk kami.
Itu lebih baik dari pada meracuni pikiran putriku pada hal dewasa- sebelum waktunya.
Adikku saja; aku jaga- agar tidak berpikir dewasa sebelum waktunya- bahkan, meski ia adalah laki- laki sekalipun- tentu aku akan melakukan hal yang sama kepada putriku.
Bertemakan hal dewasa?
Tak heran.
Mungkin, karena awalnya; Ale mengira- jika; pernikahan ini untuk Arnold dan wanita lain- Ale menghadirkan tema; pesta Alcohol- dengan menyediakan berbagai jenis Alcohol sebagai hidangan.
Bukan hanya Alcohol- Ale bahkan menghadirkan teman untuk One Night Stand- yang di sediakan untuk para single- atau orang yang tidak memiliki pasangan. Aku hanya berharap; tidak ada masalah di dalam pesta itu.
Aku sendiri; tidak merasa heran- jika Ale mengira; Arnold akan menikah dengan wanita lain- dulu.
Orang tua Ale yang kolot- membuat Arnold memilih menutupi perasaannya.
Dan alasan lainnnya; karena, Arnold ingin membuat Ale menyukainya terlebih dahulu.
Pernah di kecewakan; membuat Arnold menjadi lebih waspada terhadap orang baru- begitupun dengan Ale saat itu.
Namun, semakin mengenal Ale; jangan kan Arnold- semua keluargaku pun; mengakui ketulusan dan bakat seorang Ale. Harus kuakui; jika, wanita itu memang memiliki kekurangan- namun, di balik kekurangan fisiknya; ia memiliki segudang bakat dan hati yang tulus. Tak pernah ada kebencian dan dendam pada orang yang telah menyakitinya.
Jujur; tak lama setelah mengenal keluarga besar Ale- ada sedikit rasa kesal di hatiku pada kesombongan keluarga besar Ale yang Toxic.
Jika baru saja mengenal saja- sudah merasa kesal pada kelakuan keluarga besar Ale- bagaimana dengan Ale- yang sudah sedari lama- bahkan, sedari lahir; mengenal keluarga besarnya dan selalu di perlakuan tidak adil oleh keluarga- yang hanya memandang derajat melebihi segalanya?
Namun, Ale tidak pernah merasa benci- dendam pun tidak.
Tak heran bukan- jika; Ale dapat menyembuhkan phobia yang di miliki saudara jauhku itu.
“ erm..” ucapan Catherine membuyarkan lamunku- kala aku memilih menuntun calon keluarga kecilku- menuju kamar bersama kami.
“ ada apa? Kau masih ingin melihat pesta pernikahan Arnold?” tanyaku.
“ tidak..., hanya saja, ini kali pertama; aku bertemu dengan keluarga besarmu. Mereka sangat ramah.” jelas Catherine.
“ aku sudah mengatakan, bukan? Mereka akan menerimamu- apapun dirimu.” kekehku.
“ sama seperti Ale yang menunggu lulus- baru di lamar Arnold- aku juga tidak ingin kalah dari Ale. Menunggu lulus; baru menerima lamaranmu.” kekeh Catherine.
“ tapi..; Ale itu baru sarjana dan kau sudah lama mendapat gelar itu.” jelas ku sambil menoel hidung mancung wanita yang menjadi ibu dari anak kandungku itu.
“ boleh aku bertanya pribadi soal salah satu keluargamu?” ucap Catherine- ketika telah sampai di kamar yang di tujukan untuk kami.
“siapa yang ingin kau tanyakan? Soal daddy dan mommy?” aku menebak; Catherine pasti penasaran; pada calon mertuanya, mungkin.
“ bukan.” jelas Catherine.
“ soal grandpa dan grandma?” tebakku.
“ bukan juga.” ucap Catherine menggelengkan kepalanya.
“ so?” heran ku- yang tanpa sadar; mengangkat sebelah alisku.
“ tentang sis Gabriela.” jelas Catherine.
“ Gabriela?” heranku. Ia penasaran pada kakak iparku? Gabriela memang cantik- namun, Catherine...; she’s not a lesbian, right?
“ aku dengar..; sis Gabriela pernah kecelakaan.” tanya Catherine. A..., rupanya; tentang kisah asmara kakak dan kakak iparku itu.
“ ehem.” jelas ku- sambil meletakkan Ana yang telah tertidur di kasur dan menyelimutinya.
“ ia tidak terlihat seperti orang yang memiliki masalah dengan syaraf nya.” jelas Catherine.
“ mungkin, karena daya juangnya untuk sembuh begitu besar- atau...; kakakku telah membuat obat untuk mengatasi rasa sakitnya- meski, tidak bisa di minum terus- menerus.” jelas ku- mengenang apa yang terjadi di masa lalu.
*
Satu hal yang aku yakin saat itu - meski tanpa bantuan ilmu psychologist- adalah;
Alasan; Christ memilih tidak pulang kerumah dan membiarkan Gabriela kesepian.
Tentu; karena; Christ memang sengaja menghindari godaan istrinya itu.
Sebagai seorang pria normal- Christ pasti tersiksa harus menahan godaan Gabriela dan tidak ingin terlihat terlalu cepat menjilat air liurnya sendiri.
Sedari dulu, Gabriela jelas terlihat sangat mengejar Christ dan juga mengoodanya. Namun, Christ juga selalu jelas terlihat; menolak; gadis yang dulunya tomboy dengan celana yang selalu melekat pada dirinya itu.
Aku sendiri- tidak menyangka jika; Gabriela akan sangat cocok menjadi seorang wanita yang anggun.
Aku memang pernah dengar; mendiang ibu kandung Gabriela juga anggun- meski begitu, aku masih tidak menyangka- jika; wanita- yang memang sudah cantik- meski selalu memakai celana itu; sebenarnya, juga bisa bersikap anggun. Mungkin, Gabriela;
hanya tidak bisa bersikap seperti wanita pada umumnya- karena; selama ini, yang ada di sekelilingnya- hanyalah seorang pria.
Dan..., Christ; Pria itu, pasti tidak ingin terlihat kalah- setelah, sebelumnya; berulang kali menolak Gabriela.
Namun, aku yakin; jika kakak tertuaku itu telah menjilat air liurnya sendiri- terlihat dari; pria itu yang memilih menghindari istri cantiknya itu.
Dan mungkin; karena, Christ berulang kali- selalu menghindar dari Gabriela- membuat wanita itu mengira jika kakak tertuaku itu- menolaknya- lagi.
Namun, hal itu membuat Gabriela putus asa. Sedikit- demi sedikit-apa yang di lakukan kakak tertuaku itu jelas mengikis kepercayaan diri Gabriela.
Dan puncak dari itu semua adalah; wanita itu, nekad pergi- entah kemana- hanya untuk melampiaskan rasa sepinya.
Lebih tidak menyangka lagi jika; keputusan itulah yang membawa Gabriela pada kecelakaan tunggal.
Kecelakaan tunggal?
Karena; Gabriela murni kecelakaan akibat kelalaian dalam menyetir- itulah yang di lihat dari CCTV jalanan.
Benar!
Saat itu; setelah dari rumah Grandpa dan meluahkan keluhannya pada kami- Gabriela tidak langsung melajukan mobilnya kerumah pengantinnya.
Entah ia mau kemana.
Mungkin; karena merasa kesepian dirumah- akibat; Christ yang lebih sering tinggal di Lab nya- membuat wanita yang telah menjadi kakak ipar ku itu kesepian dan memilih tidak langsung kerumahnya dan memilih melajukan mobilnya.
-
“Aku sendiri; tidak tahu, Gabriela hendak kemana- karena; wanita itu tidak mengatakan apapun padaku dan Arnold saat itu.“ ucapku mengakihiri mengenang kisah masa lalu kakak iparku dan Gabriela.
“ em..,padahal, dari yang aku lihat; kak Christ begitu mencintai sis Gabriela, ya.” heran Catherine.
“ itu karena; Christ takut jika, Gabriela akan meninggalkannya- jika Christ memilih tetap bersikap cuek pada wanita yang telah berkorban nyawa untuk melahirkan ketiga anak kembar mereka.” jelasku.
“ kak Gabriela melahirkan kembar- bahkan, daddy Morgan dan mendiang uncle Lucas juga kembar- mengapa; aku tidak melahirkan anak kembar?” tanya Catherine.
“ bukankah; mommy ku juga tidak melahirkan secara kembar? Aunt Berta pun juga begitu. Kita memang memiliki gen kembar- namun, bukan berarti; keturunan kita akan terlahir kembar juga.” jelasku- memilih mendekati Catherine.
“ mungkin..., keturunan kita setelah ini akan kembar. Mau mencobanya?” kekeh ku meraih rambut Catherine yang tergerai.
“ ish..! menikah saja belum- sudah mau menambah adik- untuk Ana.” keluh Catherine mendorong tubuhku.
“ ia pasti akan senang- jika kita memberi adik padanya.” kekeh ku yang merasa lucu pada wajah bersemu merah Catherine.
Selama ini; aku memang tidak pernah menyentuh Catherine- hanya sekali- itupun sebelum Ana lahir- sekaligus, untuk merebut darah pertama Catherine.
Dulu; aku berpikir, dengan begitu; akan mengikat wanita itu. Namun, aku menyadari jika; apa yang kulakukan tidak ada bedanya dengan Christ yang selalu menolak Gabriela- namun, malah memaksa wanita yang kita cintai.
Dan itu adalah penyesalan terbesar bagiku kala itu. Sama seperti Gabriela yang putus asa kepada Christ dan ingin meninggalkan kakakku- Catherine pun meninggalkanku saat itu.
Aku masih ingat; betapa tersiksanya aku kala itu. Akupun sampai tenggelam dalam nicotine kala itu dan larut dalam bekerja. Apapun; hanya agar, rasa sakit hatiku terobati.
Itu sebabnya; meski, aku selalu tidur bersama dalam satu kasur- aku tak lagi ingin memaksa Catherine- hanya agar, ia tidak lari lagi dariku. Hanya tidur biasa, tidak lebih.