Part 5

1092 Words
" Lila....Lila." Tak terdengar sahutan ataupun respon. Rio berjalan cepat memasuki rumah. Matanya nyalang menatap sekeliling mencari keberadaan Lila. " Lila....Lila." Rio kembali berteriak kencang saat tak mendapatkan respon dari sang istri. Suara Rio sejatinya terdengar hingga belakang rumah. Dengan santai Lila menghampiri Rio. Dia baru saja selesai memasak di dapur lalu lanjut mencuci pakaian. Disapukan tangan yang basah ke apron di badannya. Plak.... Sebuah tamparan mendarat di pipi Lila saat dia sudah di depan Rio. Tanpa bertanya atau memberikan aba - aba, Rio sudah mendaratkan tangannya. Terhenyak dan kaget, namun sesaat kemudian dia menghela nafas panjang, menetralisir kembali wajahnya yang sempat memerah. Menarik nafas yang panjang untuk kedua kalinya agar tangisnya tak pecah. Ada rasa sakit yang menggumpal dalam dadanya. Bohong jika dia tak sakit hati. Terlebih selarik senyum nampak di bibir Ayu sang madu. " Apa maksud kamu menyebarkan video itu. Kamu membuat nama baikku tercemar. Sekarang videonya viral. Bisakah kamu menahan rasa cemburumu?. Kenapa harus dengan cara seperti ini?. Kamu membuat malu suamimu ini." Ucapnya dengan terengah - engah. Hatinya sedikit merasa bersalah telah menampar istrinya. Terlebih tak terlihat raut sedih di wajah Lila. Bekas telapak tangannya nyata terlihat. Alih - alih menjawab Lila justru memandang Ayu dan Rio sinis. Ayu kembali tersenyum mengejek saat mata mereka bersirobok. Tangan Rio sudah hendak kembali melayang namun tertahan cekalan Ridwan. Wajah adik lelaki Rio itu terlihat memerah menahan marah. Ridwan dan Rara marah karena melihat Lila ditampar oleh Rio. " Mas, cinta boleh tapi b**o jangan. Bukankah sudah sebulan ini handphone mbak Lila kamu sita. Bagaimana caranya dia memposting video itu. Bagaimana caranya dia mendapatkan rekaman itu?." Rio terdiam, apa yang diucapkan Rara benar. Namun hati kecilnya menolak semua yang diucapkan Rara. Tidak mungkin ada orang lain yang membencinya selain Lila. Kalau bukan Lila lalu siapa? " Akun yang pertama kali mengunggah itu milik Lila." Teriak Rio tak mau kalah. Dia jelas ingat jika akun yang memposting semua itu atas nama Lila. Dia tidak mau mengalah walaupun nyalinya sudah mulai menciut. Lila terlihat meraba pipinya yang lebam membiru sambil tersenyum. Beberapa kali terlihat lidahnya menyapu pipi dari dalam mulutnya. " Handphone mbak Lila dimana?." Tantang Ridwan. " Dikamar." Sahut Rio pendek. Tangannya masih dicekal Ridwan dengan kuat. Matanya masih menatap tajam sang istri yang semakin terlihat santai. " Ada bukti mbak Lila masuk ke kamar untuk mengambil handphone?. Kalau handphone hanya asal taruh, bisa jadi kan kuntilanak yang sekamar sama mas Rio yang posting." Rio mendelik mendengar Ridwan menyebut Ayu kuntilanak. Menghajar Ridwan jelas dia akan kalah. Adeknya itu juara taekwondo se propinsi. Pikiran Rio pun berputar berusaha memikirkan ucapan Ridwan. Rio melirik ke arah Ayu. Wajah Ayu yang tadinya tersenyum penuh kemenangan mulai terlihat gelisah dan pias. Dia berusaha menghindari tatapan mata sang suami. Rio menyadari perubahan sikap Ayu. " Dek, kamu yang memposting?. Kamu memakai handphone Lila tanpa ijin dariku?." Lila mencembik mendengar Rio berkata penuh kelembutan pada madunya sementara padanya Rio berkata dengan kasar. Ayu semakin menunduk saat dicecar pertanyaan oleh Rio. " I...iya. Aku minta maaf. Aku cuma mau semua orang tahu kalau aku ini istrimu. Karyawan yang lain mengatakan aku ini simpananmu." Rio menjambak rambutnya kasar. Tangannya sudah melayang hendak menampar Ayu namun diurungkannya. Dia menggeram marah. Dia juga menyesal sudah menampar Lila. " Lalu kenapa kamu memfitnah Lila. Kenapa harus kamu posting dengan akun Lila. Lihat aku jadi menamparnya karenamu." Ujar Rio sambil menunjuk ke arah Lila. Rio berbalik menatap Lila. Tangannya berusaha mengusap pipi Lila yang lebam namun ditepis kasar oleh istrinya itu. " Sayang, maaf. Sungguh aku hanya emosi sesaat. Sayang, aku obati ya." Lila memilih menulikan telinganya, bergegas masuk ke kamar lalu menutup pintu dengan kasar. Rio berteriak memanggil - manggil nama Lila. Rara dan Ridwan justru bergegas pergi. Dengan santai mereka kembali menikmati makan malam mereka. Rio berhenti berteriak saat perutnya mulai berbunyi. Melihat makanan yang dimakan kedua adiknya membuatnya semakin lapar. Perutnya sudah berdemo sejak tadi. Seharian dia tak sempat makan karena kekacauan di warung. Arsik ikan kesukaannya terlihat menggoda di piring sang adik. Dibukanya tudung saji namun kosong. Tak ditemukan satu lauk pun disana. Langkahnya menuju ke almari makan bahkan panci dan penggorengan tak luput dari razianya. Ayu pun melakukan hal yang sama. Perutnya sudah bernyanyi nyaring sedari tadi. " Ngga usah dicari. Mbak Lila cuma masak buat bapak, aku sama mas Ridwan. Mas Rio kan bisa nyuruh ni kunti masak. Sekalian buat ibu, kasihan nanti kalau pulang dari arisan laper." Kata Rara sambil membersihkan tangannya dari sisa ikan. Rio terduduk lesu. Matanya menatap Ayu memelas. " Dek, tolong masakin. Aku dah laper banget." " Aku kan ga bisa masak, mas. Lagian nanti tanganku bau bawang kalau aku masak. Delivery aja ya." Sungut Ayu. Rio menatapnya dengan memelas. Akhirnya Ayu luluh lalu beranjak, membuka kulkas yang terisi penuh sayuran. Sebutir telur diambilnya dan digoreng dengan cepat. Rio mendesah, bayangan Arsik ikan kegemarannya masih menari - nari di pelupuk matanya. Sepiring nasi dengan telur ceplok setengah gosong disodorkan Ayu dihadapannya. Rasanya mau muntah karena jijik melihat bentuk si telur. Ayu memandang Rio dengan senyum terkembang, membuat Rio seolah tak mempermasalahkan telur gosong tersebut. Terpaksa Rio memakan telur setengah gosong dan atasnya masih mentah itu daripada dia kelaparan. Ayu terlihat sangat bahagia melihat sang suami menghabiskan masakannya. Dengan susah payah dia menahan keinginannya untuk muntah. " Enak kan mas?." Rio hanya bisa mengangguk sambil mengunyah kasar telur itu. " Besok berarti mas ngga perlu lagi nunggu mbak Lila siapin makan. Aku juga bisa siapin makanan untuk mas." Rio hanya mengangguk pasrah tak hendak memperpanjang percakapan. Matanya sesekali melirik ke arah kamar Lila yang jelas tertutup rapat. Pikirannya mengembara, tak pernah selama pernikahannya dengan Lila dia memakan makanan gosong ataupun mentah. Ayu dengan santai memakan telur buatannya sendiri. Raut wajahnya berubah masam dan hendak muntah saat menggigit telur mata kebo itu. " Asin ya mas?." Rio menggeleng, padahal dia mengunyah garam rasa telur bukan telur digarami. " Ih yang punyaku ngga enak banget rasanya. Jijay ini. Nanti makan di warung saja, ngga enak ini." Gerutunya entah pada siapa. " Nanti malam aku bantuin bikin bumbu bakso ya mas. Biar aku pintar masak seperti mbak Lila." Rio kembali mengangguk sambil berusaha menelan paksa nasi telur di tenggorokannya. " Iiih...dari tadi cuma angguk - angguk. Jawab donk, mas!." Teriak Ayu lagi. " Mas..... Masih marah ya sama Ayu. Jangan gitu donk. Ayu kan cuma mau diakui sebagai istri juga. Kenapa malah mas marah?." Rio mengacak rambutnya sambil merangkai kata yang tepat. " Mas ngga marah. Tapi jangan seperti itu. Jatuhnya malah semua orang menganggap mu pelakor." Diam, Ayu akhirnya memilih diam mencerna ucapan Rio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD