Who Are You?

2553 Words
Ghea merapikan semua berkas di mejanya. Jam dinding menunjuk pada angka 17:12. Kali ini ia mengerjakan semuanya tepat waktu. Maya juga tidak mengganggunya lagi. " Apa aku bisa pulang bersamanya ya?" Gumam Ghea mengulas senyum. Bagaimanapun, cara Noah membelanya tadi membuat Ghea terpesona sekali lagi. Bahkan mungkin gadis itu lupa bahwa Noah seorang psikopat. Ghea dengan senang melangkahkan kaki menuju ruangan Noah, tak banyak karyawan saat itu karna memang sudah jam pulang. Mungkin inilah yang dinamakan jangan terlalu berharap pada seseorang, karna harapan itu bisa membunuh kepercayaan lebih cepat dari racun mematikan. Ghea menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu Noah. Tapi kenapa ia harus mengetuk? Bukankah itu sudah di luar jam kerja? Ghea memutuskan membuka pintu itu pelan " Tidak ditutup?" Batinnya mendapati pintu yang sedikit terbuka. Lalu saat Ghea membukanya... Pemandangan yang sama sekali tak pernah ia duga terlihat di depan mata. Noah tampak memeluk Clara mesra. Bahkan beberapa kancing kemeja bagian atasnya terbuka. Penampilan Clara juga terlihat acak acakan. Mendapati kehadiran Ghea, Clara segera turun dari pangkuan Noah. Bola mata Ghea langsung berkaca kaca, entah kenapa rasanya begitu sakit " Kalian?" Ucapnya terbata " Kenapa tidak mengetuk dulu? Apa saya pernah mengizinkan kamu masuk tanpa mengetuk?" Tanya Noah justru menatapnya tajam " Apa hubunganmu dengan Clara? Apa kau mempermainkanku?" Tanya Ghea. Air matanya tanpa sadar menetes ke pipi. Clara menarik napas panjang " Jangan salah sangka Ghe, aku mengizinkanmu menikah dengan Noah bukan berarti aku melepaskannya untukmu. Dia dan aku sudah lama bersama. Aku harap kau mengerti ya?" Senyumnya dengan tatapan merendahkan. " Aku tahu kamu lebih cantik dariku Clara, tapi aku tidak menyangka gadis terpelajar sepertimu sama sekali tidak bermoral. Dia suamiku!" Tekan Ghea menunjuk. Tentu saja, hatinya panas. " Jaga bicara kamu! Saya tidak akan membiarkan kamu menghina Clara!" Noah justru membela Clara dan mengabaikan perasaan Ghea yang hancur berantakan " Lalu apa artinya cincin ini hah? Kenapa kau menikahiku? Apa karna kau seorang boss besar jadi kamu berpikir bisa melakukan apapun?" Ghea membuka cincin di jari manisnya. " Kamu mau tahu artinya itu? Itu tidak berarti apapun. Saya hanya menikahimu untuk sebuah alasan bukan karna cinta atau karna saya menyukaimu." Ucap Noah benar benar menyakitkan. " Baiklah!" Ghea melempar cincin itu ke hadapan Noah " Berikan saja cincin itu pada Clara. Aku bukan wanita yang bisa dibeli begitu saja." Tekannya lalu berlari pergi Bagai daun yang menunggu kering Lalu jatuh bersama angin Terlupakan Membaur menjadi debu Tak ada sisa keberadaannya di dunia Begitu pula aku dan perasaanku Yang tak berarti setelah semua kata katamu Aku Patah " Gheaa!!" Noah berusaha mengejar. Entah kenapa, ada rasa tercubit di hatinya. Namun... " Kau mau ke mana?" Tanya Clara mencekal tangannya. " Apa kau mau meninggalkanku?" Tanya gadis itu manja. Noahpun menggeleng pelan " Kau mencintaiku kan?" Tanya Clara memeluknya " Tentu." Jawab Noah. Tapi entah kenapa hatinya merasa sangat berat. Ia menatap cincin yang tergeletak di lantai Ada apa denganku? - Batinnya Sementara di luar sana... Ghea berlari sembari menangis. Rasanya sangat sesak, ia ingin berteriak tapi hatinya terasa berat. Kenapa ia begitu berharap? Harusnya ia tahu Noah sama sekali tidak menyukainya. Pemuda itu hanya mempermainkannya saja. Tapi Ghea sama sekali tidak menyangka, gadis sebaik Clara bisa berbuat seperti itu. Padahal ia menganggap Clara sebagai salah satu teman baiknya. Hati Ghea benar benar sakit. Ia melangkah tanpa arah dan bagai di film film, malam yang dingin mengundang hujan. Ghea bahkan tak merasakan dinginnya air dan angin malam yang menyelimuti tubuhnya, ia basah kuyup Tanpa ia sadari, beberapa orang memperhatikannya dari jauh " Itu orangnya! Lakukan apapun padanya tapi jangan sampai aku melihatnya besok pagi!" Perintah seseorang yang ternyata adalah, Maya. " Lalu bayaran kami?" Tanya seorang pria bertubuh kekar bersama 3 orang pria lainnya di dalam mobil " Ini, ini uang 20 juta. Ini hasil kerjaku selama 2 bulan. Jadi pastikan berhasil dan tidak ada satu orangpun yang melihat atau tahu kejadian ini. Kalian harus tutup mulut!" Perintah Maya lagi. " Tapi gadis itu benar benar bukan keluarga orang berpengaruh kan?" Tanya pria kekar tadi sekali lagi " Bukan, dia hanya karyawan baru di kantorku. Lenyapkan dia, karna dari awal aku sama sekali tidak menyukainya!" Maya benar benar terlihat marah. Teguran tuan Noah tadi bagaikan tamparan yang sangat keras baginya. Ia begitu tersinggung sampai sampai mau membiayai Hero, Doni, Dion dan Galang gerombolan pegajulan daerah sana untuk mengerjai Ghea. Dan benar saja, 4 pria itu langsung turun dari mobil yang mereka tumpangi lalu berlari ke arah Ghea yang tampak melangkah gemetar diiringi hujan yang semakin lebat. " Mau kami antar nona?" Tanya Dion menghadang Ghea yang langsung beringsut kaget. " Wah cantik sekali ya." Puji Galang mencolek lengan putih Ghea " Kalian mau apa?" Tanya Ghea dengan suara gemetar dan bibir pasi " Ikut kami!" Hero langsung menarik lengan Ghea agar ikut bersamanya. Namun... " Aarrkkhh!!!" Teriak pria itu reflek saat Ghea menggigit lengannya kemudian kabur mengikuti arah jalan sembari berteriak meminta pertolongan. Sialnya, tidak ada siapapun di sana. Ghea hanya berlari buta " Tertangkap!" Tawa Doni saat memeluk tubuhnya dari belakang. Ghea menangis dan berusaha berontak Tapi... " Bawa dia!" Perintah Hero yang notabeni adalah pemimpin mereka " Lepaskan!! Tolonggg!!!" Ghea berteriak, menendang dan memberontak. Namun... Plak Sebuah tamparan membuat pandangannya kabur. Ghea terhuyung Maya yang menyaksikan semua itu dari dalam mobil mengulas senyum licik. Apalagi saat 4 preman itu mencoba membawa Ghea ke semak semak dan berusaha melecehkannya. Teriakan Ghea dan tangisannya bagaikan irama musik yang begitu merdu bagi wanita itu " Rasain! Makanya jangan sok kecakepan!" Celetuknya kemudian menyalakan mesin mobil dan melaju pergi. Membiarkan Ghea menjadi bulan bulanan preman suruhannya. Benar saja, mereka memegangi dan menatap tubuh Ghea lapar. Mencoba mengkoyak kancing blousenya dan menyingkap rok yang membalut kaki jenjang Ghea " Tolonggg!!!" Teriak Ghea menangis sesenggukan. Berkali kali ia mencoba teriak hingga suaranya serak, tapi tidak ada yang mendengarkan. " Aku duluan!" Senyum Hero memeluk dan menggerayangi Ghea, sebelum... Bug Brak Tiba tiba saja, Hero terguling ke sisi Ghea dengan kepala yang mengeluarkan darah setelah seseorang memukul kepalanya dengan balok kayu Ghea langsung beringsut menutup area dadanya dengan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya. " Berani sekali kau mengganggu kami hah!" Bentak Doni mengeluarkan sebilah pisau " Lari Ghea!" Teriak sosok itu yang tak lain adalah... " Bian?" Beberapa saat kemudian, perkelahian terjadi. Bian berusaha menghajar mereka dengan balok kayu di tangannya. Sementara Ghea tidak bisa kabur karna Hero masih memeluknya erat dan berusaha melecehkan dirinya. Mereka masih berusaha melawan, hingga... Crash Darah segar membanjir di tanah " Biaaan!!!" Teriak Ghea saat mendapati tubuh Bian tergeletak dengan luka tusuk di perut kirinya. Rasanya, Ghea tak ada harapan lagi saat itu. Apalagi saat preman preman itu mulai menghampirinya lagi. Tapi tiba tiba... Dor Pelukan Hero pada tubuh Ghea melonggar " Aaarrkkhh!!!" Teriak Ghea seketika jatuh pingsan saat menyadari preman yang berusaha melecehkannya tiba tiba terjatuh dengan asap mengepul dari luka tembak tepat di kening. Tidak hanya Hero, satu persatu preman itu tumbang setelah mendapatkan luka tembak yang sama. Dan saat giliran Dion... " Tolong jangan bunuh saya! Siapa kamu?" Tanyanya dengan bibir pucat ketakutan Sosok dibalik gelap itu mengulas senyum, pistol di tangannya masih mengepulkan asap " Saya adalah mautmu!" Senyum orang yang tak lain adalah Noah Alexsander itu. Dan... Dor Brug Tubuh Dion terkapar tanpa ampun. " Sebenarnya saya sama sekali tidak menyukai kekerasan. Tapi saya sangat suka bunyi tembakan. Bukankah saya cukup baik dalam menembak?" Senyum Noah kemudian meletakkan pistolnya di saku dan melangkah mendekati Ghea " Juan, bawa Bian ke Rumah Sakit keluarga Abigail. Di sana, mereka tidak akan bertanya kenapa Bian terluka. Karna saya sangat mengenal pemiliknya. Jangan sampai ada siapapun yang tahu!" Perintah Noah pada Juan yang menunduk hormat di belakangnya " Bagaimana dengan preman preman ini tuan?" Tanya Juan " Bukankah anjing anjingmu selalu kelaparan?" Senyum Noah menakutkan " Saya mengerti tuan." Juan menunduk hormat Noah mendekati Ghea lalu melepaskan jas yang ia kenakan untuk menutupi tubuh gadis itu " Kapan kamu akan berhenti merepotkan saya hah?" Gumamnya kemudian membopong tubuh Ghea dan membawa gadis itu bersamanya ke mobil. Karna cinta seperti angin Bagaimana kamu akan bernapas Jika tak mengakui keberadaannya? Noah mendudukkan Ghea di sisi kemudi. Ia kemudian membawa mobil itu melaju menyusuri gelap malam dan lebatnya hujan. Sesekali, Noah menatapnya dalam, gadis itu terlihat sangat pucat dan ketakutan. " Apa saat aku dewasa kau akan terus melindungiku, Alex?" Ingatan Noah kembali pada wajah kecil Ghea yang dulu selalu menemaninya bermain " Tentu, aku akan selalu melindungimu." Janji Noah menautkan kelingking ke jari Ghea yang kemudian tertawa senang Kenangan yang begitu indah, andai saja... Kejadian itu tidak menimpanya. Tanpa sadar, bola mata Noah memerah. Ia menyeka kasar air mata yang belum sempat turun " Harusnya saya bahagia melihat kamu menderita. Tapi tidak, tidak boleh ada orang lain yang menyakitimu selain saya. Tidak ada yang berhak." Ujarnya dengan tatapan sedingin malam *** Matahari baru saja menampakkan dirinya saat dua mata cantik Ghea terbuka. Banyak luka lebam di area wajah dan lengannya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sakit di sekujur tubuh. Lalu yang pertama ia lihat adalah... Noah yang tampak membersihkan luka lukanya dengan kompres hangat. Mungkin pemuda itu tidak sadar kalau Ghea sudah membuka mata. Ia dengan telaten mengompres luka luka istrinya itu, bahkan Noah masih mengenakan kemeja yang kemarin. Melihat perhatian Noah, Ghea semakin tidak mengerti. Apa sebenarnya yang pemuda itu inginkan? " Si-apa kamu sebenarnya?" Tanya Ghea, bola matanya memerah. Teringat betapa tega Noah menyakitinya kemarin dan betapa keji Noah menghukum orang orang yang telah berani menyentuhnya. Apa sebenarnya mau Noah pada dirinya. " Kamu sudah sadar? Saya akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Noah hendak berdiri. Tapi Ghea menahan lengannya " Kenapa menolongku? Bagaimana kau bisa tahu di mana aku berada?" Tanya Ghea menuntut jawaban. " Istirahat saja! Jangan banyak bicara!" Celetuk Noah menghempas tangan Ghea kemudian beranjak begitu saja. Ghea hanya menatapnya dengan mata berkaca kaca, entah kenapa air mata meluncur turun ke pipinya. Ia berusaha duduk, namun... " Apa ini?" Gadis itu merogoh sesuatu yang tertinggal di sisi tempat tidur. Atau mungkin terjatuh? Dan saat mengambilnya... Deg Bola mata Ghea membundar melihat sebuah kalung yang menggelayut manja di jarinya. Kalung yang sangat ia kenal, bahkan Ghea masih mengingat dengan jelas wajah pemilik kalung itu. " Tante, kalungnya bagus." Ingatan Ghea saat berusia 7 tahun. Ketika ia bermain bersama seorang wanita berusia 30 tahunan, wanita yang sangat cantik, anggun dan penyayang. " Benarkah? Ini kalung dari ibu mertua tante. Dan nanti, kalung ini akan tante berikan pada menantu tante." Tuturnya membelai rambut panjang Ghea halus " Cantik sekali kalungnya." Ghea menyentuh kalung itu. Kalung yang sama dengan kalung yang saat ini berada di tangannya. " Kalung ini disebut one heart. Karna bentuknya seperti hati dan hanya ada satu di dunia." Ujarnya Ghea langsung turun dari ranjangnya, mencoba menatap sekitar dan mencari tahu. Tapi ia tak menemukan petunjuk apapun. " Jangan jangan, Noah atau Bian adalah sahabat masa kecilku, Alex." Gumam Ghea hampir meneteskan air mata. Karna jika itu benar, Ghea berpikir mungkin Noah atau Bian tidak tahu kalau dirinya adalah Ghea sahabat masa kecil mereka. " Noahhh!!!" Teriak Ghea ke luar dari ruangan, mencari ke sana ke mari. " Di mana tuan Noah?" Tanyanya pada pelayan " Di kamarnya, nona." Jawab pelayan itu " Di mana kamarnya?" Pelayan itupun memberikan petunjuk dan Ghea langsung berlari mencari kamar Noah. Tanpa basa basi, Ghea langsung menggedor pintu kamar itu " Noah! Noah buka pintunya! Ini aku! Noah!" Teriaknya dengan suara gemetar. Bahkan Ghea lupa rasa sakit yang ia rasakan. Tak ada jawaban Tok tok tok " Noah! Aku ingin bicara denganmu! Noah please buka pintunya!" Teriak Ghea. Dan... Klek Pintu itu tidak terkunci. Ghea membulatkan tekad untuk membukanya dan melangkah masuk. Alangkah kagetnya Ghea saat melangkah ke dalam ruangan megah itu. Semua pertanyaannya seakan terjawab sudah. Potret seorang bocah bersama wanita yang ada di dalam ingatannya terpampang jelas di atas dinding tempat tidur Noah, wajah yang sangat Ghea rindukan selama ini. Noah Alexsander, tidak lain adalah Alex sahabat masa kecilnya. Itu kenapa Noah datang dan berusaha masuk ke dalam kehidupan Ghea untuk menyiksanya. Karna Ghea, penyebab kematian ibunya. Ya, begitu banyak potret Noah di sana. Membuat Ghea menangis sedih mengingat kenangan yang seharusnya sudah lama ia lupakan. Flashback 15 tahun yang lalu... " Alex, apa kau mau ice cream di seberang jalan itu?" Tanya Ghea menggenggam tangan Alex erat. Mereka baru saja selesai berbelanja di sebuah mall ternama. " Tidak, aku ingin menunggu ibuku di sini. Lagi pula kendaraan begitu pesat. Ibu melarangku menyeberang. Dan sebaiknya kamu juga diam di sini." Senyum Alex manis " Baiklah, apa aku boleh meminta balon itu?" Tanya Ghea menunjuk balon yang dijual di luar pintu masuk mall " Tunggu sebentar! Aku akan membawakannya." Alex bergegas pergi ke tempat penjual balon. Sementara Ghea... " Hmm dia tidak akan mengizinkanku menyeberang, padahal aku tahu dia sangat menyukai ice cream itu. Aku bisa menyeberang sendiri." Celetuk Ghea kemudian mengambil ancang ancang menyeberangi jalan raya. Awalnya ia berhasil menyeberang dan membeli dua ice cream kacang untuk dirinya dan Alex. Tapi saat hendak kembali... Tiiittt " Ghea awas!!!" Teriak ibu Noah melihat gadis kecil itu berusaha menyeberang. Ibu muda itu langsung berlari hendak menghampiri Ghea yang terjebak di tengah jalan, ketakutan. Tapi malang, sebuah container justru menabrak tubuhnya hingga terpelanting dan meninggal ditempat setelah sebuah truck melindasnya. " Ibuuu!!!" Teriak Alex kecil histeris. Ice cream di tangan Ghea terjatuh. Dan itu adalah hari terakhir Ghea melihat Alex dalam hidupnya. Karna Alex tidak pernah lagi mau bertemu dengannya. Tidak pernah lagi Seberat apapun Ghea merindukan sahabatnya itu, Ghea tidak pernah lagi menemukan jejaknya. Apakah Noah datang untuk membalas dendam? Karna itu Noah menikahinya? Untuk membalasnya? Ghea menangis sedih. " Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamar saya?" Tanya suara Noah dari belakang yang sontak membuat Ghea menoleh. Mendapati pemuda itu menatapnya dingin tanpa ekspresi " Alex?" Tanya Ghea dengan suara serak. Noah hanya diam, mematung dengan rahang mengeras " Ke luar dari kamar saya!" Pintanya tegas " Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat tante Kirana meninggal. Aku mencarimu ke sana ke mari untuk meminta maaf. Tapi aku tidak pernah menemukanmu. Aku mohon maafkan aku." Isak Ghea mendekati Noah. Bola mata Noah memerah " Apa kata maaf darimu bisa mengembalikan ibu saya? Ke luar dari kamar saya!" Perintahnya dengan urat leher menegang " Jadi ini kenapa kau menikahiku? Jika menyiksaku membuatmu bisa melupakan masa lalu dan memaafkanku, maka aku rela. Aku tahu kesalahan yang aku lakukan sangat besar. Tapi tidak sedetikpun aku melupakanmu. Aku selalu memakai gelang darimu. Sampai suatu saat nanti kau bisa memaafkanku. Aku tidak akan pernah melepaskan gelang ini." Tutur Ghea kemudian memegang tangan dingin Noah dan meletakkan kalung ibunya di genggamannya. " Saya tidak akan pernah memaafkanmu." Gumam Noah menatap Ghea tajam " Dan aku tidak akan berhenti berharap." Ujar Ghea berkaca kaca " Saya membencimu!" Tekan Noah Ghea menarik napas panjang. Sekarang ia mengerti kenapa setiap berada di sisi Noah, jantungnya seakan berdebar lebih cepat. Perasaan yang sama yang ia rasakan saat bertemu Noah semasa kecil. " Aku tidak pernah berhenti menyukaimu. Sampai kapanpun. Bahkan walaupun aku harus menangis berkali kali, aku akan tetap berusaha mengembalikan sahabat masa kecilku. Karna aku yakin, kau masih perduli padaku, my husband." Senyum Ghea getir " Ke luar!" Tunjuk Noah pada pintu masuk Ghea menyeka air matanya kemudian melangkah ke luar. Gadis itu memejamkan mata di balik pintu. Rasanya sangat menyedihkan, tapi juga sangat lega karna akhirnya ia bisa bertemu dengan sahabatnya lagi. Walaupun ia harus berusaha keras untuk mendapatkan maaf dari Noah. Sementara itu, Noah menatap kalung di tangannya. Kenapa kalung ibunya yang selalu ia bawa bisa berada di sisi Ghea. Ia jadi teringat candaan ibunya yang selalu diucapkan dulu " Kelak, kalau kau sudah dewasa dan menikah dengan Ghea, ibu akan memberikan kalung ini padanya." Tutur ibunya dengan wajah secantik bidadari dalam kenangan Bola mata Noah memerah menatap potret ibunya di dinding. Apakah ibunya memang ingin kalung itu menjadi milik Ghea?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD