BAB 3
Rumah yang Terasa Asing
Rumah itu tidak berubah.
Setidaknya itulah yang pertama kali Alya pikirkan.
Namun setelah beberapa menit berada di dalamnya, ia menyadari bahwa sebenarnya banyak yang sudah berubah—hanya saja perubahan itu tidak langsung terlihat oleh mata.
Beberapa hal berubah dengan cara yang lebih sunyi.
Seperti jam dinding di ruang tamu yang masih berdetak lambat, tetapi suaranya kini terasa lebih keras dari yang ia ingat.
Atau sofa tua di dekat jendela yang dulu selalu penuh dengan buku dan bantal warna-warni, kini terlihat rapi dan kosong, seolah tidak pernah ada kehidupan di sana.
Alya berdiri di tengah ruang tamu sambil memandang sekeliling.
Ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.
Rumah ini dulu adalah tempat paling aman yang ia kenal.
Tempat ia tertawa.
Tempat ia menangis.
Tempat ia pulang setelah hari-hari panjang di sekolah.
Namun sekarang, rumah itu terasa seperti tempat milik orang lain.
“Alya.”
Suara ibunya membuatnya menoleh.
Wanita itu berdiri di ambang pintu dapur, memegang dua cangkir teh hangat.
“Kamu pasti lelah.”
Alya tidak menjawab.
Ia masih memikirkan kalimat yang baru saja ia dengar beberapa menit lalu.
Malam itu tidak terjadi seperti yang kamu ingat.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti lagu yang tidak bisa dihentikan.
Ibunya meletakkan salah satu cangkir di atas meja.
“Minumlah.”
Alya duduk perlahan.
Tangannya memegang cangkir itu, tetapi ia tidak langsung meminumnya.
“Apa maksud Ibu tadi?”
Ibunya tampak sudah menduga pertanyaan itu.
Ia duduk di kursi seberang Alya.
“Alya…”
“Aku ingin tahu,” potong Alya pelan.
“Siapa orang yang datang ke rumah ini?”
Ibunya menghela napas.
“Dia tidak memperkenalkan dirinya dengan jelas.”
“Laki-laki?”
Ibunya mengangguk.
“Masih muda.”
Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.
“Dia bilang apa?”
Ibunya menatap cangkir teh di tangannya beberapa detik sebelum menjawab.
“Dia hanya bertanya tentang kamu.”
“Aku?”
“Dia ingin tahu apakah kamu pernah kembali ke kota ini.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Ibunya menggeleng pelan.
“Itu juga yang membuat Ibu bingung.”
Alya menatap ibunya tajam.
“Lalu?”
“Ibu bilang kamu sudah lama pergi.”
Ibunya berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Tapi sebelum dia pergi… dia mengatakan sesuatu.”
Alya merasa tenggorokannya tiba-tiba kering.
“Apa?”
Ibunya mengangkat pandangan.
“Dia bilang… jika kamu suatu hari kembali ke kota ini, kamu harus tahu bahwa kebenaran tentang malam itu belum pernah benar-benar terungkap.”
Ruangan terasa hening.
Jam dinding berdetak sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Alya merasa kepalanya sedikit pusing.
Selama tujuh tahun ia hidup dengan satu cerita tentang malam itu.
Cerita yang selalu ia ulang di kepalanya.
Cerita yang membuatnya percaya bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya.
Namun sekarang seseorang datang dan mengatakan bahwa cerita itu—
Belum lengkap.
Atau mungkin…
Salah.
Alya berdiri tiba-tiba.
“Kamar aku masih di atas?”
Ibunya tampak sedikit terkejut dengan perubahan sikap itu.
“Masih.”
Alya mengambil koper kecilnya.
Ia menaiki tangga kayu yang sama seperti yang ia kenal sejak kecil.
Tangga itu mengeluarkan bunyi pelan setiap kali diinjak.
Bunyi yang dulu sering membuat ayahnya tahu ketika ia diam-diam pulang terlalu malam.
Alya berhenti di depan pintu kamarnya.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Beberapa detik ia ragu untuk membukanya.
Seolah pintu itu menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk dihadapi.
Namun akhirnya ia memutarnya.
Pintu terbuka.
Dan masa lalu langsung menyambutnya.
Kamar itu hampir tidak berubah.
Meja belajar kecil di dekat jendela.
Rak buku yang dulu penuh novel.
Dan dinding yang masih dipenuhi potongan foto lama.
Alya melangkah masuk perlahan.
Ia meletakkan koper di lantai.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan.
Ada sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Alya mendekati meja belajarnya.
Di atas meja itu ada sebuah benda kecil.
Sebuah buku catatan.
Ia yakin buku itu bukan miliknya.
Sampulnya hitam polos.
Terlihat cukup baru.
Alya mengambilnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ketika ia membuka halaman pertama, napasnya langsung tertahan.
Tulisan di sana sangat ia kenal.
Tulisan tangan yang dulu sering ia lihat hampir setiap hari.
Tulisan tangan milik seseorang yang sudah tujuh tahun tidak ia temui.
Di halaman pertama hanya ada satu kalimat.
Pendek.
Namun cukup untuk membuat dunia Alya terasa berhenti.
Jika kamu membaca ini, berarti kamu akhirnya pulang.
Tangan Alya gemetar.
Matanya membaca kalimat itu sekali lagi.
Tulisan itu tidak mungkin salah.
Ia mengenalnya.
Terlalu mengenalnya.
Tulisan tangan itu milik—
Raka.
Namun itu tidak mungkin.
Karena tujuh tahun lalu, pada malam yang tidak pernah ia lupakan…
Raka seharusnya tidak pernah bisa menulis apa pun lagi.
Alya menutup buku itu dengan cepat.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke kota ini, satu pertanyaan yang lebih menakutkan muncul di pikirannya.
Bagaimana jika seseorang selama ini menyembunyikan sesuatu?
Sesuatu yang cukup besar untuk mengubah seluruh cerita tentang malam itu.
Dan bagaimana jika rahasia itu…
Baru saja mulai terungkap sekarang?