Surat dari Masa Lalu

968 Words
BAB 1 Surat dari Masa Lalu Orang-orang selalu berkata bahwa waktu bisa menyembuhkan segalanya. Aku dulu juga percaya itu. Sampai suatu hari aku menyadari bahwa mereka salah. Waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang ia hanya membuat luka terlihat tenang di permukaan, sementara di dalamnya tetap berdenyut pelan—menunggu saat yang tepat untuk kembali terasa. Dan hari ini, luka itu kembali hidup. Semua bermula dari sebuah surat. Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari lain. Hujan turun sejak subuh, membuat kota terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan di depan apartemenku tampak sepi, hanya beberapa orang berlari kecil sambil menutupi kepala dengan tas atau jaket. Dari jendela lantai tiga tempatku berdiri, semuanya terlihat seperti potongan kehidupan yang jauh—seolah aku hanya penonton yang tidak benar-benar menjadi bagian dari dunia itu. Aku baru saja menuangkan kopi ke dalam cangkir ketika bel pintu berbunyi. Satu kali. Pendek dan datar. Aku sempat mengira itu hanya suara dari apartemen sebelah. Namun beberapa detik kemudian, bel itu berbunyi lagi. Kali ini lebih lama. Aku berjalan menuju pintu dengan langkah malas. Tidak ada tamu yang biasanya datang pagi-pagi seperti ini. Kebanyakan orang yang mengenalku tahu bahwa aku jarang menerima kunjungan tanpa janji. Ketika pintu kubuka, tidak ada siapa pun di sana. Hanya lorong apartemen yang sunyi. Aku hampir menutup pintu kembali ketika mataku melihat sesuatu di lantai. Sebuah amplop cokelat. Amplop itu tergeletak tepat di depan pintu apartemenku, sedikit basah karena mungkin terkena cipratan air hujan dari sepatu seseorang. Tidak ada nama pengirim di sana. Hanya namaku yang tertulis dengan tinta hitam. Alya. Tulisan itu terlihat sederhana, tetapi ada sesuatu yang membuat dadaku tiba-tiba terasa sempit. Aku mengenal tulisan tangan itu. Setidaknya... rasanya seperti pernah melihatnya. Aku mengambil amplop itu perlahan, seolah benda kecil itu bisa pecah jika kugenggam terlalu kuat. Tanganku sedikit gemetar. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena firasat yang tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas. Aku menutup pintu apartemen dan kembali ke meja dekat jendela. Hujan di luar semakin deras, memukul kaca dengan suara ritmis yang anehnya membuat suasana semakin sunyi. Amplop itu masih ada di tanganku. Aku menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membuka lipatannya. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas. Tidak panjang. Tidak juga rapi. Tulisan di sana hanya terdiri dari satu kalimat. Namun kalimat itu cukup untuk membuat seluruh tubuhku terasa dingin. “Sudah waktunya kamu pulang.” Aku membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Seolah berharap huruf-hurufnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Tetapi tidak. Kalimat itu tetap sama. Pendek. Sederhana. Menyakitkan. Pulang. Kata itu terasa seperti sesuatu yang asing di kepalaku. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku benar-benar memikirkan arti kata itu. Aku meninggalkan kota itu tujuh tahun lalu. Tanpa pamit. Tanpa rencana untuk kembali. Bagiku saat itu, pergi adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Dan sekarang seseorang mengirim surat ini. Tanpa nama. Tanpa penjelasan. Hanya satu kalimat yang terasa seperti panggilan dari masa lalu yang selama ini mati-matian aku kubur. Aku menatap keluar jendela. Hujan masih turun deras, membuat kota tampak kabur seperti lukisan yang luntur. Entah kenapa, ingatan yang sudah lama terkunci tiba-tiba mulai muncul kembali. Sebuah jalan kecil. Lampu-lampu kuning di malam hari. Tawa seseorang yang pernah begitu akrab di telingaku. Dan sebuah malam yang mengubah segalanya. Aku menutup mata sejenak. Namun ingatan itu tetap datang. Sama jelasnya seperti tujuh tahun yang lalu. Aku masih ingat malam itu. Malam ketika semuanya berubah. Langit gelap tanpa bintang. Udara terasa lembap setelah hujan sore. Jalanan di sekitar danau kecil di ujung kota hampir kosong—hanya suara serangga malam dan angin yang bergerak pelan di antara pepohonan. Kami seharusnya tidak berada di sana malam itu. Setidaknya tidak sejauh itu dari rumah. Namun saat itu, semua terasa begitu sederhana. Hanya aku dan seseorang yang selama ini selalu ada di sisiku. Raka. Nama itu bahkan sekarang masih terasa berat ketika kupikirkan. Ia adalah sahabatku sejak kecil. Orang yang tahu hampir semua hal tentang hidupku—ketakutanku, mimpi-mimpiku, bahkan rahasia-rahasia kecil yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Raka selalu mengatakan bahwa kota kecil itu terlalu sempit untuk mimpi kami. Suatu hari, katanya, kami akan pergi. Melihat dunia yang lebih besar. Menjadi seseorang yang berbeda dari orang-orang yang selama ini hidup di sana. Aku dulu percaya padanya. Aku selalu percaya padanya. Sampai malam itu. Malam ketika semuanya berubah. Malam ketika aku menyadari bahwa satu keputusan kecil bisa menghancurkan hidup seseorang selamanya. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah benar-benar pulang lagi. Aku membuka mata. Apartemen kecilku kembali terlihat di hadapan. Hujan di luar sedikit mereda, meninggalkan suara tetesan air yang jatuh dari atap bangunan. Surat itu masih ada di tanganku. Satu kalimat sederhana yang tiba-tiba terasa seperti beban yang terlalu berat untuk diabaikan. “Sudah waktunya kamu pulang.” Siapa yang mengirim ini? Dan yang lebih penting— Kenapa sekarang? Aku berdiri dari kursi dan berjalan kembali ke jendela. Jalanan di bawah mulai sedikit ramai oleh orang-orang yang keluar rumah setelah hujan. Kehidupan berjalan seperti biasa. Seolah tidak ada yang berubah. Namun di dalam diriku, sesuatu mulai bergerak kembali. Sebuah pintu lama yang selama ini terkunci perlahan terbuka. Dan di balik pintu itu ada sesuatu yang selama bertahun-tahun aku takut untuk hadapi. Masa lalu. Aku menatap surat itu sekali lagi. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, sebuah pertanyaan yang selalu kuhindari akhirnya muncul kembali di kepalaku. Bagaimana jika aku benar-benar harus kembali? Bagaimana jika semua yang kutinggalkan di kota itu belum benar-benar selesai? Dan bagaimana jika luka yang selama ini kuanggap sudah mati ternyata masih menungguku di sana? Hujan berhenti. Namun perasaanku justru semakin berat. Aku tahu satu hal dengan pasti. Surat ini bukan kebetulan. Seseorang ingin aku kembali. Dan entah kenapa, firasat buruk di dalam dadaku mengatakan bahwa ketika aku akhirnya pulang nanti— Aku mungkin akan menemukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada yang selama ini aku bayangkan. Karena beberapa luka… Memang tidak pernah benar-benar sembuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD